![]() |
Oleh: Duski Samad
Peserta Program Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman 1448 H / 2026 M
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Ba'da salat Jumat, 17 Juli 2026, rombongan peserta Program Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman meninggalkan Kota Makkah menuju Thaif, kota pegunungan yang menyimpan jejak sejarah dakwah Rasulullah SAW sekaligus menjadi salah satu destinasi wisata unggulan Arab Saudi.
Perjalanan menuju Thaif menghadirkan pengalaman yang berbeda. Kendaraan terus menanjak menyusuri jalan pegunungan Al-Hada yang berliku-liku. Tebing-tebing batu cadas menjulang tinggi di sisi jalan menghadirkan rasa kagum sekaligus kesadaran akan kebesaran ciptaan Allah SWT.
Puncak perjalanan ditandai dengan menaiki gondola yang melintasi jurang dan pegunungan. Dari ketinggian, hamparan bebatuan, lembah, dan jalan berkelok tampak begitu menakjubkan. Sesaat muncul rasa tegang ketika gondola melintas di atas jurang yang dalam. Namun ketegangan itu berubah menjadi rasa syukur ketika perlahan tiba di puncak dengan selamat. Udara yang sejuk menjadi kontras dengan panas Kota Makkah yang mencapai sekitar 40 derajat Celsius.
Sesampainya di kawasan puncak, rombongan disambut hangat dengan pertunjukan kesenian Arab. Lantunan syair "Ṭala‘al Badru ‘Alainā", lagu yang sangat akrab dalam sejarah penyambutan Rasulullah SAW, menggema di antara pegunungan. Irama rebana dan nyanyian tradisional menghadirkan suasana persaudaraan yang menyentuh hati.
Malam itu dilanjutkan dengan jamuan makan malam yang mempertemukan para ulama, akademisi, tokoh masyarakat, dan pemimpin komunitas Muslim dari berbagai negara. Suasana penuh keakraban tampak ketika para peserta dari berbagai bangsa berkumpul dalam satu tempat, mengenakan identitas masing-masing, lalu mengabadikan momen kebersamaan sebagai simbol ukhuwah Islamiyah lintas bangsa.
Dalam acara silaturahim tersebut, setiap negara diwakili oleh seorang tokoh untuk menyampaikan salam persaudaraan. Meskipun berasal dari bahasa, budaya, dan latar belakang yang berbeda, seluruh peserta dipersatukan oleh akidah, ibadah, dan kecintaan kepada Tanah Suci.
Pertemuan ini memperlihatkan bahwa Program Tamu Raja Salman tidak hanya memberikan pelayanan ibadah umrah, tetapi juga membangun diplomasi umat. Hubungan antarbangsa tidak selalu dibangun melalui ruang-ruang politik, tetapi juga melalui perjumpaan kemanusiaan, dialog, pertukaran pengalaman, dan persaudaraan yang lahir dari nilai-nilai Islam.
Allah SWT berfirman:
> "Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal (QS. Al-Hujurat: 13).
Ayat ini menemukan relevansinya dalam pertemuan di Thaif. Perbedaan bangsa bukanlah alasan untuk saling menjauh, melainkan kesempatan untuk saling belajar, saling menghormati, dan memperkuat kerja sama demi kemaslahatan umat.
Pesan Moral dari Thaif: Dari Penolakan Menuju Peradaban
Thaif menyimpan pelajaran sejarah yang sangat mendalam. Di kota inilah Rasulullah SAW pernah mengalami salah satu fase paling berat dalam perjalanan dakwahnya. Setelah wafatnya Abu Thalib dan Khadijah RA, beliau datang ke Thaif membawa risalah tauhid dengan harapan memperoleh dukungan. Namun yang diterima justru penolakan, caci maki, dan lemparan batu hingga kedua kaki beliau berdarah.
Dalam keadaan terluka, Rasulullah SAW tidak mendoakan kehancuran penduduk Thaif, tetapi justru memohon petunjuk bagi mereka. Ketika Malaikat Jibril menawarkan agar dua gunung dihimpitkan kepada penduduk Thaif, Rasulullah SAW menjawab:
> "Aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya.". (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Sikap Rasulullah SAW tersebut merupakan puncak akhlak kenabian. Beliau mengajarkan bahwa memaafkan lebih mulia daripada membalas dendam, membina lebih utama daripada menghukum, dan menanam harapan lebih baik daripada memupuk kebencian.
Kini, lebih empat belas abad kemudian, Thaif tampil dengan wajah yang berbeda. Kota yang dahulu menjadi simbol penolakan telah bertransformasi menjadi kota yang damai, hijau, sejuk, maju, serta menjadi salah satu pusat wisata pegunungan dan destinasi penting dalam pengembangan Vision 2030 Kerajaan Arab Saudi. Ribuan tamu dari berbagai negara datang menikmati keindahan alamnya sekaligus mengenang sejarah perjuangan Rasulullah SAW.
Transformasi Thaif mengajarkan bahwa masa lalu yang pahit tidak harus menentukan masa depan. Penolakan dapat berubah menjadi penerimaan, luka dapat melahirkan kemajuan, dan kesabaran dapat melahirkan peradaban. Allah SWT menegaskan:
> "Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 5–6).
Perjalanan menuju puncak Thaif melalui jalan yang berliku, jurang yang dalam, dan pegunungan cadas juga menjadi metafora kehidupan. Setiap tanjakan mengajarkan kesabaran, setiap tikungan mengajarkan kewaspadaan, dan setiap puncak mengingatkan bahwa keberhasilan hanya dapat diraih melalui ikhtiar, keberanian, serta tawakal kepada Allah SWT. Ketegangan yang dirasakan saat berada di gondola akhirnya berubah menjadi kegembiraan ketika tiba di tujuan dengan selamat.
Thaif juga menunjukkan bahwa Islam tidak hanya membangun peradaban spiritual, tetapi juga peradaban sosial, budaya, ekonomi, dan pariwisata. Alam pegunungan yang terawat, infrastruktur gondola yang modern, pusat-pusat wisata keluarga, pertunjukan seni budaya, serta jamuan persaudaraan lintas bangsa membuktikan bahwa kemajuan teknologi dan pembangunan dapat berjalan harmonis dengan nilai-nilai Islam.
Malam di Thaif pun menjadi lebih dari sekadar jamuan makan. Ia menjadi jamuan persaudaraan, jamuan peradaban, dan jamuan harapan. Dari kota yang dahulu menolak Rasulullah SAW, kini lahir pesan besar bagi umat manusia: jangan pernah berputus asa dalam berdakwah, jangan membalas kebencian dengan kebencian, dan jangan berhenti membangun peradaban hanya karena pernah mengalami penolakan.
Bagi setiap Muslim, kunjungan ke Thaif bukan sekadar menikmati panorama pegunungan atau menghadiri jamuan makan malam. Ia merupakan ziarah peradaban yang mengajarkan bahwa iman harus melahirkan kesabaran, sejarah harus melahirkan hikmah, dan pengalaman spiritual harus melahirkan komitmen untuk membangun umat yang bersatu, berilmu, berkemajuan, serta menjadi rahmatan lil 'alamin.soetta21072026.
