![]() |
Oleh: Prof. H. Duski Samad Tuanku Mudo
Pengantar Redaksi
Piaman punya tradisi tersendiri dalam memaknai bulan Maulid. Membaca kitab Syarafal Anam dengan bahasa tersendiri yang tumbuh dan berkembang secara turun temurun. Badikie dinamakan, terlaksana di hampir setiap surau dan masjid di bulan Maulid itu di Piaman. Apa dan bagaimana seharusnya tradisi itu, berikut ini redaksi menurunkan kajian Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag yang sudah menulis buku tentang "Maulid Badikie" ini. Redaksi menurunkan tulisan Pakar Syekh Burhanuddin ini secara bersambung.
(01). MAULUIK BADIKIE DI PADANG PARIAMAN
Hari Kamis-Sabtu, 16 - 18 Oktober 2025 Pemerintah Daerah Kabupaten Padang Pariaman menyelenggarakan iven keagamaan mensyiarkan hari kelahiran Nabi Muhammad sallahu'alaihi wassalam yang dalam dialek Piaman laweh dibaca Mauluik Nabi.
Peringatan Mauluik khas Piaman laweh sudah berlangsung sejak lama adalah bentuk kreativitas budaya Islam. Cerita lisan dari beberapa ulama Mauluik yang berlangsung semalam dan sehari dengan membaca sarafal anam (dzikir atau dikie) dengan suara taranum (irama khas) ditutup dengan doa, makan bajamba dan badoncek (memungut sumbangan dengan disorakkan).
Beberapa tulisan di media menyebut bahwa MUHAMMAD HATTA, SYEKH KAPALO KOTO (w. 1921 M) adalah ulama menjadi pelopor badikie khususnya di Padag Pariaman dan Kota Pariaman. Peringatan Maulid Nabi dengan membaca Kitab Sarafal Anam dengan irama khas mereka menyebut irama taranum.
Muhammad Hatta wafat pada tahun 1921 M. Dikie dia ciptakan sendiri ditepi pantai Ulakan. Suara naik turun, disesuaikan dengan gelombang ombak yang menghempas pasir di pantai. Praktik dikie dilakukan dalam perayaan Maulid untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Praktik ini menjadi bagian integral dari tradisi keagamaan di daerah tersebut.
Mukhlis Hadi, menyampaikan bahwa setiap bulan Safar pada hari Selasa malam semua murid atau pandai dikie dari berbagai daerah akan mengunjungi makam beliau sebelum melanjutkan berziarah ke Ulakan pada acara basapa pada hari Rabunya. Biasanya malam itu dihabiskan dengan badikie bersama yang dilakukan di masjid dekat komplek makam Syekh Muhammad Hatta Kapalo Koto. Hal ini sebagai bentuk penghormatan kepada guru dan sebagai pertemuan tahunan pandai dikie dari berbagai daerah. Namun Mukhlis juga mengatakan bahwa setiap daerah memiliki langgam dikie yang agak berbeda, tapi secara bacaan itu sama.
Ratik Tulak Bala, adalah salah satu tradisi yang lahir setelah masa Syekh Burhanuddin Ulakan. Sama seperti Tradisi Dikie dan Basapa, tradisi Ratik Tulak Bala juga dicetuskan oleh Syekh Muhammad Hatta Kapalo Koto, kecamatan Nan Sabaris. Tujuan dari tradisi ini adalah untuk menghilangkan bala dari sebuah tempat seperti lahan pertanian yang banyak di makan tikus dan lainnya. Pertama kali tradisi ini hanya beliau sendiri yang berkeliling kampung, sambil membaca kalimah Tuhan, saat itu terjadi musibah yang luar biasa. Lama-kelamaan, banyak orang kampung yang ikut ratik. Namun seiring perkembangan zaman hingga saat ini tradisi Gatik Tulak Bala mulai berkurang dilakukan ditengah masyarakat.
Basapa di Ulakan Hampir semua orang Minangkabau mempunyai perhatian tentang perkembangan bersyafar ke Ulakan. Hal ini tentu ada asal muasal kenapa kegiatan tersebut bisa rutin dan dilakukan serentak oleh jama'ah Tarekat Syathariyyah di Minangkabau, bahkan sampai ke negara tetangga seperti Brunei Darussalam, Malaysia dan Thailand selatan. Untuk itu kita akan membahas asal usul terjadinya kisah bersyafar yang dilakukan oleh puluhan ribu jamah setiap tahunnya.
