![]() |
| Amiruddin Tuanku Mudo Rangkayo Tamputiah |
MU-ONLINE, Padang Pariaman, -- Amiruddin nama yang diberikan kedua orangtuanya ketika lahir di Paingan, kini masuk Nagari Guguak Kuranji Hilie, Kecamatan Sungai Limau, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, 24 Februari 1928. Dewasa sampai akhir hayatnya, mendapatkan dua gelar kehormatan di bidang syarak (agama) dan adat. Maka, lengkapnya adalah Amiruddin Tuanku Mudo, Rangkayo Tamputiah. Pesantren Gaya Baru yang didirikannya pada tahun 1986, berhasil dinegerikan, menjadi MAN II Padang Pariaman.
Lama mengaji di kampungnya, Paingan, terus di Kamumuan, dan berakhir di Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Jaho Padang Panjang, Amiruddin tamat mengaji dengan Syekh Muhammad Djamil Jaho, balik ke kampung, mengabdi di Kamumuan, Amiruddin dianugerahi gelar "Tuanku Mudo".
Sementara, di Paingan sendiri, Amiruddin adalah mewarisi trah Rajo, seorang niniak mamak, kapai tampek batanyo, kapulang tampek baburito, tiba pula giliran Amiruddin menyandang gelar Rajo, Rangkayo Tamputiah. Pernah jadi PNS di lingkungan Kemenag Padang Pariaman, masa pensiun beliau memfokuskan urusan kemajuan pesantren dan sekolah yang didirikannya.
Masa Kecil
Adalah pesantren tua di Paingan Sungai Limau, sebuah surau tempat anak siak mengaji yang didirikan Buhrin Tuanku Kuniang 1930. Bersama Buhrin Tuanku Kuniang ini Amiruddin memulai mengaji. Mengaji sebagai dasar agama dalam dirinya. Mempelajari Al-Quran, sekalian belajar kajian kitab kuning, tentunya belajar adat istiadat. Kelak, Pesantren Buhrin Tuanku Kuniang yang dijadikan Pondok Pesantren Gaya Baru oleh Amiruddin pada tahun 1986.
Pada sekitar tahun 1930 an, kondisi pendidikan surau di wilayah Paingan, Sungai Limau, Kabupaten Padang Pariaman, berada pada titik transisi sejarah yang sangat krusial. Dekade 1930-an merupakan masa terjadinya benturan sekaligus integrasi antara sistem pendidikan tradisional surau (kaum tua) dengan gerakan modernisasi madrasah (kaum muda) di Minangkabau.
Sistem Pengajaran Tradisional (Halaqah)
Secara umum, surau-surau tradisional di daerah pesisir Padang Pariaman—termasuk Sungai Limau—masih mempertahankan metode halaqah. Murid (anak sasian) duduk bersila melingkari guru (Tuanku atau Syekh). Pembelajaran dibagi menjadi dua level, yaitu pengajian Al-Quran (dasar) dan pengajian kitab kuning/kitab gundul (lanjutan). Pendidikan tidak mengenal jenjang kelas formal, kurikulum tertulis, atau ujian terjadwal. Kemajuan murid dinilai langsung secara individual oleh gurunya.
Kurikulum dan Materi Pembelajaran
Fokus utama pendidikan di surau Paingan pada tahun 1930 adalah mencetak kader ulama dan membentuk karakter pemuda. Materi utamanya meliputi: Pembelajaran tauhid (aqidah), fiqih (hukum Islam), dan nahu-sharaf (tata bahasa Arab) untuk membaca kitab kuning.
Adat dan Karakter: Internalisasi pepatah-petitih adat Minangkabau. Pendidikan Fisik: Latihan seni bela diri Silat Minangkabau (silek) sebagai bekal perlindungan diri dan ketangkasan fisik pemuda.
Fungsi Sosial dan Pola Asrama (Silek dan Merantau)
Surau di Sungai Limau pada era ini bukan sekadar tempat belajar paruh waktu, melainkan pusat kehidupan pemuda. Sesuai hukum adat, anak laki-laki Minangkabau yang telah akil baligh tidak lagi tidur di rumah orang tuanya (Rumah Gadang), melainkan bermalam di surau. Di surau Paingan, para pemuda belajar mandiri, bersosialisasi, memasak bersama, dan mempersiapkan mental sebelum mereka pergi merantau meninggalkan kampung halaman.
