![]() |
| Komplek Pondok Pesantren Luhur dan Masjid Kalampaian Ampalu Tinggi di Nagari Lareh Nan Panjang Selatan. |
MU-ONLINE, PADANG PARIAMAN, Ampalu adalah nagari pertama yang membentuk Kecamatan VII Koto Sungai Sariak. Tersebut sebagai VII Koto Sungai Sariak, ada Sungai Sariak, Sungai Durian, Tandikek, Batu Kalang, Koto Baru, Koto Dalam, tujuah jo Ampalu.
Ampalu memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan pembentukan wilayah rantau Minangkabau di pesisir barat Sumatera. Secara historis, wilayah Kecamatan VII Koto Sungai Sariak merupakan daerah rantau awal yang didominasi oleh perantau yang berasal dari Luhak Agam dan Luhak Tanah Datar. Jalur di kawasan ini menjadi rute perjalanan perdagangan yang penting yang menghubungkan Kerajaan Pagaruyung di pedalaman dengan daerah pesisir Pariaman.
Pemekaran Wilayah: Berdasarkan catatan sejarah lisan niniak mamak setempat, Nagari Lurah Ampalu berdiri sekitar tahun 1916 pada masa penjajahan kolonial Belanda. Wilayah ini merupakan pecahan dari Nagari Ampalu induk.
Masyarakat setempat sangat menjunjung tinggi hukum adat. Terdapat tradisi turun-temurun seperti ganggam bauntuak (wewenang niniak mamak mengatur wilayah) dan pelaksanaan upacara adat seperti Bakaua Adat di kawasan sumber air atau hulu sungai untuk memanjatkan doa. Tradisi keislaman juga mengakar kuat di nagari ini, yang dikenal dengan tradisi mangaji pusaro.
Secara administratif, Nagari Lurah Ampalu memiliki luas sekitar 19,99 kilometer persegi dan terbagi menjadi 15 korong, di antaranya Ambacang Gadang, Ikua Kampuang, Guguak, dan Kabun Cimpago. Kini, Nagari Lurah Ampalu Timur sedang dipersiapkan, dalam pemekaran Nagari Lurah Ampalu itu sendiri.
Asal-Usul Nama Ampalu
Secara etimologi bahasa Minangkabau lokal, nama "Ampalu" (atau sering dieja Ampalu/Ampalu Tinggi/Padang Ampalu) merujuk pada nama sejenis tumbuh-tumbuhan atau pohon rindang yang dahulu banyak tumbuh di kawasan tersebut. Dalam tradisi lisan masyarakat setempat, penamaan suatu wilayah berdasarkan flora yang mendominasi saat pembukaan lahan (manaruko kampuang) merupakan hal yang sangat umum di wilayah rantau Padang Pariaman.
Masyarakat awal yang mendiami kawasan Ampalu dan Sungai Sariak pada umumnya merupakan para perantau yang turun dari wilayah pedalaman Minangkabau (Luhak Nan Tigo), mayoritas berasal dari Luhak Agam dan Luhak Tanah Datar. Nenek moyang daerah ini datang melalui aliran sungai-sungai penting seperti Sungai Batang Mangoi dan Sungai Anai. Wilayah tempat Ampalu berada dulunya merupakan jalur lalu lintas ekonomi strategis yang menghubungkan peradaban pedalaman (Kerajaan Pagaruyung) dengan pusat pelabuhan pantai di Pariaman. Hal ini membuat wilayah sekitar Ampalu berkembang menjadi kawasan pemukiman yang dinamis.
Wilayah Ampalu berada di bawah naungan Kerapatan Adat Nagari (KAN) Sungai Sariak. Sistem adat di wilayah ini menganut keselarasan adat Minangkabau yang dibawa oleh para penghulu suku awal yang membuka pemukiman. Struktur sosial masyarakatnya terikat kuat pada kaum, suku, dan payung datuk masing-masing yang mengelola tanah ulayat setempat.
Lareh Nan Panjang
Sejarah pemerintahan modern Ampalu mencatat perubahan besar pasca-reformasi dan pemberlakuan kembali sistem Pemerintahan Nagari di Sumatera Barat: Berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Padang Pariaman mengenai penataan nagari, Ampalu adalah Nagari Lareh Nan Panjang. Di dalam Nagari Lareh Nan Panjang (yang memiliki luas sekitar 4,79 km²), kawasan Ampalu terbagi dan memberi nama bagi wilayah sekitarnya menjadi beberapa korong, di antaranya: 1. Korong Ampalu 2. Korong Padang Ampalu
(Catatan: Akibat pemekaran, ada pula wilayah tetangganya yang bernama Nagari Lareh Nan Panjang Selatan yang menaungi Korong Ampalu Tinggi).
