![]() |
Oleh: Duski Samad
Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Imam Bonjol Padang
Allah subhanahuwata'ala memberikan mandat kepada manusia menjadi khalifah, tidak pada Malaikat dan Iblis, adalah agar dalam tata kelola dunia terjadi kompetisi yang buahnya akan menghadirkan kemajuan.
Bila dunia diurus Malaikat pastilah dunia tidak fungsional dan bermanfaat banyak, sebab Malaikat kinerjanya monoton, di perintah dzikir ya itu saja. Bila Iblis yang mengkomandoi dunia apa jadinya kehidupan orang- orang jahat saja yang mengisi dunia.
Hebat, tepat dan bermanfaat multiganda urusan hidup dikelola manusia. Ada manusia baik, buruk, manusia taat dan ada yang jahat. Untuk itu ada addiin, akal, dan perangkat ruhaniyah untuk memberikan kesempatan terjadinya kompetisi, fastabiqul khairat.
Sehebat apapun ikhtiar, usaha dan capaian manusia, namun otoritas tertinggi tetap di tangan Yang Maha Kuasa. Konsep takdir dan kuasa ilahi (qadha, qadhar, ikhtiyar, kasab) adalah garis yang mesti dijaga.
Perdebatan dalam pilihan hidup, kebijakan dan pilihan apapun sejatinya adalah dalam bingkai yang tak terlepas dari sipritualitas dan kemahakuaan-Nya. Artinya ruang teologi wajib ada dalam segala kecerdasan.
HIKMAH TAKDIR
Salah satu pertanyaan paling tua sekaligus paling aktual dalam diskursus keagamaan adalah mengapa orang-orang yang tampak baik, saleh, dan taat justru sering mengalami cobaan berat—bahkan di usia senja—sementara mereka yang bergelimang dosa seolah hidup aman dan nyaman. Pertanyaan ini bukan sekadar ekspresi emosional, melainkan problem teologis dan eksistensial yang menyentuh inti pemahaman manusia tentang Tuhan, keadilan, dan makna hidup.
Dalam khazanah Islam, persoalan ini tidak dijawab secara simplistik. Ia dibahas secara mendalam dalam Al-Qur’an, hadis, pemikiran teologis klasik, psikologi modern, hingga pengalaman sufistik para arif billah.
Esai ini berupaya membaca fenomena tersebut melalui tiga lensa utama: teologis, psikologis, dan sufistik, agar cobaan tidak lagi dipahami sebagai ironi, melainkan sebagai bagian dari hikmah takdir.
1. Ujian sebagai Sunnatullah Orang Beriman
Al-Qur’an secara eksplisit menegaskan bahwa iman tidak pernah berdiri tanpa ujian. Ujian adalah konsekuensi logis dari pengakuan iman, bukan penyimpangan dari keadilan Tuhan: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan berkata: ‘Kami beriman’, sementara mereka tidak diuji?”(QS. Al-‘Ankabut: 2).¹
Ayat ini menegaskan bahwa cobaan merupakan instrumen verifikasi iman, bukan hukuman moral. Bahkan dalam hadis sahih ditegaskan bahwa kelompok yang paling berat ujiannya justru para nabi, lalu orang-orang saleh, kemudian mereka yang tingkat keimanannya mendekati.²
Dalam teologi Islam, penderitaan orang saleh tidak boleh dibaca dalam kerangka retributif (hukuman), melainkan dalam kerangka tarbawi dan taqarrubi—pendidikan dan pendekatan diri kepada Allah. Sebaliknya, kelapangan hidup orang yang durhaka bisa masuk dalam kategori istidraj, yakni penangguhan hukuman yang justru memperdalam kelalaian.³
2. Penderitaan sebagai Proses Pemaknaan
Psikologi modern memberikan perspektif yang memperkaya pemahaman keagamaan. Viktor Frankl, melalui teori logotherapy, menyatakan bahwa manusia tidak selalu hancur oleh penderitaan; ia justru hancur ketika penderitaan itu kehilangan makna.⁴
Pada fase usia lanjut, manusia memasuki tahap ego integrity versus despair (Erik Erikson), yaitu fase evaluasi hidup.⁵ Dalam fase ini, cobaan sering kali berfungsi sebagai alat refleksi terdalam: melepaskan ilusi kontrol, merelakan kehilangan, dan menerima keterbatasan eksistensial.
Bagi orang saleh, ujian di usia tua sering menjadi proses pematangan jiwa terakhir, agar hidup tidak diakhiri dengan kelekatan berlebihan pada dunia. Sebaliknya, kehidupan yang tampak aman tanpa guncangan dapat menciptakan false sense of security—ketenangan semu yang menghambat kedewasaan batin.
3. Ujian sebagai Tajalli Cinta
Dalam tradisi tasawuf, cobaan tidak ditempatkan dalam logika untung–rugi, melainkan dalam logika cinta dan penyucian. Para sufi memahami ujian sebagai tajalli, yakni manifestasi kehendak dan kasih sayang Allah dalam bentuk yang tidak selalu menyenangkan secara lahiriah.⁶
Jalaluddin Rumi mengungkapkan bahwa luka bukan tanda kehancuran, melainkan pintu masuk cahaya ke dalam jiwa.⁷ Ujian orang saleh, terutama di usia senja, dipahami sebagai tahap akhir tahdzib an-nafs, yakni pengosongan hati dari selain Allah.
Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa nikmat terbesar bukanlah kelapangan, tetapi kesanggupan bersabar saat nikmat dicabut.⁸ Dari sudut pandang ini, cobaan bukan pengurangan nilai, melainkan peningkatan kualitas ruhani.
4. Membaca Takdir di Luar Ukuran Duniawi
Kesalahan utama manusia modern adalah menilai takdir dengan ukuran materialistik: sehat–sakit, kaya–miskin, aman–sengsara. Padahal Islam menilai kehidupan dengan ukuran kesadaran dan kedekatan dengan Allah.
Orang saleh diuji karena ia dipersiapkan untuk perjumpaan, sementara orang lalai dibiarkan karena belum siap disentakkan. Diamnya Allah bukan selalu tanda ridha, dan kerasnya ujian bukan selalu tanda murka.⁹
Penutup
Pada akhirnya, cobaan orang saleh bukanlah anomali teologis, melainkan keniscayaan spiritual. Ia adalah rahasia takdir yang hanya bisa dipahami melalui iman yang dewasa dan hati yang jernih. Sebagaimana emas dimurnikan dengan api, dan jiwa disempurnakan dengan ujian, maka orang saleh pun diuji—agar pulang bukan sekadar selamat, tetapi mulia. Balairunghorel06022026.
Catatan Kaki
1. Al-Qur’an, QS. Al-‘Ankabut: 2.
2. HR. Tirmidzi, Kitab Zuhd.
3. Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Al-Fawa’id, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
4. Viktor E. Frankl, Man’s Search for Meaning, Boston: Beacon Press, 2006.
5. Erik H. Erikson, Childhood and Society, New York: Norton, 1993.
6. Annemarie Schimmel, Mystical Dimensions of Islam, Chapel Hill: UNC Press, 1975.
7. Jalaluddin Rumi, Mathnawi, terj. Nicholson.
8. Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, Juz IV.
9. Fazlur Rahman, Major Themes of the Qur’an, Chicago: University of Chicago Press.
