![]() |
Oleh: Duski Samad
Guru Besar UIN Imam Bonjol
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Kematian adalah sunnatullah yang berlaku bagi setiap makhluk. Allah SWT berfirman:
> كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan."
(QS. Al-'Ankabut: 57)
Namun, ada kematian yang meninggalkan luka lebih dalam dibanding sekadar kehilangan seorang manusia. Ketika Allah SWT memanggil seorang ulama, ilmuwan, dan guru bangsa, yang hilang bukan hanya sosoknya, tetapi juga cahaya ilmu, kearifan, dan keteladanan yang selama ini menerangi masyarakat.
Demikianlah perasaan yang menyelimuti kepergian Almarhum Prof. Dr. H. Yaswirman, M.A. Kepergian beliau merupakan duka yang mendalam bagi keluarga besar Universitas Andalas, UIN Imam Bonjol, Majelis Ulama Indonesia, Dewan Dakwah Indonesia, Bank Nagari Syariah, serta masyarakat Sumatera Barat. Beliau adalah ulama yang mampu menjembatani dunia pesantren dengan dunia akademik, memadukan syariat dengan realitas sosial, serta menghubungkan keilmuan dengan pengabdian kepada umat.
Almarhum dikenal sebagai pribadi yang rendah hati. Senyumnya selalu menghadirkan kesejukan, tutur katanya santun, dan sikapnya bersahabat kepada siapa pun. Beliau tidak pernah menjadikan gelar profesor sebagai pembatas dengan masyarakat. Justru semakin tinggi ilmunya, semakin dekat beliau dengan umat. Beliau adalah contoh nyata seorang akademisi organik, yang tidak hidup di balik tembok kampus atau "menara gading", tetapi hadir di tengah masyarakat, mendengarkan persoalan mereka, lalu memberikan solusi berdasarkan ilmu, hikmah, dan akhlak.
Allah SWT menggambarkan sifat orang-orang beriman:
> وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا
"Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih ialah mereka yang berjalan di bumi dengan rendah hati."
(QS. Al-Furqan: 63)
Ayat ini seolah menjadi cerminan perjalanan hidup almarhum. Kerendahan hati tidak mengurangi kewibawaannya, justru menjadi sebab ilmu beliau diterima oleh banyak kalangan.
Perjalanan intelektual beliau juga menunjukkan ketekunan yang luar biasa. Berawal sebagai santri Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Lampasi Payakumbuh, beliau melanjutkan pendidikan di Fakultas Syariah IAIN Imam Bonjol hingga akhirnya mencapai jabatan tertinggi sebagai Guru Besar Hukum Islam Fakultas Hukum Universitas Andalas. Keilmuan yang beliau miliki tidak berhenti dalam bentuk teori, tetapi diwujudkan dalam pengabdian nyata sebagai Sekretaris Umum MUI Sumatera Barat, Dewan Pengawas Syariah Bank Nagari Syariah, Ketua Dewan Dakwah Indonesia Sumatera Barat, Pembina YARSI Sumatera Barat, Pembina Masjid Nurul Ilmi Universitas Andalas, serta mubaligh yang terus menyampaikan pesan Islam yang sejuk dan mencerahkan.
Kepergian beliau mengingatkan kita pada sabda Rasulullah SAW:
> "Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari dada manusia, tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama." (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini bukan sekadar informasi tentang kematian, tetapi peringatan bahwa wafatnya ulama adalah berkurangnya cahaya ilmu di tengah masyarakat. Buku dapat diwariskan, tetapi kebijaksanaan, keteladanan, dan pengalaman hidup tidak mudah digantikan.
Karena itu, wafatnya Prof. Dr. H. Yaswirman adalah musibah yang sesungguhnya tidak tergantikan. Yang pergi bukan hanya seorang profesor, melainkan seorang pendidik, pembimbing, penyejuk, dan penjaga nilai-nilai keislaman yang selama ini menjadi rujukan masyarakat.
Meskipun demikian, Islam mengajarkan bahwa amal seorang mukmin tidak selalu berhenti dengan kematian. Rasulullah SAW bersabda:
> "Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya."
(HR. Muslim)
Insya Allah, ilmu yang telah beliau ajarkan, fatwa yang beliau berikan, mahasiswa yang beliau didik, masyarakat yang beliau bimbing, serta lembaga-lembaga yang beliau bangun akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir hingga hari kiamat.
Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah SWT menganugerahkan kesabaran, ketabahan, dan keikhlasan. Kepada para murid, sahabat, dan kolega, semoga keteladanan almarhum menjadi inspirasi untuk melanjutkan perjuangan dalam menegakkan ilmu, dakwah, dan pengabdian kepada umat.
Kita semua hanya mampu berdoa:
> اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ، وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ، وَاجْعَلِ الْجَنَّةَ مَأْوَاهُ.
"Ya Allah, ampunilah beliau, rahmatilah beliau, muliakan tempat tinggalnya, lapangkan kuburnya, dan jadikan surga sebagai tempat kembalinya."
Selamat jalan, Prof. Dr. H. Yaswirman, M.A.
Ilmu dan keteladananmu akan tetap hidup dalam ingatan, dalam karya, dalam amal, dan dalam doa umat.
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
