![]() |
| Muhammad Nazir Tuanku Bagindo |
MU-ONLINE, Pariaman, --- Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) kajian tasawufnya berpahamkan Tarekat Naqsabandiyah itu sudah biasa. Tapi Beda halnya dengan Muhammad Nazir Tuanku Bagindo. Beliau lebih kokoh dan kuat dengan amalan tasawufnya lewat versi Tarekat Syattariyah di MTI Sungai Rotan, Pariaman yang didirikannya. Beliau menyambungkan sanad keilmuannya ke Kalampaian Ampalu Tinggi lewat Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu, meski beliau menyelesaikan pendidikannya di MTI Gurun, Kabupaten Tanah Datar.
Surau
Muhammad Nazir nama yang diberikan kedua orangtuanya, Abdurrahman dan Fatimah, ketika lahir pada tahun 1926 di Santok. Abdurrahman adalah tokoh masyarakat Sungai Rotan di zamannya. Muhammad Nazir lahir di tahun yang terkenal dengan gempa tujuh hari di Padang Panjang, di tahun itu pula lahirnya ikhtiar ulama memperjuangkan eksistensi amalan Ahlussunah Waljamaah (Aswaja), yaitu Nahdlatul Ulama (NU) di Surabaya, Jawa Timur. Dua tahun kemudian, yakni 1928, ulama Minangkabau, Syekh Sulaiman Arrasuli bersama Syekh Djamil Jaho dan syekh lainnya mendirikan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti).
Kelak, Muhammad Nazir sempat lama mengaji di Tarbiyah Gurun bersama Buya Ramli Bakar. Pulang mengaji, aktif mendirikan Tarbiyah di Sungai Rotan, tapi secara organisasi, Muhammad Nazir ikut dan bergabung dengan Nahdlatul Ulama. Mulai dari GP Ansor yang dimasukinya.
Pendidikan surau di Sungai Rotan dan Santok (Air Santok), Pariaman pada tahun 1930-an berada di tengah pusaran transisi besar, yaitu peralihan dari sistem pengajian tradisional (halaqah) menuju modernisasi madrasah. Secara kultural, wilayah ini masuk ke dalam wilayah adat Nagari Sungai Rotan (yang membawahi Korong Kajai, Air Santok, Sungai Pasak, dan sebagainya). Pusat dari peradaban pendidikan Islam di kawasan ini bertumpu pada Masjid Raya Badano di Kajai, Sungai Rotan—salah satu masjid tertua di Pariaman (berdiri sejak sekitar 1828).
Masjid Raya Badano (Sungai Rotan): Masjid ini berfungsi layaknya "Surau Gadang" atau pusat pendidikan Islam utama di wilayah IV Koto Sungai Rotan. Struktur bangunannya yang beratap tumpang tiga merupakan tipikal surau besar Minangkabau tempat santri menetap dan menuntut ilmu. Surau ini sangat bersejarah, bahkan menjadi tempat ayah dari ulama besar Buya Hamka (Syekh Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul) menuntut ilmu agama.
Sebagai korong yang bertetangga dekat dan berada di bawah payung kultural yang sama, surau-surau di Santok menjadi cabang pengajian yang corak pendidikannya berafiliasi langsung dengan jaringan ulama dari Masjid Badano dan ulama Syattariyah dari Ulakan.
Tahun 1930-an merupakan masa kritis di mana kaum ulama tradisional (kaum yua) mulai mengadopsi sistem kelas untuk mempertahankan eksistensi surau dari ekspansi sekolah modern. Di Sungai Rotan dan Santok, pembelajaran terbagi menjadi dua corak: Sistem Halaqah Tradisional: Santri duduk melingkar mengelilingi tuanku atau syekh. Fokus utamanya adalah pembacaan Al-Qur'an (tajwid), hafalan kitab kuning (fiqih mazhab Syafi'i, tauhid Asy'ariyah), tata bahasa Arab (Nahwu dan Sharaf), serta naskah-naskah tarekat.