Kehidupan Sosial dan Ekonomi
Sejak dahulu hingga sekarang, mayoritas masyarakat di Korong Ampalu bermata pencaharian sebagai petani sawah dan peladang (kelapa, kakao, dan karet). Selain bertani, letaknya yang dekat dengan pusat kecamatan membuat akses pendidikan berkembang baik, salah satunya ditandai dengan berdirinya fasilitas publik seperti SMPN 3 VII Koto Sungai Sariak, di Korong Ampalu.
Bagi masyarakat Lareh Nan Panjang, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, keberadaan sungai menjadi berkah tersendiri. Tak heran, empat sungai yang mengalir di kampung itu, yakni Sungai Batang Ampalu, Batang Piaman, Batang Mangoi dan Sungai Batang Balam mampu menghasilkan uang untuk kemajuan masyarakatnya. Ikan larangan yang di buat di setiap sungai, pada saat di bongkar mampu mendatangkan uang buat pembangunan surau, laga-laga, serta keperluan masyarakat lainnya.
Potensi nagarinya selain sungai yang banyak, juga ada sawah dan ladang. Tetapi, perjalanan sawah masyarakat saat ini agak tersendat, lantaran banyaknya irigasi di kampung itu yang ikut hancur akibat gempa 2009 lalu. Mulai dari Irigasi Bungin, Patamuan, Banda Kalu, Irigasi Toboh, Tanjung Balik. Irigasi yang sebanyak itu mengaliri sawah seluas 800 hektare yang tersebar di 10 korong yang ada di Lareh Nan Panjang. Masing-masing, Korong Ampalu, Ampalu Tinggi, Apar, Bungin, Padang Ampalu, Kampuang Baru, Kampuang Dama, Tanjung Balik, Toboh dan Korong Toboh Karambia. Disamping lahan sawah, masyarakat juga mengembangkan tanaman cokelat.
Kini, yang menjadi kendala berat bagi masyarakat Lareh Nan Panjang, adalah merajalelanya tupai pada tanaman kakao. Hingga saat ini belum ada antisipasi yang didapatkan untuk menumpas hama tanaman yang satu ini. Akibatnya, banyak kakao petani yang terbuang sia-sia, karena dimusnahkan oleh tupai. Agaknya keberadaan kakao belum membawa banyak manfaat untuk sumber kehidupan petani. Malah, petani di nagari itu masih memanfaatkan tanaman tua, seperti kelapa yang telah mereka warisi. Melihat kondisi harga kelapa. Kalau harga di Pekanbaru, Riau kelapa mahal, maka masyarakat pun berlomba-lomba menjual kelapanya. Tetapi, kalau harga lagi anjlok, masyarakat dengan telatennya mengolah buah kelapa itu untuk dijadikan minyak goreng, alias minyak tanak tangan, dan harganya pun bisa jadi mahal kembali.
Nagari Lareh Nan Panjang merupakan pecahan dari Luhak Ampalu dulunya. Sebab, yang VII Koto itu adalah Sungai Sariak, Sungai Durian, Tandikek, Batu Kalang, Koto Baru, Koto Dalam dan yang ketujuh Ampalu, atau Luhak Ampalu. Perkembangan zaman, Ampalu menjadi tiga nagari, yakni Nagari Lareh Nan Panjang, Lurah Ampalu dan Nagari Balah Aie. Lareh Nan Panjang, atau Ampalu adalah pusat kerajaan VII Koto dulunya. Tidak sekedar itu, Masjid Raya VII Koto pun terletak di nagari demikian. Di masjid itulah kedudukan Ungku Kadhi VII Koto.
Sebagai pusat kerajaan dan agama, banyak persoalan yang mencuat di tengah masyarakat VII Koto, sejak dulu diputuskan di masjid itu atau kalau tidak di Pondok Pesantren Luhur Kalampaian, Ampalu Tinggi, kini jadi Nagari Lareh Nan Panjang Selatan. Pesantren yang satu ini adalah pesantren tertua di Padang Pariaman. Banyak ulama besar dilahirkan di pesantren tersebut yang tersebar di berbagai daerah di Minangkabau ini. Bagi masyarakat Lareh Nan Panjang dan VII Koto, kedua lembaga demikian, masjid VII Koto dan Pesantren Kalampaian Ampalu Tinggi adalah sejarah panjang.
