![]() |
| Masjid Surau Atok Seng, makam Syekh Abdul Razak dan mata air yang tidak pernah kering, dibuatkan tempat mandi. |
MU-ONLINE, Padang Pariaman, -- Surau Atok Seng di Sialang, Nagari Tandikek Utara, Kabupaten Padang Pariaman merupakan pusat pergerakan, pendidikan Islam tradisional (surau), dan basis perjuangan sosial-politik kemerdekaan yang sangat krusial pada dekade 1920-an. Pada masa kolonial Belanda, wilayah Tandikek dan sekitarnya (termasuk Sialang) menjadi salah satu basis utama pertumbuhan pemikiran Islam radikal-anti-kolonial dan gerakan kiri di Sumatera Barat. Kiprah Surau Atok Seng pada tahun 1920-an mencakup beberapa peran strategis.
Pusat Pendidikan Islam dan Kaderisasi Ulama Tradisional
Benteng Mazhab Syafii: Pada dekade 1920-an, dinamika Islam di Minangkabau diwarnai perseteruan ideologis antara Kaum Muda (modernis) dan Kaum Tua (tradisionalis). Surau Atok Seng di Sialang konsisten menjadi benteng pendidikan Islam tradisionalis yang kuat. Sistem Halaqah: Pembelajaran berpusat pada kitab-kitab kuning, hukum fiqih mazhab Syafii, keilmuan tauhid, dan thariqat, yang melahirkan ulama-ulama lokal untuk mengimbangi derasnya arus modernisasi sekolah sekuler bentukan Belanda dan sekolah modern Islam (Sumatra Thawalib).
Basis Perlawanan terhadap Kebijakan Kolonial
Konsolidasi Anti-Pajak: Dekade 1920-an di Padang Pariaman masih membekas sisa-sisa kemarahan rakyat pasca Perang Belasting (Pajak) 1908. Surau Atok Seng dimanfaatkan oleh para pemuka masyarakat sebagai tempat rahasia untuk berkumpul dan mengonsolidasikan penolakan terhadap berbagai pungutan serta kerja rodi (heerendiensten) yang diberlakukan pemerintah kolonial Belanda. Mimbar Dakwah Transformatif: Ceramah-ceramah agama di surau ini tidak hanya membahas masalah fikih ibadah, tetapi juga menyisipkan narasi kemerdekaan, keadilan sosial, dan hukum membela tanah air dari penjajahan (jihad fi sabilillah).
Jaringan Pergerakan Politik dan Pemberontakan 1926/1927
Penghubung Gerakan Radikal: Menjelang pertengahan tahun 1920-an, wilayah Padang Pariaman, Silungkang, dan sekitarnya menjadi pusat infiltrasi gerakan komunis-religius (Persatuan Muslim Indonesia/Sarekat Islam Merah dan PKI lokal). Surau-surau tradisional di pelosok Tandikek, termasuk Sialang, menjadi tempat singgah yang aman bagi para aktivis pergerakan bawah tanah. Logistik dan Pos Komando: Ketika meletus Pemberontakan Silungkang/Pemberontakan Komunis 1926-1927 di Sumatera Barat, kawasan Tandikek yang berada di kaki Gunung Singgalang berfungsi sebagai wilayah gerilya strategis. Surau Atok Seng menjadi salah satu titik kumpul massa dan tempat koordinasi pemuda pejuang sebelum melancarkan aksi sabotase terhadap infrastruktur kolonial.
Pusat Konservasi Adat dan Resolusi Konflik Masyarakat
Surau Nagari: Sesuai filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Surau Atok Seng pada tahun 1920-an juga bertindak sebagai lembaga peradilan adat dan agama di tingkat korong/nagari. Tempat Berembuk: Segala sengketa sako-pusako (warisan adat) maupun perencanaan pembangunan sosial di Nagari Tandikek diselesaikan di dalam surau ini, menjadikannya perekat sosial yang menjaga persatuan anak nagari di tengah ketatnya tekanan politik intelijen Belanda (Politieke Inlichtingen Dienst / PID) pada masa itu.
