![]() |
Oleh: Duski Samad
Peserta Umrah Undangan Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman bin Abdul Aziz Al Saud 8–20 Juli 2026
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
Tidak semua perjalanan menuju Baitullah berawal dari kemampuan finansial. Tidak semua tamu Allah datang karena mendaftar, menabung, atau menunggu antrean bertahun-tahun. Ada sebagian orang yang dipanggil melalui jalan yang sama sekali tidak pernah mereka bayangkan: diundang langsung oleh Raja Salman bin Abdul Aziz Al Saud, Khadim Al-Haramain Al-Syarifain, Pelayan Dua Tanah Suci.
Ketika pesan singkat dari Bagian Konsuler Kedutaan Besar Arab Saudi di Jakarta masuk pada 3 Juli 2026, hati saya bergetar.
> "Nama Bapak masuk dalam daftar Umrah Tamu Raja Salman periode 1448 H/2026..."
Kalimat itu bukan sekadar pemberitahuan administratif. Ia terasa seperti panggilan langit yang datang melalui tangan seorang pemimpin dunia Islam. Beberapa saat kemudian undangan resmi dari Kedutaan Besar Arab Saudi diterima, yang menyatakan bahwa saya termasuk tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain untuk melaksanakan ibadah umrah tahun 1448 H/2026 M serta diundang menghadiri acara pelepasan di Kedutaan Besar Arab Saudi, Jakarta, pada 7 Juli 2026.
Bagi seorang Muslim, kemuliaan bukanlah siapa yang mengundang, tetapi siapa yang menjadi tujuan perjalanan. Raja hanya menjadi wasilah, sedangkan yang memanggil sesungguhnya adalah Allah SWT.
Allah berfirman:
> وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
"Serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu..."
(QS. Al-Hajj: 27)
Ayat ini mengajarkan bahwa setiap orang yang sampai ke Baitullah pada hakikatnya datang karena memenuhi panggilan Allah. Ada yang dipanggil melalui kemampuan ekonomi, ada yang melalui hadiah keluarga, ada pula yang melalui undangan resmi seorang raja. Namun sumber panggilannya tetap satu, yaitu Allah SWT.
Dalam tradisi Islam, tamu memiliki kedudukan yang sangat mulia. Apalagi tamu Allah. Rasulullah SAW bersabda:
> الحُجَّاجُ وَالعُمَّارُ وَفْدُ اللهِ، دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ، وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ
"Orang-orang yang berhaji dan berumrah adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, lalu mereka memenuhi panggilan-Nya. Mereka memohon kepada-Nya, maka Allah mengabulkan permohonan mereka."
Karena itu, perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik dari Jakarta menuju Madinah dan Makkah. Ini adalah perjalanan ruhani untuk memperbarui iman, membersihkan hati, memperbanyak taubat, dan memperkuat tekad menjadi hamba yang lebih baik.
Jadwal yang diberikan Kedutaan menunjukkan keberangkatan dari Jakarta menuju Madinah pada 8 Juli 2026, didahului acara pelepasan di Kedutaan Besar Arab Saudi pada 7 Juli 2026, dan kepulangan melalui Jeddah–Doha–Jakarta pada 19–20 Juli 2026.
Saya memandang undangan ini bukan sebagai penghargaan pribadi, melainkan amanah. Di hadapan Ka'bah nanti, tidak ada gelar profesor, tidak ada jabatan, tidak ada kedudukan sosial. Semua mengenakan pakaian yang sama, menghadap kiblat yang sama, mengucapkan talbiyah yang sama, dan berharap kepada Tuhan yang sama.
Semoga Allah menerima ibadah umrah seluruh tamu-Nya, menjadikan perjalanan ini sebagai sarana penyucian jiwa, serta mengembalikan kami ke tanah air dengan predikat umrah yang maqbulah, hati yang lebih bersih, akhlak yang lebih mulia, dan semangat yang lebih besar untuk mengabdi kepada agama, bangsa, dan umat.
Labbaikallahumma Labbaik. Labbaika la syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni'mata laka wal mulk, la syarika lak.Wallāhu a'lam biṣ-ṣawāb.
