![]() |
Oleh: Duski Samad
Masjidil Haram, Jumat, 17 Juli 2026
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Khutbah Jumat di Masjidil Haram kembali mengingatkan umat Islam kepada fondasi terbesar kehidupan, yaitu tauhid. Khatib membuka khutbah dengan Ayat Kursi (QS. Al-Baqarah: 255), ayat yang oleh Rasulullah SAW disebut sebagai ayat paling agung dalam Al-Qur'an.
Di dalamnya terdapat dua nama Allah yang menjadi pusat seluruh Asmaul Husna, yaitu Al-Hayy dan Al-Qayyum.
«اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ...»
Ayat ini bukan hanya menjelaskan siapa Allah, tetapi juga membentuk cara berpikir, cara bekerja, dan cara membangun peradaban.
Rasulullah SAW mengajarkan doa yang sangat agung:
«يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ»
"Wahai Dzat Yang Maha Hidup, Wahai Dzat Yang Maha Mengurus seluruh makhluk, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan."
Al-Hayy: Kesempurnaan Wujud
Para mufasir klasik seperti Imam Ath-Thabari, Ibnu Katsir, dan Al-Qurthubi menjelaskan bahwa Al-Hayy adalah Allah Yang hidup dengan kehidupan yang sempurna, tidak didahului ketiadaan dan tidak akan berakhir dengan kematian. Seluruh kehidupan makhluk bersumber dari-Nya.
Imam Al-Ghazali dalam Al-Maqshad al-Asna menjelaskan bahwa Al-Hayy merupakan kehidupan yang sempurna, yang melahirkan ilmu, kehendak, kekuasaan, dan seluruh sifat kesempurnaan Allah. Kehidupan manusia hanyalah pantulan kecil dari kehidupan yang Allah anugerahkan.
Dalam tasawuf, mengenal Allah sebagai Al-Hayy akan menghidupkan hati yang mati karena dosa, kesombongan, dan kelalaian. Dzikir bukan sekadar ucapan lisan, tetapi proses menghidupkan ruh agar selalu terhubung dengan Sang Maha Hidup.
Al-Qayyum: Allah yang Terus Mengelola Alam
Nama Allah Al-Qayyum menunjukkan bahwa Allah senantiasa mengurus, memelihara, mengatur, dan menegakkan seluruh alam.
Kalimat:
لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ
menunjukkan Allah tidak pernah mengantuk dan tidak pernah tidur.
Sedangkan firman-Nya:
وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا
menegaskan bahwa memelihara langit dan bumi sama sekali tidak memberatkan-Nya.
Sayyid Qutb menjelaskan bahwa Al-Qayyum menggambarkan Allah sebagai pusat seluruh gerak kehidupan. Tidak ada atom yang bergerak tanpa izin-Nya.
Wahbah az-Zuhaili menambahkan bahwa seluruh sistem kosmos berjalan secara teratur karena Allah terus menerus mengelolanya.
Iman Melahirkan Gerakan
Pelajaran terbesarnya ialah bahwa Allah tidak pernah pasif.
Allah terus mencipta.
Allah terus memberi rezeki. Allah terus menjaga. Allah terus mengatur.
Karena itu, seorang mukmin tidak boleh hidup dalam kemalasan.
Tauhid melahirkan gerakan.
Islam membangun umat yang produktif, kreatif, disiplin, dan siap menghadapi perubahan zaman.
Dalam psikologi modern, keyakinan seperti ini melahirkan growth mindset, optimisme, daya lenting (resilience), dan harapan yang tinggi. Orang yang percaya kepada Allah Yang Maha Mengatur tidak mudah putus asa ketika menghadapi kegagalan.
Dalam perspektif sosiologi, masyarakat yang bertauhid akan memiliki etos kerja tinggi, solidaritas sosial, serta kemampuan beradaptasi menghadapi perubahan.
Tauhid Mengalahkan Kultus Individu
Sesudah Rasulullah SAW wafat, sebagian sahabat mengalami guncangan.
Abu Bakar Ash-Shiddiq RA kemudian berdiri menyampaikan pidato yang sangat monumental:
«"Barang siapa menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Barang siapa menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup dan tidak akan pernah mati."»
Pidato ini merupakan deklarasi besar bahwa perjuangan Islam tidak bergantung kepada seseorang. Pemimpin dapat berganti, tetapi Allah tetap hidup dan agama-Nya tetap berjalan.
Inilah pelajaran kepemimpinan sepanjang zaman. Organisasi, bangsa, dan umat akan tetap kuat apabila dibangun di atas nilai, bukan pada kultus individu.
Doa untuk Umat
Pada penutup khutbah, khatib memanjatkan doa agar Allah memuliakan Islam dan kaum muslimin, menguatkan persatuan umat, memberikan kemenangan kepada kaum Muslim yang tertindas, khususnya di Palestina, serta menjaga negeri-negeri Islam dari fitnah, perpecahan, dan kezaliman.
Doa tersebut mengingatkan bahwa ukhuwah Islamiyah tidak mengenal batas geografis. Penderitaan satu bagian umat adalah keprihatinan seluruh umat.
Konsolidasi Tauhid Menuju Peradaban
Khutbah Jumat di Masjidil Haram sesungguhnya merupakan seruan untuk kembali mengonsolidasi kan tauhid sebagai fondasi kebangkitan umat.
Istighatsah "Yā Hayyu Yā Qayyūm" bukan hanya zikir ketika menghadapi kesulitan, tetapi juga paradigma kehidupan.
Ia mengajarkan bahwa Allah adalah sumber kehidupan, sumber kekuatan, sumber ilmu, sumber harapan, dan sumber perubahan.
Apabila tauhid telah menghidupkan hati, maka ilmu akan melahirkan amal, amal akan melahirkan gerakan, gerakan akan melahirkan peradaban, dan peradaban yang dibangun di atas tauhid akan menjadi rahmat bagi seluruh alam.
اللهم يا حي يا قيوم برحمتك نستغيث، أصلح لنا شأننا كله، ولا تكلنا إلى أنفسنا طرفة عين. آمين.