Lareh Nan Panjang, jumlah penduduknya sekitar 5.888 atau sekitar 1.313 kepala keluarga (KK), sebanyak 30 persen masyarakatnya masih hidup di bawah garis kemiskinan. Hampir semua masyarakat nagari itu hidup dari sumber pertanian sawah dan ladang. Baru akhir-akhir ini mulai tumbuh berbagai kelompok usaha kecil menengah. Seperti adanya usaha VCO. Usaha membuat minyak kelapa murni itu dilakukan oleh masyarakat yang telah punya skill, dan melihat peluang yang dihasilkan dari VCO demikian.
Dalam tatanan adat, masyarakat Lareh Nan Panjang hidup dalam berbagai kelompok suku yang turun temurun sejak dulunya. Ke semua suku berada di bawah naungan panghulu. Ada empat panghulu yang menauangi semua suku yang ada. Mulai dari Datuak Bandaro Putiah yang kini dijabat oleh H. Damsuar. Dia adalah panghulu kaum suku Koto, sekaligus diberi amanah sebagai Ketua KAN Lareh Nan Panjang. Kemudia Datuak Pono Intan dari suku Panyalai, Datuak Bandaro Panjang dan Datuak Marajo.
Saat pemerintahan desa, wilayah Lareh Nan Panjang terdiri dari 14 desa. Sejak Kota Pariaman menjadi kota otonom, dua desa dalam Lareh Nan Panjang, yakni Desa Rambai dan Desa Pungguang Ladiang masuk ke wilayah kota. Namun, secara adat istiadat yang dua desa itu tetap tidak bisa berpisah dari induknya, Lareh Nan Panjang. Jadi, secara pemerintahan mereka berinduk ke Kota Pariaman, dan secara adat tetap berkiblat ke Lareh Nan Panjang.
Ada 44 surau dan masjid di nagari Lareh Nan Panjang. Bagi masyarakat VII Koto secara umum, setiap suku dan pecahannya punya sebuah surau. Namun, yang aktif membina anak TPA/TPSA hanya 14 surau. Bagi masyarakat kaum atau suku, yang jadi kebanggaan adalah shalat Tarwih di bulan Ramadhan, dan shalat Id di surau yang mereka buat secara berkaum itu. Walau demikian, kesemua surau dan masjid itu tetap saja berinduk ke Masjid VII Koto, yang terletak di Korong Ampalu. Disitulah sidang terletaknya.
Lurah Ampalu
Nagari Lurah Ampalu adalah salah satu nagari bersejarah di wilayah Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatra Barat. Berdiri sejak masa kolonial Belanda, nagari ini terus berkembang baik dari segi pemerintahan, luas wilayah, maupun jumlah penduduk.
Tahun Berdiri: Nagari Lurah Ampalu resmi berdiri sejak tahun 1916 di bawah sistem pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Asal-usul: Berdasarkan sejarah lisan dari para niniak mamak setempat, wilayah ini merupakan pecahan dari Nagari Ampalu induk. Sistem VII Koto: Sebelum pemekaran modern, Nagari Ampalu (termasuk Lurah Ampalu) merupakan salah satu dari tujuh nagari asli yang membentuk nama Kecamatan VII Koto, bersama dengan Sungai Sariak, Sungai Durian, Tandikek, Batu Kalang, Koto Dalam, dan Koto Baru.
Masa Peralihan dan Sistem Desa (Era Orde Baru)
Sistem Sentralisasi: Seperti nagari lain di Sumatra Barat, struktur pemerintahan asli Lurah Ampalu sempat dilebur menjadi sistem Desa berdasarkan UU No. 5 Tahun 1979 guna menyamakan administrasi tingkat rendah di seluruh Indonesia. Dampak: Peran niniak mamak dan peradilan adat setempat sempat bergeser ke ranah formalitas, sementara urusan birokrasi dipimpin oleh Kepala Desa.
Era Reformasi (Kembali ke Nagari)
Kebijakan Babaliak ka Nagari: Memasuki tahun 2001, melalui Perda Provinsi Sumatra Barat, sistem pemerintahan desa dihapus dan dikembalikan ke sistem Pemerintahan Nagari. Penguatan Kelembagaan: Posisi pimpinan wilayah kembali dinamai Wali Nagari, didampingi oleh Badan Musyawarah (Bamus) Nagari sebagai unsur legislatif tingkat lokal.
