![]() |
Oleh: Duski Samad
Subuh Darul Muttaqin 11082026
Manusia modern membangun semakin banyak benteng untuk menjaga kehidupan. Rumah diberi pagar dan kamera pengawas, kantor dilengkapi CCTV, transaksi direkam secara digital, lembaga diperiksa auditor, sementara negara memiliki polisi, jaksa, hakim dan berbagai institusi pengawasan. Teknologi semakin canggih dan sistem semakin ketat. Namun pengalaman kehidupan menunjukkan bahwa bertambahnya perangkat pengawasan tidak otomatis membuat manusia semakin jujur.
Kamera dapat dimatikan. Sistem dapat dicari kelemahannya. Aturan dapat dicari celahnya. Bahkan hukum dapat dimanipulasi oleh mereka yang mempunyai kekuasaan dan kepentingan. Pengawasan manusia selalu memiliki keterbatasan. Karena itu, ada satu benteng yang jauh lebih menentukan daripada seluruh perangkat pengawasan tersebut. Benteng terakhir manusia adalah hati.
Bukan sembarang hati, tetapi hati yang hidup dalam muraqabah kepada Allah.
Muraqabah adalah kesadaran batin bahwa Allah senantiasa mengetahui, melihat dan mengawasi manusia. Allah SWT menegaskan, إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا, “Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu” (QS. an-Nisā’: 1). Ayat ini membawa manusia dari pengawasan eksternal menuju pengawasan internal. Dari takut diketahui manusia menuju kesadaran bahwa tidak ada satu pun yang tersembunyi dari Allah.
Di sinilah terdapat perbedaan penting antara mengetahui bahwa Allah Maha Melihat dan merasa bahwa diri sedang dilihat Allah. Mengetahui adalah ilmu, sedangkan merasa diawasi adalah kesadaran. Ilmu berada dalam pikiran, sementara muraqabah telah masuk dan hidup di dalam hati. Seseorang mungkin mengetahui puluhan ayat dan hadis tentang kejujuran, tetapi pengetahuan itu belum tentu menghentikannya dari kecurangan. Muraqabah membuat pengetahuan hadir tepat ketika seseorang hendak mengambil keputusan.
Orang yang hatinya hidup tidak lagi hanya bertanya, “Apakah orang mengetahui apa yang saya lakukan?” Pertanyaannya berubah menjadi, “Apakah Allah meridhai apa yang sedang saya lakukan?”
Inilah pengawasan diri yang paling kuat. Seseorang tetap jujur ketika tidak diperiksa, tetap amanah ketika tidak diaudit, tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya meskipun mempunyai kesempatan, dan tidak menyebarkan fitnah meskipun dapat bersembunyi di balik akun anonim. Manusia mungkin tidak melihat, tetapi Allah melihat.
Karena itu persoalan utama kehidupan moral sebenarnya berada di dalam hati. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal daging; apabila ia baik, baiklah seluruh tubuh, dan apabila ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Itulah qalb, hati.
Korupsi sesungguhnya telah bermula sebelum tangan mengambil uang. Ia dimulai ketika hati membenarkan keserakahan. Fitnah bermula sebelum lidah berbicara, yaitu ketika hati kehilangan kasih sayang. Kesombongan tumbuh sebelum seseorang merendahkan orang lain, yaitu ketika hati merasa dirinya lebih tinggi. Riya juga telah hadir sebelum amal diperlihatkan kepada manusia, ketika hati mulai mengharapkan pujian lebih daripada ridha Allah.
Tasawuf karena itu bekerja pada pusat pertahanan manusia: qalb.
Kearifan Minangkabau telah lama mengingatkan, “Ba jalan paliharo kaki, ba kato paliharo lidah, ba agamo paliharo hati.” Kaki harus dipelihara dari langkah yang salah, lidah dijaga dari perkataan yang merusak, tetapi yang jauh lebih berat adalah mamaliharo hati. Dengki tidak terlihat, riya dapat tersembunyi, kesombongan dapat dibungkus kesantunan, kepentingan pribadi dapat memakai pakaian perjuangan, bahkan ambisi dunia dapat disembunyikan di balik bahasa agama.
Maka menjaga hati memerlukan muraqabah. Namun muraqabah tidak muncul begitu saja. Ia perlu ditumbuhkan, dilatih dan dipelihara. Dalam pembahasan asbābul muraqabah, setidaknya terdapat empat jalan penting untuk menghidupkan kesadaran tersebut, yaitu tafkir, tazakkir, menghubungkan hati dengan akhirat, dan ru‘bah—kecemasan hati ketika mulai lalai dari Allah.
