![]() |
| Nurdin Tuanku Sidi saat akan berada ke Mekkah tahun 2007. |
Padang Pariaman, --- Syekh H. Nurdin Tuanku Sidi adalah Syaikhul Ma'had Luhur Kalampaian, Ampalu Tinggi, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, tercatat sejak 1989 hingga 2007. 18 tahun, lamanya beliau memimpin pesantren yang didirikan oleh Syekh Oesman pada 1687 ini. Masa itu, kejayaan Luhur Kalampaian Ampalu Tinggi sebagai pesantren tertua di Padang Pariaman, masih bergema. Beliau Nurdin Tuanku Sidi tercatat pula sebagai generasi ketujuh yang melanjutkan kepemimpinan di Kalampaian Ampalu Tinggi, kini masuk Nagari Lareh Nan Panjang Selatan.
Masa Kecil
Nurdin Tuanku Sidi lahir di Sikile, kini masuk Nagari Lurah Ampalu Timur diperkirakan pada tahun 1925, dari pasangan Syarif, ayahnya dan Garin, ibunya. Nurdin Tuanku Sidi sejak kecil tinggal di rumah bakonya, Ampalu Tinggi. Syarif, ayahnya orang Ampalu Tinggi, bersuku Panyalai. Sementara, Nurdin Tuanku Sidi sendiri bersuku Tanjung. Masa kecilnya itu, Surau Kalampaian Ampalu Tinggi sedang menapaki masa keemasan.
Surau Kalampaian tak hanya dipenuhi oleh anak siak dari luar daerah, seperti Jambi, Riau dan daerah lainnya di Indonesia, tapi juga ada dari Padang Pariaman sendiri, termasuk Ampalu Tinggi lumayan banyak dan ramai orang mengaji di situ. Nurdin Tuanku Sidi adalah anak semata wayang pasangan Syarif dan Garin ini. Ada saudaranya, cuma satu orang pula. Yaitu saudara satu ayah' lain ibu.
Pada tahun 1937-an, kondisi Ampalu Tinggi, VII Koto Sungai Sariak (wilayah yang kini berada di Kabupaten Padang Pariaman) didominasi oleh kehidupan agraris yang religius di bawah pengaruh kuat sistem surau tradisional Minangkabau serta administrasi kolonial Hindia Belanda.
Pusat Pendidikan Agama dan Jaringan Ulama (Sistem Surau)
Pada dekade 1930-an, Ampalu Tinggi dikenal luas sebagai salah satu pusat pendidikan Islam tradisional (sufisme/tarekat) yang sangat dihormati di wilayah Padang Pariaman.
Surau Kalampaian Ampalu Tinggi: Dipimpin oleh ulama besar Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu Tuangku, surau ini menjadi magnet bagi para penuntut ilmu dari berbagai daerah.
Tempat Berguru Ulama Besar: Di tempat inilah salah satu ulama paling legendaris dan karismatik asal Piaman, Ungku Saliah (Lubuak Bareh), mendalami ilmu agama Islam sejak usia muda sebelum akhirnya menyebarkan syiar ke berbagai pelosok.
Struktur Sosial, Adat, dan Keagamaan
Keterikatan Adat dan Syarak: Kehidupan masyarakat diatur ketat oleh kombinasi hukum adat Minangkabau dan hukum Islam (adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah). Hubungan kekerabatan bersuku-suku (seperti suku Piliang, Jambak, dan sebagainya.) sangat kental memengaruhi kepemilikan tanah dan struktur pemerintahan nagari.
![]() |
| Saat Nurdin Tuanku Sidi dilepas secara bersama oleh anak siak Surau Kalampaian Ampalu Tinggi ke tanah suci, menunaikan rukun Islam kelima. |
Kehadiran Gerakan Pembaruan: Tahun 1937 merupakan masa di mana organisasi Islam modernis seperti Muhammadiyah sedang giat-giatnya berekspansi di wilayah Pariaman (dipelopori oleh tokoh-tokoh dari Kurai Taji dan sekitarnya). Hal ini menciptakan dinamika diskusi keagamaan yang hangat antara kaum tua (tradisionalis surau) di Ampalu Tinggi dan kaum muda (modernis).