Terinspirasi oleh gerakan modernisasi Islam di Minangkabau (seperti Sumatra Thawalib dan berdirinya Persatuan Tarbiyah Islamiah/PERTI pada Mei 1930), surau-surau di kawasan ini mulai memperkenalkan bangku, papan tulis, kurikulum berjenjang, dan ujian terstruktur agar tidak ditinggalkan oleh generasi muda.
Pendidikan di surau Sungai Rotan dan Santok tahun 1930-an tidak hanya terbatas pada teks agama, tetapi juga mencakup pembentukan karakter jasmani dan adat: Pendidikan Silek (Silat): Pada malam hari, halaman atau lantai bawah surau beralih fungsi menjadi tempat pemuda belajar silat tradisional Minangkabau. Ini membekali mereka ilmu bela diri fisik sebelum merantau. Pidato Adat (Panitahan): Santri diajarkan seni berbicara keadatan (diplomasi adat Minangkabau) agar saat kembali ke masyarakat, mereka bisa menyeimbangkan peran antara syarak (agama) dan adat. Tempat Tidur Pemuda: Sesuai sistem adat, seluruh pemuda akil baligh di Santok dan Sungai Rotan diwajibkan tidur di surau. Di sinilah mereka dididik mandiri melalui interaksi sosial sehari-hari.
Afiliasi Keagamaan
Kawasan Pariaman Timur, termasuk Sungai Rotan dan Santok, secara historis memiliki akar yang sangat kuat pada Tarekat Syattariyah yang berpusat di Ulakan (Syekh Burhanuddin). Oleh karena itu, pada tahun 1930-an, corak pendidikan di surau-surau ini masih sangat kental dengan amalan tasawuf, penulisan manuskrip keagamaan secara manual, serta penghormatan yang tinggi kepada silsilah keilmuan guru (syekh).
Kalampaian Ampalu Tinggi
Setelah di kampungnya sendiri, Sungai Rotan mengaji dasar dan menyelesaikan pendidikan umum di sekolah desa, Muhammad Nazir beranjak dari kampung, pindah mengaji ke Ampalu Tinggi. Surau Kalampaian yang ditingkatkan namanya menjadi Pondok Pesantren Luhur Kalampaian Ampalu Tinggi. Diperkirakan, Muhammad Nazir memulai mengaji di surau ini setelah tahun 1945. Beliau tercatat, rombongan anak siak terakhir yang bersua dan mengaji langsung dengan Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu ini.
Surau Kalampaian Ampalu Tinggi yang terletak di VII Koto Sungai Sariak, Padang Pariaman, merupakan salah satu pusat pendidikan Islam tradisional yang sangat bersejarah di wilayah Piaman. Pada era sekitar tahun 1945 (masa kemerdekaan Indonesia), Surau Kalampaian menjadi saksi bisu pergerakan sosial-keagamaan dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI di Sumatera Barat.
Kepemimpinan Ulama: Surau ini dipimpin oleh ulama besar Syekh Muhammad Yatim yang dikenal dengan gelar Tuanku Mudiak Padang. Pada masa-masa itu, surau tersebut menjadi rahim lahirnya ulama-ulama besar bermazhab Syafii dan berpaham Tarekat Syattariyah yang kelak ikut menggerakkan masyarakat dalam berdakwah sekaligus melawan kolonialisme. Surau Kalampaian sangat identik dengan sejarah Ungku Saliah (Syekh Kiramatullah Ungku Saliah), ulama legendaris asal Sungai Sariak, Padang Pariaman yang fotonya sering dipajang di berbagai rumah makan Minang. Sebelum mendirikan surau sendiri dan aktif bergerak di era kemerdekaan, Ungku Saliah (waktu kecil bernama Dawaik) menuntut ilmu agama pertama kali di Surau Kalampaian Ampalu Tinggi ini sejak usia 15 tahun. Di surau inilah ia mendapatkan gelar "Saliah" langsung dari gurunya, Syekh Muhammad Yatim, karena budi pekertinya yang sangat saleh. Selain Ungku Saliah, surau ini juga melahirkan ulama tangguh lainnya seperti: Syekh Abdullah Aminuddin (Tuanku Saliah Lubuk Pandan), pendiri Madrasatul Ulum Lubuk Pandan. Ia berguru kepada Syekh Muhammad Yatim di Ampalu Tinggi sebelum melanjutkan perjuangan pendidikannya di era pasca-kemerdekaan (1947).
