![]() |
| Jasril Tuanku Bagindo |
Di tengah kuatnya tradisi keislaman Nagari Sintuk, Kecamatan Sintuk Toboh Gadang, Kabupaten Padang Pariaman, nama Jasril Tuanku Bagindo atau yang lebih dikenal sebagai Tuanku Kali Sintuk menempati posisi penting dalam sejarah keagamaan dan pendidikan masyarakat. Beliau dikenal sebagai ulama, pendidik, imam, khatib, pembimbing Tarekat Syattariyah, pendiri lembaga pendidikan Islam, tokoh adat, dan pemimpin masyarakat yang mengabdikan hidupnya untuk kemaslahatan umat.
Sepanjang hidupnya, beliau mendedikasikan tenaga, pikiran, dan waktunya untuk membangun generasi yang berilmu, berakhlak, dan berpegang teguh kepada ajaran Islam. Melalui surau, masjid, lembaga pendidikan, dan berbagai aktivitas sosial keagamaan, beliau meninggalkan warisan yang hingga kini masih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Jasril Tuanku Bagindo lahir pada tahun 21 Desember 1959 di Korong Toboh Baru, Nagari Sintuk, Kecamatan Sintuk Toboh Gadang, Kabupaten Padang Pariaman. Beliau merupakan putra dari pasangan Jauhari dan Samsinar.
Beliau berasal dari Suku Panyalai, salah satu suku yang memiliki akar kuat dalam kehidupan sosial masyarakat Sintuk. Sejak kecil beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sederhana namun religius. Pendidikan agama, akhlak, serta penghormatan kepada ulama dan adat menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter beliau.
Dalam kehidupan rumah tangga, beliau menikah dengan Nurmidawati yang berasal dari Suku Tanjung. Dari pernikahan tersebut beliau dikaruniai enam orang anak, terdiri dari satu putra dan lima putri.
Putra beliau bernama Khalil Mustafa, yang dikenal dengan gelar Tuanku Mangkuto. Setelah wafatnya Jasril Tuanku Bagindo, Khalil Mustafa melanjutkan perjuangan ayahnya dalam bidang pendidikan, dakwah, dan pembinaan umat.
Menuntut Ilmu kepada Para Ulama
Perjalanan intelektual Jasril Tuanku Bagindo dimulai melalui sistem pendidikan surau yang berkembang di Padang Pariaman. Sejak muda beliau mempelajari Al-Qur'an, tauhid, fikih, tasawuf, nahwu, sharaf, tafsir, hadis, dan berbagai kitab klasik Islam.
Dalam proses menuntut ilmu, beliau berguru kepada dua ulama yang sangat berpengaruh dalam pembentukan keilmuan dan kepribadiannya, yaitu Tuanku Kuning Zubir Pakandangan dan Tuanku Sidi Sintuk.
Beliau pernah mondok di Pakandangan untuk memperdalam ilmu agama di bawah bimbingan Tuanku Kuning Zubir. Dari gurunya tersebut beliau mempelajari berbagai disiplin ilmu keislaman, termasuk ilmu tauhid, fikih, tasawuf, dan kajian kitab-kitab turats yang menjadi fondasi pendidikan Islam tradisional Minangkabau.
Sementara dari Tuanku Sidi Sintuk, beliau memperoleh penguatan pendidikan akhlak, pemahaman agama, dan nilai-nilai kemasyarakatan yang berpijak pada falsafah Minangkabau, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.
Perpaduan pendidikan dari kedua guru tersebut membentuk Jasril Tuanku Bagindo menjadi ulama yang memiliki kedalaman ilmu agama, kedekatan dengan masyarakat, dan kemampuan memadukan nilai agama dengan adat dalam kehidupan sehari-hari.
Menghidupkan Tradisi Surau
Setelah menyelesaikan pendidikan, Jasril Tuanku Bagindo mengabdikan hidupnya untuk mendidik umat. Setiap malam beliau mengajar para pakiah dan generasi muda di surau yang berada di dekat rumahnya.