Kondisi Ekonomi dan Geografis
Ekonomi Pertanian Tradisional: Wilayah VII Koto Sungai Sariak adalah daerah pedalaman (darek-rantau) yang subur. Perekonomian utama masyarakat pada tahun 1937 bertumpu pada pertanian padi sawah, kelapa, serta perdagangan hasil bumi berskala lokal.
Akses dan Infrastruktur: Transportasi pada tahun 1937 masih sangat mengandalkan jalur pedati, kuda, dan jalan setapak yang menghubungkan Ampalu Tinggi dengan pusat perdagangan di pasar Sungai Sariak serta pelabuhan pantai di Kota Pariaman. Rumah-rumah penduduk didominasi oleh arsitektur kayu tradisional (rumah gadang) dan rumah beratapkan rumbia. Secara administratif, pada tahun 1937 Ampalu Tinggi berada di bawah kendali pemerintah kolonial Hindia Belanda (Kelewaran/Kecamatan Zeven Koto). Sistem pemerintahan menggunakan perpanjangan tangan penguasa lokal (gubernemen) berkolaborasi dengan penghulu atau pemuka adat setempat guna menarik pajak hasil bumi dan menjaga ketertiban wilayah.
Melanjutkan Kepemimpinan
Tahun 1989 Syekh H. Ibrahim meninggal dunia. Pondok Pesantren Luhur Kalampaian Ampalu Tinggi tak boleh meninggal. Sebab, niat awal mendirikan Surau Kalampaian, adalah untuk selamanya. Syekh H. Ibrahim sempat berpesan atau meninggal amanat, tentang kelanjutan proses belajar mengajar di pesantren itu. Beliau menunjuk Nurdin Tuanku Sidi yang akan melanjutkan kepemimpinan Ampalu Tinggi.
Alasan Syekh Ibrahim menunjuk Nurdin Tuanku Sidi, adalah beliau anak siak senior, sejak masa kanak-kanak sudah di Ampalu Tinggi. Sampai berumah tangga, Nurdin Tuanku Sidi di Ampalu Tinggi, tempat beliau mengaji, sekaligus kampung ayahnya.
Orang banyak, terdiri dari tokoh masyarakat, tokoh adat di Ampalu Tinggi hanya menuahi apa yang menjadi amanat Syekh Ibrahim. Masa itu, anak siak sedang ramai-ramainya di Ampalu Tinggi. Tentu, bagi Nurdin Tuanku Sidi amanah demikian merupakan pekerjaan yang berat.
Keistimewaan
Semasa Nurdin Tuanku Sidi memimpin Luhur Kalampaian Ampalu Tinggi ini, adanya peningkatan pembangunan sarana prasarana ibadah di komplek pesantren itu. Yakni, sebuah bangunan masjid permanen berlantai dua direncanakan, tegak semasa beliau giat memimpin perguruan tertua di Padang Pariaman itu. Masjid itu sempat di pakai untuk Jumat, saat kondisi bangunan masjid tua semakin punah.
Masjid Kalampaian yang terbuat dari kayu, dibangun masa kepemimpinan Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu, tahun 2007 mengalami kerusakan. Kondisi itu, disepakati bersama, masjid itu harus diganti dengan yang baru, tapi model dan gayanya harus tetap seperti masjid dari kayu ini.
Akhirnya, datang bantuan berupa bangunan masjid siap pakai dari donatur, lewat TV One. Peristiwa merobohkan masjid lama menjadi kendala tersendiri. Tonggak macu yang besar dan panjang, tak ada arahnya kemana mau direbahkan. Orang tukang seperti kehilangan akal, merasa kesulitan untuk memindahkan tonggak maju itu. Sebab, masjid baru akan dibangun di atas pondasi masjid tua.
