![]() |
Oleh: Duski Samad
Allah SWT berfirman:
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
"Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya."
(QS. Ibrahim: 34)
Ayat ini mengajarkan bahwa nikmat Allah tidak pernah dapat dihitung secara sempurna. Manusia hanya mampu menyebut sebagian kecil dari karunia yang tampak, sementara yang tersembunyi jauh lebih banyak. Nikmat iman, Islam, kesehatan, keluarga, ilmu, umur, persahabatan, kesempatan beramal, dan perjalanan hidup semuanya adalah pemberian Allah.
Di antara nikmat yang sangat besar adalah dipanggil menjadi tamu Allah ke Tanah Suci. Tidak semua orang yang memiliki harta dapat pergi. Tidak semua orang yang sehat memperoleh kesempatan. Tidak semua orang yang rindu dapat sampai. Karena itu, haji dan umrah bukan semata-mata perjalanan fisik, melainkan perjalanan takdir, panggilan Ilahi, dan bukti kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
Ketika menoleh perjalanan hidup, saya hanya mampu mengucapkan: Alhamdulillāh, tsumma alhamdulillāh. Sejak tahun 1999 hingga 2026, Allah telah membuka jalan berulang kali untuk berkhidmat, membimbing, dan menjadi bagian dari perjalanan suci menuju Baitullah.
Pada tahun 1999, Allah memberi amanah sebagai pembimbing haji bersama jamaah Yayasan Pusat Islam Minangkabau (YAPIM). Itulah awal pengalaman membimbing tamu-tamu Allah. Dari sana saya belajar bahwa pembimbing haji bukan hanya menunjukkan jalan manasik, tetapi juga menenangkan hati jamaah, menguatkan kesabaran, dan menjaga ruh ibadah agar tetap hidup.
Pada tahun 2005, Allah kembali memberi amanah sebagai Petugas Haji Indonesia TPHI sekaligus Ketua Kloter VIII Embarkasi Medan. Tugas ini memperluas pemahaman bahwa pelayanan haji adalah ibadah besar. Mengurus jamaah, menjaga kedisiplinan, membantu yang lemah, menenangkan yang cemas, dan melayani yang sakit adalah bagian dari pengabdian kepada Allah.
Pada tahun 2013, Allah membuka jalan sebagai pembimbing umrah bersama PT. Rezki Internasional Indonesia. Kemudian pada Desember 2018, kembali dipercaya menjadi pembimbing umrah bersama PT. Rihlah. Setiap perjalanan umrah selalu membawa pelajaran baru. Ka'bah yang sama, Masjidil Haram yang sama, Madinah yang sama, tetapi rasa batin tidak pernah sama. Setiap kedatangan selalu menghadirkan makna yang berbeda.
Pada tahun 2015, Allah memberi nikmat yang sangat pribadi dan membahagiakan, yaitu menunaikan haji bersama istri, kakak ipar, dan delapan orang kerabat. Beribadah bersama keluarga di Arafah, Muzdalifah, Mina, thawaf, sa'i, dan berdoa di depan Ka'bah adalah kenikmatan ruhani yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Pada tahun 2017, Allah menghadirkan kehormatan melalui umrah undangan Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Kesempatan ini menjadi pengingat bahwa Allah dapat membuka pintu kemuliaan dari arah yang tidak disangka-sangka.
Pada Januari 2025, Allah kembali memberi nikmat melalui umrah bersama istri dan dua orang anak. Bagi seorang ayah, tidak ada kebahagiaan yang lebih indah selain melihat keluarga bersujud di rumah Allah, berdoa di hadapan Ka'bah, dan meneteskan air mata di tempat-tempat mustajab.
Insya Allah beberapa hari ke depan semua persiapan sudah ready. Selasa, 07 Juli 2026 akan dilepas di Kedubes Saudi Arabia di Jakarta untuk umrah dari tanggal 8–20 Juli 2026, Allah kembali melimpahkan nikmat yang luar biasa melalui umrah undangan Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud, Kerajaan Saudi Arabia. Menjadi tamu Allah melalui undangan Penjaga Dua Tanah Suci adalah kehormatan yang tidak pernah boleh disikapi dengan kesombongan, melainkan dengan syukur, tawaduk, dan kesadaran bahwa semua ini semata-mata karunia Allah.
Perjalanan-perjalanan ini mengajarkan bahwa Tanah Suci bukan tempat untuk membanggakan diri, tetapi tempat untuk merendahkan hati. Di depan Ka'bah, manusia sadar bahwa pangkat, jabatan, gelar, dan kehormatan dunia tidak ada artinya tanpa rahmat Allah. Semua manusia thawaf dengan pakaian yang sama, doa yang sama, air mata yang sama, dan harapan yang sama: ampunan Allah.
Haji dan umrah adalah madrasah tauhid. Di sana manusia belajar bahwa hidup ini berasal dari Allah, berjalan karena Allah, dan akan kembali kepada Allah. Talbiyah yang terus diucapkan adalah ikrar kepasrahan:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ
"Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah."
Kalimat itu bukan sekadar bacaan, tetapi janji hidup. Setelah pulang dari Tanah Suci, seseorang seharusnya semakin taat, semakin rendah hati, semakin lembut kepada sesama, semakin kuat dalam membela kebenaran, dan semakin ikhlas dalam mengabdi kepada umat.
Nikmat menjadi tamu Allah juga menuntut tanggung jawab. Semakin sering seseorang dipanggil ke Baitullah, semakin besar pula amanah moralnya. Ia harus menjaga lisannya, membersihkan hatinya, memperbaiki akhlaknya, dan menjadikan hidupnya lebih bermanfaat bagi masyarakat.
Karena itu, ukuran keberhasilan haji dan umrah bukan hanya sahnya manasik, tetapi perubahan hidup setelah kembali. Apakah shalat semakin terjaga? Apakah hati semakin bersih? Apakah keluarga semakin harmonis? Apakah kepedulian kepada fakir miskin semakin kuat? Apakah ilmu semakin melahirkan ketundukan kepada Allah?
Inilah makna nikmat lā tuḥṣūhā. Nikmat yang tidak terhitung bukan hanya jumlah perjalanan ke Tanah Suci, tetapi seluruh hikmah, pengalaman, persaudaraan, air mata, doa, dan perubahan batin yang Allah berikan melalui perjalanan itu.
Ya Allah, jadikanlah seluruh perjalanan haji dan umrah ini sebagai amal yang Engkau terima. Ampunilah dosa-dosa kami. Bersihkan hati kami. Jadikan kami hamba yang pandai bersyukur. Jangan Engkau jadikan nikmat ini sebagai sebab kesombongan, tetapi jadikan ia sebagai jalan menuju ketawadukan, ketakwaan, dan pengabdian.
Semoga setiap langkah menuju Baitullah menjadi saksi kebaikan di hari kiamat. Semoga setiap doa yang dipanjatkan menjadi cahaya kehidupan. Semoga setiap pelayanan kepada jamaah menjadi amal jariyah. Dan semoga setiap panggilan ke Tanah Suci semakin mendekatkan hati kepada Allah SWT.
Alhamdulillāhi Rabbil 'Ālamīn.
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
"Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya."ds.04072026.