Di surau tersebut beliau mengajarkan Al-Qur'an, tauhid, fikih, tasawuf, akhlak, dan kitab-kitab kuning. Surau yang beliau bina menjadi pusat pendidikan agama sekaligus tempat pembentukan karakter generasi muda.
Beliau juga mendidik anak-anaknya sendiri melalui tradisi surau. Banyak murid beliau yang kemudian menjadi imam, khatib, guru mengaji, pendakwah, dan tokoh agama di berbagai daerah.
Mendirikan Yayasan Raudhatul Jannah
Dedikasi beliau terhadap pendidikan tidak berhenti di surau. Jasril Tuanku Bagindo kemudian mendirikan Yayasan Raudhatul Jannah sebagai wadah pembinaan generasi muda dan pengembangan pendidikan Islam. Melalui yayasan tersebut, beliau merintis dan mengembangkan berbagai lembaga pendidikan seperti MDTA, Rumah Tahfiz Al-Qur'an, TK, SD, serta berbagai program pembinaan keagamaan masyarakat.
Beliau meyakini bahwa pendidikan merupakan jalan utama dalam membangun masyarakat yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.
Perjuangan pendidikan tersebut kini diteruskan oleh putranya, Khalil Mustafa, yang dipercaya memimpin dan mengembangkan Yayasan Raudhatul Jannah. Yayasan tersebut terus bergerak dalam bidang pendidikan dan dakwah Islam.
Dakwah dan Pembinaan Tarekat Syathariyah
Selain sebagai pendidik, Jasril Tuanku Bagindo dikenal sebagai pendakwah yang santun dan menyejukkan. Beliau aktif menyampaikan dakwah melalui pengajian surau, majelis taklim, ceramah agama, khutbah Jumat, dan pembinaan masyarakat.
Beliau juga memimpin wirid di rumah, surau, dan masjid sebagai sarana meningkatkan pemahaman keagamaan masyarakat. Dalam bidang tasawuf, beliau dikenal sebagai pembimbing jamaah Tarekat Syathariyah, salah satu tarekat yang berkembang kuat di Padang Pariaman.
Melalui kegiatan tersebut beliau berupaya memperkuat akidah, memperbaiki ibadah, membentuk akhlak mulia, serta menjaga persatuan umat.
Jasril Tuanku Bagindo merupakan pengurus Masjid Raya Sintuk. Beliau dipercaya menjadi imam salat, khatib Jumat, dan sering diminta menjadi imam maupun penceramah di berbagai masjid dan musala.
Selain itu, beliau juga menjalankan tugas sebagai BP4 yang membantu pelaksanaan tugas-tugas keagamaan di lingkungan Kantor Urusan Agama (KUA). Dalam peran tersebut beliau membimbing calon pengantin dan membantu pelaksanaan akad nikah masyarakat.
Aktivitas Organisasi dan Sikap Politik
Dalam kehidupan bermasyarakat, beliau dikenal sebagai sosok yang tidak terlibat dalam politik praktis. Beliau lebih memilih mengabdikan diri pada dakwah, pendidikan, dan pelayanan umat.
Meski demikian, beliau tetap menjalin hubungan baik dengan berbagai kalangan. Dalam lingkungan keluarganya terdapat anak dan menantu yang aktif sebagai kader PKS, namun beliau tetap menjaga independensi dan tidak membawa aktivitas dakwah ke dalam kepentingan politik.
Beliau juga aktif dalam lingkungan Nahdlatul Ulama dan pernah menjadi pengurus PCNU Padang Pariaman pada masa kepemimpinan Buya Abdul Hadi dan Buya Masri Chan. Melalui organisasi tersebut beliau berkontribusi dalam penguatan dakwah Ahlussunnah wal Jamaah dan pendidikan Islam di Padang Pariaman.
