![]() |
Oleh: Duski Samad
Taushiyah Dakwah Wisata BKMT Sumatera Barat di Masjid Agung Kota Solok, 05 Juli 2026.
Dakwah Dimulai dari Keluarga
Rasulullah SAW membangun peradaban Islam bukan dimulai dari istana, tetapi dari rumah. Rumah Nabi menjadi pusat pendidikan, pembinaan akhlak, penguatan iman, dan pembentukan masyarakat. Karena itu, keluarga merupakan madrasah pertama dan utama. Bila keluarga kuat, masyarakat akan kuat; bila keluarga rapuh, bangsa pun mudah rapuh.
Allah SWT berfirman:
«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka." (QS. At-Tahrim: 6).»
Ayat ini menunjukkan bahwa tanggung jawab dakwah pertama adalah keluarga. Dakwah Wisata BKMT harus menjadi media untuk memperkuat tanggung jawab tersebut melalui pembelajaran, pengalaman, dialog, dan tadabbur.
BKMT sebagai Sekolah Ketahanan Keluarga
BKMT bukan hanya tempat pengajian mingguan, tetapi sekolah keluarga sepanjang hayat. Setiap anggota datang bukan sekadar mendengar ceramah, melainkan belajar menjadi istri yang salehah, ibu yang mendidik, nenek yang membimbing, anggota masyarakat yang peduli, sekaligus hamba Allah yang terus meningkatkan kualitas iman.
Dalam teori learning community, masyarakat akan berkembang apabila anggotanya saling belajar, saling menginspirasi, dan saling menguatkan. Inilah hakikat majelis taklim sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
«"Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah untuk membaca Kitab Allah dan mempelajarinya bersama-sama, melainkan turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi rahmat, dinaungi malaikat, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya." (HR. Muslim).»
Majelis taklim bukan hanya tempat menerima ilmu, tetapi tempat membangun budaya belajar yang berkelanjutan.
Dakwah Wisata Menguatkan Delapan Fungsi Keluarga
Dakwah Wisata BKMT menjadi lebih bermakna apabila diarahkan untuk menguatkan delapan fungsi keluarga.
Pertama, fungsi keagamaan. Setiap perjalanan menjadi kesempatan memperkuat tauhid, ibadah, dzikir, tilawah, doa, dan syukur kepada Allah. Alam menjadi ayat-ayat kauniyah yang memperkokoh iman.
Kedua, fungsi cinta kasih. Perjalanan bersama menumbuhkan ukhuwah, empati, saling menghargai, dan kepedulian antarsesama. Hubungan sosial yang hangat memperkuat kesehatan mental dan kebahagiaan keluarga.
Ketiga, fungsi perlindungan. Majelis taklim menjadi benteng moral dalam menghadapi ancaman narkoba, judi daring, pornografi, kekerasan, radikalisme, dan berbagai penyimpangan sosial yang mengancam keluarga.
Keempat, fungsi pendidikan. Dakwah Wisata merupakan pendidikan sepanjang hayat. Setiap perjalanan menjadi laboratorium kehidupan yang mengajarkan nilai, sejarah, budaya, dan peradaban Islam.
Kelima, fungsi ekonomi. Wisata juga dapat memperkenalkan kewirausahaan, ekonomi halal, produk UMKM, wakaf produktif, serta etos kerja Islami yang mendukung kesejahteraan keluarga.
Keenam, fungsi sosial budaya. Perjalanan memperkenalkan kekayaan budaya lokal yang selaras dengan nilai Islam, memperkuat silaturahim, serta menumbuhkan rasa cinta kepada bangsa dan daerah.
Ketujuh, fungsi reproduksi dan pembinaan generasi. Pengajian memberikan bekal kepada orang tua untuk mendidik anak-anak menjadi generasi saleh, sehat, cerdas, dan berakhlak mulia.
Kedelapan, fungsi pembinaan lingkungan. Perjalanan mengajarkan kepedulian terhadap kebersihan, kelestarian alam, dan tanggung jawab sebagai khalifah Allah di muka bumi.
Selaras dengan Maqāṣid al-Syarī'ah
Seluruh kegiatan Dakwah Wisata BKMT sesungguhnya mengarah pada terwujudnya tujuan syariat Islam (maqāṣid al-syarī'ah).
- Hifẓ al-Dīn (menjaga agama) melalui pengajian, ibadah, dan penguatan akidah.
- Hifẓ al-Nafs (menjaga jiwa) melalui pembinaan kesehatan jasmani dan rohani serta kehidupan yang damai.
- Hifẓ al-'Aql (menjaga akal) melalui budaya belajar, literasi, dialog, dan peningkatan ilmu pengetahuan.
- Hifẓ al-Nasl (menjaga keturunan) melalui pendidikan keluarga, pembinaan akhlak, dan perlindungan generasi dari berbagai penyimpangan.
- Hifẓ al-Māl (menjaga harta) melalui pendidikan ekonomi syariah, hidup sederhana, dan pemanfaatan rezeki secara halal dan produktif.
Dengan demikian, Dakwah Wisata bukan hanya memenuhi kebutuhan rekreasi, tetapi menjadi sarana mewujudkan tujuan besar syariat Islam.
Menghadapi Tantangan Era Digital
Era digital menghadirkan tantangan yang belum pernah dihadapi generasi sebelumnya. Gawai sering lebih dekat daripada anggota keluarga. Informasi melimpah, tetapi hikmah sering berkurang. Anak-anak semakin cerdas menggunakan teknologi, namun tidak selalu diiringi dengan kematangan akhlak.
Karena itu, BKMT harus menjadi komunitas pembelajar keluarga yang mampu membimbing para ibu menghadapi perubahan zaman. Ibu bukan sekadar pengguna teknologi, tetapi pendidik digital di rumah. Keluarga harus menjadi tempat pertama yang mengajarkan adab bermedia, etika komunikasi, literasi digital, dan penguatan karakter.
Penutup
Dakwah Wisata BKMT adalah gerakan membangun keluarga, bukan sekadar mengunjungi tempat-tempat indah. Perjalanan ini merupakan media dakwah, pendidikan, terapi ruhani, penguatan ukhuwah, dan investasi peradaban.
Apabila setiap anggota BKMT pulang membawa ilmu, semangat ibadah, kasih sayang yang lebih kuat kepada keluarga, kemampuan mendidik anak yang lebih baik, serta tekad memperbaiki masyarakat, maka Dakwah Wisata telah berhasil melahirkan perubahan yang hakiki.
Sebab, peradaban besar selalu lahir dari keluarga-keluarga yang kuat, dan keluarga yang kuat lahir dari komunitas yang terus belajar dalam cahaya wahyu.
Wallāhu a'lam bi al-shawāb.