Surau Atok Seng di Sialang memiliki karakteristik tersendiri karena material atap sengnya yang modern pada masa itu sekaligus penanda geografis pergerakan di wilayah Tandikek Utara).
Syekh Abdul Razak (Tuanku Haji Paraman Talang)
Mengkaji Surau Atok Seng di Sialang, Nagari Tandikek Selatan, Kecamatan VII Koto Patamuan adalah kiprah dan pengabdian Syekh Abdul Razak, seorang ulama kharismatik nan hebat. Oleh sejarah Kalampaian Ampalu Tinggi, Syekh Abdul Razak ditulis namanya dengan Syekh Lasak Paraman Talang sebagai anak siak generasi awal yang mengaji dengan Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu.
Rupanya, Abdul Razak yang dalam kesehariannya disapa Razak, agak susah lidah masyarakat menyebut Razak itu. Razak dalam sapaan cepat, Lasak. Maka mashur di Ampalu Tinggi dengan Syekh Lasak. Beliau lahir diperkirakan tahun 1874 di Sialang, kini masuk Nagari Tandikek Selatan. Ibunya Kunci, bersuku Piliang, termasuk keluarga yang menguasai pusaka yang banyak di Sialang itu. Kelak di tanah pusaka itulah Abdul Razak mendirikan surau yang diberi nama oleh masyarakat dengan Surau Atok Seng, pada tahun 1915 an, setelah beliau pulang dari Ampalu Tinggi, mengaji dengan Syekh Muhammad Yatim.
Kejayaan Surau Atok Seng dan Hadirnya Dua Masjid di Tandikek Utara
Rentang tahun 1920-1952, Surau Atok Seng menapaki masa kejayaan yang amat luar biasa. Lebih seratusan anak siak yang datang dari Gasan, Sungai Geringging, Mudiak Aie, Sampan dan nagari lainnya di Padang Pariaman ini, menetap di Surau Atok Seng. Sampai pembangunan surau ditambah dua unit lagi, saking terjadinya lonjakan anak siak yang datang ke Sialang ini.
Belum lagi anak-anak Paraman Talang atau anak siak tidak tetap, lumayan banyak berulang mengaji di Surau Atok Seng ini. Abdul Razak, di samping terkenal sebagai ulama yang alim dan malin kitab, beliau tersebut sebagai orang bagak, pandai silek, mahir kajian Tarekat Syattariyah.
Ungku Saliah Sungai Sariak, lama mengaji di Surau Atok Seng. Bahkan, Ungku Saliah mengaji dasar alif, ba di Sialang ini, gurunya Labai Coda di Surau Atok Seng ini. Dalam sejarahnya, Ungku Saliah ini lebih lama di Sialang ketimbang di Ampalu Tinggi.
Anak siak kian banyak, Surau Atok Seng pun ditingkatkan kapasitasnya, dari surau jadi masjid, yang boleh melakukan Shalat Jumat di situ. Disamping meningkatnya jumlah anak siak tersebab Surau Atok Seng dijadikan masjid, juga karena kekecewaan Abdul Razak terhadap imam Masjid Raya Paraman Talang.
Rukun syarat untuk jadi imam shalat, seperti terabaikan oleh imam Jumat di Masjid Raya Paraman Talang. Abdul Razak tak ingin seperti itu. Beliau orang malin kitab, pandai mengaji, merasa berdosa kalau tidak ikut memperbaiki kesalahan yang dilakukan imam. Namun, oleh masyarakat, terutama yang mengurus masjid, usulan perbaikan imam itu tidak diindahkan. Maka, dari langkah kekecewaan itu, Abdul Razak mendirikan masjid. Langsung Masjid Surau Atok Seng namanya.