Muraqabah pertama-tama tumbuh melalui tafkir, membiasakan diri berpikir dan merenung. Manusia sering lalai bukan karena tidak memiliki ilmu, tetapi karena tidak lagi menyediakan waktu untuk merenungkan ilmunya. Ayat dibaca tetapi tidak direnungkan, umur bertambah tetapi tidak dipikirkan, kematian orang lain disaksikan tetapi tidak dijadikan cermin bagi kematian sendiri. Kesibukan membuat manusia terus bergerak, tetapi jarang bertanya ke mana sebenarnya ia sedang menuju.
Tafkir menghentikan manusia sejenak dan mengajaknya bertanya kepada dirinya sendiri: Dari mana aku datang? Untuk apa aku hidup? Ke mana akhirnya aku kembali? Apa yang telah aku persiapkan untuk menghadap Allah?
Ketika pertanyaan-pertanyaan seperti ini hidup, alam tidak lagi sekadar pemandangan, tetapi menjadi ayat. Umur tidak hanya menjadi angka, tetapi amanah. Nikmat tidak hanya dinikmati, tetapi disyukuri. Musibah tidak hanya diratapi, tetapi direnungkan hikmahnya. Kematian tidak hanya menjadi berita tentang orang lain, tetapi peringatan tentang perjalanan diri sendiri. Tafkir menghidupkan akal agar hati tidak mati.
Namun manusia adalah makhluk yang mudah lupa. Karena itu tafkir harus dilanjutkan dengan tazakkir, terus-menerus mengingat dan menerima peringatan. Banyak kesalahan tidak terjadi karena manusia tidak tahu. Kita tahu Allah melihat, kita tahu kematian akan datang, kita tahu setiap perkataan dicatat dan kita tahu setiap amal akan dimintai pertanggungjawaban. Persoalannya, pengetahuan itu sering hilang pada saat paling dibutuhkan.
Ketika marah, kita lupa. Ketika mendapatkan kekuasaan, lupa. Ketika ada kesempatan mengambil yang bukan hak, lupa. Ketika dipuji, lupa. Ketika harta bertambah, lupa. Bahkan ketika beribadah pun manusia dapat lupa kepada siapa sebenarnya ibadah itu ditujukan.
Karena itu Allah mengingatkan, وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ, “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman” (QS. adz-Dzāriyāt: 55).
Manusia membutuhkan Al-Qur'an, dzikir, nasihat, majelis ilmu, guru, keluarga dan sahabat yang baik untuk terus mengembalikan hati kepada Allah. Tafkir membuat manusia berpikir, sedangkan tazakkir menjaga agar manusia tidak lupa.
Kesadaran itu kemudian harus diperkuat dengan menghubungkan hati kepada akhirat. Salah satu sebab lemahnya muraqabah adalah karena hati terlalu lekat dengan dunia. Yang dipikirkan hanya keuntungan hari ini, jabatan hari ini, popularitas hari ini, kemenangan hari ini dan kenikmatan hari ini. Padahal kehidupan orang beriman tidak berakhir pada hari ini.
Allah SWT berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok” (QS. al-Hasyr: 18).
Hari esok yang paling menentukan adalah akhirat.
Menghubungkan hati dengan akhirat berarti membawa kesadaran akhirat ke dalam keputusan sehari-hari. Ketika memperoleh harta, hati bertanya: bagaimana hisabnya? Ketika menerima jabatan: bagaimana pertanggungjawabannya? Ketika mempunyai kesempatan menzalimi: bagaimana saya menjawabnya di hadapan Allah? Ketika melakukan kebaikan tanpa diketahui manusia: bukankah Allah mengetahuinya dan akan memberikan balasan?
Dengan demikian, mengingat akhirat bukan berarti meninggalkan dunia. Seorang yang bermuraqabah tetap bekerja, berdagang, memimpin, mengajar, membangun dan menikmati karunia Allah. Perbedaannya adalah dunia berada di tangannya, tetapi tidak menguasai hatinya. Dunia menjadi tempat bekerja, sedangkan akhirat menjadi tempat mempertanggungjawabkan pekerjaan.
Sesudah tafkir, tazakkir dan menghubungkan hati dengan akhirat, diperlukan pula ru‘bah, yaitu rasa takut, gentar atau kecemasan ruhani ketika hati mulai lalai dari Allah. Ru‘bah bukan kecemasan yang menghancurkan jiwa, melainkan semacam alarm spiritual yang menunjukkan bahwa hati masih hidup.
