![]() |
| Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al-Ikhlas Panam, Pekanbaru, 29–30 Agustus 2026, menghadirkan pemandangan yang mengingatkan suasana Mauluik di kampung halaman Piaman. |
Oleh: Duski Samad
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Al-Ikhlas Panam, Pekanbaru, 29–30 Agustus 2026, menghadirkan pemandangan yang mengingatkan suasana Mauluik di kampung halaman Piaman. Masjid dipenuhi jamaah. Jamba tersusun dengan aneka hidangan. Para tokoh, Tuanku, pengurus PKDP, ikatan kampung, kaum ibu, dan masyarakat duduk bersama dalam suasana hangat dan penuh persaudaraan.
Foto-foto kegiatan memperlihatkan betapa kuatnya tradisi itu dibawa dari kampung ke rantau. Jamba yang tersusun tinggi, tudung saji berbalut kain berwarna-warni, jamaah yang memenuhi ruangan masjid, dan kebersamaan para tokoh bukan hanya menghadirkan kemeriahan. Semuanya menjadi gambaran tentang agama yang bertemu dengan budaya dan solidaritas sosial urang Piaman di perantauan.
Mauluik ternyata tidak kehilangan rumahnya ketika orang Piaman merantau. Rumah itu justru dibangun kembali di rantau.
PKDP Memperlihatkan Tajinya
Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa PKDP sebagai paguyuban urang Piaman di rantau nyata dan mampu memperlihatkan tajinya sebagai wadah perhimpunan masyarakat Piaman.
Organisasi perantauan tentu tidak cukup hanya memiliki struktur kepengurusan. Kekuatan organisasi justru terlihat ketika ia mampu menghadirkan jamaah, membangun kepercayaan, menggerakkan partisipasi dan menjadikan kegiatan sosial-keagamaan sebagai milik bersama.
Di bawah kepemimpinan Amran Tambi, seorang pengusaha, dengan dukungan pengurus PW, PD, PC serta berbagai ikatan kampung, kekuatan sosial tersebut dapat dimobilisasi. Mauluik menjadi salah satu contoh konkretnya.
Menariknya, setiap PKDP kota dan kabupaten datang tidak dengan tangan kosong. Mereka membawa infak yang nilainya disebut dalam hitungan jutaan rupiah. Di sini terlihat bahwa Mauluik bukan hanya kegiatan konsumtif. Di dalamnya tumbuh budaya memberi, berinfak dan mengambil bagian dalam tanggung jawab bersama.
Infak itu sekaligus merupakan ukuran rasa memiliki. Orang bersedia mengeluarkan hartanya ketika ia percaya kepada lembaga, merasa menjadi bagian darinya dan mengetahui bahwa kontribusinya diperuntukkan bagi kepentingan bersama.
Mauluik yang Terorganisasi
Lebih menarik lagi, tradisi Mauluik urang Piaman di Riau tidak dibiarkan berjalan sendiri-sendiri. PKDP ikut mengatur jadwal Mauluik secara bergantian pada hari Jumat, Sabtu dan Ahad.
Pengaturan ini sangat penting karena jumlah komunitas dan ikatan kampung cukup banyak. Dengan jadwal yang tertata, jamaah dapat saling menghadiri dan membantu. Satu kelompok tidak berjalan sendiri, melainkan diperkuat oleh kelompok lainnya.
Dalam bulan Rabiul Awal, Rabiul Akhir hingga Jumadil Awal, hampir setiap akhir pekan tersedia agenda Mauluik. Dengan demikian, Mauluik tidak berhenti sebagai satu acara pada satu tanggal. Ia berkembang menjadi semacam musim silaturahmi keagamaan masyarakat Piaman di rantau.
Jumat, Sabtu dan Ahad menjadi ruang perjumpaan. Hari ini jamaah menjadi tuan rumah, pekan berikutnya mereka menjadi tamu di tempat lain. Di sinilah terjadi pertukaran sosial yang terus-menerus: bertemu, makan bersama, berinfak, mendengar kaji dan memperbarui persaudaraan.
Tradisi akhirnya membangun jaringan.
