![]() |
Oleh: Duski Samad
Transformasi Tuanku 5.0 berangkat dari kenyataan sederhana tetapi mendasar: zaman berubah, umat berubah, masalah berubah, tetapi risalah Islam tetap menjadi pedoman. Perubahan zaman tidak mengharuskan Tuanku meninggalkan tradisi, apalagi memutus sanad keilmuan. Sebaliknya, perubahan menuntut kemampuan baru agar warisan keilmuan yang kuat tetap dapat berbicara kepada umat yang hidup dalam realitas baru.
Tuanku memiliki modal sosial dan spiritual yang tidak kecil. Ada sanad, turats, tradisi mangaji duduk, surau, adab, spiritualitas, dan kepercayaan masyarakat. Semua itu adalah kekayaan yang tidak dapat digantikan oleh teknologi. Akan tetapi, modal tradisional tersebut perlu dipertemukan dengan literasi kontemporer, data dan fakta, ilmu sosial, teknologi digital, metodologi dakwah, konseling, pengasuhan, serta kepemimpinan sosial.
Persoalannya bukan lagi apakah Tuanku masih dibutuhkan. Justru kebutuhan umat terhadap Tuanku semakin besar, sementara Tuanku yang benar-benar tageh—kuat kaji, matang kepribadian, luas wawasan, tinggi marwah, dan sanggup membimbing umat—dirasakan semakin terbatas.
REALITAS PEKANBARU: INFRASTRUKTUR KEAGAMAAN DAN KETERSEDIAAN TUANKU
Pekanbaru dapat menjadi laboratorium untuk membaca perubahan tersebut. Masyarakat Piaman di rantau telah berkembang menjadi komunitas besar. Mereka membangun organisasi, yayasan, sekolah, masjid, musala, surau, perkumpulan nagari, dan berbagai pranata sosial-keagamaan.
Data publik menunjukkan bahwa Kota Pekanbaru memiliki lebih dari seribu masjid dan musala. Di dalam ekosistem besar tersebut terdapat pula puluhan rumah ibadah yang dibangun, dikelola, atau mempunyai hubungan sosial dengan masyarakat Piaman.
Data awal komunitas menyebut lebih dari 50 masjid, musala, dan surau berkaitan dengan masyarakat Piaman di Pekanbaru, sementara Tuanku yang dinilai tageh dalam tradisi kaji Piaman disebut tidak sampai 10 orang. Angka ini belum dapat diposisikan sebagai statistik resmi karena masih memerlukan pendataan dan verifikasi PKDP. Namun sebagai data awal, ia cukup memberikan sinyal tentang adanya persoalan yang perlu diperhatikan.
Persoalannya adalah kesenjangan antara pertumbuhan infrastruktur keagamaan dengan pertumbuhan sumber daya keulamaan.
Membangun masjid dapat dilakukan dalam hitungan bulan. Melahirkan seorang Tuanku membutuhkan waktu bertahun-tahun. Ia harus mangaji duduk, membaca kitab, berguru, menjaga sanad, membentuk adab, menempa kehidupan spiritual, berinteraksi dengan jamaah, dan akhirnya memperoleh pengakuan sosial.
Di sinilah paradoks itu muncul: rumah ibadah bertambah, tetapi kader keulamaan tidak bertambah secara sebanding.
Padahal kebutuhan umat jauh melampaui kebutuhan terhadap ceramah. Masyarakat membutuhkan tabligh, pembinaan keluarga, pendidikan generasi muda, konsultasi agama, pengasuhan, pendampingan spiritual, pemeliharaan tradisi, hingga bantuan menghadapi persoalan sosial.
Umat tidak sekadar membutuhkan penceramah. Mereka membutuhkan guru, pengasuh, pembimbing, dan tempat bertanya.
Artinya, perkembangan infrastruktur fisik harus diikuti pembangunan infrastruktur ruhani.