Ulama yang Mandiri dan Sederhana
Di tengah kesibukannya sebagai ulama, beliau tetap menjalani kehidupan yang sederhana. Untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga, beliau mengelola sebuah kedai minuman di samping Masjid Raya Sintuk.
Selain berdagang, beliau juga aktif bertani. Baginya, seorang ulama harus memberikan teladan dalam bekerja dan mencari nafkah yang halal. Kesederhanaan, keramahan, dan kedekatannya dengan masyarakat menjadikan beliau dicintai oleh berbagai kalangan.
Tegas dalam Prinsip
Masyarakat mengenal Jasril Tuanku Bagindo sebagai pribadi yang tegas dalam prinsip, disiplin dalam pendidikan, namun penuh perhatian kepada keluarga, murid, dan masyarakat. Beliau selalu menekankan pentingnya pendidikan. Komitmen tersebut terlihat dari keberhasilannya mengantarkan seluruh anaknya menyelesaikan pendidikan sarjana pada berbagai perguruan tinggi, termasuk Universitas Negeri Padang dan UIN Imam Bonjol Padang.
Penjaga Adat dan Ulama Pemersatu
Sebagai tokoh agama dari Suku Panyalai, beliau memegang teguh falsafah Minangkabau: "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah."
Beliau dikenal sebagai penjaga nilai agama dan adat dalam kehidupan kampung. Karena kebijaksanaannya, beliau sering menjadi tempat bertanya dan meminta nasihat dalam berbagai persoalan masyarakat.
Salah satu keistimewaan beliau yang paling dikenang adalah kemampuannya menjadi penengah ketika terjadi perbedaan pendapat dalam musyawarah. Dalam berbagai rapat adat maupun pertemuan para alim ulama, ketika diskusi mengalami kebuntuan dan perdebatan mulai memanas, beliau sering tampil memberikan pandangan yang arif dan menenangkan.
Pendapat yang beliau sampaikan umumnya dapat diterima oleh berbagai pihak karena didasarkan pada ilmu agama, pertimbangan adat, dan kemaslahatan masyarakat. Kehadirannya sering menjadi jalan keluar yang mampu meredakan ketegangan dan menjaga persatuan.Karena itu, masyarakat mengenangnya sebagai ulama pemersatu yang mampu menghadirkan ketenangan, memperkuat persaudaraan, dan menyelesaikan persoalan secara bijaksana.
Wafat dan Warisan yang Terus Hidup
Setelah puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk dakwah, pendidikan, dan pembinaan masyarakat, Jasril Tuanku Bagindo wafat pada 25 Februari 2023. Beliau dimakamkan di kawasan Surau Aur. Hingga kini makam beliau masih sering diziarahi oleh keluarga, murid, dan jamaah Tarekat Syathariyah. Setiap tahun para murid dan jamaah datang untuk mengenang jasa-jasa guru yang telah membimbing mereka dalam menuntut ilmu dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Bagi masyarakat Nagari Sintuk, Jasril Tuanku Bagindo bukan sekadar seorang ulama. Beliau adalah guru, pendidik, imam, khatib, pembimbing tarekat, pendiri lembaga pendidikan, penasehat masyarakat, pedagang, petani, dan penjaga adat yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk kemaslahatan umat.
Warisan ilmu, lembaga pendidikan, keteladanan hidup, serta nilai-nilai keikhlasan yang beliau tanamkan akan terus hidup dalam ingatan masyarakat dan menjadi inspirasi bagi generasi yang akan datang.
Sumber Data
Wawancara, Asri sebagai anak kandung Buya Jasril Tuanku Bagindo. Pada Hari Kamis, 2 Juli 2026
Wawancara, Defiandri Tuanku Imam, sebagai pihak yang pernah bergaul dengan Buya Kali Sintuak, Pada Hari Kamis, 2 Juli 2026
