![]() |
Oleh: Duski Samad
Ketua Yayasan Islamic Centre Syekh Burhanuddin
Akreditasi madrasah bukan sekadar urusan nilai, dokumen, dan status kelembagaan. Lebih dari itu, akreditasi adalah bagian dari ikhtiar membangun budaya mutu pendidikan. Madrasah yang hebat bukanlah madrasah yang hanya hebat ketika asesor datang, tetapi madrasah yang setiap hari bekerja dengan standar mutu, melakukan evaluasi, memperbaiki kelemahan, dan terus meningkatkan pelayanan kepada peserta didik.
Pesan penting itu mengemuka dalam proses visitasi akreditasi Madrasah Tsanawiyah Yayasan Dana Sosial Islam (MTs YDSI) Pariaman.
Visitasi dilakukan oleh dua asesor, yaitu Syafrizal, S.Pd., M.Si., pengawas SMP, dan Suardi, S.Pd., M.Pd., pengawas MTs. Penjelasan keduanya memberikan pemahaman yang penting bagi keluarga besar madrasah tentang bagaimana seharusnya akreditasi dimaknai.
Visitasi adalah Klarifikasi dan Validasi
Salah satu pemahaman penting yang perlu dibangun adalah bahwa asesor tidak datang untuk mencari-cari kesalahan madrasah.
Visitasi pada dasarnya merupakan proses klarifikasi dan validasi.
Data yang telah tersedia dan disampaikan oleh satuan pendidikan perlu dilihat kesesuaiannya dengan keadaan yang sesungguhnya. Karena itu, proses akreditasi semakin menekankan pada performance atau kinerja nyata satuan pendidikan.
Apa yang tertulis harus dapat ditemukan dalam praktik.
Apa yang dilaporkan harus terlihat dalam pembelajaran.
Apa yang diklaim sebagai budaya sekolah harus dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari madrasah.
Dengan pendekatan seperti itu, akreditasi tidak lagi cukup dihadapi dengan menyiapkan tumpukan map, berkas, foto dan administrasi menjelang asesor datang.
Yang jauh lebih penting adalah apa yang benar-benar dikerjakan madrasah setiap hari.
Visitasi adalah Triangulasi Data
Dalam visitasi, data tidak hanya diperoleh dari satu sumber. Asesor melakukan triangulasi data untuk memperoleh gambaran yang lebih objektif mengenai kondisi satuan pendidikan.
Karena itu prosesnya dapat mencakup observasi lingkungan madrasah, pengamatan proses pembelajaran, pemeriksaan bukti yang relevan, serta wawancara dengan kepala madrasah, guru, peserta didik, orang tua dan unsur lain yang terkait.
Triangulasi menjadi penting karena mutu pendidikan tidak dapat disimpulkan hanya berdasarkan satu dokumen atau satu keterangan.
Kepala madrasah dapat memberikan penjelasan tentang program. Guru dapat menjelaskan bagaimana program dilaksanakan. Peserta didik dapat memberikan pengalaman mengenai proses pembelajaran. Orang tua dapat menyampaikan perubahan yang mereka rasakan pada anaknya. Sementara lingkungan madrasah memberikan bukti apakah budaya yang diklaim benar-benar hidup.
Semua itu kemudian menjadi satu kesatuan informasi.
Dengan demikian, visitasi adalah proses melihat, mendengar, membandingkan, mengklarifikasi dan memvalidasi.
Asesor Memotret, Bukan Menghias
Ada ungkapan menarik yang patut menjadi pegangan:
“Tugas asesor adalah memotret.”
Asesor memotret keadaan madrasah sebagaimana adanya pada saat visitasi. Karena itu madrasah tidak perlu membuat dirinya seolah-olah sempurna hanya ketika asesor datang.
Sebuah potret yang baik bukan berarti objeknya harus tanpa kekurangan. Potret yang baik adalah potret yang jujur menggambarkan keadaan sebenarnya.
Dalam penjelasan pada visitasi, porsi penilaian disebut sangat menekankan pada hasil potret kinerja nyata, sekitar 80 persen dari performance yang ditemukan dalam proses visitasi, sementara sekitar 20 persen berasal dari data yang telah tersedia melalui sistem seperti Dapodik atau EMIS.
Pesan substansialnya jelas: kinerja nyata jauh lebih penting daripada sekadar administrasi.
Madrasah yang dokumennya rapi tetapi proses pendidikannya lemah tentu mempunyai persoalan. Sebaliknya, madrasah yang telah bekerja dengan baik harus belajar mendokumentasikan pekerjaannya secara tertib agar kinerja tersebut dapat dibuktikan.
Jadi, yang diperlukan adalah keseimbangan:
Kerja nyata harus kuat, data harus benar, dan bukti harus tersedia.
Dari Visitasi Menuju Sidang Pleno
Asesor bukan pihak yang secara sepihak menentukan nilai akhir sebuah madrasah.