Di tengah kebingungan banyak orang, Bakhri Tuanku Mangkuto yang sedang memimpin Ampalu Tinggi, mengajak orang banyak, termasuk anak siak, untuk Shalat Magrib berjemaah dulu. Sebab, kebingungan merebahkan tonggak macu, datang di senja hari, di saat Magrib mau masuk. Sejak pagi bekerja, membereskan bangunan itu, tak jua bertemu solusi untuk merebahkan macu besar dan panjang itu.
Saat Shalat Magrib berjemaah, sedang zikir panjang yang masih dalam kondisi shalat, tiba-tiba tonggak macu itu rebah sendiri. Tak ada angin di awal malam itu, tak pula datang badai yang kencang atau angin ribut, tapi tonggak macu rebah sendiri.
Sekarang, Masjid Kalampaian Ampalu Tinggi sudah gagah. Mirip dengan masjid lama yang sudah tidak layak untuk dipakai. Peresmian masjid itu dilakukan Direktur Pemberitaan TV One, Karni Ilyas.
Sebelum berangkat ke Mekkah, menunaikan rukun Islam kelima, Nurdin Tuanku Sidi berwasiat kepada dua tokoh ulama yang akan meneruskan kepemimpinan Ampalu Tinggi. Wasiat ini diucapkannya, sekaligus menjawab teka teki, sekiranya beliau tak bisa pulang dari tanah suci. Artinya, wasiat disampaikan, supaya dua tokoh, ulama senior dari trah Ampalu Tinggi bisa menjalankan amanah itu. Mereka itu, adalah Bakhri Tuanku Mangkuto dan Khaidir Tuanku Sutan.
Kondisi demikian, adalah keistimewaan Nurdin Tuanku Sidi dalam memimpin. Sebelumnya, hanya satu orang yang ditunjuk. Tapi, entah pirasat apa yang datang, tiba-tiba amanah meluncur untuk dua tokoh sekaligus.
Hikmahnya, setelah Nurdin Tuanku Sidi wafat, Ampalu Tinggi dipimpin oleh Bakhri Tuanku Mangkuto dan Khaidir Tuanku Sutan. Sayang, umur Bakhri Tuanku Mangkuto asal Toboh Gadang ini tak pula lama. Beliau wafat, setelah hitungan bulan menjalankan amanah Nurdin Tuanku Sidi. Kini, tinggal Khaidir Tuanku Sutan sendiri yang melanjutkan kekhalifahan di Ampalu Tinggi.
Keluarga
Dengan istrinya, Ramuna di Ampalu Tinggi, Nurdin Tuanku Sidi dikaruniai lima orang anak, yakni Salmi Nardi, Sabikul Khairi Datuak Pono Intan, Sabikul Khairat, Sulmi Hidayah, Iswandi Tuanku Sampono Intan, S. Ag,
Sementara, dengan istrinya Jahari Corak di Sikile, Nurdin Tuanku Sidi dikaruniai tiga orang anak, yakni Susilawati, Andi Fitri, dan Nilawati.
Nurdin Tuanku Sidi wafat tahun 2007, saat rencana penukaran masjid tua dengan bangunan baru. Nurdin Tuanku Sidi sempat naik haji ke Mekkah, menunaikan rukun Islam kelima, tahun 2007 itu, sebelum meninggal dunia. Beliau dimakamkan di komplek makam Syekh Oesman, sang pendiri Pondok Pesantren Luhur Kalampaian, di komplek pesantren itu.
Referensi:
1. Wawancara dengan Iswandi Tuanku Sampono Intan, Jumat 3 Juli 2026 di Ampalu Tinggi, bersama Armaidi Tanjung. Iswandi adalah anak bungsu Nurdin Tuanku Sidi di Ampalu Tinggi. Iswandi tamat mengaji di Kalampaian, tamat perguruan tinggi di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Syekh Burhanuddin. Ketua GP Ansor Padang Pariaman periode 1997-2000.
2. [https://ejournal.iainkerinci.ac.id](https://ejournal.iainkerinci.ac.id/index.php/thullab/article/download/2120/791/7373)
3. [https://id.wikipedia.org](https://id.wikipedia.org/wiki/VII_Koto_Sungai_Sarik,_Padang_Pariaman)

