![]() |
Oleh: Duski Samad
Guru Besar Tasawuf UIN Imam Bonjol Padang
KBS Munawarah, 08082026
Di tengah dunia yang semakin dipenuhi kamera pengawas, jejak digital, kecerdasan artifisial, dan media sosial, manusia sebenarnya semakin mudah diawasi. Hampir setiap gerak meninggalkan jejak. Aktivitas dapat direkam, percakapan dapat disimpan, transaksi dapat dilacak, bahkan kebiasaan manusia dapat dipetakan oleh sistem digital. Namun ironisnya, penyimpangan moral, korupsi, manipulasi, ujaran kebencian, serta berbagai krisis kepribadian tetap terjadi. Kenyataan ini menunjukkan bahwa pengawasan dari luar tidak otomatis melahirkan pengendalian dari dalam.
Tasawuf sejak lama menawarkan satu konsep penting untuk menjawab persoalan tersebut, yaitu muraqabah. Muraqabah bukan sekadar perasaan bahwa manusia sedang diawasi, tetapi kesadaran spiritual yang hidup bahwa Allah SWT mengetahui, melihat, menjaga, dan mengawasi seluruh gerak lahir maupun lintasan batin manusia. Tidak ada ruang yang benar-benar sepi dari pengetahuan Allah. Tidak ada kesendirian yang benar-benar kosong dari kehadiran-Nya.
Kesadaran inilah yang menjadi ruh dari ihsan. Dalam hadis Jibril, Rasulullah SAW menjelaskan ihsan dengan sabdanya, “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” Hadis riwayat Muslim ini sesungguhnya merupakan rumusan paling kuat tentang muraqabah. Ihsan bukan hanya kualitas ibadah ritual, tetapi kualitas kesadaran hidup. Orang yang berihsan tetap jujur meskipun tidak ada manusia yang melihat, tetap amanah meskipun tersedia kesempatan untuk berkhianat, dan tetap berbuat baik walaupun tidak memperoleh pujian.
Allah SWT menegaskan dalam QS. An-Nisa' ayat 1, “Innallāha kāna 'alaikum raqībā”, sesungguhnya Allah senantiasa mengawasi kamu. Kata Raqib berasal dari akar kata raqaba, yang mengandung makna memperhatikan, menjaga, mengawasi, dan memelihara secara terus-menerus. Dalam tafsir sufistik, Allah sebagai Ar-Raqib tidak dipahami sekadar sebagai Tuhan yang mengawasi untuk mencari kesalahan manusia. Pengawasan Allah juga berarti penjagaan, pemeliharaan, ilmu, kasih sayang, dan kekuasaan-Nya yang meliputi seluruh kehidupan.
Karena itu, muraqabah yang matang tidak hanya melahirkan rasa takut, tetapi juga melahirkan haya', rasa malu kepada Allah. Seorang salik tidak meninggalkan maksiat semata-mata karena takut kepada hukuman, tetapi karena malu menggunakan nikmat Allah untuk sesuatu yang tidak diridai-Nya. Hati yang hidup akan bertanya, bagaimana mungkin seseorang menikmati kesehatan, umur, rezeki, akal, dan kesempatan yang diberikan Allah, tetapi pada saat yang sama menggunakan semua itu untuk mendurhakai-Nya?
Di sinilah muraqabah mengubah orientasi manusia dari muraqabatun-nas, hidup di bawah penilaian manusia, menuju muraqabatullah, hidup dalam kesadaran akan pengawasan Allah. Orang yang terlalu bergantung pada penilaian manusia mudah berubah sesuai dengan siapa yang sedang melihatnya. Sebaliknya, orang yang hidup dengan muraqabah akan berusaha tetap jujur ketika sendirian. Imam Al-Ghazali dalam Ihya' 'Ulumuddin menjelaskan bahwa muraqabah merupakan buah dari keyakinan bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Ketika keyakinan itu menetap dalam hati, anggota tubuh ikut terjaga. Mata lebih terkendali, lisan lebih santun, pikiran lebih bersih, dan tindakan menjadi lebih bertanggung jawab.
