![]() |
Oleh: Duski Samad
Bahan Muzakarah Ensiklopedi Syekh dan Tuanku Bersanad pada Syekh Burhanuddin di PP MTI Batang Kabung, Rabu, 09 09 2026.
Konteks Penulisan
Tulisan ringkas ini disusun sebagai bagian dari ikhtiar mencatat, merawat, dan mewariskan memori kolektif Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah (PPMTI) Batang Kabung kepada generasi sekarang dan generasi yang akan datang.
Pesantren bukan hanya bangunan, nama lembaga, atau sistem pendidikan. Pesantren adalah sanad, kaji, guru, murid, perjuangan, persaudaraan, dan pengabdian yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Karena itu, sejarah sebuah pesantren tidak cukup ditulis dengan menyebut tahun berdiri dan perkembangan kelembagaannya. Orang-orang yang meletakkan dasar, mengajarkan kaji, mendampingi anak siak, dan meneruskan kepemimpinan harus ditempatkan secara patut dalam ingatan sejarah.
PPMTI Batang Kabung memiliki akar sejarah dan sanad keilmuan yang perlu terus dikenalkan kepada anak siak, alumni, keluarga besar Tarbiyah Islamiyah, serta masyarakat. Di antara kekayaan sejarah tersebut adalah peranan muassis, ninik mamak anak siak, dan para khalifah yang menjadi penyangga keberlanjutan pesantren.
Tulisan ini menyebut mereka sebagai “Tonggak Tuo PPMTI Batang Kabung”. Istilah Tonggak Tuo merupakan penghormatan kepada tokoh-tokoh yang menjadi peletak dasar dan penyangga perjalanan pesantren. Mereka mempunyai peran berbeda, tetapi dipersatukan oleh satu khidmat: menjaga kaji, memelihara sanad, mendidik anak siak, memperjuangkan agama Allah, dan memastikan pesantren terus hidup.
Empat Tonggak Tuo PPMTI Batang Kabung
1. Syekh Haji Salif Tuanku Sutan
Muassis, Pendiri dan Guru Besar
Syekh Haji Salif Tuanku Sutan, yang populer disebut Angku Batang Kabung, merupakan muassis, pendiri, dan Guru Besar PPMTI Batang Kabung.
Beliau menjadi sumber utama tradisi keilmuan dan pendidikan pesantren. Dari beliau berlangsung transmisi kaji kepada para murid yang kemudian meneruskan pengajaran dan kepemimpinan pesantren.
Kedudukan Angku Batang Kabung karena itu bukan hanya sebagai pendiri sebuah lembaga pendidikan, melainkan sebagai pangkal sanad, pembentuk tradisi keilmuan, dan peletak dasar khittah pendidikan PPMTI Batang Kabung.
2. Khatib Haji Abdul Munaf Imam Maulana
Ninik Mamak Anak Siak
Khatib Haji Abdul Munaf Imam Maulana, yang populer disebut Angku Imam Maulana, merupakan Ninik Mamak Anak Siak.
Perannya menunjukkan bahwa pesantren sejak awal tidak berdiri terpisah dari masyarakat dan struktur adat. Kehadiran ninik mamak menjadi kekuatan sosial yang menopang kehidupan pesantren serta menghubungkan ulama, anak siak, kaum, dan masyarakat.
Angku Imam Maulana menjadi simbol bahwa PPMTI Batang Kabung tumbuh dalam pertautan ulama, adat, anak siak, dan masyarakat. Inilah salah satu kekuatan historis pesantren Minangkabau: kajinya bersanad, tetapi akar sosialnya tertanam kuat dalam masyarakat.
3. Buya Haji Jamaris Tuanku Mudo
Khalifah Pertama
Buya Haji Jamaris Tuanku Mudo merupakan salah seorang murid pertama Angku Batang Kabung dan kemudian dipercaya sebagai Khalifah Pertama.
Beliau menjalankan peran penting sebagai Pimpinan Pesantren dan Kepala Madrasah Tsanawiyah. Kedudukannya menandai berlangsungnya regenerasi kepemimpinan dari generasi pendiri kepada generasi murid.
Sebagai Khalifah Pertama, Buya Haji Jamaris Tuanku Mudo menjadi mata rantai penting dalam menjaga kesinambungan sanad kaji, kepemimpinan, dan kelembagaan pendidikan PPMTI Batang Kabung.
4. Buya Haji Idris Tuanku Mudo
Khalifah Kedua
Buya Haji Idris Tuanku Mudo merupakan salah seorang murid pertama Angku Batang Kabung. Beliau dikenal sebagai mubaligh dan kemudian dipercaya menjadi Khalifah Kedua sekaligus Pimpinan Pesantren.
Pengabdiannya memperkuat fungsi pesantren bukan hanya sebagai tempat tafaqquh fi al-din, tetapi juga sebagai pusat dakwah dan pembinaan umat.
Melalui kepemimpinannya, kaji yang diterima dari guru diteruskan kepada generasi berikutnya. Dengan demikian, keberlanjutan pesantren tidak hanya berupa keberlanjutan nama dan bangunan, tetapi terutama keberlanjutan ilmu, sanad, adab, dan pengabdian.
TIGO PITUA BUYA TUO
Warisan terbesar para pendahulu bukanlah bangunan dan nama besar semata. Warisan yang lebih mendasar adalah pitua, pesan nilai yang menjadi pedoman bagi anak, cucu, murid, alumni, dan generasi penerus PPMTI Batang Kabung.
Spirit perjuangan Buya Tuo dapat dirumuskan dalam Tigo Pitua Buya Tuo: Ba Kaji dan Mamacik Kaji, Berjuang untuk Agama Allah, serta Meneguhkan Persaudaraan.
