![]() |
Oleh: Duski Samad
Peserta Program Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H / 2026 M Tanggal 08 - 19 Juli 2026
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Selepas menunaikan shalat Jumat, 17 Juli 2026, di Masjidil Haram, tibalah rangkaian terakhir yang difasilitasi dalam Program Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H. Sebelum kembali ke Tanah Air pada 19 Juli 2026, seluruh peserta diarahkan mengambil ihram dari Masjid Tan'im, yang lebih dikenal sebagai Masjid Aisyah, untuk melaksanakan umrah wada', sebuah umrah penutup yang menjadi pengikat seluruh perjalanan spiritual selama berada di Tanah Suci.
Rombongan bergerak menuju Tan'im secara bergelombang sesuai jadwal yang telah ditentukan. Dari tempat inilah kami berniat ihram, lalu kembali ke Masjidil Haram untuk menyempurnakan rangkaian ibadah berupa tawaf, sa'i, dan tahallul, yang selesai antara waktu Ashar hingga Isya.
Masjid Tan'im (Masjid Aisyah): Jejak Sejarah Miqat Penduduk Makkah
Masjid Tan'im berjarak sekitar 7–8 kilometer di sebelah utara Masjidil Haram. Tempat ini merupakan salah satu miqat makani bagi penduduk Makkah atau siapa saja yang telah berada di Tanah Haram dan ingin melaksanakan umrah.
Masjid ini dikenal sebagai Masjid Aisyah karena berkaitan dengan peristiwa pada Haji Wada' Rasulullah SAW. Setelah menyelesaikan ibadah haji, Sayyidah Aisyah r.a. menyampaikan keinginannya kepada Rasulullah SAW untuk melaksanakan umrah secara tersendiri. Ketika pertama kali tiba di Makkah, beliau sedang mengalami haid sehingga, atas perintah Rasulullah SAW, hanya dapat menyempurnakan manasik hajinya.
Melihat keinginan Aisyah yang begitu besar, Rasulullah SAW memerintahkan saudaranya, Abdurrahman bin Abu Bakar r.a., agar mengantarnya keluar dari batas Tanah Haram menuju Tan'im untuk berniat ihram. Dari sanalah Aisyah memulai umrahnya, kemudian kembali ke Masjidil Haram untuk melaksanakan tawaf, sa'i, dan tahallul. Peristiwa ini diriwayatkan secara sahih dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.
Sejak saat itu, Tan'im menjadi salah satu miqat yang paling banyak digunakan oleh jamaah yang telah berada di Makkah untuk melaksanakan umrah berikutnya. Kini berdiri sebuah masjid yang luas dan nyaman dengan berbagai fasilitas bagi jutaan jamaah dari seluruh dunia.
Bagi kami, mengambil ihram dari Masjid Tan'im bukan sekadar memenuhi ketentuan fikih, tetapi juga menyusuri jejak sejarah keluarga Rasulullah SAW. Di tempat ini tersimpan pelajaran bahwa Islam menghargai kebutuhan spiritual setiap mukmin. Rasulullah SAW tidak mengabaikan keinginan Aisyah, tetapi membimbingnya agar beribadah sesuai tuntunan syariat. Karena itu, setiap jamaah yang berniat ihram di Tan'im sesungguhnya sedang menghidupkan sunnah yang telah berlangsung sejak masa Rasulullah SAW.
Umrah terakhir ini bukan sekadar menambah bilangan ibadah, melainkan menjadi muhasabah atas seluruh perjalanan ruhani. Setiap langkah seolah bertanya kepada diri sendiri: Apa yang akan dibawa pulang selain oleh-oleh? Adakah hati yang lebih bersih, iman yang lebih kuat, dan akhlak yang lebih mulia?
Allah SWT berfirman:
> وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ
> "Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah."
(QS. Al-Baqarah: 196)
Kata "lillāh" (karena Allah) merupakan ruh seluruh ibadah umrah. Seluruh rangkaian manasik tidak bernilai hanya karena gerakan lahiriah, tetapi karena ketulusan niat, keikhlasan, dan kepasrahan kepada Allah SWT.
Pelajaran Besar dari Setiap Rukun Umrah
1. Ihram: Mengingat Akhir Kehidupan
Pakaian ihram yang putih tanpa jahitan menghapus seluruh simbol dunia. Jabatan, pangkat, kekayaan, dan status sosial ditinggalkan. Semua manusia berdiri sama di hadapan Allah, mengingatkan bahwa kelak kita akan dibangkitkan tanpa membawa apa pun selain amal.
