![]() |
Oleh: Duski Samad
Ketua Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin Pariaman
>TUANKU SARJANA, SARJANA TUANKU
> Sanad terjaga, ilmu berkembang, surau berdaya, umat terbimbing, dan marwah Tuanku semakin mulia.
Tuanku dalam tradisi keislaman Minangkabau bukan sekadar gelar kehormatan. Tuanku adalah identitas keilmuan, spiritualitas, keteladanan, dan pengabdian. Gelar ini diperoleh melalui proses panjang: berguru, mengaji kitab, menjaga sanad, melatih jiwa, mengamalkan ilmu, serta membimbing umat. Karena itu, kekuatan Tuanku tidak terletak pada kekuasaan, kekayaan, atau popularitas, tetapi pada ilmu yang bersambung, akhlak yang terpelihara, dan pengabdian yang berkelanjutan.
Di tengah perubahan sosial dan derasnya arus digital, kehadiran Tuanku semakin dibutuhkan. Masyarakat tidak hanya memerlukan orang yang mampu menjelaskan halal dan haram, tetapi juga ulama yang dapat menjadi pendidik, penuntun moral, penjaga persatuan, dan penggerak kemajuan. Inilah hakikat The Power of Tuanku: kekuatan keilmuan dan spiritual yang memberikan arah bagi umat, nagari, dan bangsa.
Sanad Menjaga Keaslian Ilmu
Kekuatan pertama seorang Tuanku adalah sanad keilmuan. Tuanku tidak membangun kewibawaan hanya melalui bacaan pribadi, kemampuan berbicara, atau popularitas di media sosial. Ia belajar kepada guru yang jelas, mengkaji kitab yang dapat dipertanggungjawabkan, menjalani proses pendidikan, serta memperoleh amanah untuk meneruskan ilmu.
QS. Al-A‘raf ayat 6–7 mengingatkan bahwa umat yang menerima risalah dan para rasul yang menyampaikannya akan sama-sama dimintai pertanggungjawaban. Pesan ini menegaskan bahwa menerima, mengamalkan, dan menyampaikan ilmu merupakan amanah besar.
Sanad menjaga agar ajaran agama tidak terputus, diselewengkan, atau disampaikan tanpa dasar dan adab. Tuanku merupakan mata rantai yang menghubungkan masyarakat masa kini dengan para guru terdahulu. Dalam ungkapan Minangkabau disebutkan:
>“Sanadnyo basambuang, kajinyo bapaham, amalnyo basungguh, akhlaknyo batuah.”
Ilmu Meninggikan Derajat
Kemuliaan Tuanku tidak semata-mata ditentukan oleh gelar, pakaian, atau kedudukannya dalam masyarakat. Kemuliaan itu lahir dari iman, ilmu, akhlak, dan manfaat yang diberikannya kepada umat.
QS. Al-Mujadilah ayat 11 menegaskan bahwa Allah mengangkat beberapa derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Ayat tersebut memberikan dasar bahwa kemuliaan yang hakiki tidak lahir dari status sosial, tetapi dari kualitas iman dan kedalaman ilmu.
Ilmu yang benar tidak melahirkan kesombongan. Semakin luas ilmu seseorang, semakin besar pula ketawadukan dan tanggung jawabnya. Oleh karena itu, meninggikan marwah Tuanku harus dilakukan melalui penguatan pendidikan. Tuanku perlu memperoleh kesempatan memperdalam ilmu dan meningkatkan kemampuan akademik tanpa kehilangan akar surau, kitab, sanad, dan tradisi keulamaan.
Ilmu yang Melahirkan Khasy-yatullah
Tuanku bukan hanya orang yang banyak mengetahui ajaran agama. Tuanku sejati adalah ulama yang ilmunya melahirkan khasy-yatullah, yaitu rasa takut, hormat, dan tunduk kepada Allah.
QS. Fatir ayat 28 menjelaskan bahwa di antara hamba-hamba Allah, para ulama adalah orang-orang yang paling memiliki rasa takut kepada-Nya. Ilmu seorang Tuanku karena itu tidak boleh berhenti di kepala, tetapi harus turun ke hati dan menjelma menjadi akhlak.
