![]() |
Oleh: Duski Samad
Materi Subuh Masjid Darul Muttaqin, Wisma Indah Siteba, Selasa, 08 September 2026
Ketika Keinginan Menjadi Penguasa
Manusia tidak mungkin hidup tanpa keinginan. Keinginan makan dan minum, memperoleh harta, mendapatkan penghargaan, mencintai dan dicintai, mempunyai keluarga, kedudukan, serta kehidupan yang nyaman merupakan bagian dari fitrah manusia. Islam tidak datang untuk mematikan keinginan tersebut. Persoalannya muncul ketika keinginan tidak lagi menjadi bagian yang dikendalikan manusia, tetapi justru berubah menjadi kekuatan yang mengendalikan manusia.
Inilah salah satu pesan penting Syekh Muhammad Jamil Jaho dalam Pasal V kitab Tadzkiratul Qulūb fī Murāqabati ‘Allām al-Ghuyūb. Ulama besar Minangkabau tersebut membicarakan عدم اتباع الهوى (‘adam ittibā‘ al-hawā), yaitu tidak memperturutkan hawa nafsu. Beliau mengingatkan bahwa mengikuti hawa dapat membawa kerusakan terhadap agama dan kehidupan dunia seseorang.
Ada perbedaan antara memiliki keinginan dan dikuasai keinginan. Orang yang memiliki keinginan masih dapat mengatakan, “Saya menginginkannya, tetapi apakah ini baik?” Sebaliknya, orang yang telah dikuasai hawa hanya bertanya, “Bagaimana saya mendapatkannya?”
Di sinilah tasawuf bekerja. Tasawuf mendidik manusia agar tidak semua yang diinginkan harus dilakukan, tidak semua yang disenangi harus dimiliki, dan tidak semua yang mampu dilakukan berarti pantas dilakukan.
Al-Qur’an: Jangan Jadikan Hawa sebagai Tuhan
Al-Qur’an menggunakan ungkapan yang sangat keras ketika menggambarkan manusia yang dikuasai keinginannya:
> أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ
“Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”(QS. al-Jātsiyah [45]: 23).
Ayat ini menunjukkan bahwa hawa bukan persoalan kecil. Hawa dapat mengambil posisi yang sangat menentukan dalam kehidupan. Ketika seseorang selalu menjadikan keinginannya sebagai ukuran, tanpa disadari ia telah memindahkan pusat orientasi hidup dari kebenaran kepada kesenangan diri.
Orang kemudian tidak lagi bertanya, “Apakah ini benar?”, tetapi “Apakah saya suka?” Tidak lagi bertanya, “Apakah ini halal?”, tetapi “Apakah menguntungkan?” Tidak lagi bertanya, “Apakah Allah ridha?”, tetapi “Apakah orang memuji saya?”
Allah mengingatkan Nabi Dawud:
> وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ
“Janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”
(QS. Ṣād [38]: 26).
Sebaliknya, kemampuan menahan hawa menjadi salah satu tanda keselamatan:
> وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ
“Adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh surgalah tempat tinggalnya.”(QS. al-Nāzi‘āt [79]: 40–41).
Jadi, mengendalikan hawa bukan berarti memusuhi kehidupan. Justru di situlah jalan menuju kemerdekaan jiwa.
Psikologi: Dari Impuls Menuju Self-Regulation
Pesan Syekh Muhammad Jamil Jaho memiliki relevansi yang kuat dengan kajian psikologi, khususnya konsep self-regulation atau regulasi diri. Regulasi diri adalah kemampuan seseorang mengelola pikiran, emosi, dorongan dan perilakunya agar tidak sekadar mengikuti impuls sesaat, tetapi diarahkan kepada tujuan dan nilai yang lebih tinggi.
Dalam diri manusia selalu muncul stimulus dan dorongan. Seseorang dihina, lalu muncul dorongan marah. Melihat barang menarik, muncul keinginan membeli. Melihat makanan, muncul selera makan. Mendapat kritik, muncul keinginan membalas. Semua itu manusiawi.
Persoalannya adalah apakah setiap dorongan harus langsung berubah menjadi tindakan.
