![]() |
Oleh: Duski Samad
KBS Masjid Al Munawarah, Sabtu, 12 September 2026
Ketika Hati Mulai Lalai
Manusia modern hidup dalam dunia yang semakin ramai, cepat, dan penuh informasi. Telepon pintar hampir tidak pernah lepas dari tangan. Pesan datang setiap saat, media sosial terus meminta perhatian, pekerjaan mengejar, kebutuhan bertambah, dan keinginan seakan tidak pernah selesai. Manusia semakin banyak mengetahui apa yang terjadi di luar dirinya, tetapi belum tentu semakin mengenal apa yang sedang terjadi di dalam hatinya.
Di sinilah pesan Tazkiratul Qulub menjadi penting. Secara sederhana, judul kitab ini dapat dipahami sebagai mengingatkan hati. Hati perlu terus diingatkan karena manusia mempunyai kecenderungan lupa. Bukan hanya lupa terhadap kewajiban, tetapi lupa kepada Allah, lupa kepada tujuan hidup, lupa bahwa kehidupan terbatas, dan akhirnya lupa memeriksa dirinya sendiri.
Al-Qur'an mengingatkan agar manusia tidak menjadi seperti mereka yang melupakan Allah, lalu akhirnya dibuat lupa terhadap dirinya sendiri (QS. Al-Hasyr: 19). Pesannya sangat dalam. Ketika manusia kehilangan kesadaran kepada Allah, ia dapat kehilangan orientasi terhadap dirinya sendiri.
Kelalaian hati tidak selalu berarti meninggalkan ibadah. Seseorang dapat tetap shalat, berzikir, menghadiri pengajian, bahkan berbicara tentang agama, tetapi hatinya masih dikuasai iri, dengki, kesombongan, keinginan dipuji, dan kepentingan diri. Karena itu pertanyaan ruhani bukan hanya, berapa banyak amal yang sudah kita kerjakan, tetapi apa yang terjadi pada hati setelah kita beramal?
Dari Peringatan Menuju Muraqabah
Hati yang lalai membutuhkan peringatan. Al-Qur'an memerintahkan untuk terus memberi peringatan karena peringatan bermanfaat bagi orang beriman (QS. Adz-Dzariyat: 55). Peringatan membangunkan manusia dari kelalaian dan mengembalikannya kepada pertanyaan mendasar: dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup, dan kepada siapa akhirnya kita kembali?
Kesadaran itu kemudian dipelihara dengan zikir. Namun zikir tidak semestinya berhenti pada ucapan lisan. Zikir harus bergerak menjadi kesadaran batin, yaitu muraqabah.
Muraqabah adalah kesadaran bahwa Allah mengetahui, melihat, dan mengawasi manusia. Allah tidak hanya mengetahui tindakan lahir, tetapi juga niat, motivasi, dan apa yang tersembunyi di dalam hati.
Konsep ini sangat relevan pada zaman digital. Sekarang manusia memasang CCTV di rumah, kantor, toko, jalan, dan ruang publik. Aktivitas digital pun meninggalkan jejak. Namun teknologi hanya mampu merekam yang tampak. Muraqabah menjangkau wilayah yang tidak mampu disentuh kamera.
Ketika tidak ada kamera, orang yang bermuraqabah tetap jujur. Ketika tidak ada atasan, ia tetap bekerja dengan benar. Ketika mempunyai kesempatan mengambil yang bukan haknya, ia menahan diri. Kesadarannya mengatakan: Allah mengetahui.
Muraqabah dengan demikian adalah pengawasan ruhani dari dalam diri.
Arahkan Kamera kepada Diri Sendiri
Kesadaran muraqabah kemudian melahirkan muhasabah, yaitu keberanian memeriksa diri sendiri. Al-Qur'an memerintahkan setiap orang memperhatikan apa yang telah dipersiapkannya untuk hari esok (QS. Al-Hasyr: 18).
