![]() |
Oleh: Duski Samad, M.Ag.
Peradaban modern telah membawa manusia mencapai puncak-puncak kemajuan yang belum pernah dibayangkan sebelumnya. Revolusi digital menghubungkan manusia tanpa batas ruang dan waktu. Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) mampu mengolah jutaan data dalam hitungan detik. Rekayasa genetika membuka peluang penyembuhan berbagai penyakit, sementara eksplorasi ruang angkasa memperluas cakrawala pengetahuan tentang alam semesta. Di bidang ekonomi, komunikasi, transportasi, dan pendidikan, perubahan berlangsung sangat cepat sehingga dunia seolah menjadi satu desa global.
Namun, di balik seluruh kemajuan itu, dunia juga menghadapi krisis yang tidak kalah besar. Korupsi semakin sistemik, konflik kemanusiaan terus terjadi, kerusakan lingkungan mengancam keberlangsungan hidup, penyalahgunaan teknologi semakin luas, dan berbagai bentuk kejahatan intelektual tumbuh bersama perkembangan ilmu pengetahuan. Manusia semakin cerdas, tetapi belum tentu semakin bijaksana; semakin banyak mengetahui, tetapi belum tentu semakin takut kepada Allah.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama manusia bukan terletak pada kurangnya ilmu pengetahuan, melainkan pada hilangnya dimensi spiritual yang membimbing ilmu itu. Ilmu yang terlepas dari nilai-nilai ketuhanan mudah berubah menjadi alat eksploitasi, kesombongan, bahkan penindasan. Di sinilah Al-Qur'an menghadirkan konsep khasyyah (الخشية) sebagai fondasi moral bagi seluruh aktivitas intelektual manusia.
Al-Qur'an mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukanlah banyaknya pengetahuan yang dimiliki, melainkan sejauh mana pengetahuan itu melahirkan rasa tunduk, hormat, takut, dan pengagungan kepada Allah SWT. Ilmu yang benar seharusnya mendekatkan manusia kepada Penciptanya, bukan menjauhkannya. Semakin luas pengetahuan seseorang tentang alam semesta dan hukum-hukum Allah, semakin besar pula kesadaran bahwa dirinya hanyalah makhluk yang lemah di hadapan kebesaran-Nya.
Hakikat Khasyyah dalam Bahasa Al-Qur'an
Secara etimologis, kata **khasyyah** berasal dari akar kata **خشي – يخشى – خشية** (*khasiya–yakhsya–khasyyatan*) yang secara umum berarti takut. Akan tetapi, takut dalam pengertian Al-Qur'an bukanlah rasa takut biasa. Khasyyah adalah rasa takut yang lahir dari pengetahuan, pengenalan, dan pengagungan terhadap sesuatu yang ditakuti. Semakin seseorang mengenal kebesaran Allah, semakin besar pula rasa khasyyah dalam dirinya.
Bahasa Arab mengenal beberapa istilah yang berkaitan dengan rasa takut, seperti *khauf*, *rahbah*, *wajal*, *isyfaq*, dan *haibah*. Masing-masing memiliki nuansa makna yang berbeda. *Khauf* adalah rasa takut terhadap ancaman yang nyata; *rahbah* lebih menekankan rasa gentar yang mendorong seseorang menjauh; *wajal* menggambarkan hati yang bergetar karena kesadaran spiritual; sedangkan *haibah* menunjukkan rasa segan yang penuh penghormatan.
Di antara seluruh istilah tersebut, *khasyyah* menempati kedudukan yang paling tinggi karena lahir dari ilmu. Imam Ar-Raghib al-Ashfahani dalam *Al-Mufradat fi Gharib al-Qur'an* menjelaskan bahwa khasyyah adalah rasa takut yang muncul karena mengetahui keagungan pihak yang ditakuti. Oleh sebab itu, Al-Qur'an hampir selalu menghubungkan khasyyah dengan orang-orang yang berilmu.
Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula tanggung jawab moral yang dipikulnya. Ilmu bukan sekadar memperluas wawasan, tetapi membentuk karakter dan menumbuhkan kesadaran akan kebesaran Allah.
Khasyyah dalam Al-Qur'an
Derivasi akar kata **خشي** disebutkan sekitar empat puluh delapan kali dalam Al-Qur'an. Penyebarannya menunjukkan bahwa konsep khasyyah bukan hanya berkaitan dengan ibadah individual, tetapi juga menyentuh dimensi sosial, kepemimpinan, dakwah, pendidikan, dan pembentukan peradaban.
Tema terbesar adalah khasyyah kepada Allah. Firman-Nya dalam QS. Fāṭir ayat 28 menjadi ayat paling terkenal:
> **إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ**
*"Sesungguhnya yang benar-benar memiliki khasyyah kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama."*
Ayat ini tidak bermakna bahwa hanya ulama yang takut kepada Allah, tetapi menegaskan bahwa orang yang paling sempurna rasa takutnya kepada Allah adalah mereka yang memiliki ilmu yang benar. Semakin dalam pengetahuan seseorang tentang kekuasaan, rahmat, dan keagungan Allah, semakin besar pula ketundukan hatinya.
Selain itu, Al-Qur'an menggambarkan para nabi sebagai pribadi-pribadi yang memiliki khasyyah kepada Allah. Dalam QS. Al-Ahzab ayat 39 disebutkan bahwa mereka menyampaikan risalah Allah, takut hanya kepada-Nya, dan tidak takut kepada siapa pun selain Allah. Keberanian para nabi lahir bukan karena kekuatan fisik atau kekuasaan politik, melainkan karena khasyyah yang memenuhi hati mereka.
Al-Qur'an juga menggunakan gambaran yang sangat kuat dalam QS. Al-Hasyr ayat 21. Allah menyatakan bahwa seandainya Al-Qur'an diturunkan kepada sebuah gunung, niscaya gunung itu akan tunduk dan hancur karena khasyyah kepada Allah. Gunung yang demikian kokoh saja digambarkan tunduk di hadapan kebesaran Allah, sementara manusia yang diberi akal justru sering kali menjadi sombong karena ilmu, jabatan, dan hartanya.
Pandangan Para Mufasir
Para mufasir klasik memberikan perhatian yang sangat besar terhadap konsep khasyyah. Ibn Kathir menjelaskan bahwa ilmu sejati selalu melahirkan khasyyah. Semakin seseorang mengenal Allah melalui ayat-ayat-Nya, semakin besar rasa takutnya untuk berbuat maksiat dan semakin kuat dorongan untuk menaati-Nya. Karena itu, ulama sejati tidak diukur dari banyaknya hafalan atau luasnya wawasan, tetapi dari kedalaman ketakwaannya.
Al-Qurtubi menegaskan bahwa khasyyah merupakan buah dari *ma'rifatullah*. Tidak ada ma'rifat tanpa ilmu, dan tidak ada khasyyah tanpa ma'rifat. Ilmu menjadi jalan menuju pengenalan kepada Allah, sedangkan pengenalan kepada Allah melahirkan ketundukan hati.
Menurut Fakhr al-Din al-Razi, ilmu yang tidak menambah rasa khasyyah merupakan ilmu yang belum memberikan manfaat kepada pemiliknya. Ilmu seperti itu mungkin menambah kecerdasan, tetapi belum menyentuh hati. Ia hanya berhenti sebagai informasi, belum berubah menjadi transformasi spiritual.
Sementara itu, Abu Hamid al-Ghazali dalam *Ihya' Ulum al-Din* menempatkan khasyyah sebagai salah satu maqam hati yang mengantarkan seorang hamba menuju mahabbah dan ridha Allah. Khasyyah bukanlah rasa takut yang membuat manusia putus asa, melainkan rasa takut yang mendorongnya semakin dekat kepada Allah.
