![]() |
Oleh: Duski Samad
Santri MTI 1973–1980
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
إِنَّا لِلَّٰهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Akhir-akhir ini dunia pondok pesantren kembali diuji dengan berbagai musibah. Ada musibah yang bersifat nonfisik, seperti krisis moral, tantangan digital, dan berbagai persoalan sosial. Ada pula musibah fisik yang datang tanpa diduga, salah satunya kebakaran yang meludeskan bangunan-bangunan pesantren yang dibangun dengan penuh keikhlasan.
Setiap bangunan pesantren bukan sekadar kumpulan batu, semen, dan kayu. Di baliknya terdapat tetesan keringat para orang tua santri, infak masyarakat, sedekah para dermawan, bantuan pemerintah, serta gotong royong umat. Ketika api melalap bangunan itu, yang terbakar bukan hanya dinding dan atap, tetapi juga kenangan, harapan, dan jerih payah yang dikumpulkan selama bertahun-tahun.
Pepatah Minangkabau mengingatkan:
«Ditabang talang ka turak,
Diambiak ka junjuang siriah.
Malang ndak dapek ditulak,
Mujua ndak dapek diraiah.»
Musibah memang tidak dapat ditolak. Namun di balik setiap musibah selalu tersimpan hikmah, pelajaran, dan peluang untuk bangkit dengan lebih kuat.
Hari ini, Kamis, 23 Juli 2026, masyarakat Sumatera Barat dikejutkan oleh kabar duka dari Pondok Pesantren Bustanul Yaqin, Pungguang Kasiak, Kecamatan Lubuak Aluang, Kabupaten Padang Pariaman. Kebakaran terjadi sekitar pukul 13.05 WIB, tidak lama setelah pelaksanaan salat Zuhur.
Api dengan cepat membesar dan menghanguskan sejumlah fasilitas penting pesantren, antara lain kantin, koperasi, ruang UKS, dua gedung asrama putri, kantor, serta satu ruang kelas. Empat unit mobil pemadam kebakaran dari Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman berjibaku selama sekitar satu setengah jam hingga api berhasil dipadamkan.
Alhamdulillah, di tengah besarnya musibah tersebut tidak ada korban jiwa. Seluruh santri, majelis guru, dan warga pesantren dapat menyelamatkan diri. Nikmat keselamatan inilah yang patut terlebih dahulu disyukuri.
Kerugian material diperkirakan mencapai sekitar Rp600 juta. Angka yang tidak kecil bagi sebuah lembaga pendidikan yang tumbuh dari semangat wakaf, infak, sedekah, dan gotong royong masyarakat.
Sebagai seseorang yang pernah menjalani kehidupan sebagai santri sejak tahun 1973 hingga 1980, saya dapat merasakan betapa berat cobaan yang sedang dihadapi keluarga besar pesantren. Pesantren bukan sekadar tempat belajar. Ia adalah rumah kedua, tempat menempa akhlak, membangun karakter, melatih kemandirian, dan menanamkan kecintaan kepada ilmu dan ulama.
Sejarah pesantren di Indonesia mengajarkan bahwa lembaga ini telah berkali-kali menghadapi ujian. Ada yang diterpa bencana alam, konflik sosial, keterbatasan ekonomi, hingga kebakaran. Namun pesantren selalu mampu bangkit karena fondasinya bukan semata bangunan fisik, melainkan keikhlasan para guru, doa para santri, serta dukungan masyarakat.
Karena itu, musibah ini hendaknya menjadi panggilan bagi seluruh umat Islam untuk memperkuat solidaritas. Sudah saatnya pemerintah, alumni, masyarakat, dunia usaha, lembaga zakat, dan para dermawan bergandengan tangan membantu pemulihan Pondok Pesantren Bustanul Yaqin agar kegiatan pendidikan dapat segera berjalan kembali.
Musibah ini juga menjadi pengingat bagi seluruh pondok pesantren untuk terus meningkatkan mitigasi bencana. Instalasi listrik perlu diperiksa secara berkala, sistem proteksi kebakaran diperkuat, jalur evakuasi disiapkan, alat pemadam api ringan (APAR) tersedia di setiap gedung, serta pendidikan kesiapsiagaan bencana menjadi bagian dari budaya pesantren. Ikhtiar menjaga keselamatan merupakan bagian dari ajaran Islam yang menempatkan perlindungan jiwa dan harta sebagai tujuan utama syariat (maqāṣid al-syarī‘ah).
Kepada keluarga besar Pondok Pesantren Bustanul Yaqin, kami menyampaikan rasa duka dan empati yang mendalam.
Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada pimpinan pesantren, Tuanku Zainal Tk. Mudo, Ketua Yayasan Dr. H. Rahmat Tk. Sulaiman, S.Sos., M.M., seluruh majelis guru, para santri, alumni, dan masyarakat yang selama ini mencintai pesantren tersebut.
Semoga Allah mengganti setiap yang terbakar dengan yang lebih baik, lebih luas, lebih kokoh, dan lebih membawa keberkahan bagi generasi mendatang.
Sebab sejatinya, bangunan dapat hangus dilalap api, tetapi semangat keikhlasan, tradisi keilmuan, dan cahaya pendidikan pesantren tidak akan pernah dapat dibakar.
Hasbunallāhu wa ni‘mal wakīl, ni‘mal maulā wa ni‘man naṣīr. 23072026