Inilah pesan yang semakin penting di tengah budaya digital. Media sosial membuat manusia sangat mudah menjadi penilai orang lain. Kesalahan seseorang direkam, disebarkan, dikomentari, lalu ribuan orang dengan cepat menjadi hakim.
Tazkiratul Qulub mengajarkan arah yang berbeda: arahkan kamera kepada diri sendiri.
Tanyakan kepada diri: Apa yang sudah saya lakukan hari ini? Apakah ada orang yang tersakiti oleh perkataan saya? Adakah hak orang lain yang belum saya tunaikan? Apakah pekerjaan saya dilakukan dengan amanah? Apakah ibadah saya benar-benar karena Allah? Apakah jabatan membuat saya semakin banyak melayani atau justru semakin ingin dilayani?
Muhasabah bukanlah tindakan menyiksa diri dengan rasa bersalah. Muhasabah adalah jalan perbaikan. Polanya sederhana: amal, pemeriksaan diri, menemukan kekurangan, istighfar, taubat, perbaikan, kemudian melakukan amal yang lebih baik.
Orang yang rajin bermuhasabah tidak mempunyai terlalu banyak waktu untuk membongkar aib orang lain, sebab ia sibuk memperbaiki dirinya sendiri.
Dunia di Tangan, Jangan di Hati
Salah satu penghalang terbesar kebersihan hati adalah nafsu dan keterikatan berlebihan kepada dunia. Namun tasawuf tidak mengajarkan manusia membenci dunia. Islam tidak melarang seseorang menjadi kaya, berpendidikan tinggi, memiliki usaha, mencapai prestasi, atau menduduki jabatan.
Persoalannya bukan ketika dunia berada di tangan, tetapi ketika dunia masuk dan menguasai hati.
Ketika harta menguasai hati, lahirlah ketamakan. Ketika jabatan menguasai hati, manusia takut kehilangan kekuasaan. Ketika popularitas menguasai hati, manusia mengejar perhatian. Ketika pujian menguasai hati, amal dapat berubah menjadi pertunjukan.
Di sinilah zuhud menemukan maknanya. Zuhud bukan berarti tidak mempunyai dunia. Zuhud adalah mempunyai dunia tanpa membiarkan dunia mempunyai diri kita.
Harta menjadi sarana berbagi. Jabatan menjadi jalan melayani. Ilmu menjadi alat mencerdaskan. Kekuasaan menjadi kesempatan menegakkan keadilan. Popularitas menjadi kesempatan menyebarkan kebaikan.
Ukuran Akhirnya adalah Akhlak
Perjalanan spiritual akhirnya harus sampai kepada akhlak. Jangan hanya bertanya berapa banyak zikir seseorang; lihat bagaimana ia memperlakukan manusia. Jangan hanya bertanya seberapa tinggi ilmunya; lihat apakah ilmu membuatnya semakin tawaduk. Jangan hanya melihat panjangnya ibadah; lihat apakah ibadah membuatnya semakin jujur, sabar, penyayang, dan amanah.
Semakin dekat seseorang kepada Allah seharusnya semakin lembut kepada sesama. Semakin tinggi ilmunya semakin rendah hatinya. Semakin banyak hartanya semakin besar manfaat sosialnya. Semakin tinggi jabatannya semakin kuat tanggung jawabnya.
Inilah benang merah Tazkiratul Qulub: kelalaian dibangunkan dengan peringatan, peringatan dipelihara dengan zikir, zikir melahirkan muraqabah, muraqabah menghasilkan muhasabah, muhasabah mengendalikan nafsu, dan pengendalian diri melahirkan kebersihan hati serta akhlak mulia.
Jadikan Mengingatkan Hati sebagai Praktik Harian
Pesan Tazkiratul Qulub tidak seharusnya berhenti setelah pengajian selesai. Ia harus dibawa pulang dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita dapat memulainya dengan latihan hati dari bangun tidur sampai kembali tidur.