Pada tahun-tahun yang lampau, setelah wafatnya Syekh Burhanuddin pada hari Raba'a (Rabu) 10 Safar tahun 1111 Hijriyah semua murid-murid beliau datang berziarah ke makam beliau. Mereka datang ada yang mempunyai rombongan dan ada pula yang datang seorang, tujuannya adalah sebagai bentuk hormat kepada gurunya Syekh Burhanuddin selaku pelopor dan pembawa agama Islam di Minangkabau ini. Namu begitu, kedatangan mereka ke Ulakan ini tidak ditentukan hari dan bulannya, ada yang datang di bulan Rajab, Sya'ban, Ramadhan, Syawal dan lainnya sebagainya. Mereka datang menurut kemauan mereka masing-masing pada masa itu. Kemudian pada tahun 1315 Hijriyah, maka seorang Ulama besar yang bernama Tuanku Syekh Kapalo Koto dekat Pauh Kamba berencana untuk menyatukan orang yang datang ke makam Syekh Burhanuddin itu. Ia berencana menyatukan jama'ah yang datang berziarah pada hari bulan dan tahun yang sama untuk menambah syiar Islam sekaligus mempererat tali silahturahmi antara sesama jama'ah tarekat Syathariyyah yang diajarkan Syekh Burhanuddin.
Untuk melanjutkan rencana baik ini, Tuanku Syekh Kapalo Koto menemui seorang Ulama besar di Nagari Tujuah Koto yang menganut paham yang sama yang bernama Syekh Katapiang. Setelah bertemu, ia menyampaikan semua rencananya tersebut kepada Syekh Katapiang dan beliau menyetujui rencana tersebut. Setelah kembali dari Ampalu Tinggi, Syekh Kapalo Koto membuat undangan yang kemudian dikirim kepada seluruh Ulama yang mengikuti jejak Syekh Burhanuddin ke seluruh wilayah di Minangkabau. Sesuai dengan jadwal di undangan tersebut, berdatanganlah para undangan dari berbagai daerah di Minangkabau. Setelah semua undangan hadir, Syekh Kapalo Koto menyampaikan rencananya untuk menetapkan jadwal ziarah ke makam Syekh Burhanuddin secara bersama-sama sebagai bentuk penghormatan kepada guru dan mempererat tali silahturahmi sesama jama'ah dan pewaris amalan Syekh Burhanuddin. Setelah Syekh kapalo Koto menyampaikan usulannya kepada seluruh undangan, maka terjadilah tanya jawab sekitar waktu dan bulan. Setelah beberapa saat pembahasan akhirnya diputus dilakukan sekali setahun di bulan Safar pada minggu kedua di hari Rabu. Maka dimulailah ziarah bersama yang pertama kali ke makam Syekh Burhanuddin di Ulakan pada hari Arba'a (Rabu) bulan Safar tahun 1316 Hijriyah.
Akhirnya kegiatan ziarah bersama itu diberi nama dengan kegiatan "Basapa" atau bersafar. Pembaca yang budiman! Kendatipun demikian jelasnya asal usul bersafar ke Ulakan yang dipelopori oleh ulama ulama Ahlussunnah wal Jama'ah pengikut Syekh Burhanuddin. Pada saat ini ada buku sejarah yang disusun orang mengatakan bahwa bersafar ke Ulakan itu adalah perbuatan kaum Syi'ah yang dipelopori oleh Tengku Burhanuddin Syah anak raja dari Aceh yang diangkat menjadi raja muda di Ulakan untuk memerintah pesisir barat Minangkabau sekitar tahun 1533 Masehi. Serta pernah mendirikan sekolah agama yang bermazhab Syi'ah, akhirnya dia wafat dan dikuburkan di situ. Pembaca yang terhormat! Walaupun banyak simpang siur sejarah mengatakan tentang asal usul bersafar di Ulakan ini, jelasnya adalah sebagai mana yang telah dijelaskan sebelumnya dalam tulisan ini, bahwa bersafar ke Ulakan bukanlah perbuatan kaum Syi'ah, tetapi perbuatan kaum Ahlussunnah wal Jama'ah pengikut Syekh Burhanuddin orang induk Pariaman Minangkabau yang bermazhab Syafi'i.
