![]() |
Oleh: Duski Samad
Guru Besar Tasawuf UIN Imam Bonjol Padang
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Kemajuan zaman telah membawa manusia pada pencapaian luar biasa. Ilmu pengetahuan berkembang pesat, teknologi mengubah cara hidup, kecerdasan buatan membuka ruang baru bagi peradaban, dan manusia semakin mampu mengendalikan dunia di sekitarnya.
Namun, di tengah kemajuan tersebut muncul sebuah paradoks besar: manusia semakin mengenal dunia, tetapi semakin banyak yang kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri.
Banyak manusia modern memiliki kecukupan materi, tetapi mengalami kekosongan makna. Memiliki banyak jaringan komunikasi, tetapi merasa kesepian. Memiliki informasi yang melimpah, tetapi kehilangan kebijaksanaan. Menguasai teknologi, tetapi kesulitan mengendalikan dirinya.
Inilah tanda bahwa persoalan manusia bukan hanya persoalan fisik, sosial, atau intelektual, tetapi juga persoalan jiwa.
Allah SWT telah memberikan gambaran mendalam tentang hakikat manusia dalam Surah Asy-Syams ayat 7–10:
وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰىهَا ۖ
فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَا ۖ
قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَا ۖ
وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَا
"Demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Dia mengilhamkan kepadanya jalan kejahatan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya."
Ayat ini menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki dua potensi: fujur dan taqwa. Dalam dirinya terdapat dorongan menuju kebaikan sekaligus kecenderungan kepada penyimpangan. Karena itu, kehidupan manusia sejatinya adalah perjalanan panjang mengelola jiwa, membersihkan hati, dan mengarahkan diri menuju kesempurnaan kemanusiaan.
Manusia Bukan Sekadar Tubuh dan Pikiran
Kesalahan besar manusia modern adalah memahami dirinya secara parsial. Manusia sering dilihat hanya sebagai makhluk ekonomi, makhluk sosial, atau makhluk rasional. Padahal Al-Qur’an menggambarkan manusia sebagai kesatuan yang kompleks: memiliki jasad, akal, hati, nafs, dan ruh.
Manusia bukan hanya tubuh yang membutuhkan kesehatan fisik, tetapi juga jiwa yang membutuhkan ketenangan. Bukan hanya pikiran yang membutuhkan ilmu, tetapi juga hati yang membutuhkan cahaya.
Pergulatan terbesar manusia bukan hanya menghadapi dunia luar, tetapi menghadapi dirinya sendiri: bagaimana mengendalikan hawa nafsu, mengelola emosi, menemukan makna hidup, dan menjaga hubungan dengan Allah SWT.
Karena itu, memahami manusia membutuhkan pendekatan yang utuh.
Psikologi, Psikoterapi, dan Tasawuf: Tiga Jalan Memahami Manusia
Dalam konteks inilah psikologi, psikoterapi, dan tasawuf memiliki hubungan yang sangat penting.
Psikologi hadir untuk memahami manusia secara ilmiah. Ia mempelajari bagaimana manusia berpikir, merasakan, berkembang, membangun kepribadian, mengambil keputusan, dan berperilaku.
Psikoterapi hadir untuk membantu manusia menemukan jalan pemulihan. Ia memberikan pendampingan terhadap persoalan kecemasan, tekanan psikologis, konflik batin, trauma, dan berbagai persoalan kejiwaan.
Sedangkan tasawuf memberikan dimensi terdalam tentang manusia, yaitu bagaimana jiwa disucikan, hawa nafsu dikendalikan, hati diterangi, dan manusia mendekat kepada Allah SWT.
Ketiga bidang ini memiliki titik temu: manusia dan perjalanan jiwanya.
Psikologi membantu manusia mengenal dirinya.
Psikoterapi membantu manusia memperbaiki dirinya.
Tasawuf membantu manusia menyempurnakan dirinya.
Krisis Modern Adalah Krisis Makna
Banyak persoalan manusia modern tidak selalu disebabkan oleh kurangnya kemampuan, tetapi karena hilangnya orientasi hidup.