Pandai Dikie Didatangkan dari Sungai Limau
Ada satu fakta yang menarik sekaligus patut direnungkan. Untuk pelaksanaan Mauluik ini, pandai dikie ternyata tidak tersedia secara memadai di Pekanbaru sehingga harus didatangkan khusus dari Sungai Limau, Pariaman.
Hal ini menunjukkan betapa kuatnya keinginan masyarakat mempertahankan autentisitas tradisi Mauluik Piaman. Jarak Pekanbaru–Pariaman tidak menjadi penghalang. Pandai dikie didatangkan dari kampung agar rangkaian Mauluik tetap berlangsung sebagaimana tradisi yang diwariskan.
Namun fakta tersebut sekaligus memberikan peringatan tentang regenerasi.
Jika urang Piaman di rantau sudah mampu membangun masjid, organisasi, jaringan ekonomi dan kegiatan besar, sudah saatnya dipikirkan pula kaderisasi pandai dikie di rantau. Generasi muda Piaman yang lahir di Pekanbaru perlu diperkenalkan, dilatih dan diberi ruang untuk mempelajarinya.
Jangan sampai suatu ketika jamaah masih ramai, jamba masih banyak, dana tersedia, tetapi orang yang menguasai tradisi keagamaan tersebut semakin langka.
Maka tugas berikutnya bukan sekadar mendatangkan pandai dikie, tetapi melahirkan pandai dikie generasi rantau.
Ceramah, Dikie, Syarafal Anam dan Makan Bajamba
Keunikan Mauluik Piaman terletak pada kemampuannya mengintegrasikan berbagai unsur. Ceramah agama berjalan bersama dikie dan Syarafal Anam. Zikir dan doa berjumpa dengan makan bajamba. Kegiatan masjid disokong oleh gotong royong masyarakat.
Foto-foto Mauluik di Masjid Al-Ikhlas memperlihatkan dengan jelas kekayaan tersebut. Jamba tidak sekadar tempat meletakkan makanan. Orang duduk mengelilinginya, membuka tudung bersama dan menikmati hidangan dalam suasana egaliter.
Di hadapan jamba, status sosial menjadi lebih cair. Pengusaha, Tuanku, tokoh masyarakat, pengurus organisasi dan jamaah biasa dapat duduk berdekatan. Makanan menjadi wasilah silaturahmi.
Inilah salah satu kekuatan tradisi Islam Nusantara: ajaran agama tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi dihidupkan melalui pengalaman kebersamaan.
605 Kilogram Lamang dan Kekuatan Goro
Kemeriahan itu tidak datang dengan sendirinya. Salah satu fakta yang luar biasa adalah kegiatan malamang sekitar 605 kilogram.
Bayangkan kerja sosial di belakang angka tersebut. Ada orang yang menyumbangkan santan dan bahan lainnya. Ada yang menyiapkan bambu dan kayu bakar. Ada yang bekerja sejak persiapan, memasak, mengangkut, menghidangkan sampai membersihkan tempat.
Semuanya digerakkan dengan goro—gotong royong.
Karena itu, 605 kilogram lamang tidak semestinya hanya dibaca sebagai jumlah makanan. Ia adalah indikator modal sosial. Di dalamnya ada trust, pengorbanan, partisipasi dan rasa memiliki.
Masyarakat yang masih sanggup bergotong royong sesungguhnya memiliki kekayaan sosial yang tidak mudah dinilai dengan uang.
Tuanku di Rantau: Gelar Dibawa, Kepercayaan Dibangun
Mauluik juga memperlihatkan posisi Tuanku di tengah masyarakat Piaman di rantau. Namun kehidupan rantau mempunyai karakter berbeda dari kampung.
Di kampung, seorang Tuanku tumbuh dalam ekosistem surau, guru-murid, kaum, nagari dan jamaah yang telah mengenalnya dalam waktu panjang. Di rantau, modal sosial seperti itu tidak otomatis tersedia.
Realitasnya, ada Tuanku yang sukses dan diterima dengan baik oleh perantau, memiliki jamaah dan menjadi rujukan masyarakat. Tetapi ada pula yang kurang berhasil membangun penerimaan sosial.
