![]() |
Oleh: Duski Samad
Refleksi Subuh di Masjid Nurul Haq, Kota Bukittinggi
Ada pengalaman ibadah yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ia hanya dapat dirasakan oleh mereka yang telah membiasakan diri melangkahkan kaki ke masjid pada waktu Subuh. Kesyahduan itu bukan sekadar suasana hening menjelang terbitnya matahari, tetapi merupakan dzauq, cita rasa spiritual yang perlahan mengkristal dalam hati karena kedekatan dengan Allah SWT.
Kesyahduan inilah yang menjadi pintu masuk menuju kekhusyukan. Khusyuk tidak lahir secara tiba-tiba ketika takbiratul ihram diucapkan, melainkan dipersiapkan sejak seseorang berwudu, berjalan menuju masjid, duduk menanti iqamah, lalu larut dalam bacaan imam. Kekhusyukan itu kemudian dipelihara dengan dzikir dan doa setelah shalat sehingga hati tetap terhubung dengan Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
«"Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang khusyuk dalam shalatnya." (QS. Al-Mu'minun: 1–2).»
Kekhusyukan tersebut tumbuh dari suasana yang tenang, hati yang hadir, dan lingkungan ibadah yang mendukung. Karena itu, suasana sebelum, ketika, dan sesudah shalat merupakan satu kesatuan pengalaman spiritual yang tidak terpisahkan.
Shalat Subuh berjamaah menghadirkan ketenangan batin yang berbeda. Bacaan imam yang tartil, kekhusyukan makmum, dzikir yang dipimpin dengan penuh ketenangan, serta doa yang dipanjatkan bersama menjadi rangkaian ibadah yang menghidupkan hati. Di Masjid Nurul Haq, Kota Bukittinggi, suasana seperti itu terasa begitu kuat. Setelah shalat, imam memimpin dzikir dan doa dengan suara yang dapat diikuti jamaah, kemudian dilanjutkan dengan kajian Subuh yang memberikan pencerahan dan penguatan iman. Inilah paket ibadah Subuh yang bukan hanya menenangkan jiwa, tetapi juga memperkaya wawasan keislaman.
Al-Qur'an mendorong orang-orang beriman untuk memperbanyak zikir kepada Allah:
«"Wahai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah dengan zikir yang sebanyak- banyaknya." (QS. Al-Ahzab: 41).»
Dalam hadis sahih juga disebutkan bahwa setelah salam Rasulullah SAW beristigfar tiga kali, kemudian membaca zikir-zikir yang ma'tsur. Para sahabat mendengar bacaan zikir beliau sehingga mereka dapat mengikutinya. Dari Ibnu Abbas r.a. diriwayatkan:
«"Mengeraskan suara dalam berzikir setelah manusia selesai melaksanakan shalat wajib pernah dilakukan pada masa Rasulullah SAW." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).»
Hadis ini menjadi salah satu dasar kebolehan imam memimpin zikir dan doa dengan suara yang terdengar oleh jamaah, terutama sebagai sarana pendidikan dan pembiasaan ibadah. Tentu pelaksanaannya tetap memperhatikan kemaslahatan, tidak berlebihan, dan tidak mengganggu pihak lain.
TOA LUAR MASJID
Namun, di tengah kesyahduan itu, terkadang muncul gangguan yang patut menjadi perhatian bersama. Tidak jarang suara pengeras suara luar (toa) dari masjid lain bertumpang tindih dengan bacaan imam di masjid tempat jamaah sedang melaksanakan shalat. Akibatnya, konsentrasi dan kekhusyukan jamaah menjadi terganggu karena harus mendengar dua bacaan yang berlangsung bersamaan.
Penggunaan pengeras suara luar tentu merupakan bagian dari syiar Islam. Allah SWT berfirman:
«"Demikianlah. Barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu berasal dari ketakwaan hati." (QS. Al-Hajj: 32).»
Namun syiar juga harus berjalan seiring dengan adab dan kemaslahatan. Rasulullah SAW pernah mengingatkan para sahabat yang membaca Al-Qur'an dengan suara keras sehingga saling mengganggu:
«"Janganlah sebagian kalian mengeraskan bacaan Al-Qur'an atas sebagian yang lain." (HR. Abu Dawud).»
Hadis ini menunjukkan bahwa ibadah yang baik tidak boleh mengurangi kekhusyukan orang lain yang juga sedang beribadah.
Oleh karena itu, sudah saatnya pengurus masjid memberikan perhatian terhadap pengelolaan penggunaan pengeras suara. Himbauan Dewan Masjid Indonesia (DMI) agar penggunaan toa masjid diatur secara bijaksana patut diapresiasi dan dilaksanakan. Penggunaan pengeras suara luar hendaknya mempertimbangkan keberadaan masjid-masjid yang berdekatan sehingga tidak saling mengganggu pelaksanaan shalat berjamaah.
Selain itu, aspek akustik juga perlu menjadi perhatian. Kualitas pengeras suara yang baik bukan diukur dari kerasnya volume, melainkan dari kejernihan suara, keseimbangan nada, dan kenyamanan pendengaran. Pengaturan arah speaker, volume yang proporsional, serta kualitas mikrofon merupakan bagian dari profesionalisme pengelolaan masjid modern. Syiar Islam akan terasa lebih indah apabila suara imam terdengar jelas tanpa distorsi dan tanpa mengurangi kekhusyukan jamaah di masjid lain.
Menariknya, kajian Subuh pagi itu mengingatkan jamaah kepada firman Allah tentang karakter penghuni surga:
«"(Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pengasih sekalipun Dia tidak terlihat, dan dia datang dengan hati yang kembali (kepada Allah)." (QS. Qaf: 33).»
Ayat ini mengajarkan bahwa penghuni surga adalah mereka yang memiliki hati yang selalu kembali kepada Allah (qalbin munib). Hati seperti itu dibentuk melalui shalat yang khusyuk, zikir yang istiqamah, doa yang tulus, dan lingkungan ibadah yang penuh ketenangan.
Semoga masjid-masjid kita tidak hanya ramai oleh suara, tetapi juga dipenuhi kekhusyukan; tidak hanya semarak oleh syiar, tetapi juga menghadirkan ketenangan; tidak hanya mengajak orang datang ke masjid, tetapi juga membantu jamaah merasakan manisnya beribadah.
Sebab, pada akhirnya, syiar yang paling indah bukanlah yang paling keras suaranya, melainkan yang paling mampu menghadirkan kekhusyukan, memperkuat ukhuwah, dan mendekatkan hati manusia kepada Allah SWT.@nurulhaq.
05082026