Manusia yang matang secara psikologis menciptakan ruang kesadaran antara dorongan dan tindakan:
Stimulus → Dorongan → Kesadaran → Pertimbangan → Pilihan → Tindakan.
Sebaliknya, manusia yang lemah regulasi dirinya cenderung bergerak dari “ingin” langsung menjadi “melakukan”. Dalam bahasa psikologi, kecenderungan seperti ini berkaitan dengan perilaku impulsif. Dalam bahasa tasawuf, di sinilah diperlukan mujāhadat al-nafs.
Maka muhasabah dan mujahadah sebenarnya memiliki dimensi psikologis yang sangat kuat. Keduanya mendidik manusia agar mampu berhenti sejenak, membaca dirinya, mempertimbangkan akibat, kemudian menentukan tindakan berdasarkan nilai.
Mujahadah Bukan Membunuh Nafsu
Tasawuf tidak mengajarkan manusia membunuh nafsu. Nafsu diperlukan untuk keberlangsungan kehidupan. Tanpa keinginan makan manusia tidak menjaga tubuhnya; tanpa dorongan bekerja manusia sulit membangun kehidupan; tanpa ketertarikan kepada pasangan tidak berlangsung kehidupan keluarga dan generasi.
Yang diperlukan adalah mendidik nafsu, bukan mematikannya.
Rasulullah ﷺ memberikan ukuran kekuatan yang sangat menarik:
> لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang kuat bukanlah orang yang menang bergulat. Sesungguhnya orang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim).
Hadis ini memindahkan ukuran kekuatan dari kemampuan menguasai orang lain kepada kemampuan menguasai diri sendiri.
Seseorang mungkin mampu memimpin banyak orang, tetapi belum tentu mampu memimpin dirinya. Bisa jadi seseorang mampu mengalahkan lawan dalam perdebatan, tetapi tidak mampu mengalahkan amarahnya. Mampu mengumpulkan harta, tetapi tidak mampu mengatakan cukup. Mampu memberikan nasihat kepada orang lain, tetapi tidak mampu menasihati dirinya sendiri.
Karena itu, jalan tasawuf dapat dirumuskan sebagai proses:
Hawā → Muhasabah → Mujahadah → Pengendalian Diri → Akhlak.
Penyakit Tubuh dan Penyakit Jiwa
Syekh Muhammad Jamil Jaho memberikan analogi yang sangat menarik dengan kesehatan tubuh. Orang sakit tidak dapat mengikuti semua yang diinginkannya. Ada makanan yang sangat disukai tetapi harus dihindari. Ada obat yang pahit tetapi harus diminum. Ada kebiasaan menyenangkan yang harus dihentikan karena dapat memperburuk penyakit. Dalam rangkaian Pasal V, analogi kesehatan ini digunakan untuk menjelaskan perlunya manusia mengendalikan hawa dan mengikuti jalan yang membawa kemaslahatan.
Logikanya sederhana: tidak semua yang enak menyehatkan dan tidak semua yang pahit membahayakan.
Begitu pula kehidupan ruhani. Ada dosa yang terasa menyenangkan sesaat tetapi meninggalkan kegelisahan panjang. Ada ibadah yang pada awalnya terasa berat tetapi kemudian melahirkan ketenangan. Ada keinginan yang ketika dipenuhi justru menimbulkan keinginan baru yang lebih besar.
Dalam konteks ini, muhasabah dapat dipahami sebagai pemeriksaan kesehatan jiwa. Mujahadah adalah terapinya. Zikir menjaga kesadaran. Taubat membersihkan kesalahan. Murāqabah menjaga seseorang agar tidak kembali kepada pola kehidupan yang merusak.
Tadzkiratul Qulūb dengan demikian tidak hanya dapat dibaca sebagai kitab nasihat, tetapi juga sebagai khazanah psikologi spiritual Islam dan pendidikan kesehatan jiwa.
Era Digital dan Industri Hawa
Ajaran ini semakin relevan pada era digital. Manusia modern hidup dalam lingkungan yang terus merangsang keinginan. Telepon pintar hampir tidak pernah berhenti menawarkan sesuatu: berita, makanan, barang, hiburan, popularitas, komentar, likes, views, dan berbagai bentuk pengakuan sosial.