Era Modern dan Pemekaran Wilayah (2010-an - Sekarang)
Luas Wilayah: Berdasarkan data BPS Kabupaten Padang Pariaman, nagari ini memiliki luas sekitar 19,99 kilometer persegi. Struktur Kewilayahan: Nagari Lurah Ampalu bertumbuh pesat dan memiliki 15 Korong (setingkat dusun/RW), di antaranya adalah Ambacang Gadang, Ikua Kampuang, Guguak, dan Kabun Cimpago. Pemekaran Baru: Untuk mengoptimalkan pelayanan masyarakat, pemerintah daerah menetapkan sebagian wilayahnya menjadi Nagari Persiapan Lurah Ampalu Timur yang berbatasan langsung dengan Kota Pariaman dan wilayah induknya.
Balah Aie
Nagari Balah Aia, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, Kabupaten Padang Pariaman kini sudah menjadi tiga pemerintahan nagari. Disamping Balah Aie, ada dua lagi tambahannya, yakni Balah Aie Utara dan Balah Aie Timur. Bahwa pemekaran nagari demikian tak terlepas dari luas wilayah dan jumlah penduduk yang semakin membengkak. "Sesuai undang-undang, pelayanan itu harus diperdekat dengan masyarakat. Masyarakat pun merasakan urusannya bisa diselesaikan dalam waktu yang tak begitu lama,".
"Yang masuk wilayah Balah Aie Utara, adalah Korong Balai Jumaik, Sungai Karuah, Lubuak Pua, dan Sungai Tareh,". Sedangkan Balah Aia Timur meliputi Korong Duku Banyak, Kampuang Paneh, dan Pincuran Sonsang. Dengan adanya pemerintahan nagari baru, maka perangkat nagari induk yang berasal dari nagari pemekaran akan pindah dengan sendirinya. Pemerintahan nagari baru ini mampu memberikan yang terbaik. Berlangsung penataan dan pembentukan kelembagaan nagari tersebut. Dalam waktu dekat, semua walikorong dan mungkin Bamus-nya akan dilantik pula.
Dengan pemekaran ini pula, akan membuka lapangan pekerjaan bagi anak nagari. "Kita punya potensi yang cukup untuk mengendalikan nagari demikian. Baik untuk staf, maupun untuk memimpin lembaga nagari yang tersedia, sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku,".
Lubuak Pua erat kaitannya dengan VII Koto. Di Lubuak Pua itu pula terletak satu dari delapan "bimba" VII Koto. Yakni di Masjid Raya Balah Aie sekarang. Bimba ini menurut sejarah adalah tonggak tuo Ungku Kadhi VII Koto.
"Di VII Koto ditemukan delapan bimba itu. Satu dari yang delapan terletak di Lubuak Pua. Itu pula rentetan ceritanya, kalau Lubuak Pua dijadikan "Ampu Syarak" Balah Aie,".
Disebut bimba nan delapan, adalah Guguak, Barangan. Rambai Pungguang Ladiang. Lubuak Pua, Kampuang Paneh, Pincuran Sonsang dan Ampalu. Punya empat pangulu syarak, yakni Labai, Khalifah, Imam dan Khatib. Empat ini disebut pangulu syarak, sebagai kekuatan dalam Lubuak Pua.
Jauh sebelum Nagari Balah Aie ada, Lubuak Pua sudah punya power tersendiri di bidang syarak dan adat ini. Ada yang menyebut, berbunyi tabuah Lubuak Pua, menyahut tabuah Ampalu dan berdentang tabuah Mudiak Padang, menandakan masyarakat memulai dan mengakhiri bulan puasa.
Balah Aie berdiri 1918. Disebut VII Koto adalah, Sungai Sariak, Sungai Durian, Tandikek, Batu Kalang, Koto Baru, Koto Dalam, tujuah jo Ampalu.
Balah Aie adalah Ampalu dulunya. 1918 Ampalu ini dijadikan tiga nagari lewat dinamika politik kala itu. Di tangan Walinagari Tanjojo Datuak Basa, hadirlah Nagari Balah Aie, Lareh Nan Panjang, dan Lurah Ampalu.
Ampalu tentu punya kekuatan tersendiri. Basa 17, itu enam terletak di Ampalu, bertujuh dengan Rajo. Namun, setelah pemekaran dan menjadi tiga kenagarian itu, nama Nagari Ampalu pun melebur.