Semakin dalam ilmunya, semakin berhati-hati ia berbicara, berfatwa, dan bertindak. Tuanku tidak menjadikan agama sebagai alat mencari pengaruh, melainkan sebagai jalan untuk mendekatkan manusia kepada Allah.
Di sinilah perbedaan antara orang yang hanya mampu berbicara tentang agama dengan ulama yang benar-benar hidup dalam nilai agama. Pengetahuan dapat membuat seseorang dikenal, tetapi khasy-yatullah menjadikannya dipercaya dan dimuliakan.
Tarekat Membersihkan Jiwa
Kekuatan Tuanku juga terletak pada tarekat, yakni jalan spiritual untuk membersihkan hati dan mendekatkan diri kepada Allah. QS. Al-Jinn ayat 16 memberikan penegasan bahwa apabila manusia tetap berjalan lurus di atas jalan Allah, niscaya Allah akan mencurahkan karunia yang berlimpah.
Tarekat mendidik Tuanku melalui zikir, mujahadah, muraqabah, keikhlasan, kesabaran, dan pengendalian hawa nafsu. Tarekat bukan pelarian dari kehidupan sosial. Kebersihan hati justru harus melahirkan kepekaan terhadap kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, perpecahan, dan masa depan generasi.
Tuanku yang kuat secara spiritual tidak mudah digoyahkan oleh pujian, tekanan, kepentingan, atau godaan kekuasaan. Ia berdiri bersama kebenaran karena hatinya telah dilatih untuk hanya bergantung kepada Allah.
Pewaris Nabi dan Suluah Bendang dalam Nagari
Rasulullah saw. menegaskan bahwa ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan kekayaan dan kekuasaan. Mereka mewariskan ilmu, akhlak, dakwah, keteguhan, dan kasih sayang kepada umat.
Sebagai pewaris nabi, Tuanku berkewajiban mengajarkan kebenaran, memperbaiki akhlak, membela yang lemah, dan membimbing masyarakat menuju keselamatan dunia dan akhirat. Warisan kenabian itu harus terlihat dalam keberanian menyampaikan kebenaran sekaligus kelembutan dalam mendidik umat.
Dalam kebudayaan Minangkabau, Tuanku adalah suluah bendang dalam nagari. Ia menjadi penerang umat dan penjaga nagari. Ketika masyarakat menghadapi persoalan agama, adat, keluarga, pendidikan, dan kehidupan sosial, Tuanku tampil sebagai nan alim tampek batanyo.
>“Nan alim tampek batanyo, nan cadiak tampek barundiang; kok kusuik disalasaikan, kok karuah dipajaniah.”
Tuanku tidak cukup hanya berada di surau. Ia harus hadir di tengah masyarakat untuk menjernihkan yang keruh, menyelesaikan yang kusut, mendamaikan perselisihan, dan menunjukkan jalan menuju kemaslahatan.
Wasathiyah untuk Umat dan Bangsa
Kekuatan Tuanku berikutnya adalah wasathiyah. QS. Al-Baqarah ayat 143 menjelaskan bahwa umat Islam dijadikan sebagai umat pertengahan agar mampu menjadi saksi atas kehidupan manusia.
Tuanku harus menjadi tokoh moderat, adil, seimbang, dan bijaksana bagi umat dan bangsa. Moderat bukan berarti lemah dalam prinsip atau mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan. Wasathiyah adalah keteguhan dalam akidah yang disertai kebijaksanaan dalam berdakwah, keluasan dalam menyikapi perbedaan, dan keadilan dalam memperlakukan sesama.
Tuanku harus mampu menyatukan kesalehan keagamaan dengan tanggung jawab kebangsaan. Ia menjaga agama tanpa merusak persaudaraan, mencintai nagari tanpa merendahkan daerah lain, serta membela kepentingan umat tanpa kehilangan komitmen terhadap persatuan Indonesia.
STIT Syekh Burhanuddin dan Marwah Tuanku
Kesadaran untuk menjaga dan meninggikan marwah Tuanku menjadi alasan penting kehadiran Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Syekh Burhanuddin Pariaman. Sejak didirikan pada tahun 1978, STIT Syekh Burhanuddin Pariaman hadir untuk meneruskan perjuangan keilmuan dan dakwah Syekh Burhanuddin serta memperkuat kedudukan Tuanku sebagai ulama, pendidik, dan pemimpin umat.
