![]() |
Oleh: Prof. H. Duski Samad Tuanku Mudo
Pengantar Redaksi
Piaman punya tradisi tersendiri dalam memaknai bulan Maulid. Membaca kitab Syarafal Anam dengan bahasa tersendiri yang tumbuh dan berkembang secara turun temurun. Badikie dinamakan, terlaksana di hampir setiap surau dan masjid di bulan Maulid itu di Piaman. Apa dan bagaimana seharusnya tradisi itu, berikut ini redaksi menurunkan kajian Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag yang sudah menulis buku tentang "Maulid Badikie" ini. Redaksi menurunkan tulisan Pakar Syekh Burhanuddin ini secara bersambung.
Tradisi Mauluik Badikie bukanlah tradisi yang lahir tanpa akar sejarah. Ia merupakan salah satu ekspresi budaya Islam Minangkabau yang tumbuh dari jaringan ulama Syathariyah di Padang Pariaman. Karena itu, memahami Badikie tidak cukup hanya melihat bentuk acaranya, tetapi juga perlu menelusuri akar sejarahnya, atsar (jejak)-nya, serta nilai-nilai yang diwariskannya.
Dalam tradisi lisan yang berkembang di kalangan ulama dan penganut Tarekat Syathariyah, awal perkembangan Badikie Mauluik sering dikaitkan dengan Syekh Muhammad Hatta Pauh Kambar, seorang ulama dalam mata rantai sanad Syekh Burhanuddin Ulakan. Tradisi ini diyakini berkembang sekitar satu abad setelah masa Syekh Burhanuddin sebagai bagian dari strategi dakwah yang memanfaatkan budaya masyarakat pesisir. Narasi tersebut telah hidup dalam memori kolektif masyarakat Syathariyah dan menjadi bagian dari sejarah lisan (oral history) yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Ikhtiar mendokumentasikan jaringan ulama, sanad keilmuan, dan warisan budaya Islam Minangkabau kini dilakukan melalui penyusunan Ensiklopedia 100 Syekh dan Tuanku Bersanad Syekh Burhanuddin. Ensiklopedia ini menjadi upaya akademik untuk merekam kesinambungan sanad ulama serta berbagai tradisi dakwah yang berkembang dalam lingkungan pewaris Syekh Burhanuddin. Karena itu, kajian mengenai hubungan Syekh Muhammad Hatta Pauh Kambar dengan perkembangan Badikie masih memerlukan penelitian filologis dan historiografis yang lebih mendalam agar memperoleh penguatan akademik yang lebih kokoh.
Dengan demikian, Badikie Mauluik tidak hanya dipahami sebagai tradisi masyarakat, tetapi juga sebagai jejak intelektual (atsar) para Tuanku pewaris Syekh Burhanuddin yang menggunakan pendekatan budaya sebagai media dakwah. Inilah yang menjadikan Badikie bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan bagian dari living heritage Islam Minangkabau yang menghubungkan sanad keilmuan, sanad tarekat, dan pembinaan akhlak masyarakat.
Dari sisi atsar (jejak sejarah), Badikie memperlihatkan kesinambungan sanad keilmuan dan dakwah para ulama Syathariyah. Tradisi ini menjadi bukti bahwa dakwah Islam di Minangkabau tidak hanya berlangsung melalui pengajian dan halaqah, tetapi juga melalui seni bertutur, syair, shalawat, dan zikir yang mudah diterima oleh masyarakat. Dengan demikian, Badikie menjadi jejak hidup (living trace) dari proses Islamisasi budaya yang dilakukan para ulama terdahulu.
Badikie juga tidak dapat dilepaskan dari karakter masyarakat pesisir Padang Pariaman yang sejak dahulu memiliki budaya berkumpul, bermusyawarah, dan mempererat silaturahmi. Para ulama tidak menghapus budaya berkumpul tersebut, tetapi mengisinya dengan nilai-nilai Islam. Inilah strategi dakwah yang kemudian melahirkan tradisi Mauluik Badikie. Masyarakat tetap berkumpul, tetapi yang didengar adalah shalawat, kisah Rasulullah SAW, nasihat agama, dan zikir kepada Allah SWT. Dengan demikian, budaya lokal mengalami proses Islamisasi, bukan penghilangan budaya.