Kemudian dari itu, nama bersafar (basapa) telah dikenal oleh orang di Minangkabau, apalagi bagi pengikut Syekh Burhanuddin, mereka datang ke makam Syekh Burhanuddin berziarah untuk menghormati ulama yang telah mengembangkan agama Islam di alam Minangkabau ini. Setiap daerah atau Nagari mempunyai sebuah Surau dilokasi makam tersebut, di Surau inilah mereka melakukan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan berziarah yang mereka lakukan pada dasarnya adalah untuk menambah syiarnya agama Islam, mereka merasa tentram melakukan berbagai amalan ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah pencipta seluruh alam. Mereka shalat berjamaah kemudian berzikir mengingat dan membesarkan Allah. Semua Surau-Surau yang ada dilokasi tersebut penuh sesak, puluhan ribu umat manusia membanjiri lokasi makam Syekh Burhanuddin yang berukuran 250x150 meter itu.
Namun beruntung sekarang ada masjid Agung yang besar bisa menjadi menampung semua jama'ah yang datang jika surau-surau mereka sudah tidak muat lagi. Pembaca yang budiman! Untuk jama'ah yang datang ke acara bersafar ini sekarang tidak hanya dari daerah di Minangkabau, tapi sudah merambah sampai ke provinsi lain di Sumatera dan juga wilayah semenanjung Melayu seperti ulama dari Wilayah selatan Thailand, Singapura, Malaysia dan juga Brunei Darussalam juga hadir dalam acara bersafar ini.
Karya Tulis Syekh Muhammad Hatta juga dikenal sebagai penulis. Ia menghasilkan berbagai karya yang mencakup puisi, kitab-kitab agama, dan tulisan-tulisan yang menjelaskan ajaran Islam. Karya-karyanya sering kali mencerminkan pengalaman spiritualnya dan memberikan panduan bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Warisan a.Surau Mato Aie: Tempat ini menjadi pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan yang dipengaruhi oleh ajaran Syekh Muhammad Hatta. Surau ini masih digunakan hingga kini untuk berbagai kegiatan keagamaan. Dalam tradisi menyemarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw di Enam Lingkung ini, Surau Mato Aie merupakan tonggak awal bermula pelaksanaan maulid tersebut. Artinya, maulid belum akan dimulai di surau dan masjid yang ada di Kecamatan Enam Lingkung, sebelum dimulai di Surau Mato Aie ini. Istilah di Pakandangan dan Piaman-nya, menyonsong bulan maulid harus mulai di Surau Mato Aie. Hal ini karena pencetus badikie irama taranum yaitu Syekh Muhammad Hatta adalah murid dari Syekh Mato Aie.
Pengaruh Sosial: Ajaran dan praktik yang diajarkan oleh Syekh Muhammad Hatta terus mempengaruhi generasi-generasi berikutnya, menjadikannya sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Islam di Indonesia. Silsilah Keilmuan Dalam sebuah Gambar yang mengambil silsilah dari Alim Ulama dan kaum tuo seperti Buya Mato Aie, Buya Ungku Andah Pakandangan, Buya Tapakih dan lainnya, menjelaskan bahwa Sanad keilmuan atau silsilah Tarekat Syathariyyah Syekh Kapalo Koto sebagai berikut: a.Syekh Kapalo Koto menerima dari, b. Syekh M. Sani Tanjung Medan menerima dari, c.Syekh Sultan Al Kasai bin Jabullah Ulakani menerima dari, d. Syekh Tibarau menerima dari Syekh Burhanuddin Ulakan menerima dari, e.Syekh Abd Rauf Singkili. Syekh Muhammad Hatta Kapalo Koto dikenang sebagai sosok yang berperan besar dalam memperkuat iman dan pengetahuan agama di kalangan masyarakat, serta sebagai pelopor dalam pengembangan tradisi keagamaan di Minangkabau. Sebuah Tulisan mengambil silsilah dari Alim Ulama dan kaum tuo seperti Buya Mato Aie, Buya Ungku Andah Pakandangan, Buya Tapakih dan lainnya, menjelaskan bahwa Sanad keilmuan atau silsilah Tarekat Syathariyyah 12 Sebuah Tulisan mengambil silsilah dari Alim Ulama dan kaum tuo seperti Buya Mato Aie, Buya Ungku Andah Pakandangan, Buya Tapakih dan lainnya, menjelaskan bahwa Sanad keilmuan atau silsilah Tarekat Syathariyyah 100 Syekh dan Tuanku Bersanad Syekh Burhanuddin.