Memang yang disebut Mudiak Padang itu, adalah "adat di Piliang, syarak di Guci, Pusako di Sikumbang". Ini yang disebut dengan Mudiak Padang. Namun, ketika yang ditunjuk jadi imam shalat ditempatkan pada orang yang tidak alim fiqh, di sini terjadi pertentangan. Abdul Razak ingin, disamping imam shalat itu pandai membaca Quran, juga pintar ngaji fiqh.
Lalu, sebuah lagi masjid hadir di tengah masyarakat Tandikek Asli. Juga perubahan surau yang dijadikan masjid. Surau dimana Abdul Razak yang jadi guru utama dalam berwirid pengajian. Maka, tatkala akan dijadikan masjid, masyarakat minta persetujuan ke Abdul Razak ini. Oleh Abdul Razak, sepanjang itu sudah jadi kebutuhan, silakan. Yang penting, masjid harus berfungsi, melakukan banyak kegiatan, di samping ibadah wajib secara berjemaah.
Dengan hadirnya dua masjid di tempat berbeda dalam satu Nagari Tandikek Utara, Abdul Razak terkenal sebagai ulama yang pintar. Beliau mahir dan familiar menyelesaikan perkara yang terjadi di tengah masyarakat.
Nagari Tandikek Utara adalah salah satu nagari (desa adat) yang terletak di Kecamatan VII Koto Patamuan, Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat. Nagari ini merupakan hasil pemekaran dari nagari induk, yaitu Nagari Tandikek. Resmi dibentuk pada tahun 2010 melalui Peraturan Daerah Padang Pariaman No. 13 Tahun 2010, dan mulai berjalan efektif sejak tahun 2011. Dibentuk dengan menaikkan status wilayah Korong Paraman Talang (sebelumnya ditulis Korong Pariaman Talang pada draf awal) dan Korong Lubuk Laweh menjadi pemerintahan nagari yang mandiri. Sebelum dimekarkan, wilayah ini telah memenuhi syarat adat Minangkabau dengan kepemilikan minimal empat suku yang disepakati oleh unsur niniak mamak, alim ulama, dan cadiak pandai.
Geografis dan Kependudukan
Terletak di kawasan perbukitan dan dilalui oleh aliran sungai yang berhulu di wilayah pegunungan sekitar. Secara umum dapat diakses dari arah Padang menuju Sicincin, kemudian berbelok ke arah Koto Mambang menuju Malalak. Mayoritas masyarakat lokal menggantungkan hidup dan bekerja sebagai petani. Komoditas utama perkebunan di wilayah Tandikek secara umum meliputi kelapa, kebun campuran, serta buah-buahan seperti manggis dan pepaya.
Potensi Pariwisata
Nagari Tandikek Utara tergabung dalam pengelolaan kawasan pariwisata bersama berbasis komunitas yang bernama Desa Wisata Ranah Anam Nagari. Salah satu objek wisata alam andalan yang ada di nagari ini adalah: Pemandian Lubuak Batu Palimauan: Objek wisata pemandian alam sungai jernih yang lokasinya berada di antara dua kampung, yaitu Korong Tandikek Asli dan Korong Air Kelok.
Ungku Saliah dan Mata Air Surau Atok Seng
Mata air yang hadir di lokasi Surau Atok Seng, dinilai sebuah mata air yang luar biasa, tak pernah kering, tidak pernah berhenti mengeluarkan air dari dalam tanah. Mata air ini terus mengeluarkan air yang jernih dan sejuk sampai saat ini. Saat Surau Atok Seng berdiri, anak siak banyak mengaji, mata air ini belum ada.
Abdul Razak memasang niat dan nazar. "Asal ada mata air di sini, di lokasi Surau Atok Seng ini, kita pergi mendoa dan makan jamuan gulai kambing ke Maninjau". Begitu kira-kira nazar atau niat seorang pemimpin, di tengah anak siak ramai, tapi kesulitan mendapatkan air untuk keperluan. Air tentu sumber utama dalam kehidupan.
