![]() |
Zulnaidi SH Bagindo Sailan
Wajah Islam di panggung sejarah selalu dikenal lewat kesejukan akhlak pemeluknya dan kedamaian pesan yang dibawanya. Ia adalah oase di tengah gersangnya peradaban. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, sebuah anomali spiritual menyeruak ke permukaan, mengusik ketenangan batin umat. Di sudut-sudut ruang publik dan jagat digital, lahir sebuah fenomena gerakan dakwah yang tidak lagi mengetuk pintu hati, melainkan menggedornya dengan vonis dan penghakiman. Itulah fenomena aliran dakwah takfiri.
Kelompok ini hadir dengan karakteristik yang rigid, kaku, dan cenderung agresif. Mimbar-mimbar yang sejatinya berfungsi sebagai sumber mata air kedamaian, kerap berubah menjadi panggung untuk menuding, menyalahkan, bahkan dengan mudah mengafirkan sesama muslim yang berbeda pandangan (takfir). Pendekatan yang kasar dan hitam-putih ini tidak hanya mencederai nilai-nilai luhur Islam, tetapi juga menciptakan polarisasi yang tajam, kecurigaan antar-saudara, dan keresahan yang mendalam di tengah masyarakat.
Ketika teks-teks agama dipahami secara tekstualis-radikal tanpa sentuhan spiritualitas dan kebijaksanaan, dakwah kehilangan esensinya sebagai Rahmatan lil 'Alamin. Di titik inilah umat merindukan kembali teladan sejati, sebuah manhaj dakwah yang bersumber langsung dari kelemahlembutan Rasulullah SAW dan kearifan para ulama terdahulu.
Kelembutan: Alat Penetrasi Sosial Paling Efektif
Dalam sejarah peradaban, perubahan sosial yang dipaksakan lewat kekerasan sering kali melahirkan resistensi dan dendam yang berkepanjangan. Sebaliknya, kelemahlembutan hadir sebagai alat penetrasi sosial yang paling efektif. Sifat ini tidak mengetuk pintu fisik, melainkan mengetuk pintu hati.
Kelembutan memiliki kekuatan untuk meruntuhkan tembok ego, mencairkan kebekuan fanatisme, dan membangun jembatan kepercayaan antarmanusia. Ketika Islam hadir di tengah masyarakat jahiliah yang kaku dan penuh konflik antarsuku, pesan tauhid dapat diterima bukan karena paksaan, melainkan karena keindahan akhlak penyampainya. Kelembutan adalah bahasa universal yang melampaui sekat status sosial dan suku, menjadikannya metode paling ampuh untuk memikat hati manusia secara sukarela.
Rasulullah SAW: Pribadi Penyayang, Santun, dan Tak Pernah Marah
Nabi Muhammad SAW adalah personifikasi sempurna dari kelemahlembutan tersebut. Beliau mengelola hubungan sosial dengan kasih sayang yang meluap, tutur kata yang santun, dan kendali emosi yang luar biasa. Beliau tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan, serta tidak pernah marah untuk urusan pribadinya.
Karakter agung ini diabadikan oleh Allah SWT dalam Al-Qur'an, Surah Ali 'Imran Ayat 159:
"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu..."
Kelemahlembutan beliau bukan sekadar sikap pasif, melainkan strategi aktif yang bersumber dari wahyu. Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah SAW menegaskan posisi krusial sifat ini:
"Sesungguhnya kelemahlembutan itu tidak berada pada sesuatu kecuali ia akan menghiasinya (menjadikannya indah). Dan tidaklah kelemahlembutan itu dicabut dari sesuatu kecuali ia akan membuatnya buruk." (HR. Muslim).
Bahkan ketika Allah mengutus Nabi Musa dan Nabi Harun untuk menghadapi Firaun yang melampaui batas, perintah yang diberikan tetaplah sama, sebagaimana terekam dalam Surah Thaha Ayat 44:
"Maka berbiatlah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut."
3. Sifat Kasar: Musuh Utama Dakwah Bil-Hikmah
Sebaliknya, sifat kasar, kaku, merasa paling benar, dan gemar menghakimi adalah musuh nyata dari keberhasilan dakwah. Dakwah Islam wajib berpijak pada prinsip bil-hikmah (kebijaksanaan) dan mau’izhah hasanah (nasihat yang baik). Karakter yang keras hanya akan membangun benteng penolakan psikologis pada diri objek dakwah (mad'u).
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah memberikan peringatan keras mengenai hal ini dalam kitabnya, Madarijus Salikin:
"Sikap keras dan kasar dalam berdakwah hanya akan menutup pintu-pintu hati yang tersumbat, sedangkan kelemahlembutan adalah kunci utama untuk membukanya."
Sifat kasar bertolak belakang dengan misi Islam sebagai Rahmatan lil 'Alamin (rahmat bagi semesta alam). Seorang dai yang kasar sejatinya sedang menjauhkan manusia dari agama Allah, bukan mendekatkannya.
Ulama Klasik: Meneruskan Estafet Dakwah dengan Kearifan Lokal
Mengikuti jejak langkah Rasulullah SAW, para ulama klasik dan fukaha terdahulu memahami bahwa dakwah tidak boleh mencerabut manusia dari akar budayanya, selama budaya tersebut tidak melanggar syariat yang fundamental. Mereka menerapkan konsep Al-'Adah Muhakkamah (adat istiadat dapat dijadikan dasar hukum) untuk menyerap kearifan lokal sebagai media dakwah.
Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin mengumpamakan seorang dai dengan profesi medis:
"Seorang dai harus bersikap layaknya seorang dokter yang penuh kasih. Ia melihat penyakitnya, bukan membenci pasiennya. Ia mengobati dengan obat yang paling halus dan sesuai dengan kondisi sang pasien."
Ulama klasik tidak datang sebagai hakim yang langsung memvonis salah atau benar, melainkan sebagai pembimbing yang menyusupkan nilai-nilai Islam ke dalam tradisi masyarakat setempat secara bertahap dan bijaksana.
Pendekatan Tasawuf: Rahasia Suksesnya Islamisasi di Nusantara
Manifestasi terbaik dari kombinasi kelembutan, keteladanan nabi, dan kearifan lokal ini terjadi di Nusantara. Sejarah mencatat bahwa Islamisasi di tanah air berjalan damai tanpa pertumpahan darah. Rahasia terbesar dari kesuksesan ini adalah pendekatan tasawuf yang dibawa oleh para mubaligh dan Walisongo.
Para sufi mendekati masyarakat Nusantara dengan hati yang bersih, penuh kasih sayang, spiritualitas yang mendalam, serta sikap yang sangat adaptif. Mereka memilah dengan jeli: mana ajaran inti (akidah) yang tidak boleh bergeser, dan mana ekspresi budaya (muamalah/seni) yang bisa diislamkan.
Melalui media wayang, tembang, sastra, dan tradisi lokal yang disisipi napas tauhid, Islam meresap ke dalam sanubari masyarakat Nusantara tanpa menimbulkan guncangan budaya. Karakter tasawuf yang menekankan kebersihan batin dan keluhuran akhlak inilah yang berhasil melahirkan wajah Islam Indonesia yang ramah, teduh, dan inklusif hingga hari ini.
Ketua Bidang Polhubaga PD PERTI SUMBAR