Dimensi lain muraqabah ditegaskan dalam QS. Qaf ayat 18: “Mā yalfiẓu min qaulin illā ladaihi raqībun 'atīd.” Tidak ada satu kata pun yang diucapkan manusia melainkan di sisinya ada pengawas yang selalu siap mencatat. Secara lahiriah, ayat ini berbicara tentang malaikat pencatat amal. Namun secara isyari, ayat ini juga merupakan pendidikan batin yang sangat mendalam. Setiap ucapan adalah pantulan dari keadaan hati. Lidah hanyalah penerjemah dari apa yang disimpan oleh jiwa.
Karena itu, tasawuf tidak berhenti pada anjuran menjaga lisan. Tasawuf masuk lebih dalam, yaitu membersihkan hati agar ucapan yang keluar juga menjadi bersih. Rasulullah SAW bersabda bahwa dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Itulah hati. Hadis ini menunjukkan bahwa pusat pembentukan perilaku berada pada batin manusia.
Bila hati dipenuhi muraqabah, lisan akan lebih terjaga dari ghibah, fitnah, dusta, penghinaan, dan kata-kata yang melukai. Dalam kehidupan digital, makna QS. Qaf ayat 18 bahkan semakin luas. “Ucapan” hari ini tidak hanya berupa kata yang keluar dari mulut, tetapi juga tulisan, komentar, unggahan, pesan singkat, video, rekaman suara, dan semua bentuk ekspresi di ruang digital. Jejak digital mungkin dapat dihapus dari layar, tetapi tanggung jawab moralnya tidak serta-merta hilang di hadapan Allah.
Karena itu, muraqabah juga harus menjadi etika bermedia sosial. Sebelum menulis atau membagikan sesuatu, hati perlu bertanya: apakah informasi ini benar, apakah bermanfaat, apakah perlu disampaikan, apakah cara menyampaikannya baik, dan apakah Allah meridai tindakan ini? Pertanyaan semacam ini merupakan bentuk konkret manjago hati di zaman digital.
Kesadaran muraqabah semakin diperkuat dalam QS. Al-Infithar ayat 10 sampai 12: “Wa inna 'alaikum lahāfiẓīn, kirāman kātibīn, ya'lamūna mā taf'alūn.” Sesungguhnya atas kamu ada para penjaga, para malaikat yang mulia lagi mencatat, dan mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak pernah berjalan tanpa pertanggungjawaban.
Para malaikat mencatat amal, tetapi Allah mengetahui sesuatu yang jauh lebih dalam daripada amal lahiriah, yaitu niat, motivasi, kecenderungan hati, dan rahasia batin. Malaikat mencatat tindakan, sementara Allah mengetahui niat sebelum tindakan itu lahir. Malaikat menyaksikan perbuatan, sementara Allah mengetahui mengapa perbuatan itu dilakukan. Di sinilah muraqabah bergerak dari sekadar kesadaran akan pengawasan menuju kesadaran kehadiran.
Pertanyaan seorang salik tidak lagi berhenti pada, “Apakah perbuatanku dicatat?” Pertanyaannya menjadi lebih dalam: “Apakah hatiku sedang hadir bersama Allah?” Pada tingkat inilah muraqabah bertemu dengan konsep musyahadah, yaitu kesadaran batin yang kuat bahwa seluruh hidup berlangsung di hadapan Allah.
Menariknya, konsep muraqabah memiliki titik temu dengan psikologi modern. Psikologi berbicara tentang self-awareness, kesadaran diri; self-regulation, kemampuan mengendalikan diri; dan self-monitoring, kemampuan memantau perilaku dan respons diri. Albert Bandura menjelaskan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk mengamati, menilai, dan mengarahkan perilakunya sendiri. Daniel Goleman menempatkan kesadaran diri sebagai fondasi kecerdasan emosional. Viktor Frankl menekankan pentingnya makna hidup sebagai kekuatan yang membantu manusia menghadapi penderitaan dan tekanan.
