![]() |
Oleh: Duski Samad
Peserta Umrah Undangan Raja Salman 08-20 Juli 2026.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Alhamdulillāh, pada 8–20 Juli 2026 penulis termasuk salah seorang dari 38 peserta Indonesia yang memperoleh kehormatan mengikuti Program Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud. Program ini tidak hanya menghadirkan pengalaman ibadah yang mendalam, tetapi juga memperlihatkan bagaimana Kerajaan Arab Saudi memadukan spiritualitas, pendidikan, teknologi, dan pengelolaan warisan sejarah dalam satu ekosistem yang modern.
Salah satu pengalaman yang sangat berkesan adalah kunjungan ke dua museum digital yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan peserta dari 16 negara Asia.
Museum pertama adalah Museum Biografi Nabi Muhammad SAW dan Peradaban Islam di Madinah yang dikunjungi pada Jumat malam, 10 Juli 2026. Museum kedua adalah Museum Wahyu di kawasan Gua Hira, Makkah, yang dikunjungi pada Kamis, 15 Juli 2026.
Yang menarik, hampir seluruh benda yang ditampilkan bukanlah artefak asli. Sebagian besar merupakan replika, visualisasi digital, film dokumenter, animasi tiga dimensi, hologram, peta interaktif, serta rekonstruksi sejarah yang disusun berdasarkan kajian ilmiah dan sumber-sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Teknologi digital menjadikan sejarah terasa hidup. Pengunjung tidak sekadar melihat benda, tetapi seakan-akan diajak memasuki ruang dan waktu ketika peristiwa itu terjadi. Perjalanan hijrah Rasulullah SAW, turunnya wahyu pertama di Gua Hira, perkembangan penulisan Al-Qur'an, hingga perkembangan peradaban Islam divisualisasikan melalui layar raksasa, tata cahaya, audio, dan narasi yang sangat menyentuh.
Pengalaman tersebut benar-benar menghadirkan suasana emosional. Banyak peserta yang larut dalam perenungan karena merasa seolah menyaksikan langsung perjalanan sejarah Islam. Teknologi ternyata bukan mengurangi kekhusyukan, tetapi justru memperkuat pemahaman, memperdalam penghayatan, dan memperluas wawasan.
Pengalaman itu memberikan pelajaran penting bagi kita di Indonesia, khususnya dalam ikhtiar membangun Museum Syekh Burhanuddin Ulakan. Dinamika yang berkembang mengenai lokasi pendirian museum hendaknya tidak menjadi alasan untuk menghentikan cita-cita besar tersebut. Perbedaan pandangan adalah sesuatu yang wajar, tetapi jangan sampai menghambat upaya menyelamatkan warisan sejarah ulama besar Nusantara.
Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa seluruh jejak perjuangan Syekh Burhanuddin dapat diwariskan kepada generasi mendatang secara menarik, ilmiah, dan mudah diakses. Esensi museum bukan hanya bangunannya, melainkan kemampuan museum menghadirkan sejarah agar tetap hidup dalam ingatan masyarakat.
Di sinilah digitalisasi museum menawarkan solusi. Dengan teknologi digital, manuskrip, silsilah keilmuan, peta perjalanan dakwah, artefak budaya, foto-foto lama, rekonstruksi surau, jaringan murid, tradisi Basapa, hingga perkembangan Tarekat Syattariyah dapat disajikan secara interaktif tanpa harus bergantung sepenuhnya pada keberadaan benda asli.
Model seperti ini juga dapat meredam perbedaan mengenai lokasi fisik museum. Selama seluruh data, dokumentasi, dan narasi terdigitalisasi dengan baik, masyarakat tetap memperoleh pengalaman belajar yang utuh. Bahkan museum digital memungkinkan masyarakat mengakses koleksi dari berbagai daerah dan negara tanpa dibatasi ruang dan waktu.
Digitalisasi juga menghadirkan tata kelola yang lebih profesional. Seluruh sistem dapat dikelola secara transparan melalui teknologi informasi. Penjualan tiket tercatat secara elektronik, jumlah pengunjung dapat dipantau setiap saat, jadwal kunjungan tersusun rapi, pemandu memiliki standar pelayanan, dan laporan keuangan terdokumentasi dengan baik. Pengelolaan seperti ini meminimalkan transaksi yang tidak akuntabel sekaligus meningkatkan kepercayaan publik.
Di museum-museum yang kami kunjungi di Arab Saudi, seluruh proses berlangsung tertib. Operator bekerja sesuai tugasnya, pemandu memberikan penjelasan yang sistematis, alur kunjungan jelas, pelayanan ramah, dan pengunjung merasa puas. Profesionalisme menjadi bagian dari dakwah melalui pelayanan yang berkualitas.
Ke depan, Museum Syekh Burhanuddin idealnya tidak hanya menjadi tempat menyimpan benda-benda bersejarah. Museum tersebut harus berkembang menjadi pusat literasi Islam, pusat studi sejarah Minangkabau, pusat dokumentasi manuskrip, laboratorium kebudayaan, destinasi wisata religi, sekaligus pusat pendidikan digital yang mampu menjangkau generasi muda.
Museum masa depan bukan lagi sekadar ruang penyimpanan artefak, melainkan ruang belajar yang memadukan sejarah, teknologi, pendidikan, dan spiritualitas. Dengan cara itu, warisan Syekh Burhanuddin tidak hanya dikenang, tetapi terus hidup, dipelajari, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi yang akan datang.
Pengalaman di Madinah dan Makkah memberikan keyakinan bahwa investasi terbesar sebuah museum bukan semata-mata bangunannya, melainkan kualitas narasi, digitalisasi koleksi, profesionalisme pengelolaan, dan kemampuannya menghidupkan kembali jejak peradaban.
Inilah pelajaran berharga yang patut kita bawa pulang dari Tanah Suci: merawat sejarah dengan teknologi, menjaga warisan dengan ilmu pengetahuan, dan menghadirkan peradaban Islam kepada generasi masa depan melalui inovasi yang berkelanjutan. 21072026.