Tuanku Bagindo adalah Khalifah pertama di Lubuak Pua
Sepulang dia mengaji, Tuanku Bagindo belum lagi menetap di kampung. Dia lama "merasul" di Pincuran Sonsang. Ke Lubuak Pua, Tuanku Bagindo dijemput oleh masyarakat.
Beliau sezaman dengan Syekh Muhammad Yatim, Syekh Tuanku Sidi Talue, Tuanku Shaliah. "Tuanku Bagindo yunior Syekh Muhammad Yatim, tapi senior oleh Tuanku Shaliah. Makanya, ketika Tuanku Shaliah ingin mandi, dia pastikan betul, Tuanku Bagindo, Tuanku Sidi Talue sedang tidak mandi di bagian bawah," katanya.
Sebab, Tuanku Bagindo dan Tuanku Sidi Talue adalah senior Tuanku Shaliah. Mereka sama-sama menjadikan Sungai Batang Mangoi sebagai tempat untuk mandi. Tuanku Shaliah tinggal di bagian teratas, sementara Tuanku Bagindo dan Tuanku Sidi Talue di bagian bawah sungai besar itu.
Tuanku Sidi Talue dan Keputusan Kaji
Balah Aie punya banyak ulama hebat dulunya. Salah satunya Tuanku Sidi Talue ini. Orang menyebutnya di Sampan, tapi itu sebenarnya di Toboh Mandailing.
Bersama Tuanku Sidi Talue inilah dulunya terkenal majlis ilmu, forum muzakarah yang menghadirkan para alim dan ulama dari berbagai pelosok.
Tempat keputusan kaji bagi sebagian ulama yang sibuk dengan dunia keilmuan. Tersebut Syekh Muda Wali. Seorang ulama Aceh, menantu oleh Syekh Muhammad Djamil Jaho yang pernah memutuskan kajinya bersama Tuanku Sidi Talue ini.
Makanya, sebagian besar masyarakat Balah Aie yang melakukan ziarah ke Aceh, pasti memasukan Labuhan Haji, pesantren dan makamnya Syekh Muda Wali sebagai tempat yang dikunjungi.
Meskipun Syekh Muda Wali terkenal dengan Naqsabandiyah jalur tarekatnya, tidak Syattariyah seperti di Padang Pariaman, tetap saja beliau jadi satu tempat ziarah oleh masyarakat nagari ini.
Menurut ceritanya, Syekh Muda Wali ini setiap mendatangi ulama dan perguruan di Padang Pariaman ini, selalu membawa seekor ayam. Gunanya, ayam itu disembelih manakala kaji yang didiskusikan itu tuntas. Dan itu pernah terjadi ketika dia bersua dengan Tuanku Sidi Talue ini.
Di kemudian hari, ada sejumlah murid Syekh Muda Wali yang datang ke Toboh Mandailing, mencari yang namanya makam Tuanku Sidi Talue.
Tuanku Sidi Talue dianggap unik. Namanya ganjil kedengarannya, dan sebagian murid Syekh Muda Wali pun menerima riwayat gurunya yang pernah singgah dan memutuskan kajinya di Toboh Mandailing ini.
Jejak Tongkat Tuanku Bagindo
Adalah kisah panjang hadirnya Irigasi Ujuang Gunuang. Sebuah irigasi yang mengaliri sawah masyarakat Balah Aie. Mula dirintis irigasi ini di hulunya Ujuang Gunuang, Sungai Sariak itu tongkat Tuanku Bagindo yang dipancangkan, lalu diirit ke hilir dengan lantunan shalawat nabi.
"Kapalo Banda Tuanku Bagindo. Itu namanya diberikan masyarakat. Sekian kilometer berjalan bersama dibawah komando Tuanku Bagindo sambil bershalawat, dan jejak garis tongkat itulah yang digali pula bersama, untuk menghadirkan air sebagai sumber kehidupan masyarakat Balah Aie,".
Zaman Tuanku Bagindo itu, tak ada surau dan masjid yang terbengkalai. Masyarakat merasa kewalahan menyelesaikan pembangunan surau, orang mengadu ke Tuanku Bagindo.
Pun pembangunan laga-laga, Tuanku Bagindo bagaikan solusi untuk menuntaskan bangunannya. "Beliau tidak sekedar alim di banyak kajian, tapi juga peduli dengan dunia kearifan lokal, sehingga di hampir seluruh korong di Balah Aie ada laga-laga," ujarnya.