TURATS DAN SANAD: KUAT AKAR KEILMUANNYA
Kekuatan pertama Tuanku tetap terletak pada turats dan sanad. Tradisi mangaji duduk telah melahirkan generasi ulama yang kuat dalam membaca kitab, memahami fikih, tauhid, tasawuf, nahwu, sharaf, dan berbagai disiplin keislaman.
Kekuatan tersebut tidak boleh hilang. Di tengah banjir informasi digital, justru sanad dan kedalaman kaji menjadi pembeda antara pengetahuan agama yang memiliki akar dengan informasi agama yang sekadar viral.
Namun ada tantangan baru. Tuanku tidak cukup hanya sibuk membaca kitab, tetapi juga harus membaca masyarakat.
Karena itu dibutuhkan tiga kemampuan sekaligus: membaca kitab, membaca konteks, dan membaca akibat. Membaca kitab memberikan norma. Membaca konteks memberikan pemahaman terhadap realitas. Membaca akibat melahirkan pertimbangan maslahat dan mafsadat.
Dengan cara demikian, turats tidak menjadi peninggalan masa lalu yang hanya diulang, tetapi menjadi sumber ilmu yang terus mampu menjawab persoalan baru.
Sanad menjaga autentisitas, sedangkan kontekstualisasi menjaga relevansi.
LITERASI KONTEMPORER: MEMBACA UMAT DAN ZAMAN
Umat hari ini berbeda dengan umat beberapa dekade lalu. Tingkat pendidikan meningkat, akses informasi terbuka, dan masyarakat semakin mudah memeriksa apa yang didengarnya.
Seseorang dapat mendengarkan ceramah Tuanku di masjid, lalu beberapa menit kemudian membandingkannya dengan kitab digital, ceramah ulama lain, artikel akademik, mesin pencari, atau AI. Otoritas keagamaan kini berhadapan dengan masyarakat yang semakin melek literasi.
Dalam keadaan seperti itu, fanatisme berlebihan, taklid yang tidak proporsional, cerita yang sulit diverifikasi, atau ilustrasi irasional dapat menciptakan jarak antara Tuanku dengan generasi terdidik.
Pada saat bersamaan, persoalan umat juga semakin kompleks. Narkoba, krisis keluarga, pola pengasuhan anak, kesehatan mental, ekonomi digital, budaya populer, media sosial, kecerdasan buatan, konsumerisme, dan perubahan orientasi generasi muda tidak selalu dapat dijawab hanya dengan pendekatan konvensional.
Tuanku tidak harus menjadi ahli semua disiplin. Tetapi Tuanku perlu mempunyai literasi lintas ilmu dan kesiapan berkolaborasi dengan psikolog, dokter, pendidik, akademisi, ahli hukum, profesional, pemerintah, dan unsur masyarakat lainnya.
Prinsipnya sederhana: baca kitab untuk memahami nilai, baca data untuk memahami realitas, baca umat untuk memahami kebutuhan, dan baca zaman untuk menentukan strategi.
KOMUNIKASI DIGITAL: DARI MIMBAR MENUJU RUANG PUBLIK
Mimbar dakwah juga telah berubah. Dahulu Tuanku berbicara di surau, masjid, halaqah, dan majelis pengajian. Kini mimbar itu telah meluas sampai ke layar telepon genggam.
Generasi baru mengonsumsi pengetahuan melalui video pendek, podcast, media sosial, mesin pencari, dan kecerdasan buatan. Mereka hidup dalam bahasa komunikasi yang cepat, visual, interaktif, dan argumentatif.
Tuanku memiliki modal retorika alamiah yang kuat. Bahasa Piaman, pepatah, kisah, humor, dan kemampuan bertutur merupakan kekayaan dakwah. Tetapi kemampuan alamiah tersebut perlu memperoleh sentuhan ilmiah dan kontemporer.
