![]() |
Oleh: Duski Samad
Pengasuh Mata Kuliah Filsafat dan Teori Pendidikan Islam, Program Doktor (S3) UIN Imam Bonjol Padang
Ketika Pendidikan Sibuk Mengejar Angka
Ada kegelisahan besar dalam pendidikan hari ini. Sekolah dan perguruan tinggi semakin canggih, teknologi pembelajaran semakin maju, kecerdasan buatan masuk ke ruang kelas, tetapi pertanyaan paling mendasar justru semakin jarang diajukan: manusia seperti apa yang sebenarnya hendak kita hasilkan melalui pendidikan?
Kita sibuk membicarakan nilai, kompetensi, akreditasi, peringkat, ijazah, daya saing, dan kesiapan kerja. Semua itu penting. Tetapi pendidikan akan kehilangan arah apabila manusia hanya dipersiapkan menjadi tenaga kerja yang kompeten. Lebih berbahaya lagi jika peserta didik akhirnya hanya dilatih melakukan pekerjaan yang beberapa tahun kemudian justru lebih cepat dilakukan mesin.
Tantangan pendidikan bukan lagi sekadar bagaimana membuat manusia semakin pintar. Mesin pun semakin “pintar”. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana membuat manusia semakin manusia ketika mesin semakin cerdas.
Di sinilah filsafat pendidikan kembali menjadi penting.
Tuhan atau Manusia?
Dalam filsafat pendidikan terdapat dua kecenderungan yang sering berhadapan: teosentrisme dan antroposentrisme.
Teosentrisme menempatkan Tuhan sebagai sumber dan pusat nilai. Pendidikan diarahkan kepada iman, ketaatan, akhlak, dan tanggung jawab transendental. Antroposentrisme memberikan perhatian kepada manusia. Pendidikan harus menghargai akal, kebebasan, pengalaman, kreativitas, martabat, dan aktualisasi diri peserta didik.
Persoalannya muncul ketika salah satunya diabsolutkan.
Teosentrisme yang diterjemahkan secara sempit dapat menghasilkan pendidikan yang terlalu menekankan kepatuhan. Peserta didik takut bertanya, perbedaan dianggap pembangkangan, dan guru merasa memiliki kebenaran yang tidak boleh dikritik. Padahal menjadikan Tuhan sebagai pusat nilai tidak berarti menjadikan manusia tertentu sebagai pemilik kebenaran mutlak.
Sebaliknya, antroposentrisme absolut juga mempunyai masalah. Kebebasan manusia dapat kehilangan arah ketika manusia menjadikan dirinya sendiri sebagai ukuran terakhir kebenaran dan kebaikan.
Hasilnya bisa paradoksal: manusia sangat pintar tetapi tidak bijaksana, sangat terampil tetapi tidak jujur, sangat bebas tetapi tidak bertanggung jawab.
Hamba yang Aktif, Khalifah yang Beradab
Pendidikan Islam sebenarnya memiliki konsep manusia yang dapat menjembatani dua kutub tersebut. Manusia adalah ‘abd, hamba Tuhan, sekaligus khalifah, pengelola kehidupan.
Sebagai ‘abd, manusia menyadari bahwa dirinya bukan pusat alam semesta. Ilmu, kebebasan, kekayaan, kekuasaan, dan teknologi mempunyai dimensi pertanggungjawaban.
Sebagai khalifah, manusia justru tidak boleh pasif. Ia harus berpikir, meneliti, mencipta, bekerja, mengelola alam, menegakkan keadilan, menyelesaikan masalah, dan membangun peradaban.
Maka kesalehan tidak boleh mematikan kreativitas. Sebaliknya, kreativitas tidak boleh kehilangan moralitas.
Manusia beriman harus kritis. Manusia kritis harus beradab. Manusia beradab harus produktif. Manusia produktif harus memberi manfaat.
Humanisme Transendental Transformasional
Dari sinilah dapat dikembangkan Humanisme Transendental Transformasional (HTT) sebagai kerangka pendidikan Islam.
Humanisme berarti pendidikan memuliakan manusia. Transendental berarti manusia, ilmu, dan kebebasannya mempunyai orientasi nilai yang melampaui ego. Transformasional berarti pendidikan harus menghasilkan perubahan nyata pada diri, masyarakat, dan peradaban.
Kerangkanya dapat dirumuskan:
Tauhid → Fitrah → Akal → Kebebasan → Adab → Kesadaran Kritis → Transformasi → Peradaban.
Tauhid memberi arah. Fitrah menyediakan potensi. Akal membaca realitas. Kebebasan memungkinkan pilihan. Adab mengendalikan kebebasan. Kesadaran kritis menemukan persoalan. Transformasi menghadirkan perubahan. Peradaban menjadi medan kebermaknaan pendidikan.
Guru Harus Naik Kelas
Pertanyaan berikutnya sangat praktis: apa yang harus dilakukan guru di kelas?
HTT tidak boleh berhenti menjadi konsep yang indah dalam buku filsafat pendidikan. Ia harus terlihat dalam cara guru mengajar, bertanya, mendengar, memberikan tugas, menggunakan AI, dan mengevaluasi peserta didik.
Setidaknya ada enam langkah praktis.
Pertama, mulai pembelajaran dengan makna, bukan langsung materi. Sebelum menjelaskan apa yang akan dipelajari, guru mengajak peserta didik memahami mengapa pengetahuan itu penting. Apa manfaatnya bagi dirinya? Masalah kehidupan apa yang dapat diselesaikan? Nilai apa yang harus menyertai penggunaannya? Dengan demikian, ilmu tidak datang sebagai kumpulan informasi, tetapi sebagai sesuatu yang mempunyai tujuan.