Laga-laga tempat belajar silek, indang, hulu ambek, termasuk bersilat lidah, mahir beradu kata, laga-laga tempatnya.
Madrasatul 'Ulum Menambah Kekuatan Lubuak Pua sebagai Ampu Syarak Balah Aie
Kehadiran Madrasatul 'Ulum Lubuak Pua sejak 1991, diharapkan menjadi penjaga dan merawat tradisi ulama dulu, di samping mengembangkan kajian rutinnya dalam membangun santri dan santriwati.
Setidaknya, pesantren ini tegak lurus dengan trah yang dibangun oleh Tuanku Bagindo dulunya. Trah dimana para ulama bagaikan api dan labai sebagai suluahnya.
Suluah tak mungkin menyala tanpa api. Inilah semangat perjuangan awal Ahmad Yusuf Tuanku Sidi ketika menghadirkan perguruan surau, sebagai kelanjutan dari kebesaran Surau Pekuburan dulunya.
Pemekaran yang Terus Terjadi
Awal pemekaran Ampalu, lahir Nagari Lareh Nan Panjang, Lurah Ampalu, dan Balah Aie. Pemekaran awal ini, Ampalu yang jadi nagari pertama melebur atau dileburkan ke dalam tiga nagari itu, dengan tetap Ampalu sebagai ideologi pembetukan nagari tersebut. Perkembangan kemudian, tiga nagari yang dilahirkan Ampalu itu juga mengalami pemekaran. Sampai kini, Ampalu melahirkan nagari:
1. Lareh Nan Panjang
2. Lareh Nan Panjang Barat
3. Lareh Nan Panjang Selatan
4. Lurah Ampalu
5. Lurah Ampalu Timur
6. Balah Aie
7. Balah Aie Utara
8. Balah Aie Timur
Sementara, dua desa yang dibawah Ampalu dulunya, yakni Desa Rambai dan Pungguang Ladiang secara administrasi pemerintahan di Kota Pariaman, dan secara adat istiadat berada di kalarasan Ampalu.
Dari Syekh Oesman ke Syekh Labai: Catatan Ampu Syarak dan Bimba Nan Salapan
Sejak mulai didirikan pondok oleh Syekh Oesman bersama niniak mamak Ampalu Tinggi, 82 tahun lamanya dari 1687-1767, pondok itu terbilang tahan. Tak pernah diperbaharui. Buatan orang lama itu luar biasa kuat dan kokoh.
Hanya sebuah pondok di pinggir Sungai Batang Mangoi, dekat pohon kayu Kalampaian. Belum bernama surau. Pondok itu kelak bernama Surau Kalampaian, tentunya setelah berubah dan ditambah bangunannya.
Perubahan pertama setelah Syekh Oesman wafat 1767. 62 anak siak yang mengaji semasa pondok Syekh Oesman ini, jumlahnya bertambah, maka pondok ditingkatkan menjadi surau yang lebih besar. Syekh Labai, putra dari Syekh Oesman yang melanjutkan kepemimpinan pondok, lalu berubah nama menjadi Surau Kalampaian.
Sejarah Surau Kalampaian 1977 mencatat, bahwa 62 anak yang mengaji dengan Syekh Oesman itu, ditulis nama Syekh Amrullah, kakek Buya Hamka yang juga mashur dengan Tuanku Kisai. Sejarah mencatat pula, kalau Syekh Amrullah lahir 1840. Sementara, Syekh Oesman 1767 sudah meninggal. Sepertinya, catatan sejarah Surau Kalampaian ini perlu dikaji ulang.
Kemudian juga tercatat nama Syekh Sungai Rotan. Siapa Syekh Sungai Rotan? Kalau yang sezaman dengan Syekh Amrullah adalah Syekh Muqaddam. Syekh Muqaddam lahir 1842, pun sangat tidak mungkin dia berguru ke Syekh Oesman. Dalam jumlah anak siak itu juga tersebut nama Syekh Santok dan Syekh Paraman Talang, Tandikek Mudiak Padang.
Masa awal dan perdana kepemimpinan di Kalampaian Ampalu Tinggi, 1687-1767, yakni 82 tahun lamanya Syekh Oesman mengasuh dan memimpin pondok itu, tercatat anak siak yang mengaji sebanyak 62 orang.