Ketika seseorang melakukan kesalahan kemudian hatinya gelisah, itu pertanda baik. Ketika ibadah tertinggal lalu hati merasa kehilangan, itu tanda hati masih hidup. Ketika perkataan menyakiti orang lain lalu jiwa tidak tenang sebelum meminta maaf, itu juga tanda hati masih mempunyai kepekaan.
Yang justru berbahaya adalah ketika dosa tidak lagi membuat hati gelisah. Kebohongan terasa biasa. Mengambil hak orang dianggap lumrah. Menyakiti orang tidak lagi menimbulkan penyesalan. Shalat ditinggalkan tanpa rasa kehilangan. Maksiat dilakukan berulang kali sementara hati tetap tenang seakan-akan tidak terjadi apa-apa.
Bukan kegelisahan yang paling menakutkan, tetapi hilangnya kegelisahan setelah berbuat salah. Sebab ketika alarm spiritual tidak lagi berbunyi, kelalaian mulai dianggap sebagai kewajaran.
Empat asbābul muraqabah tersebut akhirnya membentuk satu perjalanan batin. Tafkir menghidupkan pikiran. Tazakkir menjaga ingatan. Akhirat menentukan orientasi. Ru‘bah menjaga kewaspadaan. Semuanya bermuara pada muraqabah yang menjaga hati.
Kesadaran ini semakin penting di era digital. Hari ini jari telah menjadi perpanjangan lidah. Sekali menyentuh layar, seseorang dapat menyampaikan kebaikan kepada ribuan orang. Tetapi melalui sentuhan yang sama ia dapat menyebarkan fitnah, kebencian, kebohongan dan sesuatu yang merusak kehormatan orang lain.
Allah mengingatkan, مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ, “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat” (QS. Qāf: 18).
Maka muraqabah di era digital berarti menghadirkan Allah sebelum jari bekerja. Sebelum bicara, muraqabah. Sebelum menulis, muraqabah. Sebelum mengirim, muraqabah. Sebelum membagikan, muraqabah. Sebelum berkomentar, muraqabah. Tidak semua yang diketahui harus disebarkan, tidak semua yang dipikirkan harus dituliskan, dan tidak semua yang dapat dilakukan layak dilakukan.
Puncak perjalanan itu adalah ihsan. Rasulullah SAW menjelaskan ihsan dengan sabdanya, أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ, “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
Di sinilah terjadi revolusi batin: dari “saya tahu Allah melihat”, meningkat menjadi “saya sadar Allah melihat”, kemudian “saya merasa sedang dilihat Allah”, dan akhirnya menjadi “karena Allah melihat, saya menjaga diri.”
Ketika sampai pada tahap terakhir, muraqabah telah berubah menjadi akhlak.
Masyarakat tetap membutuhkan hukum, negara tetap memerlukan pengawasan, lembaga tetap membutuhkan audit dan teknologi tetap penting untuk membangun transparansi. Tetapi semuanya adalah benteng dari luar. Ada benteng yang jauh lebih menentukan, yaitu benteng dari dalam.
Benteng itu tidak dibuat dari beton. Ia tidak memerlukan kamera dan tidak mempunyai petugas keamanan. Ia berada dalam dada manusia. Namanya hati yang hidup.
Hati yang terus bertafkir agar kehidupan tidak kehilangan makna. Hati yang bertazakkir agar tidak lupa kepada Allah. Hati yang terhubung dengan akhirat agar tidak diperbudak dunia. Hati yang memiliki ru‘bah sehingga segera gelisah dan kembali ketika mulai menjauh dari Allah.
Hati seperti itulah yang ketika mempunyai kesempatan berbuat dosa berkata, “Allah melihatku.” Ketika mempunyai peluang berkhianat berkata, “Allah mengetahuinya.” Ketika dizalimi berkata, “Allah menyaksikannya.” Dan ketika melakukan kebaikan tanpa diketahui manusia berkata, “Cukuplah Allah mengetahuinya.”
Itulah hati yang bermuraqabah.
Jika benteng ini kokoh, seseorang tetap baik sekalipun tidak ada manusia yang melihatnya. Sebaliknya, ketika benteng ini runtuh, sebanyak apa pun CCTV, aturan, auditor dan aparat pengawasan belum tentu mampu menjaganya.
Sebab benteng terakhir kehidupan bukanlah CCTV, hukum, jabatan ataupun penilaian manusia. Benteng terakhir itu bernama hati—hati yang hidup dalam muraqabah kepada Allah.