Hasil visitasi dan potret kinerja yang diperoleh di lapangan selanjutnya memasuki proses validasi. Hasil tersebut diteruskan untuk menjadi bahan dalam mekanisme penilaian dan sidang pleno sesuai sistem yang ditetapkan secara nasional, sedangkan hasil akhir diterbitkan melalui mekanisme pusat.
Pemahaman ini penting agar madrasah tidak melihat asesor sebagai orang yang datang membawa “angka”.
Asesor menjalankan tugas profesional untuk mengklarifikasi, memvalidasi dan memotret kinerja satuan pendidikan.
Karena itu hubungan madrasah dengan asesor seharusnya dibangun atas dasar keterbukaan, profesionalitas dan semangat belajar.
Ruh Akreditasi: Pegang dan Maju Bersama
Yang jauh lebih penting dari instrumen akreditasi adalah ruh akreditasi.
Ruh itu adalah perbaikan mutu.
Akreditasi bukan kegiatan lima tahunan yang membuat madrasah sibuk beberapa minggu, kemudian setelah visitasi semua kembali seperti semula.
Akreditasi seharusnya membentuk kebiasaan:
lihat kekurangan, akui kekurangan, perbaiki kekurangan, ukur kembali hasilnya, lalu maju bersama.
Dalam bahasa sederhana, apa yang sudah baik kita pegang. Apa yang belum baik kita perbaiki. Apa yang masih lemah kita kuatkan.
Semangatnya bukan saling menyalahkan.
Pegang yang sudah kuat, tegakkan yang masih miring, lalu maju bersama.
Ada ungkapan yang sangat menyentuh dalam proses visitasi tersebut:
“Kalau ada yang masih ta-teleng dan masih bisa ditegakkan, kita bantu menegakkannya.”
Inilah filosofi pembinaan yang seharusnya menyertai akreditasi.
Madrasah tidak selalu berada dalam kondisi ideal. Terutama madrasah swasta, ada keterbatasan sarana, sumber daya manusia, pembiayaan dan jumlah peserta didik. Namun selama masih ada kemauan memperbaiki diri, kekurangan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk menyerah.
EDS Jangan Menunggu Akreditasi
Salah satu instrumen terpenting untuk menjaga budaya mutu adalah Evaluasi Diri Sekolah/Madrasah (EDS/EDM).
Evaluasi diri tidak cukup dilakukan sekali menjelang akreditasi.
Ia harus dilakukan berulang dan berkelanjutan.
Madrasah harus berani bertanya kepada dirinya sendiri:
Apakah pembelajaran kita semakin baik?
Apakah kompetensi guru meningkat?
Apakah peserta didik mengalami perubahan?
Apakah orang tua puas dengan pelayanan madrasah?
Apakah lingkungan belajar aman dan nyaman?
Apakah program keagamaan benar-benar membentuk akhlak?
Apakah kepala madrasah melakukan supervisi dan tindak lanjut?
Apakah data Dapodik atau EMIS sesuai dengan keadaan sebenarnya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut seharusnya dijawab sebelum orang lain datang menilai.
Itulah hakikat evaluasi diri.
Madrasah hebat adalah madrasah yang mampu menilai dirinya sendiri sebelum dinilai orang lain.
Akreditasi Harus Berakhir pada Anak
Pada akhirnya, seluruh proses akreditasi—data, observasi, wawancara, triangulasi, visitasi, validasi hingga pleno—harus kembali kepada satu tujuan besar: meningkatkan kualitas pendidikan anak bangsa.
Nilai akreditasi penting.
Predikat lembaga penting.
Dokumen juga penting.
Tetapi yang jauh lebih penting adalah perubahan yang terjadi pada peserta didik.
Anak yang sebelumnya belum mampu menjadi mampu. Anak yang kurang disiplin menjadi disiplin. Anak yang belum lancar membaca Al-Qur'an menjadi lancar. Anak yang dianggap nakal berubah menjadi lebih santun. Anak yang sebelumnya tidak mempunyai cita-cita mulai berani memikirkan masa depannya.
Itulah performance pendidikan yang sesungguhnya.
Karena madrasah membawa dua amanat sekaligus: amanat mencerdaskan kehidupan bangsa dan misi keagamaan untuk membentuk manusia beriman, berilmu dan berakhlak.
Akreditasi karena itu jangan ditakuti. Akreditasi harus dijadikan cermin.
Cermin tidak menciptakan wajah. Cermin hanya memperlihatkan keadaan wajah kita.
Demikian pula asesor. Mereka datang untuk memotret keadaan yang ada. Setelah melihat hasil potret itu, tugas madrasahlah untuk terus memperbaiki dirinya.
Yang baik dipertahankan.
Yang kurang diperbaiki.
Yang masih ta-teleng kita tegakkan.
Yang lemah kita kuatkan.
Dan semuanya kita lakukan untuk maju bersama.
Itulah ruh Akreditasi Madrasah Hebat.
Madrasah tidak harus sempurna untuk menjadi hebat. Madrasah menjadi hebat ketika ia tidak pernah berhenti memperbaiki diri demi mencerdaskan anak bangsa.12082026