Tak hanya anak siak Surau Atok Seng yang kesulitan air, tapi masyarakat Sialang secara umum pun mengalami hal yang sama dengan anak siak itu. Takdir Tuhan, air pun menyembul dari pinggiran tebing, di depan Surau Atok Seng itu. Abdul Razak yang dikenal dengan Tuanku Haji Paraman Talang ini pun langsung teringat janji dan niat, serta hajatnya, sebelum mata air itu.
Maka bergegas saja beliau ke Maninjau. Jalan kaki saja dari Mudiak Padang ini. Ditunaikan niat, mendoa dan makan jamuan gulai kambing di tepian danau terkenal itu.
Awal timbul mata air itu, hanya dikelilingi oleh semak. Banyak anak siak dan masyarakat kadang-kadang mandi di situ tidak pakai penutup aurat. Sebagian tentu ada yang mandi di situ secara sopan, alias mandi pakai kain basahan.
Suatu ketika Ungku Saliah Sungai Sariak ini sedang di situ. Dia lihat pemandangan tak elok. Ada orang mandi tak pakai kain basahan, tempat mandinya pun tak pakai dinding selain hanya dinding semak-semak saja. Ungku Saliah bergegas ke Surau Atok Seng, nampak oleh beliau kain sarung Abdul Razak tersangkut, diambilnya, lalu diangkutnya ke mata air, dijadikannya sebagai pendinding tempat mandi atau untuk kain basahan oleh siapa saja yang mandi di situ.
Keluarga
Dari istrinya, Marin di Sialang, Abdul Razak dikaruniai anak, yakni Sidah, Ali Akbar, Salisah, Siti Marham. Istrinya yang lain, Kajai melahirkan anak, Madras, Lukman, Sileha. Di Mangoi, Batukalang, Pagun nama istrinya. Abdul Razak wafat tahun 1952, dimakamkan di mihrab Masjid Surau Atok Seng.
Setelah beliau Syekh Abdul Razak wafat, kelanjutan belajar mengajar di Surau Atok Seng diteruskan oleh khalifahnya, Rahmat Tuanku Panjang. Rahmat Tuanku Panjang ini adalah murid langsung Abdul Razak, orang Tandikek, mengajar sampai akhir hayatnya di Surau Atok Seng, meninggal di situ, dan dimakamkan di komplek makam Abdul Razak. Setelah Rahmat Tuanku Panjang, Khalifah Surau Atok Seng diteruskan oleh Tuanku Andah, orang Gasan, setelah itu oleh Nawawi Pakiah Mudo. (AD)
Referensi:
1. Wawancara dengan Muhammad Jais, Senin 27 Juli 2026 di Sialang, Nagari Tandikek Utara. Muhammad Jais lahir tahun 1933, merupakan cucu tertua dari beliau Syekh Abdul Razak. Muhammad Jais masih menyaksikan seratusan anak siak mengaji di Surau Atok Seng. Termasuk, peningkatan bangunan surau menjadi tiga bangunan Surau Atok Seng itu. Muhammad Jais mengakui, sekolahnya dibiayai oleh kakeknya, Abdul Razak. Wawancara juga sekalian bersama Kasman Tuanku Majolelo, tokoh masyarakat dan ulama yang tersebut sebagai imam di Masjid Surau Atok Seng. Kasman Tuanku Majolelo adalah alumni Pondok Pesantren Nurul Huda Bukit Tandang, Kabupaten Solok. Pertemuan dan wawancara penulis dengan Muhammad Jais dan Kasman Tuanku Majolelo, difasilitasi oleh Wasriadi Labai Sulaiman.
2. [https://www.samawarea.com](https://www.samawarea.com/2024/05/surau-atok-ijuak-menggali-kearifan-minangkabau-melalui-warisan-budaya
3. [https://id.wikipedia.org](https://id.wikipedia.org/wiki/Tandikek_Utara,_Patamuan,_Padang_Pariaman)
