![]() |
Oleh: Roni Faslah
Pendiri dan Pembina Media Okesinergi.Com
Di tengah derasnya arus informasi dan persaingan media yang semakin ketat, tuntutan utama seorang wartawan tetap sama: menghadirkan berita yang akurat, terpercaya, dan berbasis fakta. Dalam dunia jurnalistik, sumber data primer merupakan fondasi utama sebuah berita. Wartawan idealnya memperoleh informasi langsung dari narasumber yang terlibat, saksi peristiwa, dokumen resmi, atau hasil observasi lapangan. Jika sumber primer sulit diperoleh, barulah keterangan dari humas atau pihak terkait dapat digunakan sebagai pelengkap.
Prinsip ini berlaku tidak hanya dalam penelitian ilmiah, tetapi juga dalam penulisan berita. Berita tidak boleh dibangun di atas dugaan, asumsi, atau spekulasi. Terlebih dalam pemberitaan kasus hukum, setiap informasi harus diverifikasi secara cermat agar tidak menyesatkan publik. Karena itu, menjadi wartawan bukan sekadar menulis, melainkan juga memburu kebenaran melalui data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Namun, menulis bukanlah pekerjaan yang mudah. Menulis membutuhkan keterampilan yang diasah melalui latihan yang panjang. Selain kemampuan teknis, seorang penulis juga perlu memiliki kecintaan terhadap dunia tulis-menulis. Tanpa minat yang kuat, tulisan akan terasa kering dan sulit menarik perhatian pembaca. Sebuah tulisan tidak ditulis untuk dinikmati oleh penulisnya sendiri, tetapi untuk dibaca dan dipahami oleh masyarakat luas. Oleh sebab itu, menulis juga mengandung unsur seni: bagaimana menyampaikan informasi secara jelas, menarik, dan mudah dipahami.
Nilai-nilai tersebut tercermin dalam perjalanan hidup Karni Ilyas, salah satu wartawan paling berpengaruh di Indonesia. Dalam menjalankan profesinya, Karni dikenal sebagai sosok yang tidak pernah lelah memburu berita. Ia berusaha memperoleh data primer dengan menemui langsung narasumber, pihak yang terlibat dalam suatu peristiwa, maupun dokumen yang berkaitan dengan kasus yang diberitakan. Baginya, kepercayaan publik terhadap media hanya dapat dibangun melalui kerja jurnalistik yang serius dan profesional.
Dedikasi Karni terhadap profesinya begitu besar. Bahkan ketika mengalami kecelakaan hingga mengalami patah tulang, semangatnya untuk mencari dan mengumpulkan berita tidak pernah padam. Sikap inilah yang kemudian menjadikannya salah satu figur penting dalam dunia jurnalistik Indonesia.
Kesuksesan Karni Ilyas tidak lahir dari kehidupan yang serba mudah. Sejak kecil ia telah merasakan kerasnya perjuangan hidup. Ketika masih muda, ia kehilangan ibunya dan harus belajar mandiri sejak dini. Meskipun berasal dari keluarga terpandang dan memiliki ayah yang dikenal sebagai pejuang serta pegawai pemerintah, Karni tidak tumbuh dalam kemewahan. Ia justru ditempa oleh berbagai pengalaman hidup yang membentuk karakter tangguh dan pekerja keras.
Semasa muda, Karni pernah menjalani berbagai pekerjaan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup. Salah satu pekerjaan yang pernah dilakoninya adalah mengumpulkan serpihan debu emas di sekitar toko emas. Debu yang bercampur tanah itu dipisahkan dengan teliti, kemudian dijual kembali kepada pemilik toko emas. Pekerjaan sederhana tersebut menjadi pelajaran berharga tentang kerja keras, kesabaran, dan kemandirian.
Selain itu, Karni juga pernah berjualan koran di kawasan Teluk Bayur, Padang. Ia menempuh perjalanan yang cukup jauh demi menjajakan koran kepada masyarakat. Menariknya, sebelum koran tersebut dijual, ia terlebih dahulu membacanya. Dari kebiasaan itu, ia mengenal berbagai peristiwa dan isu yang sedang berkembang. Tanpa disadari, pekerjaan menjual koran justru menumbuhkan kecintaannya terhadap dunia jurnalistik.
Minat menulis Karni sebenarnya telah muncul sejak masa sekolah. Ia gemar menulis puisi dan berbagai karya sederhana. Suatu hari, ia memberanikan diri mengirimkan tulisannya ke sebuah surat kabar. Ketika tulisannya dimuat, ia merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Pengalaman itu menumbuhkan keyakinan bahwa dirinya memiliki kemampuan menulis. Bahkan, ia pernah menulis naskah pidato kepala sekolah yang kemudian berhasil dimuat di media massa.
Sejak saat itu, cita-cita menjadi wartawan semakin kuat. Ketika seorang kerabat bertanya tentang cita-citanya, Karni dengan spontan menjawab, “Saya ingin menjadi wartawan karena ingin terkenal.” Jawaban yang mungkin terdengar sederhana itu ternyata diwujudkannya dengan kerja keras dan dedikasi yang luar biasa. Puluhan tahun kemudian, namanya dikenal luas sebagai salah satu wartawan senior Indonesia yang memiliki pengaruh besar dalam dunia media.
Perjalanan hidup Karni Ilyas menunjukkan bahwa keberhasilan tidak lahir secara instan. Di balik kesuksesannya terdapat proses panjang, perjuangan, dan pengalaman hidup yang tidak selalu menyenangkan. Ia pernah merasakan pahitnya kehidupan, bekerja serabutan, dan menghadapi berbagai tantangan. Namun, semua itu justru menjadi bekal yang membentuk ketangguhan mentalnya.
Hari ini, Karni Ilyas dikenang sebagai sosok inspiratif bagi para wartawan Indonesia. Berbagai penghargaan telah diraihnya, dan kiprahnya dalam dunia jurnalistik menjadi teladan bagi generasi muda. Kisah hidupnya juga diabadikan dalam buku 40 Tahun Jadi Wartawan: Karni Ilyas Lahir untuk Berita. Dari perjalanan tersebut, kita belajar bahwa menjadi wartawan bukan sekadar profesi, melainkan panggilan untuk mencari kebenaran, menyampaikan fakta, dan mengabdi kepada kepentingan publik.
Sumber:
Fenty Effendy. 40 Tahun Jadi Wartawan: Karni Ilyas Lahir untuk Berita. Jakarta: Kompas, 2012.