Kelangsungan Badikie hingga hari ini juga tidak dapat dipisahkan dari peran pendikie dan para penganut Tarekat Syathariyah. Mereka menjadi penjaga sanad, pewaris teks, sekaligus pelaku utama yang terus menghidupkan tradisi ini dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tanpa dedikasi mereka, besar kemungkinan Badikie hanya akan tinggal sebagai catatan sejarah, bukan sebagai tradisi yang masih hidup.
Salah satu momentum penting pelestarian Badikie adalah Basapa, tradisi ziarah tahunan ke makam Syekh Burhanuddin Ulakan. Pada momentum ini, Badikie tampil bukan hanya sebagai pembacaan syair keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari festival budaya Islam yang mempertemukan ribuan jamaah dari berbagai daerah. Basapa memperlihatkan bahwa tradisi keagamaan dapat sekaligus menjadi ruang silaturahmi, pendidikan, dan pelestarian warisan budaya Islam Minangkabau.
Tradisi tersebut juga diiringi oleh budaya makan bersama, minum bersama, dan hidangan bajamba. Dalam masyarakat Minangkabau, bajamba bukan sekadar aktivitas makan, tetapi simbol persaudaraan, kesetaraan, kebersamaan, dan penghormatan kepada tamu. Ketika dilaksanakan dalam rangka Mauluik, seluruh aktivitas sosial itu dibingkai oleh kecintaan kepada Rasulullah SAW. Karena itu, makan bersama bukan tujuan utama, melainkan bagian dari ekspresi syukur, ukhuwah, dan penghormatan terhadap majelis dakwah.
Namun demikian, nilai sakral tersebut harus terus dijaga. Jangan sampai perhatian masyarakat lebih tertuju pada hidangan daripada pesan Mauluik, lebih sibuk mempersiapkan jamba daripada menyimak sirah Rasulullah SAW. Nilai sosial harus tetap berada di bawah bimbingan nilai spiritual.
Dalam perspektif pelestarian budaya, Badikie Mauluik memenuhi karakter sebagai living heritage atau warisan budaya hidup. Ia memiliki akar sejarah, meninggalkan atsar berupa sanad, manuskrip, dan praktik sosial, serta mengandung berbagai nilai, yaitu:
Nilai keagamaan, melalui shalawat, zikir, dan pengenalan sirah Nabi. Nilai pendidikan, sebagai media transmisi ajaran Islam kepada masyarakat. Nilai budaya, sebagai identitas masyarakat Padang Pariaman. Nilai sosial, melalui silaturahmi, gotong royong, badoncek, dan bajamba. Nilai peradaban, sebagai bukti keberhasilan ulama mengislamkan budaya lokal tanpa menghilangkan identitas masyarakat.
Karena itu, akar sejarahnya harus terus diteliti, atsarnya harus didokumentasikan, dan nilainya harus diwariskan kepada generasi berikutnya. Tradisi yang kehilangan akar akan mudah dipersoalkan. Tradisi yang kehilangan atsar akan mudah dilupakan. Dan tradisi yang kehilangan nilai hanya akan menjadi seremoni tanpa makna.
Mauluik Badikie bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan amanah peradaban. Ia lahir dari kebijaksanaan para Tuanku pewaris Syekh Burhanuddin, dipelihara oleh para pendikie dan masyarakat Syathariyah, serta menjadi tanggung jawab generasi hari ini untuk merawatnya tetap hidup dalam bingkai syariat, adat, dan akhlak Islam. Dengan demikian, yang diwariskan bukan hanya tradisinya, tetapi juga sanad keilmuan, nilai dakwah, dan peradaban Islam Minangkabau yang terus hidup sepanjang zaman.