Dahulu manusia terutama menghadapi hawa dari dalam dirinya. Sekarang hawa dari dalam diri bertemu dengan teknologi yang mampu membaca kecenderungan manusia. Algoritma belajar dari apa yang kita lihat, sukai dan cari, lalu menyajikan lebih banyak hal serupa agar perhatian kita bertahan lebih lama.
Karena itu, ‘adam ittibā‘ al-hawā memperoleh makna baru: kemampuan mempertahankan kemerdekaan jiwa di tengah perebutan perhatian manusia.
Tidak semua yang masuk ke layar harus dibaca. Tidak semua berita harus diteruskan. Tidak semua komentar harus dibalas. Tidak semua yang viral harus diikuti. Tidak semua yang mampu dibeli harus dimiliki.
Kemampuan mengatakan “cukup” merupakan tanda kedewasaan spiritual sekaligus kesehatan psikologis.
Dari Self-Control Menuju Murāqabah
Di sinilah tasawuf bergerak lebih jauh daripada sekadar self-control. Psikologi membantu manusia mengendalikan diri agar mampu menjalani kehidupan secara sehat dan mencapai tujuan. Tasawuf memberikan dimensi yang lebih tinggi: manusia mengendalikan dirinya karena sadar bahwa hidup berada di hadapan Allah.
Allah berfirman:
> أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ
“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat?” (QS. al-‘Alaq [96]: 14).
Kesadaran bahwa Allah melihat inilah yang disebut murāqabah. Orang yang memiliki murāqabah tidak hanya baik ketika dilihat manusia. Ia mampu menjaga dirinya ketika sendirian. Ia tidak membutuhkan kamera, pengawas, pujian, ataupun ancaman sosial untuk berbuat benar.
Proses pendidikan jiwanya dapat digambarkan:
Hawā → Yaqẓah → Muhasabah → Mujahadah → Self-Regulation → Murāqabah → Akhlak.
Dengan demikian, akhlak bukan sekadar perilaku sopan di depan orang lain. Akhlak adalah buah dari jiwa yang telah belajar mengendalikan keinginan dan menghadirkan Allah dalam kesadarannya.
Kemerdekaan Sejati adalah Menguasai Diri
Pelajaran penting Pasal V Tadzkiratul Qulūb akhirnya membawa kita kepada pertanyaan: siapakah manusia yang benar-benar merdeka?
Merdeka bukanlah orang yang dapat melakukan apa saja yang diinginkannya. Jika seseorang tidak mampu mengatakan tidak kepada amarah, makanan, harta, gengsi, syahwat, popularitas, kekuasaan, atau kesenangan, sesungguhnya ia sedang berada dalam bentuk perbudakan yang paling halus: perbudakan oleh dirinya sendiri.
Manusia merdeka adalah manusia yang mampu berkata “tidak” ketika hawa mengajaknya kepada keburukan dan berkata “ya” ketika Allah memanggilnya kepada kebaikan, sekalipun yang pertama menyenangkan dan yang kedua terasa berat.
Maka pesan Syekh Muhammad Jamil Jaho dapat dirumuskan menjadi manhaj sederhana: kenali hawa, periksa keinginan, kendalikan impuls, lakukan mujahadah, hidupkan murāqabah, dan buahnya adalah akhlak.
Di titik inilah tasawuf dan psikologi saling memperkaya. Psikologi membantu menjelaskan bagaimana manusia mengendalikan dirinya, sedangkan tasawuf menjawab pertanyaan yang lebih dalam: untuk apa diri dikendalikan dan kepada siapa akhirnya kehidupan diarahkan.
Tujuan akhirnya bukan menjadi manusia tanpa keinginan, melainkan menjadi manusia yang keinginannya dididik oleh iman, ditimbang oleh akal, diarahkan oleh syariat, dilatih melalui mujahadah, dan dijaga oleh kesadaran bahwa Allah senantiasa melihatnya.
Itulah jiwa yang sehat. Bukan jiwa yang selalu mendapatkan apa yang diinginkannya, tetapi jiwa yang telah mampu menentukan apa yang pantas diinginkan, apa yang harus ditinggalkan, dan apa yang harus diperjuangkan untuk mendapatkan keridaan Allah.07092026.