Munculnya Fenomena Unik: Pengaruh Gerakan Perempuan
Kawasan Sungai Limau mencatat sejarah unik pada era tersebut dengan munculnya institusi keagamaan berbasis perempuan. Sekitar tahun 1920-an hingga 1930-an, embrio dari apa yang sekarang dikenal sebagai Masjid Wanita Sungai Limau mulai tumbuh. Pada masa itu, perkumpulan ibu-ibu dan lansia perempuan di Sungai Limau mulai menginisiasi ruang belajar agama khusus perempuan. Hal ini mendobrak stigma bahwa surau di masa lalu hanya identik sebagai asrama kaum laki-laki saja.
Pada dekade 1930-an, wilayah Paingan, Sungai Limau, Kabupaten Padang Pariaman dipengaruhi oleh tokoh-tokoh ulama kharismatik yang menjaga tradisi surau sekaligus memimpin jaringan keilmuan Islam, khususnya mazhab Syafii dan Tarekat Syattariyah.
Angku Paingan Sungai Limau
Nama beliau dicatat dalam jaringan silsilah keilmuan (sanad) ulama besar Minangkabau. Beliau merupakan murid langsung dari Syekh Inyiak Tuanku Aluma Koto Tuo (ulama besar Tarekat Syattariyah asal Agam). Pada era tersebut, Angku Paingan menjadi benteng pertahanan pendidikan tradisional di Paingan, Sungai Limau. Beliau mengajarkan kitab kuning di surau dengan sistem halaqah, melestarikan ajaran fiqih, ke-Sufi-an, dan mendidik pemuda setempat.
Uci Maryam (Pendiri Cikal Bakal Surau Induak-Induak / Masjid Wanita)
Pada tahun 1920-an hingga 1930-an, gerakan emansipasi pendidikan Islam perempuan mulai menyentuh Sungai Limau. Uci Maryam adalah tokoh kunci perempuan yang sangat dihormati di wilayah tersebut. Beliau menginisiasi sebuah rumah berkumpulnya para lansia dan ibu-ibu untuk belajar agama dan mengaji, yang kemudian berkembang menjadi Surau Induak-induak. Pola pendidikan ini berkembang pesat di era 1930-an didorong oleh semangat gerakan perempuan ('Aisyiyah). Surau inilah yang pada dekade berikutnya bertransformasi menjadi Masjid Wanita Sungai Limau.
Di luar Paingan tetapi masih dalam satu hamparan wilayah Sungai Limau, terdapat beberapa ulama pemegang otoritas surau yang aktif mengajar di era 1930-an: Tuanku Imam Pasang: Beliau memimpin Surau Kamumuan (bertetangga dengan Paingan) sejak didirikan tahun 1915 hingga aktif mengajar sepanjang dekade 1930-an.
Aktivis NU yang Tidak Tercatat
Meski Amiruddin menamatkan pendidikannya di MTI Jaho Padang Panjang, beliau aktif di Nahdlatul Ulama (NU). Hanya saja, keaktifan beliau di organisasi yang lahir 1926 di Surabaya, Jawa Timur itu tak dicatat dalam dokumen digital. Penulis sempat berdiskusi dengan beliau dan Amril AM, anggota DPRD Padang Pariaman dari PPP, yang juga aktivis NU dulunya, di DPRD Padang Pariaman tahun 2003.
Beliau berdua itu menceritakan kisahnya mengkampanyekan NU, berjuang dengan banyak suka duka, termasuk menggerakkan masa dalam apel besar Banser NU di Sungai Limau, sebagai kesetiaan ke negara, dan menyuarakan anti PKI. Tahun 1965 itu, Banser dan Ansor, anderbow NU serentak se Indonesia, menggelar apel besar itu.
Amril AM yang juga dikenal dengan Am Syuro adalah anggota DPRD Padang Pariaman periode 1999-2004. Beliau seangkatan dengan Amiruddin Tuanku Mudo Rangkayo Tamputiah.
Pergerakan Nahdlatul Ulama (NU) di Padang Pariaman pada awal masa reformasi (akhir 1990-an hingga awal 2000-an) mengalami momentum kebangkitan struktural yang signifikan, dipicu oleh terpilihnya KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Presiden RI ke-4. Momentum politik nasional ini membuka ruang bagi para ulama tradisional dan aktivis muda di Padang Pariaman untuk mengonsolidasikan organisasi secara lebih terbuka, setelah sekian lama berada di bawah bayang-bayang tekanan politik Orde Baru.
Konsolidasi Kultural Melalui Jaringan Tarekat Syattariyah
Basis massa NU di Padang Pariaman sangat erat kaitannya dengan pengikut Tarekat Syattariyah yang berpusat di makam Syekh Burhanuddin, Ulakan. Awal reformasi menjadi momen krusial untuk merekatkan kembali identitas kultural jamaah Syattariyah ke dalam wadah struktural NU, mengingat kesamaan amaliah keagamaan (seperti tradisi Basapa dan pola kepemimpinan ulama bergelar tuanku).