1. Berilmu dan Ahli: Ba Kaji dan Mamacik Kaji
Pitua pertama adalah ba kaji dan mamacik kaji.
Ba kaji berarti seseorang harus memiliki ilmu, belajar kepada guru, memahami sumber ilmu, mempunyai sanad, serta menjalani proses pendidikan dengan sungguh-sungguh. Seorang Tuanku, guru, ataupun penerus pesantren tidak cukup hanya pandai berbicara tentang agama. Ia harus memiliki kaji yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Namun ba kaji saja belum cukup. Ilmu itu harus dipacik—dipegang dengan teguh, dikuasai, diamalkan, dijaga, dan diwariskan.
Dalam tradisi pesantren, ilmu bukan sekadar informasi yang tersimpan dalam pikiran. Ilmu harus melahirkan adab, amal, keteguhan, dan kemampuan membimbing umat.
Maka pitua pertama mengandung amanah:
“Ba kaji, mamacik kaji, mangamalkan kaji, dan manurunkan kaji.”
Generasi PPMTI Batang Kabung harus menjadi generasi yang memiliki kompetensi keilmuan sekaligus teguh memegang sanad dan tradisi kajinya.
2. Berjuang untuk Agama Allah
Pitua kedua adalah berjuang untuk agama Allah.
Pesantren tidak didirikan hanya untuk kepentingan pribadi, keluarga, atau kelompok. Ia merupakan bagian dari perjuangan menegakkan ilmu, dakwah, akhlak, pendidikan, dan kemaslahatan umat.
Allah SWT berfirman:
«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ»
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”
(QS. Muhammad [47]: 7)
إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ — in tanshurullāha yanshurkum menjadi spirit perjuangan.
Menolong agama Allah diwujudkan dengan menjaga pesantren, menghidupkan pengajian, mendidik anak siak, mencerdaskan umat, berdakwah, membangun lembaga, serta menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi masyarakat.
Generasi penerus tidak boleh hanya menjadi penikmat warisan, tetapi harus menjadi penerus perjuangan.
Jika generasi terdahulu mendirikan dan mempertahankan pesantren dalam keterbatasan, generasi sekarang mempunyai kewajiban mengembangkan pesantren dengan ilmu, profesionalitas, teknologi, jaringan, dan sumber daya yang tersedia pada zamannya.
3. Teguhi Persaudaraan: Anak Jasmani dan Anak Ruhani
Pitua ketiga adalah meneguhkan persaudaraan.
Pesantren melahirkan dua jalur pewarisan yang harus saling menguatkan, bukan saling meniadakan: anak jasmani (dzurriyat) dan anak ruhani (murid).
Dzurriyat merupakan keturunan biologis para guru dan pendiri. Mereka mempunyai ikatan darah, sejarah keluarga, dan tanggung jawab moral menjaga nama baik serta warisan para pendahulunya.
Sementara murid adalah anak ruhani. Mereka menerima kaji, adab, doa, bimbingan, sanad, dan nilai perjuangan dari guru. Hubungan guru dengan murid tidak berhenti setelah masa belajar selesai, tetapi diteruskan melalui pengamalan dan pewarisan ilmu.
Keduanya bukan untuk dipertentangkan.
Dzurriyat membutuhkan murid untuk meneruskan kaji, sedangkan murid menghormati dzurriyat sebagai bagian dari keluarga dan sejarah gurunya.
Karena itu, anak jasmani dan anak ruhani harus saling menjaga, saling menghormati, saling membesarkan, dan saling menguatkan.
Persaudaraan inilah yang menjadi benteng keberlanjutan pesantren. Konflik antara keturunan, murid, alumni, dan pengurus hanya akan melemahkan warisan yang dengan susah payah dibangun para pendahulu.
Empat Tonggak, Tigo Pitua, Satu Amanah
Empat Tonggak Tuo memperlihatkan bahwa PPMTI Batang Kabung dibangun melalui kekuatan yang saling melengkapi: muassis sebagai sumber kaji dan sanad, ninik mamak sebagai penyangga sosial-adat, serta para khalifah sebagai penerus ilmu dan kepemimpinan.
Dari mereka pula dapat dipetik Tigo Pitua Buya Tuo:
Pertama, ba kaji dan mamacik kaji: berilmu, ahli, mengamalkan, dan mewariskan ilmu.
Kedua, berjuang untuk agama Allah: in tanshurullāha yanshurkum—menjadikan pesantren sebagai medan khidmat kepada agama dan umat.
Ketiga, meneguhkan persaudaraan: anak jasmani (dzurriyat) dan anak ruhani (murid) harus saling menjaga dan menguatkan warisan guru.
Mencatat nama dan pengabdian Tonggak Tuo bukan untuk mengkultuskan tokoh. Ia adalah bagian dari adab kepada guru, penghargaan kepada sejarah, dan pendidikan bagi generasi penerus.
Generasi hari ini tidak memulai dari ruang kosong. Mereka berdiri di atas kaji, doa, perjuangan, dan pengorbanan generasi sebelumnya. Karena itu, warisan tersebut tidak cukup dibanggakan. Ia harus dipacik, diamalkan, diperjuangkan, dan diwariskan kembali.
Ba kaji dan mamacik kaji.
Berjuang untuk agama Allah.
Anak jasmani dan anak ruhani saling menguatkan.
Itulah Tigo Pitua Buya Tuo untuk menjaga PPMTI Batang Kabung tetap bersanad, berilmu, bersaudara, dan berkhidmat kepada umat dari generasi ke generasi.
Duski Samad
Padang, September 2026
