![]() |
Oleh: Duski Samad
Ketua Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin
Mengubah Pandangan “Sarjana Tidak Penting” Menjadi Gerakan Pendidikan Tuanku dan Alumni Pesantren.
Tuanku Berilmu, tetapi Belum Semuanya Bergelar.
Tuanku dan alumni pesantren merupakan penjaga utama keberlanjutan Islam di tengah masyarakat Minangkabau. Mereka mengajar kitab, memimpin ibadah, membina akhlak, menyelesaikan persoalan sosial, serta menjaga hubungan antara agama, adat, dan kehidupan nagari. Otoritas mereka tidak semata-mata lahir dari ijazah, tetapi dari ilmu, sanad, pengabdian, keteladanan, dan kepercayaan jamaah.
Namun, perubahan sistem pendidikan, kebijakan pemerintah, dan kebutuhan masyarakat menghadirkan tantangan baru. Kemampuan membaca kitab dan memimpin jamaah tetap penting, tetapi dalam banyak ruang kelembagaan dibutuhkan pula ijazah akademik, kemampuan penelitian, literasi digital, pengelolaan organisasi, serta keterampilan menyusun program dan laporan.
Masih terdapat Tuanku dan alumni pesantren yang beranggapan bahwa gelar sarjana tidak terlalu penting. Pandangan ini dapat dipahami karena banyak ulama besar masa lalu tidak lahir dari perguruan tinggi. Mereka menjadi alim melalui pendidikan surau, talaqqi, penguasaan kitab, riyadah, dan pengabdian panjang. Akan tetapi, menjadikan pengalaman masa lalu sebagai alasan untuk menolak pendidikan tinggi dapat mempersempit ruang pengabdian Tuanku pada masa depan.
Sarjana Tidak Menggantikan Keulamaan
Program Tuanku Sarjana tidak dibangun atas anggapan bahwa Tuanku yang belum sarjana kurang berilmu. Gelar akademik tidak otomatis membuat seseorang menjadi ulama. Sebaliknya, kedalaman ilmu agama juga tidak selalu memperoleh pengakuan formal dalam sistem pendidikan dan pemerintahan modern.
Karena itu, pendidikan pesantren dan pendidikan tinggi tidak boleh dipertentangkan. Pesantren memberikan kedalaman ilmu agama, adab, sanad, kedisiplinan, dan pengalaman mendampingi umat. Perguruan tinggi memperkuatnya dengan metodologi ilmiah, kemampuan meneliti, menulis, mengelola lembaga, membaca perubahan sosial, serta memahami teknologi.
Tuanku tetap menjadi Tuanku setelah menjadi sarjana. Bahkan, gelar akademik dapat memperluas medan pengabdiannya sebagai guru, dosen, peneliti, penyuluh, pengelola lembaga pendidikan, pendamping masyarakat, dan perumus kebijakan keagamaan. Pendidikan tinggi bukan pengganti identitas Tuanku, melainkan penguat kompetensi dan pengakuan formalnya.
Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu (QS. al-Mujadilah [58]: 11). Ayat ini menunjukkan bahwa iman dan ilmu tidak perlu dipisahkan. Pendidikan formal harus ditempatkan sebagai bagian dari ikhtiar memperluas ilmu dan kemanfaatan.
Mengubah Cara Pandang melalui “Rekayasa Alam”
Pandangan bahwa sarjana tidak penting tidak cukup diubah melalui imbauan. Cara berpikir seseorang dibentuk oleh keluarga, guru, komunitas pesantren, pengalaman, keadaan ekonomi, dan peluang yang tersedia. Teori ekologi perkembangan menjelaskan bahwa perubahan individu sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial yang mengitarinya (Bronfenbrenner, 1979).
Karena itu, percepatan Program Tuanku Sarjana memerlukan “rekayasa alam”, yaitu menciptakan lingkungan yang memudahkan Tuanku dan alumni pesantren untuk melanjutkan pendidikan. Mereka harus melihat bahwa kuliah tidak menjauhkan diri dari pesantren, tidak menghilangkan identitas keulamaan, dan tidak memutus pengabdian kepada jamaah.
STIT Syekh Burhanuddin Pariaman harus hadir sebagai kampus yang memahami dunia Tuanku. Perkuliahan, pelayanan akademik, pendampingan, penugasan, dan komunikasi perlu disesuaikan dengan latar belakang serta tanggung jawab mereka. Kampus tidak hanya menerima mahasiswa, tetapi mendampingi Tuanku agar mampu menghubungkan warisan pesantren dengan tuntutan akademik.
Dari Narrow-Minded Menuju Neo-Minded
Pola pikir sempit muncul ketika pendidikan pesantren dan perguruan tinggi dianggap sebagai dua dunia yang saling meniadakan. Pesantren dinilai cukup sehingga kampus tidak diperlukan, atau sebaliknya, gelar akademik dianggap lebih penting daripada sanad dan adab. Kedua pandangan tersebut perlu diperbaiki.
Program Tuanku Sarjana membutuhkan pola pikir neo-minded, yakni cara berpikir baru yang tetap berakar pada tradisi. Warisan pesantren tidak dibuang, tetapi diperkuat melalui ilmu pengetahuan, metodologi, teknologi, dan pengakuan akademik.