Kedua, ubah kelas dari ruang menjawab menjadi ruang bertanya. Guru jangan hanya bertanya, “Apa jawabannya?” Dorong peserta didik bertanya, “Mengapa demikian?”, “Apa buktinya?”, “Adakah pandangan lain?”, dan “Apa akibatnya jika pengetahuan ini digunakan secara salah?” Kemampuan bertanya adalah pintu menuju nalar kritis.
Ketiga, berikan kebebasan yang disertai adab. Peserta didik boleh berbeda pendapat dengan guru. Bahkan perbedaan perlu dihargai selama disampaikan dengan alasan, data, dan bahasa yang santun. Di sinilah prinsip penting HTT bekerja: kebebasan tanpa adab menjadi kesewenang-wenangan, sedangkan adab tanpa kebebasan melahirkan kepatuhan semu.
Keempat, hubungkan pelajaran dengan masalah nyata. Jangan biarkan ilmu berhenti di buku dan ruang kelas. Peserta didik dapat diminta mengamati persoalan keluarga, sekolah, masyarakat, lingkungan, kemiskinan, sampah, intoleransi, budaya digital, atau persoalan lain di sekitarnya. Mereka tidak hanya diminta menjelaskan masalah, tetapi merancang solusi. Di sinilah pendidikan bergerak dari pengetahuan menuju transformasi.
Kelima, jadikan AI alat berpikir, bukan pengganti berpikir. Melarang AI sepenuhnya bukan jawaban. Membiarkan peserta didik menyerahkan seluruh pekerjaannya kepada AI juga bukan pendidikan. Guru dapat meminta peserta didik menggunakan AI untuk memperoleh alternatif jawaban, kemudian memeriksa sumber, menemukan kesalahan, membandingkan argumen, memperbaiki hasilnya, dan menjelaskan mengapa mereka menerima atau menolak jawaban tersebut.
Prinsipnya: AI membantu → akal memverifikasi → adab mengendalikan → nilai mengarahkan → manusia bertanggung jawab.
Keenam, akhiri pembelajaran dengan refleksi dan tindakan. Guru dapat menutup pelajaran dengan tiga pertanyaan sederhana: Apa yang saya pahami hari ini? Nilai apa yang saya dapatkan? Apa yang akan saya lakukan setelah mempelajarinya? Tiga pertanyaan ini menghubungkan ilmu dengan kesadaran dan tindakan.
Jika dilakukan secara konsisten, kelas tidak lagi hanya menjadi tempat menyelesaikan materi, tetapi menjadi ruang pertumbuhan manusia.
Evaluasi Juga Harus Berubah
Perubahan cara mengajar harus diikuti perubahan evaluasi. Jika guru mengajarkan kreativitas, tanggung jawab, dan pemecahan masalah tetapi ujian hanya meminta hafalan, peserta didik akan kembali mengejar hafalan.
Karena itu, selain tes, guru perlu menggunakan proyek, portofolio, presentasi, studi kasus, observasi, dan refleksi diri.
Yang ditanyakan bukan hanya “berapa nilai Anda?”, tetapi juga “apa yang dapat Anda kerjakan dengan ilmu itu dan manfaat apa yang Anda hasilkan?”
Spiritualitas pun tidak perlu diubah menjadi angka tentang kadar iman peserta didik. Yang dapat diamati adalah manifestasinya: kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kepedulian, kemampuan mengendalikan diri, dan kesediaan memperbaiki kesalahan.
Pendidikan di Era AI
Kecerdasan buatan semakin menegaskan pentingnya perubahan tersebut. Ketika mesin mampu menulis, menerjemahkan, menghitung, membuat gambar, dan membantu analisis, keunggulan pendidikan manusia tidak mungkin hanya diletakkan pada hafalan informasi.
Yang harus semakin diperkuat justru nalar kritis, integritas, empati, kreativitas, kebijaksanaan, tanggung jawab, dan adab.
AI boleh memberikan jawaban, tetapi manusia menentukan apakah jawaban itu benar, baik, adil, dan layak digunakan.
Karena itu, guru masa depan bukan sekadar orang yang mempunyai banyak jawaban. Guru adalah orang yang membantu peserta didik menemukan pertanyaan yang benar, memeriksa kebenaran, memilih yang baik, dan berani bertanggung jawab atas pilihannya.
Kembali kepada Manusia
Pada akhirnya, krisis pendidikan dapat menjadi krisis tentang manusia. Pendidikan tidak cukup menghasilkan lulusan. Pendidikan harus menghasilkan manusia terdidik.
Manusia terdidik adalah manusia yang beriman tetapi tidak pasif, cerdas tetapi tidak angkuh, merdeka tetapi bertanggung jawab, kritis tetapi beradab, profesional tetapi humanis, serta menguasai teknologi tanpa dikuasai teknologi.
Itulah arah Humanisme Transendental Transformasional: Tuhan menjadi sumber dan horizon nilai, manusia menjadi subjek pendidikan, ilmu menjadi kekuatan, kebebasan menjadi amanah, adab menjadi pengendali, dan transformasi menjadi bukti.
Maka tugas praktis guru dapat dipadatkan dalam satu alur: beri makna → bangkitkan pertanyaan → beri ruang kebebasan → tanamkan adab → hadapkan pada masalah nyata → manfaatkan teknologi secara kritis → ajak berefleksi → dorong tindakan.
Ketika alur itu hidup di ruang kelas, pendidikan tidak hanya memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid. Pendidikan sedang menumbuhkan manusia yang mampu menggunakan ilmu untuk memanusiakan manusia dan membangun peradaban.
