![]() |
Oleh: Duski Samad
Ketua Yayasan Syekh Burhanuddin Pariaman
Basapa merupakan salah satu tradisi keagamaan dan budaya tertua di Minangkabau yang tetap hidup hingga kini. Pada tahun 2026, masyarakat memperingati Haul Syekh Burhanuddin ke-322 (1704–2026 M), ulama besar pembawa dan pengembang Islam di Minangkabau yang meletakkan fondasi pendidikan surau, membangun jaringan sanad keilmuan, mengembangkan Tarekat Syattariyah, serta memperkuat integrasi Islam dengan adat Minangkabau.
Tradisi ziarah Basapa memiliki akar sejarah yang panjang. Catatan sejarah menunjukkan bahwa pelaksanaan ziarah akbar oleh para pengikut Syekh Burhanuddin mulai terdokumentasi sejak tahun 1897 M (1316 H). Sejak saat itu, Basapa terus dilaksanakan secara turun-temurun setiap tahun pada bulan Safar, khususnya setelah tanggal 10 Safar, dengan pusat kegiatan di makam Syekh Burhanuddin di Ulakan, Padang Pariaman.
Di tengah arus modernisasi, Basapa bukan sekadar kegiatan ritual tahunan, tetapi telah berkembang menjadi ruang perjumpaan spiritual, sosial, budaya, dan sejarah yang memperkuat identitas masyarakat Minangkabau.
Dari perspektif ilmu pengetahuan, Basapa merupakan tradisi ziarah ke makam guru. Dalam khazanah pendidikan Islam, menghormati guru adalah bagian dari adab sebelum ilmu. Karena itu, ziarah bukanlah memuliakan makam, melainkan menghormati jasa ulama, mengenang perjuangan dakwahnya, mengambil ibrah dari keteladanannya, serta menyambung mata rantai sanad keilmuan yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Dalam pengertian ini, Basapa memiliki dimensi historis, edukatif, spiritual, sekaligus kultural.
Basapa juga menjadi bentuk penghormatan kepada ulama sebagai warasatul anbiya', pewaris para nabi. Syekh Burhanuddin bukan sekadar tokoh sejarah, tetapi mata rantai penting dalam proses Islamisasi Minangkabau. Melalui sistem pendidikan surau, beliau melahirkan jaringan ulama dan Tuanku yang kemudian menyebarkan Islam ke berbagai nagari. Warisan beliau masih hidup melalui surau, kitab-kitab, sanad keilmuan, tradisi keagamaan, dan budaya masyarakat yang berlandaskan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
Karena itu, Basapa bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan momentum membaca sejarah melalui jejak ulama agar lahir inspirasi untuk membangun masa depan. Di sinilah Basapa menjadi salah satu bentuk living heritage, yakni warisan budaya yang tetap hidup, diamalkan, dan memberi makna bagi kehidupan masyarakat hingga sekarang.
Sebagai living heritage, Basapa mengandung berbagai nilai yang sangat kaya, yaitu nilai spiritual melalui doa, zikir, dan penghormatan kepada ulama; nilai pendidikan melalui pengenalan sejarah Islam dan sanad keilmuan; nilai sosial melalui silaturahmi para penziarah dari berbagai daerah; serta nilai budaya melalui pelestarian tradisi Islam Minangkabau yang telah bertahan lebih dari tiga abad.
Kehadiran ribuan penziarah setiap tahun menunjukkan bahwa Syekh Burhanuddin tetap hidup dalam ingatan kolektif umat. Basapa menjadi media mempererat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah. Orang datang bukan hanya untuk berziarah, tetapi juga untuk bersilaturahmi, memperkuat persaudaraan, bertemu keluarga, sahabat, serta sesama pecinta ulama.
Pada penyelenggaraan Basapa tahun ini, Bupati Padang Pariaman menyapa seluruh penziarah yang hadir sebagai bentuk penghormatan kepada tamu-tamu yang datang dari berbagai daerah. Pemerintah daerah juga menegaskan komitmennya agar pelaksanaan Basapa semakin aman, nyaman, tertib, bersih, serta memberikan kesan yang baik dan pengalaman yang menyenangkan bagi seluruh penziarah. Komitmen tersebut penting agar Basapa berkembang menjadi destinasi wisata religi yang berkualitas tanpa kehilangan nilai-nilai spiritual dan tradisinya.
Namun demikian, terdapat tantangan yang perlu menjadi perhatian bersama. Tidak sedikit generasi muda yang mulai kurang mengenal sejarah, filosofi, dan makna Basapa. Jika keadaan ini dibiarkan, dikhawatirkan Basapa hanya dipahami sebagai keramaian tahunan tanpa memahami nilai perjuangan ulama yang melatarbelakanginya. Oleh sebab itu, diperlukan sosialisasi yang lebih luas melalui sekolah, pesantren, perguruan tinggi, media sosial, museum, dan berbagai forum literasi agar generasi muda memahami bahwa Basapa adalah bagian penting dari sejarah peradaban Islam Minangkabau.
Ke depan, penyelenggaraan Basapa juga perlu terus ditata agar semakin tertib dan nyaman. Pengaturan arus penziarah, kebersihan kawasan, penataan pedagang, penyediaan pusat informasi sejarah, pelayanan transportasi, keamanan, fasilitas parkir, sanitasi, serta ruang edukasi perlu terus ditingkatkan. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya datang untuk berziarah, tetapi benar-benar dapat menikmati Basapa sebagai pengalaman spiritual, intelektual, budaya, dan sosial yang berkesan.
Basapa juga perlu dikembangkan sebagai pusat literasi sejarah ulama, museum hidup (living heritage), wisata religi, dan penguatan karakter masyarakat. Semakin banyak orang mengenal sejarah Syekh Burhanuddin, semakin kuat pula penghargaan terhadap ulama, sanad keilmuan, dan jati diri masyarakat Minangkabau.
Sebagaimana pepatah Minangkabau:
"Alam takambang jadi guru, adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah."
Syekh Burhanuddin telah mewariskan ilmu, adab, dan peradaban. Tugas generasi hari ini bukan sekadar mengenang beliau, tetapi menjaga, mengembangkan, dan mewariskan nilai-nilai tersebut agar tetap hidup sepanjang zaman.
Menikmati Basapa pada hakikatnya bukan hanya menikmati sebuah tradisi, melainkan menikmati perjalanan sejarah, menghormati guru, mempererat ukhuwah, merawat kearifan lokal, serta menguatkan peradaban Islam Minangkabau untuk masa depan. 29072026.