Di Ampalu Tinggi, Muhammad Nazir seangkatan dengan H. Nurdin Tuanku Sidi, yang kelak menjadi khalifah di Surau Kalampaian, setelah Syekh H. Ibrahim meninggal dunia. Beliau terkenal sebagai anak siak yang cerdas, pintar. Masa terakhir Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu ini, di Ampalu Tinggi, banyak kisah tauladan yang lahir, karena di komplek itu, Ungku Saliah masih di situ, Ungku Sidi Talua juga masih di Kalampaian, Syekh H. Ibrahim adalah guru tuo gadang.
Sampai Syekh Muhammad Yatim diangkut ke kampungnya, Mudiak Padang tahun 1950, Muhammad Nazir tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Beliau turut ke Mudiak Padang, demi ilmu dan kaji, sekalian tentunya berketerusan dalam bimbingan guru.
Menjelang Syekh Muhammad Yatim wafat, Muhammad Nazir dapat kaji yang luar biasa, dapat amanah yang dijunjung tinggi diamba gadang oleh beliau setelah berpisah dengan guru yang kelak dijadikannya sanad keilmuannya.
"Aso binaso, duo ilang". Itu perkataan Syekh Muhammad Yatim yang diterima Muhammad Nazir. Kata itu dikupas tuntas. Artinya, anak siak mengaji di surau itu ada dua yang akan ditemuinya nanti. Pertama mati, kedua terkenal. Maka terhadap dua hal itu, Syekh Muhammad Yatim mengistilahkan dengan aso binaso, duo tabilang.
"Carilah Abu Bakar di Batusangkar," kata Syekh Muhammad Yatim ke Muhammad Nazir yang akan meneruskan perjalanan panjangnya dalam kelanjutan menuntut ilmu agama. Abu Bakar yang disebut Syekh Muhammad Yatim adalah ulama hebat, pendiri MTI Gurun, Sungai Tarab, Tanah Datar.
Tarbiyah
Sesuai amanah dan petunjuk dari Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang, Muhammad Nazir pun pergi ke darek, Luhak Nan Tuo. Tepatnya ke Gurun. Di sana, Buya Ramli Bakar yang sedang memimpin. Oleh Muhammad Nazir diteruskan pesan dan fatwa gurunya di rantau Piaman, Syekh Muhammad Yatim. Ramli Bakar merupakan anak dari Abu Bakar yang disebutkan Syekh Muhammad Yatim.
Mendengar cerita itu, Ramli Bakar merasa takjub. Sebab, beliau pun telah lama mendengar dan tahu banyak tentang Syekh Muhammad Yatim. MTI Gurun punya pertalian yang erat dengan MTI Canduang yang didirikan Syekh Sulaiman Arrasuli. Ijazah tamatan MTI Gurun, itu ijazahnya langsung ditandatangani Syekh Sulaiman Arrasuli zaman itu.
Oleh Ramli Bakar, Muhammad Nazir tak sekedar mengaji dan sekolah saja di MTI Gurun. Karena dari Syekh Muhammad Yatim, beliau diminta ikut pula mengajar di situ. Ramli Bakar minta beliau masuk mengajar di kelas enam, sementara, kelas tujuh langsung dengan Ramli Bakar.