Masjid Raya Balah Aie
1687 itu, VII Koto masih tujuh nagari. Yakni, Sungai Sariak, Sungai Durian, Tandikek, Batukalang, Koto Baru, Koto Dalam, yang ketujuh Ampalu.
Balah Aie dan Ampalu Tinggi masuk dalam Nagari Ampalu. Surau Kalampaian Ampalu Tinggi dan Masjid Raya Balah Aie sama-sama hadir ke permukaan, enam tahun menjelang wafatnya Syekh Burhanuddin.
Masa awal berdiri, tersebut dalam maklumat, bahwa Masjid Raya Balah Aie yang punya empat suku yang ada di Lubuak Pua. Yakni Suku Panyalai, Piliang, Jambak dan Sikumbang.
Syekh Oesman adalah orang Panyalai Lubuak Pua. Beliau ini baru pulang mengaji dari darek, dengan Syekh Pamansiangan. Sedang memulai pembangunan pondok di Ampalu Tinggi, dimulai pula pembuatan masjid di Lubuak Pua. Jamak antara Ampalu Tinggi dan Lubuak Pua, bahwa batu pertama Masjid Raya Balah Aie diletakkan oleh Syekh Burhanuddin.
Di kemudian hari, Masjid Raya Balah Aie tersebut sebagai Bimba nan salapan, ampu syarak kedua setelah Surau Gadang Ampalu. Sejarah menyebutkan, Bimba ini adalah tonggak tuo Ungku Khadi VII Koto.
"Di VII Koto ditemukan delapan yang bahasa kampungnya salapan Bimba. Satu dari yang delapan terletak di Lubuak Pua. Dan itu pula rentetan ceritanya, kalau Lubuak Pua dijadikan "Ampu Syarak" Balah Aie.
Disebut Bimba nan salapan, adalah Guguak, Barangan. Rambai Pungguang Ladiang. Lubuak Pua, Kampuang Paneh, Pincuran Sonsang dan Ampalu.
Punya empat pangulu syarak, yakni Labai, Khalifah, Imam dan Khatib. Empat ini disebut pangulu syarak, sebagai kekuatan dalam Lubuak Pua.
Jauh sebelum Nagari Balah Aie ada, Lubuak Pua sudah punya power tersendiri di bidang syarak dan adat ini.
Ada yang menyebut, berbunyi tabuah Lubuak Pua, menyahut tabuah Ampalu dan berdentang tabuah Mudiak Padang, menandakan masyarakat memulai dan mengakhiri bulan puasa.
Balah Aie adalah Ampalu dulunya. 1918 Ampalu ini dijadikan tiga nagari lewat dinamika politik kala itu. Di tangan Walinagari Tanjojo Datuak Basa, hadirlah Nagari Balah Aie, Lareh Nan Panjang, dan Lurah Ampalu.
Ampalu tentu punya kekuatan tersendiri. Basa 17, itu enam terletak di Ampalu, bertujuh dengan Rajo. Namun, setelah pemekaran dan menjadi tiga kenagarian itu, nama Nagari Ampalu pun melebur.
Syekh Oesman wafat 1767, lalu pondok yang usang diganti dengan surau yang lebih besar. Kepemimpinan Kalampaian dilanjutkan oleh anak kandung Syekh Oesman, yakni Syekh Labai. Syekh Labai memimpin dari 1776-1800, yakni 33 tahun lamanya.
Menelusuri Jejak Syekh Burhanuddin dan Syekh Oesman di Ampalu
Masjid Raya Balah Aie di Lubuak Pua dan Pondok Pesantren Luhur Kalampaian Ampalu Tinggi memang berada di dua tempat. Namun, keduanya punya historis dan sejarah panjang dalam pembangunan peradaban Islam di Ampalu.
Mulai berdiri keduanya, Pesantren Luhur Kalampaian Ampalu Tinggi dan Masjid Raya Balah Aie ini tahun 1687 M. Nama besar Syekh Burhanuddin dan Syekh Oesman seperti tertikam kuat di masjid dan pesantren demikian.
Tahun 1687 itu, Ampalu Tinggi dan Balah Aie belum bernama nagari. Kedua kampung ini masih tergabung dalam Nagari Ampalu. Tahun itu, Syekh Oesman pulang kampung ke Lubuak Pua, setelah sekian lama merantau ke darek, menuntut ilmu ke Syekh Pamansiangan di Koto Laweh.