Geliat PMII dan GP Ansor: Era reformasi membuka keran kebebasan berserikat. Hal ini memicu kebangkitan gerakan mahasiswa dan pemuda Nahdliyin di ranah lokal, seperti Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Gerakan Pemuda (GP) Ansor. Banyak tokoh-tokoh muda formal NU di Padang Pariaman saat ini lahir dari gemblengan aktivisme pemuda pada awal masa reformasi tersebut.
Dinamika Politik Selaras dengan Kelahiran PKB
Dengan dibentuknya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) oleh PBNU di tingkat pusat, pengurus PCNU Padang Pariaman mulai memfasilitasi aspirasi politik warganya secara mandiri. Tokoh-tokoh NU di Padang Pariaman mulai aktif mewarnai panggung perpolitikan daerah, mengubah lanskap politik lokal yang sebelumnya didominasi oleh kekuatan politik Orde Baru. Di awal reformasi, seiring dengan diberlakukannya otonomi daerah, NU di Padang Pariaman turut memberikan sumbangsih pemikiran keagamaan yang bercorak moderat terhadap pembentukan peraturan daerah (Perda), guna memastikan agar nilai agama diselaraskan secara harmoni dengan adat Minangkabau (Adat Basandi Syara', Syara' Basandi Kitabullah).
Ulama dan tokoh utama yang menjadi penggerak serta penopang eksistensi Nahdlatul Ulama (NU) di Padang Pariaman pada masa transisi Orde Baru ke awal reformasi dipimpin oleh kombinasi ulama kharismatik Tarekat Syattariyah dan aktivis politik-keagamaan lokal. Struktur kepengurusan dan pergerakan kultural pada masa itu banyak digerakkan oleh para kiai bergelar tuanku yang berbasis di surau dan pondok pesantren tradisional.
Ulama Sepuh dan Tokoh Kharismatik (Mustasyar/Syuriyah)
Buya H. Muhammad Zen Tuanku Bagindo: Merupakan salah satu tokoh ulama paling senior dan sepuh yang sangat dihormati di Padang Pariaman (kelahiran Pauh Sicincin). Beliau adalah pilar utama yang mendedikasikan hidupnya untuk menjaga amaliah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dan membesarkan NU di Padang Pariaman melewati masa-masa sulit hingga awal era reformasi.
Buya Azwar Tuanku Sidi: Ulama kharismatik pimpinan [Pondok Pesantren Jami'atul Mukminin Sintuak. Beliau bertindak sebagai benteng kultural/Mustasyar PCNU Padang Pariaman yang aktif menyatukan jamaah Tarekat Syattariyah ke dalam garis perjuangan struktural NU pasca-Orde Baru.
Buya H. Zubir Tuanku Kuniang: Pemimpin [Pesantren Darul Ikhlas Lubuk Tajun Pakandangan. Tokoh penggerak ulama Syattariyah ini menjadi simpul penting yang menghubungkan jaringan pesantren tradisional Padang Pariaman dengan pergerakan sosial-politik NU di awal reformasi.
Buya Syahril Tuanku Sutan (Maetek): Ulama yang bertindak sebagai Rais Syuriyah PCNU Padang Pariaman pada periode peralihan tersebut, menjaga kepemimpinan tertinggi para ulama di tingkat cabang.
Buya Syafri Tuanku Sutan Sari Alam: Berperan penting di jajaran Syuriyah sebagai Katib (Sekretaris Syuriyah) PCNU Padang Pariaman yang mengurusi administrasi keulamaan daerah.
Tokoh Penggerak Tanfidziyah (Pelaksana Struktural)
H. Amril AM: Tokoh senior yang menjadi Mustasyar sekaligus motor penggerak organisasi yang dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap penguatan kelembagaan NU di Padang Pariaman pada masa transisi politik.
Buya Abdul Hadi Tuanku Rajo: Tokoh pelaksana yang dipercaya memimpin jajaran Tanfidziyah (Ketua Cabang) PCNU Padang Pariaman pasca-tumbangnya Orde Baru untuk mengonsolidasikan organisasi secara terbuka.
Yul Rahmat: Bertindak sebagai Sekretaris Tanfidziyah yang mendampingi kerja-kerja taktis konsolidasi organisasi ke kecamatan-kecamatan di Padang Pariaman.
