![]() |
Oleh: Duski Samad
Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur'an:
تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ
“Kamu mengira mereka itu bersatu, padahal hati mereka terpecah-belah.” (QS. Al-Hasyr [59]: 14).
Ayat ini memberikan pelajaran mendalam tentang perbedaan antara persatuan lahiriah dan kesatuan batiniah. Dalam konteks asalnya, ayat tersebut menggambarkan kelompok yang tampak bersatu, tetapi sesungguhnya mengalami perpecahan internal. Pesan moralnya relevan sebagai bahan muhasabah dalam kehidupan organisasi, lembaga pendidikan, kepemimpinan, dan masyarakat.
Tidak sedikit organisasi terlihat solid secara administratif, memiliki struktur lengkap, kepengurusan resmi, visi bersama, dan program kerja yang disepakati. Namun, di balik penampilan tersebut, berkembang persaingan, kecurigaan, kecemburuan, bahkan permusuhan antarsesama pengurus.
Mereka duduk bersama dalam rapat, tampil bersama dalam kegiatan, dan mengatasnamakan perjuangan yang sama. Akan tetapi, hati dan orientasi kepentingannya tidak lagi sejalan.
Inilah paradoks kehidupan organisasi: berjamaah dalam penampilan, tetapi berseteru dalam kepentingan; bersatu dalam nama, tetapi berpisah dalam jiwa.
Konflik Internal: Satu Organisasi, Banyak Kepentingan
Konflik internal merupakan salah satu ancaman serius bagi keberlangsungan organisasi. Persoalannya bukan sekadar perbedaan pendapat, sebab perbedaan merupakan sesuatu yang wajar dan bahkan diperlukan untuk melahirkan keputusan berkualitas.
Konflik menjadi destruktif ketika perbedaan berubah menjadi persaingan tidak sehat, perebutan pengaruh, penolakan terhadap keputusan bersama, dan upaya melemahkan sesama anggota.
Dalam satu organisasi dapat muncul beberapa pusat kekuasaan informal. Secara formal semua mengakui satu kepemimpinan, tetapi secara praktis masing-masing membangun jaringan dan agenda tersendiri.
Rapat berlangsung tertib, tetapi keputusan tidak dilaksanakan. Di hadapan pimpinan terlihat mendukung, tetapi di belakang berkembang penolakan. Program bersama diklaim sebagai keberhasilan kelompok tertentu, sedangkan kegagalan dibebankan kepada pihak lain.
Akibatnya, energi organisasi habis untuk mengurus konflik internal, bukan menyelesaikan persoalan masyarakat. Waktu yang seharusnya digunakan untuk inovasi, pelayanan, dan pengabdian justru tersita oleh perseteruan.
Organisasi akhirnya sibuk dengan dirinya sendiri dan kehilangan kepekaan terhadap kebutuhan umat.
Motif Uang: Ketika Amanah Menjadi Transaksi
Salah satu sumber konflik adalah dominasi kepentingan material. Uang sebenarnya merupakan instrumen penting bagi keberlangsungan organisasi. Tanpa dukungan keuangan, banyak program pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial sulit dilaksanakan.
Namun, persoalan muncul ketika uang tidak lagi menjadi sarana perjuangan, melainkan berubah menjadi tujuan utama.
Jabatan diperebutkan karena akses terhadap anggaran. Kedudukan dipertahankan karena peluang memperoleh fasilitas. Program dinilai bukan berdasarkan manfaatnya, melainkan berdasarkan siapa yang mengelola dan menikmati keuntungan.
Dalam tim kerja, persoalan honorarium, pembagian tugas, penguasaan proyek, dan pengelolaan dana dapat melahirkan kecemburuan apabila tidak disertai transparansi serta keadilan.
Lebih memprihatinkan apabila semangat pengabdian berubah menjadi hubungan transaksional. Orang bersedia bekerja sepanjang memperoleh keuntungan, tetapi kehilangan kepedulian ketika tidak mendapatkan bagian.
Ketika uang menjadi pusat orientasi, amanah dapat berubah menjadi komoditas, dan persaudaraan menjadi hubungan kepentingan.
Motif Gengsi: Jabatan dan Penyakit Kehormatan
Selain uang, gengsi merupakan faktor yang sering memperpanjang konflik. Keinginan mempertahankan status, pengaruh, pengakuan, dan kedudukan dapat membuat seseorang sulit menerima perbedaan.
Ada yang merasa paling senior, paling berjasa, paling berilmu, atau paling berhak memimpin. Akibatnya, gagasan yang baik dapat ditolak hanya karena datang dari orang yang dianggap lebih rendah kedudukannya.
Keberhasilan rekan kerja dipandang sebagai ancaman. Kritik dianggap penghinaan. Musyawarah berubah menjadi arena mempertahankan harga diri.
Dalam perspektif tasawuf, kecenderungan ini berkaitan dengan penyakit hati seperti ujub, takabbur, riya, dan hubb al-jah, yaitu kecintaan berlebihan terhadap kedudukan.