Tasawuf memberi dimensi transendental terhadap semua mekanisme itu. Jika psikologi berbicara tentang self-awareness, tasawuf membawa manusia menuju God-awareness. Jika psikologi berbicara tentang self-monitoring, tasawuf berbicara tentang muraqabah. Jika psikologi berbicara tentang self-regulation, tasawuf mengembangkannya melalui mujahadah, riyadhah, dan muhasabah. Perbedaannya terletak pada pusat orientasi. Dalam psikologi, manusia berusaha mengelola dirinya agar sehat dan berfungsi secara optimal. Dalam tasawuf, manusia mengelola dirinya karena sadar bahwa ia hidup di hadapan Allah.
Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Justru muraqabah dapat memperkaya pendekatan psikologis dengan dimensi spiritual. Kesadaran bahwa hidup berada dalam penjagaan Allah dapat menumbuhkan rasa aman eksistensial. Seorang mukmin tidak merasa sepenuhnya sendirian dalam menghadapi tekanan kehidupan. Ia bekerja, berusaha, dan bertanggung jawab, tetapi pada saat bersamaan menyadari bahwa Allah mengetahui perjuangan dan kelemahannya. Dari sinilah lahir ketenangan sebagaimana firman Allah dalam QS. Ar-Ra'd ayat 28, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.
Namun muraqabah yang sehat bukanlah ketakutan obsesif seolah-olah Allah hanya mencari kesalahan. Tasawuf yang benar memadukan khauf dan raja', rasa takut dan harapan, serta jalal dan jamal, keagungan dan keindahan Allah. Allah mengawasi, tetapi Allah juga Maha Pengampun. Allah mengetahui dosa, tetapi juga mengetahui air mata taubat. Allah mengetahui kelemahan, tetapi juga mengetahui kesungguhan seseorang untuk berubah. Karena itu, muraqabah yang matang seharusnya tidak melahirkan kecemasan spiritual, tetapi ketenangan, tanggung jawab, dan optimisme kepada rahmat Allah.
Makna muraqabah memperoleh kedalaman tersendiri dalam karya Syekh Muhammad Djamil Djaho, Tadzkiratul Qulub fi Muraqabati 'Allamil Ghuyub. Dalam pengantar kitab tersebut tergambar kegelisahan spiritual yang sangat penting: seseorang dapat bertambah umur, bertambah ilmu, memperbanyak ibadah, mengajar, dan berdakwah, tetapi hatinya belum tentu semakin dekat kepada Allah. Pertanyaannya sederhana tetapi mengguncang: mengapa ibadah yang banyak belum juga menundukkan jiwa dan mendekatkan hati kepada Khaliq? Salah satu jawabannya adalah ketiadaan muraqabah.
Ibadah tanpa muraqabah dapat berubah menjadi rutinitas. Zikir tanpa muraqabah dapat berhenti pada gerakan lidah. Ilmu tanpa muraqabah dapat menjadi sekadar pengetahuan. Bahkan dakwah tanpa muraqabah dapat berubah menjadi pencarian pengakuan. Muraqabahlah yang menghadirkan ruh ke dalam seluruh amal.
Secara spiritual, muraqabah dapat tumbuh melalui beberapa tahapan. Pada tahap awal, seseorang meninggalkan dosa karena sadar Allah melihatnya. Pada tahap berikutnya, ia menjalani seluruh aktivitas dengan kesadaran ma'iyyatullah, bahwa hidupnya tidak pernah terputus dari Allah. Pada tahap yang lebih dalam, hati bergerak menuju musyahadah; bukan melihat Allah secara inderawi, tetapi merasakan begitu kuatnya kehadiran dan kebesaran-Nya sehingga penilaian manusia tidak lagi menjadi pusat orientasi. Yang dicari adalah keikhlasan dan keridaan Allah.