Pilihan kata harus lebih aktual. Argumentasi perlu lebih logis. Data harus akurat. Kisah harus dapat dipertanggungjawabkan. Materi panjang harus mampu dikemas menjadi pesan yang sederhana tanpa menjadi dangkal.
Tuanku karena itu perlu bergerak dari mimbar menuju media, dari jamaah lokal menuju jamaah digital, dari ceramah menuju dialog, dan dari retorika menuju argumentasi, tanpa kehilangan kedalaman kaji dan adab.
KONSELING, PENGASUHAN DAN INTERNALISASI
Salah satu kesenjangan terbesar antara kebutuhan umat dan pelayanan keagamaan adalah pada aspek pengasuhan.
Tidak semua persoalan umat dapat diselesaikan dengan ceramah satu jam. Ada remaja yang kehilangan arah, anak yang mengalami masalah perilaku, keluarga yang sedang berkonflik, orang tua yang kebingungan menghadapi dunia digital anaknya, dan jamaah yang mengalami kegelisahan spiritual.
Mereka membutuhkan orang yang bukan hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu mendengar, memahami, mendampingi, dan membimbing.
Di sinilah fungsi Tuanku perlu diperluas. Dari penceramah menjadi pengasuh, dari pemberi nasihat menjadi pendamping, dari tabligh menuju tarbiyah, dan dari penyampaian nilai menuju internalisasi nilai.
Tasawuf sebenarnya menyediakan modal yang sangat kuat untuk fungsi tersebut. Konsep tazkiyatun nafs, muraqabah, muhasabah, sabar, tawakal, ridha, mahabbah, dan taqarrub ilallah dapat dipertemukan dengan psikologi, pendidikan, dan konseling kontemporer.
Lebih dari itu, internalisasi nilai perlu dilakukan secara terukur. Selama ini keberhasilan dakwah sering dinilai dari banyaknya jamaah atau meriahnya kegiatan. Padahal ukuran yang lebih substantif adalah apa yang berubah setelah dakwah dilakukan.
Dakwah karena itu perlu bergerak melalui proses pemetaan masalah, penentuan tujuan, penyusunan materi, pemilihan metode, internalisasi, pendampingan, dan evaluasi.
Tabligh akhirnya tidak berhenti sebagai kegiatan, tetapi menjadi proses transformasi.
PENJAGA TRADISI DAN IDENTITAS PIAMAN
Kedudukan Tuanku di rantau mempunyai dimensi lain yang tidak kalah penting. Tuanku merupakan penjaga kesinambungan agama sekaligus identitas kultural masyarakat Piaman.
Tradisi mauluik, badikie, pengajian, tahlil, doa, pendidikan Al-Qur'an, tradisi surau, pengurusan kematian, perkawinan, hubungan mamak-kemenakan, dan berbagai ekspresi sosial-keagamaan membutuhkan orang yang memahami agama sekaligus budaya masyarakat.
Dalam posisi ini, Tuanku bukan sekadar orang yang dipanggil untuk membaca doa ketika ada acara. Tuanku adalah aktor transmisi budaya keagamaan antargenerasi.
Jika kader Tuanku berkurang, yang terancam bukan hanya keberlangsungan jadwal ceramah. Yang lebih serius adalah kemungkinan terputusnya mata rantai kaji, sanad, tradisi, adab, dan pengasuhan umat.
Oleh sebab itu, regenerasi Tuanku bukan hanya kepentingan organisasi. Ia adalah tanggung jawab agama, sejarah, dan kebudayaan masyarakat Piaman di rantau.
KEPEMIMPINAN SOSIAL: MARWAH YANG FLEKSIBEL
Marwah Tuanku juga perlu ditempatkan secara tepat dalam masyarakat yang berubah.
Marwah tidak cukup dibangun melalui gelar atau jarak sosial. Masyarakat modern semakin kritis terhadap siapa pun yang memegang otoritas. Mereka melihat ilmu, perilaku, integritas, kemampuan berkomunikasi, dan keberpihakan seorang pemimpin kepada kebutuhan masyarakat.