Tokoh Transisi Politik dan Pemuda (Kanalisasi PKB & Banom)
Zulhelmi Tuanku Sidi: Salah satu tokoh muda penggerak yang memainkan peran ganda sebagai legislator/Anggota DPRD sekaligus Ketua Dewan Pengurus Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (DPC PKB) Padang Pariaman. Ia menjadi tokoh kunci dalam menyalurkan aspirasi politik warga Nahdliyin lokal pasca-pembentukan PKB oleh PBNU pada tahun 1998.
Para ulama di atas berhasil mengawinkan nilai struktural NU dari pusat dengan tradisi luhur Minangkabau lokal, sehingga NU bisa diterima secara alamiah di Padang Pariaman sebagai rumah bagi para pengikut madzhab Syafi'i dan Tarekat Syattariyah.
Amiruddin Tuanku Mudo Rangkayo Tamputiah adalah seorang ulama, tokoh pendidik, sekaligus pimpinan dan pendiri Pondok Pesantren Gaya Baru (PPGB) Paingan, yang terletak di Nagari Guguak Kuranji Hilir, Kecamatan Sungai Limau, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat.
Pendirian Pondok Pesantren Gaya Baru (1987)
Inisiator Utama: Amiruddin Tuanku Mudo mendirikan Madrasah Aliyah Swasta Pondok Pesantren Gaya Baru (MAS PPGB) Paingan pada tahun 1987. Lembaga ini didirikan untuk memadukan model pendidikan pesantren tradisional (salafiyah) khas Minangkabau dengan kurikulum modern, agar para santri memiliki bekal ilmu agama yang mendalam sekaligus pengetahuan umum yang relevan. Selama masa kepemimpinannya, beliau dikenal vokal dalam menyuarakan ketidakadilan regulasi pemerintah masa lalu terhadap ijazah pesantren.
Beliau pernah mengkritik kebijakan yang sempat mengucilkan pesantren, di mana ijazah santri yang belajar hingga 7 tahun hanya diakui setingkat SMP/sederajat (lebih rendah dari STM). Perjuangan ini ia suarakan demi mengangkat martabat serta rekognisi hukum bagi lulusan pesantren tradisi di Sumatera Barat.
Pengembangan Program Pendidikan Ulya (2007)
Pendidikan Gratis: Pada tahun ajaran 2007, di bawah kepemimpinannya, Ponpes Gaya Baru Paingan melakukan terobosan dengan menyelenggarakan pendidikan tingkat Ulya (setingkat pendidikan tinggi/mahad aly). Angkatan pertama program ini membebaskan santri dari segala bentuk pungutan biaya pendidikan, kecuali untuk biaya hidup mandiri mereka. Langkah ini didukung penuh oleh Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama (LP Ma'arif NU) Sumatera Barat.
Transformasi Lembaga (2004 - Sekarang)
Penegerian Madrasah: Dedikasi Amiruddin Tuanku Mudo membuahkan hasil besar ketika madrasah swasta yang didirikannya resmi beralih status menjadi madrasah negeri (MAN PPGB Paingan) pada tahun 2004. Sekolah yang dirintisnya tersebut kini telah bertransformasi menjadi MAN 2 Padang Pariaman. Lembaga ini terus berkembang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam negeri yang penting di koridor Sungai Limau, Padang Pariaman.
Sebagai seorang ulama kharismatik di Padang Pariaman, Amiruddin Tuanku Mudo Rangkayo Tamputiah menerima silsilah keilmuan tasawuf yang berakar langsung pada Syekh Burhanuddin Ulakan, pelopor utama Tarekat Syattariyah di ranah Minang.
Keluarga
Amiruddin Tuanku Mudo Rangkayo Tamputiah wafat 12 September 2011. Nurma istrinya, melahirkan anak, yakni, Surya, Basrah, Nurhanit, Syarifah Ainun, Erma Sahara, Idrus Hakimi. (AD)
Referensi:
1. Berjuang Tanpa Pamrih, Direktori Pondok Pesantren di Padang Pariaman, Drs. Amiruddin Tuanku Majolelo dan Bagindo Armaidi Tanjung, S. Sos, 2005
2. Wawancara dan diskusi dengan Amiruddin Tuanku Mudo Rangkayo Tamputiah dan Amril AM, tahun 2003 di DPRD Padang Pariaman.
3. [https://www.nu.or.id](https://www.nu.or.id/daerah/pesantren-dorong-para-quottuankuquot-sebarkan-islam-damai-HEJKk)
4. [https://nu.or.id](https://nu.or.id/daerah/tokoh-nu-padangpariawaman-wafat-XPUDO)
5. [https://www.siberzone.id](https://www.siberzone.id/40-ulama-besar-dan-tokoh-bengkulu-dalam-sejarah-yang-wajib-diketahui)