Induk Semang Sekaligus Orangtua
Dari surau ke sekolah, di awal-awal, Muhammad Nazir agak sedikit canggung, terutama soal kehidupan. Kalau semasa di surau ada budaya mamakiah untuk mendapatkan biaya hidup di surau. Sedangkan di sekolah MTI, budaya mamakiah tidak ada. Di sini, Muhammad Nazir mencoba meneruskan kepandaian mamakiahnya di Ampalu Tinggi, tapi tak bisa berlangsung lama. Waktu pertama turun mamakiah ke tengah masyarakat Gurun, beliau dapat induk semang yang baik hati, pemurah, orang berada. Dikasihnya beras sekarung, tapi dilarangnya mamakiah.
"Besok-besok, jangan mamakiah lagi. Habis beras atau bekal mengaji, datang ke sini," begitu kata induk semangnya itu. Tana nama induk semang Muhammad Nazir itu, terkenal sebagai orang kaya pemurah. Oleh Tana, Muhammad Nazir dijadikan anak angkat. Sementara, Muhammad Nazir pun merasa ibunya dua. Satu di Santok, Pariaman, dua, Tana di Gurun, Sungai Tarab, Luhak Nan Tuo. Hebatnya, sampai sekarang sudah generasi ketiga setelah Muhammad Nazir, hubungan kekerabatan, laksana satu keluarga terus tersambung sampai sekarang. Budaya saling turut menurut dalam alek baik dan alek buruk, menjadikan hubungan keluarga Muhammad Nazir dengan keluarga Tana terjalin dengan baik.
Masyarakat Sungai Rotan di kemudian, sebagian mengaji di MTI Gurun ini. Pengaruh Muhammad Nazir zaman itu, cukup memberikan kontribusi terhadap murid-murid dari Sungai Rotan, Pariaman. Tamat di MTI Gurun, Muhammad Nazir pulang kampung ke Santok, Pariaman.
Keistimewaan
Di tengah masyarakat bergolak, yang dikenal dengan PRRI dan setelah itu meletusnya PKI, Muhammad Nazir sudah di kampung. Terutama menjelang bergolak PKI. Di Santok, surau kayu tempat kembali pulang Muhammad Nazir dari Gurun. Sambil sekalian berjualan kain di Santok, depan Surau Kayu itu.
Kisah istimewa itu bermula dari sini. Ketika PKI mengganas di Santok, menghanguskan pasar rakyat, para ulama menjadi incaran PKI, untuk dibunuh. Di tengah terjadinya pembakaran pasar oleh PKI di Santok itu, kedai yang ditunggui Muhammad Nazir tak dibakar. Muhammad Nazir sudah aktif di Ansor dan NU.
Suatu ketika, tiba Ungku Saliah belanja sehelai kain ke Muhammad Nazir. Anehnya, kain dibeli Ungku Saliah Sungai Sariak ini tak diangkutnya, tapi uang belanja kain dikasihnya. Ungku Saliah Sungai Sariak ini pernah bertemu dengan Muhammad Nazir di Ampalu Tinggi. Muhammad Nazir tak pula bertanya, kenapa kain yang dibeli Ungku Saliah tak diangkutnya pulang.
Hanya mimpi yang menjelaskan. Beberapa hari setelah kejadian itu, dalam aktivitas Muhammad Nazir yang berjualan kain di Santok, mengurus anak-anak mengaji di Surau Balenggek ia pula, dalam tidur malamnya, datang mimpi. Mimpi bersua Ungku Saliah. Dalam mimpi itu, Ungku Saliah menyuruh memakai kain yang dibelinya itu.
Lewat mimpi itu, Ungku Saliah menegaskan ke Muhammad Nazir, pakai kain itu. Karena kain sarung adalah pakaian urang surau. Jangan tanggalkan. "Artinya, kita orang surau, kembalilah ke surau. Berdagang bukan kerja orang surau," begitu pesan Ungku Saliah.