Manusia dapat mencapai kesuksesan, tetapi tetap merasa kosong. Dapat memperoleh penghargaan, tetapi tidak menemukan ketenangan. Dapat memiliki banyak pilihan, tetapi kehilangan arah.
Di sinilah tasawuf memberikan kontribusi besar.
Tasawuf mengajarkan bahwa manusia tidak akan menemukan ketenangan sejati hanya dengan memenuhi kebutuhan lahiriah. Jiwa membutuhkan hubungan dengan Sang Pencipta.
Allah SWT berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ketenangan bukan hanya persoalan psikologis, tetapi juga persoalan spiritual.
Tazkiyah Al-Nafs: Jalan Pulang Menuju Diri Sejati
Dalam tradisi tasawuf, transformasi manusia dimulai dari dalam diri melalui tazkiyah al-nafs (penyucian jiwa).
Penyucian jiwa dilakukan melalui:
Muhasabah, yaitu evaluasi dan kesadaran terhadap diri sendiri.
Riyadhah al-nafs, yaitu latihan mengendalikan dorongan negatif.
Dzikrullah, yaitu menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas.
Muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah selalu melihat dan mengetahui keadaan manusia.
Konsep-konsep tasawuf tersebut memiliki hubungan dengan kajian psikologi modern seperti kesadaran diri (self-awareness), pengendalian emosi (emotional regulation), perubahan perilaku (behavior modification), dan transformasi cara berpikir (cognitive transformation).
Perbedaannya, psikologi bekerja terutama pada wilayah mekanisme jiwa, sedangkan tasawuf membawa manusia menuju tujuan tertinggi: kedekatan kepada Allah.
Jembatan Ilmu Modern dan Cahaya Spiritual
Kehadiran buku “Pengantar Psikologi Umum” karya Muhammad Munir An-Nabawi, M.Psi dan Desy Murni Lasari, M.Pd memiliki arti penting dalam memperkaya pemahaman tentang manusia.
Buku ini membantu pembaca memahami psikologi sebagai ilmu yang mengkaji perilaku dan proses mental manusia secara sistematis, metodologis, dan ilmiah. Pembahasan mengenai sejarah psikologi, berbagai aliran pemikiran, persepsi, emosi, kemauan, perhatian, dan proses berpikir memberikan dasar penting bagi mahasiswa dan masyarakat dalam memahami dinamika manusia.
Namun, manusia tidak cukup dipahami hanya melalui angka, teori, dan perilaku yang tampak.
Manusia memiliki dimensi batin yang tidak dapat diabaikan. Ada hati yang membutuhkan ketenangan, ada jiwa yang membutuhkan makna, dan ada ruh yang membutuhkan kedekatan dengan Allah SWT.
Karena itu, dialog antara psikologi, psikoterapi, dan tasawuf menjadi kebutuhan zaman.
Menuju Manusia Sehat, Utuh, dan Berakhlak
Masa depan ilmu manusia membutuhkan pendekatan yang lebih integratif.
Kita membutuhkan manusia yang bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi matang secara emosional. Bukan hanya produktif secara ekonomi, tetapi memiliki integritas moral. Bukan hanya maju secara teknologi, tetapi memiliki kedalaman spiritual.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar tentang manusia bukan hanya:
"Mengapa manusia berpikir dan berperilaku demikian?"
Tetapi:
"Manusia hendak menjadi siapa, dan ke mana arah perjalanan jiwanya?"
Inilah jalan pulang manusia modern: kembali mengenal dirinya, memperbaiki jiwanya, dan menemukan kedekatan dengan Allah SWT.
Sebab manusia yang kehilangan jiwa akan kehilangan arah, tetapi manusia yang menemukan Tuhannya akan menemukan makna hidupnya.
Semoga ilmu psikologi, psikoterapi, dan tasawuf menjadi jembatan yang menghadirkan manusia yang sehat pikirannya, tenang hatinya, kuat spiritualnya, dan mulia akhlaknya.Padang, 10 Agustus 2026
