![]() |
Oleh: Duski Samad
Disampaikan pada Pengajian BKMT Sumatera Barat di Masjid Muhsinin, Solok, 5 Juli 2026
Kehidupan seorang mukmin dibangun di atas tiga pilar utama: ikhtiar yang sungguh-sungguh, tawakal kepada Allah, dan istiqamah dalam menempuh jalan yang lurus. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Ikhtiar tanpa tawakal berpotensi melahirkan kesombongan, sedangkan tawakal tanpa ikhtiar dapat berujung pada kemalasan. Adapun jalan lurus menjadi pedoman yang memastikan seluruh usaha manusia tetap berada dalam keridaan Allah.
1. Manusia Memperoleh Sesuai Usahanya
Allah SWT berfirman:
«وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
"Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya." (QS. An-Najm: 39)»
Ayat ini menegaskan bahwa Islam adalah agama yang menjunjung tinggi kerja keras. Allah tidak menjanjikan keberhasilan kepada mereka yang hanya berangan-angan, melainkan kepada mereka yang berusaha dengan sungguh-sungguh. Ilmu harus dicari, rezeki harus diupayakan, kesehatan harus dijaga, dan keberhasilan harus diperjuangkan.
Ikhtiar merupakan bagian dari sunnatullah. Para nabi, sahabat, ulama, dan orang-orang saleh senantiasa berusaha dengan maksimal sebelum memperoleh pertolongan Allah. Oleh karena itu, seorang mukmin tidak boleh menyerah sebelum berusaha dan tidak boleh berputus asa ketika hasil belum sesuai dengan harapan.
2. Bersandar Hanya kepada Allah.
Setelah berikhtiar, seorang mukmin menyadari bahwa keberhasilan bukan semata-mata hasil kecerdasannya, melainkan karunia Allah. Firman Allah SWT:
«ثُمَّ رُدُّوا إِلَى اللَّهِ مَوْلَاهُمُ الْحَقِّ
"Kemudian mereka dikembalikan kepada Allah, Pelindung mereka yang sebenarnya." (QS. Al-An'am: 62)»
Allah juga menegaskan sikap totalitas seorang hamba dalam bersandar kepada-Nya:
«إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
"Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam." (QS. Al-An'am: 162)»
Ayat ini mengajarkan bahwa seluruh aspek kehidupan seorang mukmin harus bersandar kepada Allah, tidak hanya dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam usaha, pengambilan keputusan, dan harapan hidup.
Allah adalah tempat kembali, tempat bergantung, dan sebaik-baik Pelindung. Jabatan, harta, keluarga, bahkan kekuatan diri sendiri bersifat sementara. Hanya Allah yang kekal dan tidak pernah mengecewakan hamba-Nya.
Bersandar kepada Allah (tawakal) bukan berarti meninggalkan usaha, melainkan menyerahkan hasil akhir kepada kebijaksanaan-Nya. Dengan demikian, hati menjadi tenang karena meyakini bahwa segala ketetapan Allah adalah yang terbaik.
3. Menempuh Jalan Orang-Orang yang Diberi Nikmat.
Setiap hari kita berdoa:
«اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
"Tunjukilah kami jalan yang lurus." (QS. Al-Fatihah: 6)»
Jalan lurus tersebut dijelaskan pada ayat berikutnya:
«صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
"(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat." (QS. Al-Fatihah: 7)»
Siapakah mereka?
Allah menjelaskan dalam QS. An-Nisa' ayat 69:
«"Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka mereka akan bersama orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, orang-orang yang sangat jujur (ṣiddīqīn), para syuhada, dan orang-orang saleh. Mereka itulah sebaik-baik teman."»
Inilah tujuan perjalanan hidup seorang mukmin, bukan sekadar memperoleh harta atau kedudukan, melainkan menjadi bagian dari golongan yang memperoleh nikmat Allah. Nikmat yang sejati adalah iman, ilmu, akhlak, keberkahan hidup, dan husnul khatimah.
Penutup
Kehidupan yang diberkahi lahir dari keseimbangan antara ikhtiar, tawakal, dan istiqamah. Berusahalah dengan maksimal, namun tetap rendah hati. Bersandarlah sepenuhnya kepada Allah tanpa meninggalkan ikhtiar. Tempuhlah jalan lurus yang telah dilalui para nabi, orang-orang yang jujur, para syuhada, dan orang-orang saleh.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang tekun berusaha, kuat dalam bertawakal, dan istiqamah di atas jalan-Nya hingga memperoleh nikmat dunia, keberkahan hidup, dan kebahagiaan akhirat.Wallāhu a'lam biṣ-ṣawāb.ds.04072026.
