![]() |
Oleh: Duski Samad
Kehadiran Pondok Pesantren Shafwatul Huffazh di Pekanbaru, Riau, menarik dibaca dalam perspektif perkembangan pendidikan Islam kontemporer. Dari dokumentasi yang terlihat, pesantren ini sedang tumbuh dan membangun identitasnya. Bangunan bertingkat masih dalam proses penyelesaian, sementara masjid, ruang kegiatan, serta fasilitas pendukung sudah mulai difungsikan. Pesantren menyelenggarakan pendidikan tingkat Wustho (setara SMP) dan ‘Ulya (setara SMA) dengan visi yang tergambar dalam semboyan: “Unggul dalam Ilmu, Terampil dalam Amal, Mulia dalam Akhlak.”
Posisinya di tengah lingkungan perkotaan Pekanbaru memberikan karakter berbeda dibanding pesantren tradisional yang umumnya berkembang di kawasan pedesaan. Shafwatul Huffazh dapat diarahkan menjadi pesantren urban: pesantren yang tetap kuat dalam tahfizh, tafaqquh, ibadah dan akhlak, tetapi sekaligus mampu menjawab kebutuhan keluarga Muslim perkotaan.
Pesantren Baru, Modalnya Sudah Terlihat
Sebagai pesantren yang sedang berkembang, hal pertama yang menarik adalah adanya modal fisik dan kelembagaan. Kompleks telah memiliki bangunan pendidikan, masjid yang diberi nama Masjid Asshofwah, fasilitas kegiatan santri, serta bangunan bertingkat yang masih dikembangkan. Ini menunjukkan adanya keberanian melakukan investasi pendidikan jangka panjang.
Kedua, terdapat modal kepemimpinan. Pada papan informasi terpampang pimpinan pondok, Buya Anwar, SPi, bersama kepala sekolah tingkat Wustho dan ‘Ulya. Bagi pesantren baru, figur pimpinan sangat menentukan. Pada tahap awal, masyarakat biasanya belum mengenal sistemnya secara mendalam sehingga kepercayaan publik banyak bertumpu pada integritas, jaringan, konsistensi dan keteladanan pimpinan.
Ketiga adalah modal identitas keagamaan. Nama Shafwatul Huffazh sendiri memberikan positioning yang kuat kepada masyarakat: lembaga ini ingin membangun generasi yang dekat dengan Al-Qur'an. Identitas seperti ini penting di tengah banyaknya pilihan sekolah Islam di kota.
Masjid sebagai Jantung Pesantren
Keberadaan Masjid Asshofwah di dalam kompleks hendaknya tidak sekadar dipahami sebagai fasilitas shalat. Dalam tradisi pendidikan Islam, masjid adalah pusat pembentukan ekosistem ruhani.
Di sinilah pesantren memiliki keunggulan yang sulit diberikan sekolah umum. Santri bukan hanya datang ke kelas untuk memperoleh pengetahuan, tetapi hidup dalam ritme pendidikan: shalat berjamaah, membaca Al-Qur'an, tahfizh, zikir, adab kepada guru, pembiasaan disiplin, belajar, berkhidmat dan hidup bersama.
Karena itu, pengembangan Shafwatul Huffazh sebaiknya menggunakan pola:
Masjid → Al-Qur'an → Ilmu → Adab → Amal → Akhlak.
Dengan pola tersebut, masjid menjadi pusat kultur pesantren, bukan sekadar salah satu bangunan di lingkungan pesantren.
Tantangan Pesantren di Tengah Kota
Lokasi perkotaan sekaligus merupakan peluang dan tantangan. Santri urban hidup berdekatan dengan gawai, media sosial, budaya populer, konsumerisme, perubahan gaya hidup dan derasnya informasi digital. Pendidikan pesantren tidak mungkin hanya mengandalkan larangan.
Pesantren justru harus membangun kemampuan santri untuk melakukan seleksi nilai. Santri harus mampu menggunakan teknologi tanpa diperbudak teknologi; mengenal AI tetapi tidak kehilangan daya pikir; aktif di dunia digital tanpa kehilangan adab; serta mampu berkompetisi secara akademik tanpa kehilangan kedalaman spiritual.
Di sinilah pesantren urban mempunyai pekerjaan besar: bukan menjauhkan anak dari zaman, melainkan mempersiapkan anak menghadapi zamannya dengan iman, ilmu dan akhlak.
Tahfizh Harus Bergerak Menuju Tafaqquh
Nama Huffazh menempatkan Al-Qur'an sebagai kekuatan utama. Namun tantangan pendidikan Al-Qur'an hari ini adalah bagaimana hafalan bergerak menjadi pemahaman dan karakter.