Di era digital, muraqabah dapat disebut sebagai CCTV batin. Namun perumpamaan ini tetap memiliki batas. CCTV hanya merekam gerakan. AI hanya dapat membaca pola. Jejak digital hanya menyimpan aktivitas yang dapat tertangkap sistem. CCTV dapat merekam seseorang memberikan sedekah, tetapi tidak mengetahui apakah ia ikhlas atau riya. AI dapat membaca tulisan, tetapi tidak mampu secara sempurna mengetahui niat terdalam penulisnya. Allah mengetahui semuanya.
Karena itu, peradaban modern tidak cukup hanya membangun external surveillance, tetapi juga membutuhkan inner surveillance, pengawasan batin yang tumbuh dari muraqabah. Kita membutuhkan teknologi cerdas, tetapi juga hati yang cerdas. Kita membutuhkan AI, tetapi tidak boleh kehilangan kecerdasan ruhani. Kita membutuhkan sistem hukum dan auditor yang kuat, tetapi juga membutuhkan manusia yang tetap jujur ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Muraqabah juga bukan sekadar urusan privat antara seorang sufi dan Tuhannya. Dampaknya harus terlihat dalam kehidupan sosial. Pemimpin yang bermuraqabah tidak mudah menyalahgunakan kekuasaan. Birokrat yang bermuraqabah menjaga uang publik walaupun tidak sedang diperiksa. Pendidik yang bermuraqabah mengajar dengan ikhlas. Pedagang yang bermuraqabah tidak mengurangi timbangan. Pengguna media sosial yang bermuraqabah tidak mudah menyebarkan fitnah. Suami, istri, orang tua, dan anak yang bermuraqabah akan berusaha menjaga amanah meskipun jauh dari pengawasan keluarga.
Di sinilah muraqabah menjadi fondasi integritas. Integritas sesungguhnya adalah kesatuan antara siapa kita ketika dilihat manusia dan siapa kita ketika sendirian. Muraqabah mengajarkan bahwa manusia sebenarnya tidak pernah benar-benar sendirian.
Pada akhirnya, inti muraqabah adalah manjago hati. Orang Minangkabau mengenal petuah, “Ba jalan paliharo kaki, ba kato paliharo lidah, ba agamo paliharo hati.” Kaki dijaga agar tidak berjalan menuju keburukan. Lidah dijaga agar tidak melukai. Namun hati lebih dahulu harus dijaga, karena dari sanalah arah seluruh kehidupan bermula.
Menjaga hati membutuhkan tadabbur agar hati memperoleh cahaya dari ayat-ayat Allah, tafakkur agar jiwa tidak tenggelam dalam kelalaian, dan riyadhah agar kebaikan tidak hanya diketahui tetapi dilatih sampai menjadi karakter. Muraqabah akhirnya bukan sekadar istilah dalam kitab tasawuf. Ia adalah cara hidup.
Ketika hati hidup dalam muraqabah, manusia tidak lagi hanya bertanya, “Apa yang boleh saya lakukan?” Pertanyaannya berubah menjadi, “Apakah Allah rida dengan apa yang saya lakukan?”
Dari pertanyaan itulah lahir akhlak. Dari akhlak lahir integritas. Dari integritas lahir manusia yang sehat secara spiritual dan psikologis. Dan dari manusia-manusia seperti itulah peradaban yang berkeadaban dapat dibangun.
Innallāha kāna 'alaikum raqībā.
Allah senantiasa mengawasi, menjaga, dan mengetahui kita. Maka tugas manusia adalah menjaga hati agar selalu sadar kepada-Nya.
Wallāhu a'lam bi al-shawāb.