Saat bangun pagi, sebelum membuka telepon genggam dan membaca berbagai pesan, hadirkan kesadaran bahwa Allah masih memberikan kesempatan hidup. Niatkan hari itu sebagai kesempatan memperbaiki diri dan memberikan manfaat kepada orang lain. Mulailah dengan syukur, bukan dengan keluhan.
Di tengah aktivitas, biasakan berhenti sejenak sebelum bertindak. Sebelum berbicara, bertanya dalam hati: apakah perkataan ini benar dan bermanfaat? Sebelum mengirim pesan atau komentar di media sosial, tanyakan: apakah ini mendatangkan kebaikan atau justru menyakiti dan membuka aib orang lain? Sebelum mengambil keputusan, tanyakan: apakah tindakan ini dapat saya pertanggungjawabkan di hadapan Allah?
Inilah latihan muraqabah dalam kehidupan nyata.
Kemudian tetapkan setiap hari satu kebaikan yang sengaja dilakukan tanpa diketahui orang lain. Bisa berupa sedekah, menolong seseorang, mendoakan orang lain, memaafkan kesalahan, atau meringankan kesulitan seseorang. Amal yang tidak membutuhkan penonton adalah latihan yang sangat baik untuk menjaga keikhlasan hati.
Jaga pula hati ketika memperoleh keberhasilan. Ketika dipuji, kembalikan pujian itu kepada Allah. Ketika mendapat rezeki, sisihkan sebagian untuk orang lain. Ketika memperoleh jabatan, tanyakan siapa yang dapat dibantu melalui jabatan itu. Ketika mempunyai ilmu, tanyakan siapa yang dapat tercerahkan dengannya.
Menjelang tidur, sediakan lima menit untuk muhasabah. Letakkan telepon genggam. Tenangkan pikiran. Kemudian tanyakan kepada diri: nikmat apa yang saya syukuri hari ini? Kebaikan apa yang sudah saya lakukan? Kesalahan apa yang harus saya perbaiki? Siapa yang telah saya sakiti? Siapa yang harus saya maafkan? Dan apabila malam ini menjadi malam terakhir kehidupan, apakah saya sudah siap menghadap Allah?
Dari pertanyaan-pertanyaan sederhana itu, buat satu tekad perbaikan untuk esok hari. Tidak perlu terlalu banyak. Satu hari, satu perbaikan. Satu hari, satu kebaikan. Satu hari, satu penyakit hati yang dikurangi.
Jika dilakukan terus-menerus, praktik sederhana ini akan membentuk disiplin ruhani: pagi dengan syukur, siang dengan muraqabah, berinteraksi dengan akhlak, beramal dengan ikhlas, dan malam dengan muhasabah.
Mulailah dari Hati
Krisis manusia modern bukan semata-mata kekurangan informasi, melainkan kekurangan kesadaran. Kita mempunyai teknologi untuk mengawasi orang lain, tetapi belum tentu mempunyai kesadaran untuk mengawasi diri sendiri.
Karena itu jangan pernah lelah mengingatkan hati. Sebelum menasihati orang lain, ingatkan hati sendiri. Sebelum menghitung kesalahan orang lain, hitunglah kekurangan diri. Sebelum bertanya bagaimana manusia menilai kita, tanyakan bagaimana keadaan diri kita di hadapan Allah.
Mari memulai dari hal yang sederhana: ingat Allah sebelum bertindak, periksa niat ketika beramal, jaga lisan ketika berbicara, berbuat baik tanpa perlu diketahui, bersyukur ketika menerima, bersabar ketika kehilangan, dan bermuhasabah sebelum tidur.
Sebab perubahan kehidupan selalu mempunyai pintu masuk yang paling dalam. Pintu itu bernama hati. Ketika hati terus diingatkan, insya Allah hidup tidak sekadar menjadi lebih baik, tetapi juga semakin terarah menuju akhir kehidupan yang baik.