Idealnya dibangun mata rantai:
Tahsin → Tahfizh → Tafhim → Tadabbur → Tafaqquh → Akhlak → Amal.
Santri tidak cukup hanya mampu menghafal beberapa juz Al-Qur'an. Hafalan harus melahirkan kecintaan kepada ilmu, disiplin, kejujuran, kebersihan, tanggung jawab, penghormatan kepada orang tua dan guru, serta kepedulian sosial.
Dengan demikian, keberhasilan pesantren jangan hanya diumumkan melalui pertanyaan “berapa juz hafalannya?”, tetapi juga “seberapa kuat adab, ilmu, kemandirian dan kematangan pribadinya?”
Peluang Menjadi Pesantren Urban Modern
Pekanbaru merupakan kota yang tumbuh dengan masyarakat Muslim yang kuat serta kelas menengah yang semakin memperhatikan pendidikan anak. Kondisi ini membuka ruang bagi Shafwatul Huffazh untuk menawarkan model pendidikan yang khas.
Pesantren dapat membangun lima keunggulan sekaligus:
1. Qur'anic competence: tahsin, tahfizh, tafsir dan tadabbur.
2. Islamic scholarship: bahasa Arab, fikih, tauhid, akhlak, sirah dan pengenalan kitab turats.
3. Academic excellence: matematika, sains, bahasa Indonesia dan ilmu sosial yang kompetitif.
4. Digital competence: bahasa Inggris, komputer, coding, AI literacy dan dakwah digital.
5. Character and spiritual formation: adab, ibadah, disiplin, kepemimpinan, kemandirian, muhasabah dan muraqabah.
Jika lima unsur tersebut terintegrasi, pesantren tidak perlu memilih antara tradisional atau modern. Yang diperlukan ialah menjaga nilai yang autentik sambil menggunakan instrumen pendidikan modern.
Bangunan Besar Harus Diikuti Penguatan Sistem
Foto memperlihatkan pembangunan fisik yang cukup progresif. Ini merupakan modal besar. Namun fase berikutnya justru lebih menentukan, yakni pembangunan sistem pendidikan.
Gedung dapat selesai dalam satu atau dua tahun, sedangkan membangun tradisi akademik memerlukan waktu jauh lebih panjang. Karena itu, investasi berikutnya perlu diarahkan kepada kualitas guru, kurikulum, manajemen pesantren, perpustakaan, laboratorium, sistem tahfizh, bahasa Arab-Inggris, digitalisasi pembelajaran serta kaderisasi pimpinan.
Pesantren baru perlu menghindari ketergantungan berlebihan kepada seorang figur. Kharisma pendiri adalah modal awal, tetapi keberlanjutan membutuhkan transformasi:
Figur → Sistem → Institusi → Kultur → Regenerasi.
Pesantren menjadi kuat ketika nilai pendirinya telah berubah menjadi sistem yang dapat diteruskan generasi berikutnya.
Dari Pesantren Baru Menuju Pesantren Rujukan
Shafwatul Huffazh mempunyai peluang berkembang menjadi salah satu model pesantren Qur'ani perkotaan di Pekanbaru. Syaratnya, pertumbuhan fisik harus berjalan bersama peningkatan mutu akademik dan ruhani.
Dalam lima sampai sepuluh tahun mendatang, orientasinya sebaiknya tidak sekadar menambah jumlah santri dan gedung, tetapi membangun brand akademik yang jelas. Masyarakat harus mempunyai jawaban ketika ditanya: Apa keunggulan khusus lulusan Shafwatul Huffazh?
Jawabannya idealnya dapat dirumuskan:
> Hafizh Al-Qur'an, memahami agama, berakhlak, menguasai ilmu pengetahuan, cakap teknologi, mandiri dan siap menjadi pemimpin masyarakat.
Dengan demikian, pesantren ini tidak hanya menjadi tempat orang tua “menitipkan anak”, tetapi menjadi tempat umat “menyiapkan generasi.”
Kehadiran pesantren baru di tengah Kota Pekanbaru seperti Shafwatul Huffazh adalah pertanda penting. Di tengah kota yang semakin modern, ruang pendidikan ruhani ternyata semakin dibutuhkan. Gedungnya boleh baru, kelembagaannya boleh sedang bertumbuh, tetapi cita-citanya harus jauh ke depan: membangun generasi Qur'ani yang sanggup hidup pada zamannya tanpa kehilangan Allah, ilmu, adab dan jati dirinya.
