![]() |
Oleh: Duski Samad
Pengasuh MK Tasawuf dan Rehabilitasi Sosial Prodi Tasawuf Psikoterapi FUSA UIN Imam Bonjol
Di tengah kompleksitas kehidupan modern yang rentan memicu krisis kesehatan mental, pendekatan penyembuhan kini tidak lagi bisa mengandalkan satu disiplin ilmu saja. Sebuah inisiatif akademis dan spiritual yang inovatif baru saja direalisasikan melalui mata kuliah Maqamat dan Ahwal bagi mahasiswa Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi (TP).
Alih-alih sekadar membahas teori di ruang kelas, pembelajaran ini ditransformasikan menjadi praktik langsung zikir untuk kesehatan mental di Surau Bateh, Lori Lubuk Minturun. Keistimewaan dari agenda ini adalah kehadiran Buya Dr. dr. Etriyel, Sp.U., Ketua Program Studi dan Pakar Urologi/Ginjal Universitas Andalas (Unand), yang juga merupakan seorang Mursyid Tarekat Naqsyabandiyah.
Kolaborasi ini menjadi bukti empiris bahwa otoritas medis modern dan kedalaman spiritualitas tasawuf tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling menyempurnakan. Ruang surau bertransformasi menjadi laboratorium psikoterapi aplikatif. Dari pertemuan tersebut, lahir lima rumusan strategis yang menjadi peta jalan bagi pengembangan keilmuan dan lulusan ke depan:
1. Penguatan Aqidah dan Syariah sebagai Fondasi Terapis.
Dalam dunia psikoterapi Islam, pemahaman aqidah dan syariah adalah fondasi ontologis yang mutlak. Tanpa batasan syariat yang jelas, praktik terapi spiritual sangat rentan tergelincir pada penyimpangan klenik. Aqidah memberikan orientasi yang lurus dan kestabilan jiwa bagi sang terapis, sementara syariah memastikan metodologi penyembuhan tetap berada dalam koridor hukum Islam. Ini adalah modal awal integritas seorang terapis.
2. Penguasaan Bacaan Al-Qur'an.
Al-Qur'an secara eksplisit menyebut dirinya sebagai Syifa' (penyembuh). Dalam konteks klinis, bacaan yang fasih (tahsin dan tartil) bukan sekadar syarat ibadah, melainkan instrumen terapi suara (sound healing). Frekuensi dan resonansi dari ayat suci memiliki dampak psikologis yang kuat untuk menenangkan sistem saraf pusat. Oleh karena itu, kompetensi baca-tulis Al-Qur'an yang standar harus menjadi prasyarat sebelum mahasiswa melakukan intervensi terapeutik.
3. Kematangan Pemahaman Teori Dasar Tasawuf dan Tarekat.
Praktik Maqamat (stasiun pencapaian) dan Ahwal (kondisi spiritual) sejatinya berpijak pada teori dasar tasawuf yang komprehensif. Dalam kerangka psikoterapi Islam, penyembuhan mental dimulai dari tazkiyatun nafs (penyucian jiwa dari penyakit-penyakit hati/psikopatologi spiritual). Pembersihan ini dicapai melalui riyadhatun nafs, yakni disiplin dan olah batin yang ketat—seperti yang dipraktikkan dalam zikir lathaif Naqsyabandiyah.
Latihan spiritual ini bermuara pada satu tujuan tertinggi: taqarrub ilallah (mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Sang Pencipta). Lebih jauh, pendekatan ini membawa terapi melampaui nalar empiris menuju epistemologi irfani (pengetahuan batiniah yang didapat melalui pengalaman spiritual langsung). Puncak dari psikoterapi sufi ini adalah tercapainya kesadaran al-hudhuri—yaitu ilmu hudhuri, sebuah pengetahuan presensial di mana jiwa merasakan "kehadiran" dan pengawasan Tuhan secara utuh tanpa perantara. Ketika seorang klien telah menyentuh maqam al-hudhuri, segala kecemasan, ketakutan, dan depresi duniawi akan luruh, berganti dengan kedamaian eksistensial yang permanen.
4. Integrasi Ilmu Terapis dan Psikologi Modern.
Keunggulan program TP terletak pada kemampuan mengawinkan dua ranah: Tasawuf dan Psikoterapi. Pemahaman spiritual yang tinggi harus dibarengi dengan pisau analisis psikologi klinis modern (seperti psikoanalisis, Cognitive Behavioral Therapy/CBT, atau psikologi humanistik). Harmonisasi ini penting agar lulusan mampu membahasakan kondisi kejiwaan klien secara saintifik, lalu merumuskan intervensi yang memadukan konseling psikologis empiris dengan zikir tarekat.
5. Pemahaman Etika dan Batasan Wilayah Kerja.
Aspek krusial terakhir adalah etika profesi klinis. Seorang lulusan TP harus memiliki kesadaran presisi mengenai batas kompetensinya: kapan sebuah krisis psikologis cukup ditangani dengan tazkiyatun nafs dan konseling, dan kapan klien harus segera dirujuk ke psikiater atau dokter spesialis medis (terutama jika melibatkan kerusakan organik/neurologis). Keterlibatan pakar medis seperti Dr. Yetriyel mengajarkan bahwa terapis TP masa depan harus menjadi mitra kolaborator bagi dunia medis profesional, bukan malah melampaui wewenang kedokteran.
Menuju Evidence-Based Spiritual Therapy
Praktik di Surau Bareh bukan sekadar rutinitas perkuliahan, melainkan tonggak kebangkitan terapi holistik yang memadukan tradisi dan modernisme. Kelima kerangka dasar ini sangat mendesak untuk diintegrasikan secara utuh ke dalam kurikulum prodi Tasawuf dan Psikoterapi.
Langkah ke depan, metode tazkiyah dan pencapaian pengalaman irfani melalui zikir ini perlu dibuktikan melalui riset medis-psikologis (evidence-based research). Dengan data kuantitatif dan kualitatif yang valid, metode spiritual ini akan semakin mengukuhkan posisinya sebagai solusi ilmiah bagi krisis kesehatan mental di era modern. DS.15062026.