Hampir setengah abad perjalanan STIT Syekh Burhanuddin bukan perjalanan yang singkat. Perguruan tinggi ini tumbuh bersama masyarakat dan menjadi bagian dari ikhtiar mempertahankan tradisi keilmuan Islam di Piaman. Kehadirannya mempertemukan kekuatan tradisi surau dengan sistem pendidikan tinggi modern.
Surau menjaga sanad, adab, kitab, dan spiritualitas. Perguruan tinggi memperkuat metodologi, penelitian, kemampuan akademik, manajemen, dan pengakuan formal. Keduanya tidak boleh dipertentangkan. Tradisi tanpa pembaruan dapat kehilangan daya jawab, sedangkan modernisasi tanpa akar tradisi dapat kehilangan identitas dan arah spiritual.
Tuanku Sarjana dan Sarjana Tuanku
Program “Tuanku Sarjana, Sarjana Tuanku” merupakan wujud nyata kepedulian STIT Syekh Burhanuddin terhadap masa depan Tuanku. Program ini mengandung dua agenda yang saling menguatkan.
Tuanku Sarjana berarti memberikan kesempatan kepada Tuanku, guru surau, dan alumni pesantren untuk memperoleh pendidikan tinggi. Kedalaman kaji dan kematangan ruhani mereka perlu diperkuat dengan kemampuan akademik, penelitian, teknologi, literasi digital, dan manajemen kelembagaan.
Sementara itu, Sarjana Tuanku berarti membentuk lulusan perguruan tinggi yang tidak hanya memiliki ijazah, tetapi juga menguasai ilmu agama, berakhlak mulia, mampu membaca kitab, peduli terhadap surau, dan siap membimbing masyarakat.
Sarjana tidak cukup hanya cerdas secara akademik. Ia harus memiliki jiwa Tuanku: berilmu, beradab, mengabdi, dan mampu menjadi teladan. Program ini menjadi jembatan antara surau dan kampus, antara sanad dan tradisi akademik, serta antara warisan masa lalu dan kebutuhan masa depan.
Program Magister untuk Martabat Tuanku
Pembukaan Program Magister (S2) Pendidikan Agama Islam pada STIT Syekh Burhanuddin Pariaman merupakan bagian penting dari kerja tiada henti untuk meninggikan marwah dan martabat Tuanku.
Program Magister bukan sekadar penambahan jenjang pendidikan. Kehadirannya harus menjadi pusat pengembangan pemikiran pendidikan Islam, penelitian tentang Tuanku dan surau, dokumentasi sanad keilmuan, penguatan manajemen pesantren, serta pengembangan model pendidikan Islam yang berakar pada tradisi Minangkabau.
Melalui pendidikan magister, para Tuanku dan sarjana Islam diharapkan tumbuh menjadi ulama-intelektual: kokoh dalam agama, matang secara spiritual, kuat secara akademik, terampil memanfaatkan teknologi, serta responsif terhadap persoalan umat dan bangsa.
Inilah ikhtiar besar STIT Syekh Burhanuddin Pariaman: memastikan Tuanku tetap bersanad, semakin berilmu, diakui secara akademik, berdaya dalam kehidupan, dan bermartabat di tengah perubahan zaman.
Meninggikan marwah Tuanku bukan romantisme terhadap masa lalu. Ia adalah investasi bagi masa depan umat. Nagari yang kehilangan Tuanku akan kehilangan suluah. Surau yang kehilangan guru akan kehilangan kaji. Generasi yang terputus dari sanad akan mudah kehilangan identitas dan arah.
The Power of Tuanku adalah kekuatan sanad, ilmu, iman, tarekat, akhlak, moderasi, dan pengabdian. STIT Syekh Burhanuddin Pariaman hadir untuk memastikan bahwa kekuatan tersebut tidak berhenti sebagai kenangan sejarah, tetapi terus diwariskan sebagai energi yang menerangi nagari, membimbing umat, dan menguatkan bangsa.