Karena itu, Tuanku harus tetap tegas dalam prinsip tetapi fleksibel dalam pendekatan.
Tageh bukan berarti kareh.
Tuanku nan tageh adalah Tuanku yang kuat ilmu dan pendiriannya tetapi santun bahasanya; kokoh sanadnya tetapi terbuka pikirannya; tinggi marwahnya tetapi dekat dengan jamaahnya.
Marwah bukanlah menciptakan jarak. Marwah adalah kewibawaan yang lahir dari ilmu, adab, integritas, dan pelayanan.
DARI INFRASTRUKTUR MENUJU KADERISASI
Data awal mengenai puluhan rumah ibadah masyarakat Piaman dan terbatasnya Tuanku nan tageh seharusnya tidak berhenti sebagai bahan diskusi. Ia perlu menjadi pintu masuk bagi kebijakan yang lebih sistematis.
Langkah pertama adalah melakukan Sensus Rumah Ibadah dan Tuanku Piaman Pekanbaru 2026.
Pendataan dapat mencakup masjid, musala, dan surau; lokasi dan pengelolanya; jumlah jamaah; Tuanku yang membina; asal nagari; guru dan sanad; kompetensi kitab; bidang keahlian; kegiatan tabligh; tradisi mauluik-badikie; pendidikan anak; pembinaan keluarga; serta kebutuhan pengasuhan umat.
Dari sensus tersebut akan diketahui secara lebih akurat berapa rumah ibadah masyarakat Piaman, berapa Tuanku yang tersedia, apa kompetensi mereka, bagaimana persebarannya, dan kebutuhan apa yang belum terlayani.
Data tersebut kemudian menjadi dasar menyusun peta kebutuhan Tuanku PKDP Pekanbaru.
GERAKAN KADERISASI TUANKU 5.0
Setelah pemetaan, pekerjaan yang lebih besar adalah kaderisasi.
PKDP, surau, pesantren, perguruan tinggi Islam, Tuanku senior, ninik mamak, cadiak pandai, profesional, dan pengurus rumah ibadah perlu membangun gerakan bersama untuk menemukan calon, mendidik, meningkatkan kompetensi, mendampingi, serta menyediakan ruang pengabdian bagi generasi Tuanku berikutnya.
Kaderisasi tersebut tidak cukup hanya menghasilkan Tuanku yang pandai membaca kitab. Tuanku masa depan memerlukan integrasi turats dan sanad, literasi data dan fakta, komunikasi digital, konseling dan pengasuhan, serta kepemimpinan sosial.
Itulah yang dimaksud dengan Tuanku 5.0.
Tuanku yang membaca kitab sekaligus membaca zaman. Tuanku yang menjaga tradisi tetapi memahami transformasi. Tuanku yang memberikan tabligh sekaligus melakukan tarbiyah. Tuanku yang memiliki marwah sekaligus dekat dengan umat.
Rumah ibadah tentu penting dan harus terus dimakmurkan. Namun pembangunan fisik harus berjalan bersama pembangunan sumber daya keulamaan.
Sebab masjid, musala, dan surau menyediakan ruang bagi umat untuk berkumpul, tetapi Tuanku nan tageh memberikan ruh kepada ruang tersebut—menghidupkannya dengan ilmu, sanad, ibadah, tradisi, pengasuhan, keteladanan, dan pembentukan generasi.
Transformasi Tuanku 5.0 karena itu bukanlah gerakan meninggalkan tradisi. Justru ia adalah ikhtiar memastikan tradisi mempunyai masa depan.
Tuanku masa depan adalah Tuanku yang kuat kajinya, akurat datanya, logis argumentasinya, efektif metodenya, luas literasinya, halus pengasuhannya, fleksibel pendekatannya, serta tetap kokoh sanad dan marwahnya.29082026.