Khasyyah dalam Tasawuf
Dalam tradisi tasawuf, perjalanan ruhani dimulai dari ilmu. Ilmu mendorong seseorang untuk bertafakkur, tafakkur melahirkan ma'rifat, ma'rifat melahirkan khasyyah, khasyyah melahirkan taqwa, taqwa menumbuhkan mahabbah, dan mahabbah mengantarkan kepada ridha Allah.
Semakin tinggi ma'rifat seseorang, semakin kecil egonya. Ia tidak lagi sibuk mencari pujian manusia karena seluruh orientasi hidupnya tertuju kepada Allah. Orang yang memiliki khasyyah akan semakin rendah hati, semakin mudah memaafkan, dan semakin berhati-hati dalam setiap perkataan maupun perbuatannya.
Relevansi Khasyyah dalam Kehidupan Modern
Konsep khasyyah memiliki relevansi yang sangat besar bagi kehidupan modern. Dunia saat ini tidak kekurangan ilmuwan, tetapi kekurangan integritas. Tidak kekurangan teknologi, tetapi kekurangan kebijaksanaan. Tidak kekurangan hukum, tetapi sering kehilangan keadilan.
Korupsi yang dilakukan oleh orang-orang berpendidikan tinggi menunjukkan bahwa ilmu tidak selalu melahirkan akhlak. Manipulasi data, penyalahgunaan jabatan, eksploitasi sumber daya alam, penyebaran hoaks melalui media digital, hingga penyalahgunaan kecerdasan buatan merupakan contoh ketika ilmu tidak disertai khasyyah.
Dalam dunia pendidikan, keberhasilan tidak boleh hanya diukur dari indeks prestasi, jumlah publikasi, atau kecanggihan laboratorium. Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang melahirkan manusia berkarakter, yang memiliki rasa takut kepada Allah sehingga menjadikan ilmunya sebagai sarana membangun kemaslahatan.
Demikian pula dalam kepemimpinan. Pemimpin yang memiliki khasyyah tidak akan memanfaatkan kekuasaan untuk memperkaya diri. Ia akan takut menyalahgunakan amanah, takut mengkhianati rakyat, takut memutarbalikkan hukum, dan takut mempertanggungjawabkan setiap kebijakan di hadapan Allah.
Di era Artificial Intelligence, manusia dapat menciptakan mesin yang berpikir cepat, tetapi tidak mampu menciptakan mesin yang memiliki hati. Kecerdasan buatan dapat menghasilkan informasi, tetapi tidak dapat melahirkan keikhlasan, kasih sayang, maupun khasyyah. Karena itu, masa depan peradaban tidak cukup dibangun oleh kecerdasan intelektual, tetapi harus dipandu oleh kecerdasan spiritual.
Penutup
Khasyyah merupakan salah satu konsep fundamental Al-Qur'an dalam membentuk manusia yang utuh. Ia bukan sekadar rasa takut, tetapi kesadaran mendalam akan kebesaran Allah yang melahirkan ketundukan, kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian menegakkan kebenaran. Khasyyah membebaskan manusia dari ketakutan kepada makhluk karena seluruh orientasi hidupnya tertuju kepada Sang Pencipta.
Apabila ilmu melahirkan khasyyah, maka lahirlah ulama yang membimbing umat. Apabila kekuasaan dilandasi khasyyah, maka lahirlah pemimpin yang adil. Apabila kekayaan dipandu khasyyah, maka lahirlah para dermawan yang menggerakkan kesejahteraan. Apabila teknologi diarahkan oleh khasyyah, maka lahirlah peradaban yang maju sekaligus bermartabat.
Oleh karena itu, rahasia kebangkitan umat bukan hanya terletak pada bertambahnya ilmu pengetahuan, tetapi pada bertambahnya khasyyah kepada Allah. Sebab hanya ilmu yang melahirkan khasyyah yang akan melahirkan akhlak, hanya akhlak yang akan melahirkan keadilan, dan hanya keadilan yang akan membangun peradaban yang diberkahi Allah SWT. DS. 03072026.
