![]() |
Oleh: Duski Samad
Diskusi bersama peserta umrah undangan Raja Salman di Bandara Soetta Jakarta. 20072026.
Program Vision 2030 yang digagas Kerajaan Arab Saudi merupakan salah satu transformasi terbesar dalam sejarah modern dunia Islam. Umrah tidak lagi diposisikan semata sebagai ibadah ritual, tetapi dikembangkan menjadi sebuah ekosistem yang memadukan spiritualitas, pendidikan, peradaban, pariwisata, dan ekonomi. Pengalaman penulis sebagai peserta Program Umrah Tamu Khadim Al-Haramain Al-Syarifain Raja Salman memperlihatkan secara nyata arah transformasi tersebut.
1. Umrah dan Ziarah: Membangun Spiritualitas
Fokus utama Vision 2030 tetap menempatkan ibadah sebagai inti pelayanan. Digitalisasi layanan, transportasi modern, pengelolaan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, serta kemudahan akses menuju lokasi-lokasi bersejarah membuat jamaah dapat beribadah dengan lebih nyaman dan khusyuk.
Yang menarik, umrah kini semakin inklusif. Kerajaan Arab Saudi menyediakan berbagai pilihan akomodasi, mulai dari hotel bintang lima, hotel kelas menengah, apartemen, hingga penginapan sederhana dan rumah-rumah penduduk yang memenuhi standar pelayanan. Dengan demikian, setiap Muslim dapat melaksanakan umrah sesuai kemampuan ekonominya.
Namun, ketika berada di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, seluruh perbedaan kelas ekonomi melebur. Jamaah dengan fasilitas VIP, jamaah reguler, maupun jamaah berbiaya hemat bertawaf mengelilingi Ka'bah yang sama, bersa'i di tempat yang sama, dan bersujud di masjid yang sama. Kemuliaan bukan ditentukan oleh hotel atau fasilitas, melainkan oleh ketakwaan, sebagaimana firman Allah SWT: "Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13).
2. Educational Tourism: Makkah sebagai Ummul Qura
Vision 2030 mengembalikan Makkah pada identitasnya sebagai Ummul Qura, pusat pembelajaran umat manusia. Umrah tidak lagi sekadar perjalanan ibadah, tetapi juga menjadi perjalanan intelektual.
Jamaah diajak memahami sejarah Islam melalui museum, pusat kajian, Percetakan Al-Qur'an Raja Fahd, perpustakaan, dan berbagai situs sejarah. Perjalanan umrah menjadi ruang belajar yang menghubungkan Al-Qur'an, hadis, sejarah, arkeologi, hingga perkembangan peradaban Islam.
Dengan pendekatan ini, jamaah tidak hanya membawa oleh-oleh dari Tanah Suci, tetapi juga membawa ilmu, wawasan, inspirasi, dan semangat membangun masyarakatnya.
3. Civilization: Museum sebagai Narasi Peradaban
Pembangunan Museum Nabi, Museum Wahyu, museum sejarah Makkah dan Madinah, serta berbagai pusat informasi memperlihatkan bahwa Arab Saudi sedang membangun narasi baru tentang peradaban Islam.
Museum tidak lagi dipahami sebagai tempat menyimpan benda-benda lama, tetapi menjadi media edukasi yang menghidupkan kembali perjalanan para nabi, sejarah turunnya wahyu, perkembangan mushaf Al-Qur'an, hingga kontribusi peradaban Islam terhadap ilmu pengetahuan dunia.
Melalui pendekatan ini, dunia diperkenalkan kepada Islam bukan hanya sebagai agama ritual, tetapi juga sebagai agama ilmu, sejarah, dan peradaban.
4. Religious Tourism: Spiritualitas Bertemu Keindahan Alam
Vision 2030 juga mengembangkan religious tourism yang mengintegrasikan ibadah dengan wisata sejarah, budaya, dan alam.
Selain Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, jamaah dapat menikmati perjalanan ke Al-Hada Thaif dengan gondolanya yang terkenal, kawasan Laut Merah, Bukit Magnet (Magnetic Hill), perkebunan kurma, kawasan pegunungan, serta berbagai situs sejarah Islam dan peninggalan peradaban kuno.
Transformasi ini memperlihatkan bahwa perjalanan ke Arab Saudi bukan sekadar memenuhi kewajiban ibadah, tetapi juga memperluas wawasan tentang sejarah, geografi, budaya, dan kemajuan sebuah bangsa yang sedang membangun masa depannya.
5.Perdagangan: Sinergi Teologi, Psikologi, dan Ekonomi
Sektor perdagangan menjadi salah satu pilar penting Vision 2030. Kehadiran jutaan jamaah setiap tahun menciptakan aktivitas ekonomi yang sangat besar.
Fenomena tersebut didorong oleh dua faktor utama.
Pertama, motif teologis. Banyak jamaah membeli kurma, air zamzam, sajadah, parfum, tasbih, dan berbagai produk khas karena diyakini membawa keberkahan (barakah) dari Tanah Suci.
Kedua, motif psikologis. Jamaah ingin membawa buah tangan sebagai ungkapan kasih sayang kepada keluarga, sahabat, dan kerabat di tanah air. Oleh-oleh menjadi simbol ikatan emosional setelah menunaikan ibadah.
Di Makkah dan Madinah berkembang pusat-pusat perdagangan modern yang berdampingan dengan pasar rakyat tradisional. Hotel, pusat kuliner, toko-toko, dan pasar hidup hampir sepanjang hari.
Menariknya, pada sebagian pasar tradisional maupun pusat kuliner, harga tidak selalu dicantumkan secara tetap. Nilai transaksi sering mengikuti proses tawar-menawar atau kesepakatan antara penjual dan pembeli. Tradisi perdagangan klasik Timur Tengah tetap dipertahankan berdampingan dengan sistem perdagangan modern.
Bagi jamaah Indonesia, melemahnya nilai rupiah terhadap riyal menjadi tantangan tersendiri. Harga barang terasa relatif mahal. Karena itu diperlukan kebijaksanaan dalam mengelola pengeluaran selama berada di Tanah Suci. Namun demikian, kuatnya motivasi spiritual membuat aktivitas ekonomi tetap berjalan dinamis.
Refleksi
Vision 2030 memperlihatkan bahwa agama dan pembangunan tidak harus dipertentangkan. Spiritualitas dapat berjalan berdampingan dengan pendidikan, pelestarian sejarah, pengembangan pariwisata, kemajuan teknologi, dan pertumbuhan ekonomi.
Arab Saudi sedang mentransformasikan umrah menjadi spiritual journey, educational journey, civilization journey, tourism journey, sekaligus economic journey.
Bagi Indonesia, pengalaman ini memberikan pelajaran penting bahwa pengelolaan haji dan umrah di masa depan tidak cukup hanya berorientasi pada pelayanan ibadah. Ia perlu dikembangkan sebagai instrumen peningkatan literasi keislaman, penguatan karakter, pengembangan ekonomi umat, diplomasi budaya, dan pembangunan peradaban Islam yang berkelanjutan.20072026.