Oleh Datuak Pono Intan, Syekh Oesman ini dikasih sebidang tanah di Ampalu Tinggi. Lalu, di atas tanah itu Syekh Oesman mendirikan pondok, yang kelak dinamakan Pondok Pesantren Luhur Kalampaian Ampalu Tinggi.
Sebelum pondok pesantren itu ramai oleh anak siak, Masjid Raya Balah Aie sudah tegak. Sehingga, tempat Shalat Jumat anak siak Ampalu Tinggi di Masjid Raya Balah Aie ini.
Dilaporkan, Masjid Raya Balah Aie ini sama hadir dengan pondok Kalampaian Ampalu Tinggi. Masjid ini batu pertamanya diletakkan oleh Syekh Burhanuddin. 1687 itu merupakan enam tahun menjelang wafatnya Syekh Burhanuddin.
Kenapa tak dinamakan dengan Masjid Raya Syekh Burhanuddin? Tentu erat kaitannya dengan peradaban Islam dan rasa berkampung dan bernagari. Di tahun 18 an, Balah Aie mandiri. Berdiri sendirinya, berpisah dari induknya, Ampalu.
Kabarnya, kehadiran Syekh Burhanuddin yang memulai pembangunan Masjid Raya Balah Aie ini, adalah saran dan keinginan kuat dari Syekh Oesman. Syekh Oesman, anak Lubuak Pua baru pulang mengaji. Mengaji dengan muridnya Syekh Burhanuddin, yakni Syekh Pamansiangan, Koto Laweh.
Bagi Syekh Oesman, kehadiran Syekh Burhanuddin di Lubuak Pua, memulai pembangunan masjid, tempat ibadah dan pembangunan nagari, menjadi kebanggaan tersendiri. Begitu juga oleh masyarakat Balah Aie. Kebersamaan Masjid Raya Balah Aie dan Pesantren Luhur Kalampaian Ampalu Tinggi hanya dipisahkan oleh Sungai Batang Mangoi.
Dulu itu, sungai jadi sumber kehidupan masyarakat. Di sungai itu pula masyarakat mandi, mencuci, termasuk menjadikan air sungai sebagai aliran irigasi. Masyarakat yang akan shalat di masjid pun menggunakan air sungai itu untuk berwudhu.
Lama sekali masjid itu dijadikan oleh masyarakat Ampalu Tinggi sebagai tempat Shalat Jumat. Masjid Kalampaian Ampalu Tinggi baru hadir tahun 1926, semasa Pesantren Luhur Kalampaian dipimpin oleh Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu.
Ada cerita yang menyebutkan, bahwa Pesantren Luhur Kalampaian juga dimulai oleh Syekh Burhanuddin, agaknya informasi yang keliru. Yang ada, batu pertama pembangunan Masjid Raya Balah Aie ini yang dilakukan Syekh Burhanuddin.
Sementara, Pesantren Luhur Kalampaian Ampalu Tinggi oleh Syekh Oesman dan niniak mamak Ampalu Tinggi yang memulai. Hanya saja keduanya, masjid dan pesantren terletak di Ampalu. Lubuak Pua dan Ampalu Tinggi masih dalam wilayah Ampalu masa itu.
Referensi:
1. Sejarah ringkas Pesantren Luhur Kalampaian, catatan tahun 1977
2. Diskusi dengan Buya Khaidir Tuanku Sutan dan Iswandi Tuanku Sampono Intan, Jumat 22 Mei 2026 di Kalampaian Ampalu Tinggi
3. Wawancara dengan Walinagari Balah Aie, Jonifriardi 15 Januari 2025 di Balai Baru
4. Wawancara dengan tokoh masyarakat Balah Aie, Ali bin Yusuf, Ahad 24 Mei 2026 di Duku Banyak
5. https://www.mu-online1.com/2026/05/dari-syekh-oesman-ke-syekh-labai.html?m=1
6. https://langgam.id](https://langgam.id/nagari-lurah-ampalu-vii-koto-sungai-sariak-kabupaten-padang-pariaman/)
7. https://jdih.padangpariamankab.go.id](https://jdih.padangpariamankab.go.id/assetsfront/produk_hukum/1762242596_994300632.pdf)
8. https://www.google.com/amp/s/www.kompasiana.com/amp/a_damanhuri/54f6c587a3331195158b45d9/lareh-nan-panjang-pusat-kerajaan-vii-koto-dulunya
9] [https://langgam.id](https://langgam.id/nagari-lareh-nan-panjang-selatan-vii-koto-sungai-sariak-kabupaten-padang-pariaman/)