Setelah mimpi yang menjadi pemikiran oleh Muhammad Nazir, beliau langsung meninggalkan kedai, fokus di Surau Balenggek. Surau Balenggek, dibuatkan oleh masyarakat untuk Syekh Muharimin yang terkenal dengan Syekh Santok. Beliau orang Jambak Sikapak, sengaja dijemput untuk mengajar di Surau Balenggek, Santok.
Sesuai pesan Buya Ramli Bakar menjelang pulang dari Gurun, kalau pulang, tiba di kampung dirikan Tarbiyah atau MTI. Pesan itu yang menjadi motivasi berdirinya Yayasan Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah (YPMTI) Kajai, Sungai Rotan. Adalah H. Abdullah Gewang, yang banyak membantu, sampai mempunyai mempunyai lembaga pakai badan hukum, YPMTI, yang kemudian berubah jadi yayasan Syekh Muhammad Nazir.
Musim haji tahun 2008, Muhammad Nazir sudah menerima giliran naik haji. Namun, Tuhan berkehendak lain. Sebelum waktu haji tiba di tahun itu, beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Sehingga, yang berangkat ke Mekkah anak kandungnya, Dr. H. Muhammad Nur Tuanku Bagindo berdua dengan uminya, Hj. Nurmanis.
Peristiwa kharikul 'adah tersua di salah seorang muridnya yang tahun itu berangkat ke Mekkah naik haji, lewat Provinsi Kalimantan Barat. "Di Padang Arafah, ketika akan wukuf, bersua murid ini, lalu bertanya, mana buya. Kemarin saya jumpa dan bersama buya tawaf dan sa'i," kata Muhammad Nur menceritakan kisah murid ayahnya bersua langsung dengan ayahnya di Mekkah.
Memang, murid ini belum dapat kabar kalau buya telah meninggal dunia. "Kami tak menyebut kalau buya sudah meninggal. Hanya mengalihkan pembicaraan ke yang lain. Tapi, sang murid ini terus bertanya. Sepertinya dia rindu karena sudah lama tak bersua dengan buya," kisah Muhammad Nur mengenang. Kami hanya berpikir, mungkin ini yang disebut sebagai haji secara hakikat.
Keluarga dan Karya
Istri Muhammad Nazir Tuanku Bagindo, Hj, Nurmanis, wafat tahun 2025 kemarin. Pasangan ini dikaruniai anak, yakni Rozali, Zulkhairi, Rabiatul Adawiyah, Muhammad Nur, Halimatus Sa'diyah, Nurtini.
Muhammad Nazir adalah ulama yang kuat Syattariyahnya. Di tengah lingkungan Naqsyabandiyah, beliau mampu menghadirkan kajian Syattariyah yang bersanad ke Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu. Kelak, setelah beliau tiada, oleh Muhammad Nur beradik kakak, YPMTI berubah menjadi Pondok Pesantren Nahdlatul Ulum, dibawah Yayasan Syekh Muhammad Nazir. Kini, perkembangan pesantren itu, di samping mengelola MBG, pesantren ini juga punya BLK Komunitas. (AD)
Referensi:
Wawancara dengan Dr. H. Muhammad Nur Tuanku Bagindo, Sabtu 4 Juli 2026 di Balai Baru, Nagari Balah Aie, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, Kabupaten Padang Pariaman. Muhammad Nur kini menjabat Kepala Biro UIN Imam Bonjol Padang, sebelumnya pernah jadi Kepala Kemenag Bukittinggi, Pariaman dan Pasaman Barat. Wawancara dilakukan bersama Armaidi Tanjung, MA.
2. [https://www.researchgate.net](https://www.researchgate.net/publication/345011378_Dari_Surau_ke_Madrasah_Modernisasi_Pendidikan_Islam_Di_Minangkabau_1900-1930_M)
3. [https://suaragerakan.com](https://suaragerakan.com/mengenal-sejarah-singkat-kota-pariaman-sebelum-menjadi-kota-administratif-dan-otonom/)
4. [https://id.wikipedia.org](https://id.wikipedia.org/wiki/Abdullah_Aminuddin)