Kehormatan sejati tidak lahir dari kemampuan mempertahankan jabatan, tetapi dari keteladanan, keluasan ilmu, keikhlasan, dan kemanfaatan bagi orang lain.
Orang yang mengorbankan persaudaraan demi mempertahankan gengsi sesungguhnya sedang kehilangan kehormatan moralnya.
Kepentingan Kelompok: Organisasi dalam Organisasi
Konflik semakin rumit ketika muncul kelompok-kelompok kepentingan di dalam satu organisasi. Kelompok yang semula terbentuk karena kedekatan personal dapat berkembang menjadi faksi yang lebih mengutamakan loyalitas internal daripada kepentingan lembaga.
Keputusan dipengaruhi oleh kedekatan, bukan kompetensi. Informasi hanya beredar dalam lingkaran tertentu. Jabatan dan kesempatan diberikan berdasarkan hubungan kelompok, bukan kemampuan serta integritas.
Akibatnya, muncul organisasi informal di dalam organisasi formal. Kepentingan bersama dikalahkan oleh agenda kelompok.
Orang tidak lagi bertanya apakah suatu gagasan benar dan bermanfaat, tetapi siapa yang menyampaikannya. Kawan dibela meskipun keliru, sedangkan pihak lain ditolak meskipun membawa kebenaran.
Keadaan demikian merusak budaya musyawarah, memperlemah kepercayaan, dan melahirkan polarisasi berkepanjangan.
Tim Kerja Tanpa Jiwa Berjamaah
Dalam Islam, kerja bersama tidak sekadar berkumpul secara fisik, melainkan mengandung nilai ukhuwah, ta'awun, syura, dan amanah.
Sebuah tim dapat memiliki ketua, sekretaris, bendahara, koordinator, serta anggota yang lengkap. Namun, struktur tidak otomatis melahirkan kebersamaan.
Tim kehilangan jiwa berjamaah ketika anggotanya saling menyembunyikan informasi, mempertahankan wilayah kewenangan, mencurigai keberhasilan rekan, dan lebih mengutamakan pengaruh pribadi daripada tujuan bersama.
Bahkan, keberhasilan seseorang terkadang dianggap sebagai kekalahan pihak lain. Prestasi tidak lagi dirayakan bersama, melainkan melahirkan kecemburuan.
Dalam keadaan demikian, organisasi kehilangan sinergi. Setiap orang mungkin terlihat bekerja, tetapi hasil kolektifnya lemah karena tidak ada kesatuan orientasi.
Banyak orang bekerja dalam satu lembaga, tetapi tidak semuanya bekerja untuk membesarkan lembaga.
Kepemimpinan, Islah, dan Penyucian Motif
Konflik internal tidak selalu bersumber dari karakter individu. Kepemimpinan yang tidak adil, komunikasi tertutup, pembagian kewenangan yang kabur, dan lemahnya akuntabilitas juga dapat memperburuk keadaan.
Karena itu, pemimpin harus menjadi pemersatu, bukan pemelihara konflik. Ia wajib menegakkan keadilan, membuka ruang musyawarah, menjamin transparansi, dan menempatkan kompetensi di atas kedekatan kelompok.
Dalam perspektif tasawuf, pembenahan organisasi perlu dimulai melalui muhasabah dan tazkiyatun nafs. Setiap pengurus perlu bertanya kepada dirinya: apakah saya bekerja demi amanah atau keuntungan? Demi kemaslahatan atau gengsi? Demi persaudaraan atau kemenangan kelompok?
Namun, penyucian hati harus berjalan bersama pembenahan sistem. Keikhlasan memerlukan dukungan tata kelola yang sehat, aturan yang adil, dan pertanggungjawaban yang jelas.
Islah bukan sekadar mempertemukan pihak yang berselisih, melainkan memulihkan kepercayaan, memperbaiki ketidakadilan, dan menyepakati kembali tujuan perjuangan.
Penutup: Bersatu dalam Hati, Bergerak dalam Amal
Pesan taḥsabuhum jamī‘an wa qulūbuhum syattā menjadi peringatan bahwa ancaman terbesar organisasi terkadang bukan datang dari luar, melainkan dari perpecahan yang tumbuh di dalam.
Uang, gengsi, dan kepentingan kelompok dapat membentuk lingkaran konflik yang merusak apabila tidak dikendalikan oleh kejujuran, keadilan, dan keikhlasan.
Uang semestinya menjadi sarana pengabdian. Jabatan merupakan amanah, bukan simbol keunggulan pribadi. Kelompok seharusnya memperkuat persaudaraan, bukan membangun permusuhan.
Organisasi yang sehat bukan organisasi tanpa perbedaan, melainkan organisasi yang mampu mengelola perbedaan menjadi kekuatan bersama.
Jangan sampai kita berjamaah dalam penampilan, tetapi berseteru dalam kepentingan; bersatu dalam nama, tetapi berpisah dalam jiwa.
Sebab persatuan sejati bukan hanya kesamaan struktur dan simbol, melainkan kesatuan hati, kejujuran niat, keadilan tindakan, dan ketulusan pengabdian.21102026.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