2. Talbiyah: Menjawab Panggilan Allah
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ
Talbiyah bukan sekadar bacaan di lisan, tetapi ikrar untuk menjawab seluruh panggilan Allah sepanjang hidup: panggilan salat, menuntut ilmu, berdakwah, menjauhi maksiat, berlaku jujur, berbakti kepada orang tua, dan memberi manfaat bagi sesama.
3. Tawaf: Allah Menjadi Pusat Kehidupan
Seluruh manusia mengelilingi Ka'bah, bukan saling mengelilingi sesama manusia. Ini mengajarkan bahwa pusat kehidupan seorang mukmin hanyalah Allah. Harta, jabatan, popularitas, bahkan keluarga tidak boleh menggantikan posisi Allah sebagai orientasi utama kehidupan.
Allah SWT berfirman:
> قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
> "Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam."
(QS. Al-An'am: 162)
4. Hajar Aswad: Ketaatan Mendahului Logika
Umar bin Khattab r.a. berkata bahwa Hajar Aswad hanyalah batu yang tidak dapat memberi manfaat maupun mudarat. Beliau menciumnya semata-mata karena melihat Rasulullah SAW melakukannya. Di sinilah letak pendidikan ittiba', yaitu mendahulukan wahyu daripada hawa nafsu dan logika yang tidak dibimbing syariat.
5. Sa'i: Ikhtiar Tidak Pernah Berhenti
Hajar berlari tujuh kali antara Shafa dan Marwah tanpa mengetahui dari mana pertolongan Allah akan datang. Zamzam memancar setelah usaha dilakukan. Sa'i mengajarkan bahwa tawakal tidak pernah berarti meninggalkan ikhtiar.
6. Zamzam: Rezeki Datang Setelah Kesungguhan
Air Zamzam menjadi simbol bahwa Allah menghadirkan pertolongan dari arah yang tidak disangka-sangka bagi hamba yang berusaha dan bertawakal. Ikhtiar dan doa harus selalu berjalan beriringan.
7. Tahallul: Memulai Kehidupan Baru
Rambut yang dicukur menjadi lambang meninggalkan dosa dan membuka lembaran kehidupan yang lebih bersih. Umrah tidak berakhir ketika tahallul selesai, tetapi justru dimulai ketika kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang lebih bertakwa.
8. Larangan Ihram: Sekolah Pengendalian Diri
Selama ihram, banyak hal yang semula halal menjadi terlarang untuk sementara. Pendidikan ini membentuk disiplin spiritual dan pengendalian diri. Jika yang halal saja mampu ditinggalkan demi Allah, maka meninggalkan yang haram sepanjang hayat seharusnya menjadi lebih mudah.
Umrah Wada': Perpisahan yang Bukan Akhir
Tidak ada seorang pun yang memiliki jaminan akan kembali lagi ke Baitullah. Karena itu, setiap tawaf terakhir selalu menghadirkan haru. Mata memandang Ka'bah dengan doa yang sama: semoga Allah menerima seluruh amal, mengampuni dosa-dosa, dan mempertemukan kembali dengan rumah-Nya pada waktu yang Dia kehendaki.
Hakikat Umrah Wada' bukanlah mengucapkan selamat tinggal kepada Ka'bah, melainkan membawa nilai-nilai Ka'bah pulang ke negeri asal. Jika selama di Tanah Suci kita belajar menjaga lisan, memperbanyak zikir, disiplin terhadap waktu, sabar menghadapi ujian, tawaduk di hadapan Allah, serta memperkuat ukhuwah Islamiyah, maka semua itu harus menjadi karakter yang terus hidup setelah kembali ke rumah.
Perjalanan umrah akhirnya selesai, tetapi perjalanan menjadi hamba Allah yang lebih baik baru saja dimulai.
اللهم تقبل عمرتنا، واغفر ذنوبنا، وأصلح قلوبنا، واجعلنا من عبادك الصالحين، وأعدنا إلى بيتك الحرام مراتٍ عديدة في صحةٍ وعافية، واجعل هذه العمرة بدايةً لحياةٍ أقرب إليك. آمين يا رب العالمين.