Semangatnya dapat dirumuskan:
«Kitab tetap dikaji, sanad tetap dijaga, adab tetap dipelihara, dan pendidikan akademik terus ditingkatkan.»
Tradisi surau Minangkabau sejak awal memiliki kemampuan beradaptasi dengan perubahan sosial. Surau bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan, kaderisasi ulama, pembentukan karakter, dan kehidupan masyarakat (Azra, 2017). Oleh sebab itu, melanjutkan pendidikan tinggi bukanlah penyimpangan dari tradisi surau, melainkan bentuk baru dari semangat belajar sepanjang hayat.
Metode Dengar–Dialog–Dalil–Data
Sosialisasi Program Tuanku Sarjana tidak boleh dilakukan dengan menyalahkan Tuanku yang belum memiliki gelar. Pendekatan seperti itu hanya akan menimbulkan penolakan. Strategi yang digunakan harus berbasis Dengar–Dialog–Dalil–Data.
Pertama, dengarkan alasan mereka. Sebagian terkendala biaya, usia, waktu, jarak, keluarga, atau kekhawatiran tidak mampu mengikuti sistem akademik. Kedua, bangun dialog yang menghargai kedudukan dan pengalaman mereka. Ketiga, hadirkan dalil tentang kewajiban belajar dan peningkatan ilmu. Keempat, tunjukkan data mengenai peluang kerja, persyaratan kelembagaan, serta kebutuhan tenaga pendidik yang memiliki kompetensi dan ijazah formal.
Tokoh yang telah berhasil memadukan identitas Tuanku dengan pendidikan tinggi perlu dihadirkan sebagai teladan. Pengalaman nyata lebih mudah mengubah pikiran daripada ceramah panjang. Setelah melihat bahwa kuliah dapat dijalani tanpa meninggalkan pengabdian, pertanyaan akan berubah dari “Untuk apa Tuanku menjadi sarjana?” menjadi “Bagaimana agar saya dapat mengikuti perkuliahan?”
Hilangkan Hambatan, Bukan Hanya Mengajak
Percepatan tidak akan berhasil apabila kampus hanya menyebarkan brosur. Hambatan nyata harus diselesaikan melalui pemetaan calon mahasiswa, pendampingan pendaftaran, matrikulasi, bimbingan teknologi, penguatan kemampuan menulis, penyesuaian jadwal, beasiswa, bantuan wakaf pendidikan, dan pembentukan kelompok belajar.
STIT Syekh Burhanuddin dapat membentuk Posko Tuanku Sarjana yang bertugas mendata Tuanku dan alumni pesantren di setiap nagari. Pendataan mencakup pendidikan terakhir, usia, domisili, bidang pengabdian, kendala, dan program studi yang diminati.
Setiap pesantren juga perlu menunjuk koordinator yang menghubungkan calon mahasiswa dengan kampus. Dengan demikian, gerakan ini tidak bersifat umum, tetapi mempunyai nama, sasaran, pendamping, jadwal, dan target yang jelas.
Gerakan Ranah dan Rantau
Program Tuanku Sarjana harus menjadi gerakan bersama antara pesantren, surau, nagari, pemerintah, dan perantau. Satu nagari dapat membantu satu Tuanku melanjutkan pendidikan. Satu organisasi perantau dapat menyediakan beasiswa bagi beberapa alumni pesantren. Dana zakat, infak, sedekah, wakaf pendidikan, CSR, dan bantuan pemerintah dapat dihimpun secara transparan untuk memperkuat program.
Gerakan ini dapat dirumuskan:
«Satu Nagari, Satu Tuanku Sarjana; Satu Pesantren, Satu Kelompok Kuliah; Ranah Mendata, Rantau Membantu, dan STIT Mendampingi.»
Keberhasilannya tidak cukup diukur dari jumlah peserta sosialisasi, tetapi dari jumlah Tuanku yang mendaftar, aktif mengikuti kuliah, menyelesaikan studi, menulis karya ilmiah, serta kembali memperkuat pesantren dan nagarinya.
Tuanku Sarjana untuk Masa Depan Umat
Program Tuanku Sarjana bukan proyek mengejar gelar. Program ini merupakan ikhtiar menjaga keberlanjutan otoritas keagamaan Minangkabau. Jika Tuanku tidak memperoleh penguatan akademik, ruang strategis dalam pendidikan, pemerintahan, penelitian, dan perumusan kebijakan dapat diisi oleh orang yang mempunyai gelar, tetapi tidak memahami tradisi pesantren dan kehidupan umat.
Tuanku mempunyai ilmu, sanad, adab, dan kepercayaan masyarakat. Perguruan tinggi memberikan metodologi, jaringan, teknologi, dan pengakuan formal. Ketika keduanya dipadukan, lahirlah ulama yang berakar kuat sekaligus mampu menjawab perubahan zaman.
Tuanku Sarjana adalah gerakan menjaga warisan guru, memperluas medan pengabdian, dan menyiapkan kepemimpinan keagamaan masa depan. Kitabnya terjaga, sanadnya bersambung, ilmunya diakui, dan pengabdiannya semakin luas. 15092026.