Hal ini perlu menjadi bahan evaluasi pendidikan Tuanku ke depan. Penguasaan kitab dan kaji tetap merupakan fondasi, tetapi masyarakat rantau juga membutuhkan Tuanku yang mempunyai kemampuan komunikasi, kepemimpinan, wawasan sosial, kemampuan mendampingi keluarga dan generasi muda, serta kecakapan menghadapi masyarakat urban dan digital.
Rantau adalah ruang ujian otoritas.
Gelar Tuanku dapat dibawa dari kampung, tetapi kepercayaan jamaah harus diperoleh melalui ilmu, akhlak, pelayanan dan keteladanan.
Mauluik sebagai Living Heritage
Mauluik di Masjid Al-Ikhlas Panam dapat disebut sebagai living heritage—warisan yang masih hidup. Warisan itu bukan sekadar benda lama, tetapi praktik sosial yang terus dijalankan dan diwariskan.
Dikie, Syarafal Anam, malamang, makan bajamba, jamba, goro, infak, penghormatan kepada Tuanku dan silaturahmi ikatan kampung merupakan mata rantai yang menghubungkan generasi rantau dengan akar budaya dan keagamaannya di Piaman.
Di sinilah Mauluik memiliki fungsi pendidikan yang besar.
Anak-anak yang lahir dan tumbuh di Pekanbaru mungkin tidak mengalami kehidupan kampung sebagaimana orang tua dan kakek-neneknya. Namun melalui Mauluik mereka dapat melihat, mendengar, merasakan dan mengalami langsung bagaimana identitas Piaman diwariskan.
Tentu substansi Maulid tidak boleh tenggelam oleh kemeriahan tradisi. Jamba boleh tinggi, lamang boleh ratusan kilogram, jamaah boleh ribuan dan infak boleh jutaan rupiah, tetapi semuanya harus bermuara kepada satu pusat: mahabbah dan ittiba' kepada Rasulullah SAW.
Allah SWT berfirman:
> “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”
(QS. Al-Ahzab [33]: 21).
Karena itu ukuran keberhasilan Mauluik bukan semata-mata ramainya acara, tetapi sejauh mana setelah Mauluik akhlak semakin baik, silaturahmi semakin kokoh, kepedulian semakin tinggi dan kehidupan semakin dekat kepada tuntunan Rasulullah SAW.
Dari Merawat Tradisi Menuju Regenerasi
Mauluik Masjid Al-Ikhlas Panam memberikan pesan penting bahwa urang Piaman boleh jauh dari kampung, tetapi akar budaya dan agamanya tetap dapat tumbuh subur di rantau.
PKDP telah memperlihatkan kemampuan mengorganisasi. Ikatan kampung bergerak. Infak terkumpul. Goro berjalan. Jamba tersusun. Ratusan kilogram lamang dibuat. Pandai dikie bahkan didatangkan dari Sungai Limau. Mauluik berlangsung bergantian dari Rabiul Awal, Rabiul Akhir sampai Jumadil Awal.
Tahap berikutnya adalah regenerasi.
Generasi rantau perlu dipersiapkan menjadi pandai dikie, Tuanku, pengurus masjid, pemimpin organisasi, pengusaha dermawan dan tokoh masyarakat. Dengan begitu, yang diwariskan bukan hanya kemeriahan acara, melainkan sistem nilai dan sumber daya manusia yang menjamin tradisi terus hidup.
Semangat membuat 605 kilogram lamang hendaknya berkembang menjadi semangat yang sama besarnya untuk mendidik generasi, membantu anak yatim, memberikan beasiswa, menguatkan ekonomi jamaah, mengkader Tuanku dan pandai dikie, serta memakmurkan masjid.
Itulah Mauluik yang sesungguhnya hidup: agama terpelihara, tradisi diwariskan, organisasi diperkuat, ekonomi berbagi, Tuanku dikader, dan generasi disiapkan.
Mauluik meriah, dikie bergema, jamba terbuka, infak mengalir, silaturahmi kokoh, dan urang Piaman di rantau semakin basamo.
Panam, Pekanbaru, 30 Agustus 2026.
