![]() |
| Gazali Tuanku Sidi Tukang |
Padang Pariaman, -- Gazali Tuanku Sidi Tukang lahir di Apa, Nagari Lareh Nan Panjang, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat pada 1901. Beliau termashur di kampungnya, Ampalu, tempat rujukan bagi para tuanku yang baru pulang mengaji dari berbagai surau dan pesantren.
Masa Kecil
Gazali Tuanku Sidi Tukang sejak kecil sampai akhir hayatnya banyak menghabiskan waktunya di surau. Awal mengaji di Surau Apa, kampungnya sendiri. Di Surau Apa bermukim seorang ulama, Muhammad Syarif namanya.
Kiprah Surau Apa dan Syekh Muhammad Syarif di Ampalu, VII Koto Sungai Sariak, Kabupaten Padang Pariaman pada awal tahun 1900-an merupakan bagian penting dari pusat transmisi keilmuan Islam dan jaringan Tarekat Syattariyah di Minangkabau.
Transmisi dan Pusat Tarekat Syattariyah
Pada awal abad ke-20 (sekitar tahun 1900-an), Surau Apa di Ampalu menjadi salah satu basis pengajaran tasawuf yang sangat berpengaruh. Berdasarkan catatan silsilah dan naskah ijazah kuno (salah satunya bertitimangsa tahun 1334 Hijriah atau sekitar 1916 Masehi), Syekh Muhammad Syarif menerima otoritas keagamaan dari gurunya, Syekh Abdurrahman.
Mencapai Maqam Irshad: Syekh Muhammad Syarif dipandang telah mencapai tingkatan spiritual tertinggi (maqam irshad) yang membuatnya berhak membimbing murid. Otoritas Mursyid: Beliau memegang ijazah resmi untuk mengajarkan amalan zikir, tawajuh, dan membimbing jamaah dalam Tarekat Syattariyah di wilayah VII Koto Sungai Sariak dan sekitarnya.
Jaringan Keulamaan Lokal (Silsilah Keilmuan)
Surau Apa tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi simpul penting dalam jaringan intelektual Islam tradisional (kaum tua) di Sumatera Barat. Hubungan keilmuan Syekh Muhammad Syarif tersambung dengan tokoh-tokoh ulama besar pada masanya, seperti Angku Qadi Tanjung Ampalu Koto Tujuh, yang jalurnya terus bersambung ke guru-guru di Padang Ganting hingga Talawi. Keberadaan Surau Apa memperkuat posisi geografis Padang Pariaman sebagai salah satu rahim utama penyebaran islamisasi tradisional selain wilayah Luhak Nan Tigo.
Institusi Pendidikan dan Sosial Masyarakat
Seperti karakteristik umum surau di Minangkabau pada era 1900-an, Surau Apa di Ampalu berfungsi ganda: Pendidikan Karakter & Keagamaan: Tempat para pemuda setempat bermukim untuk belajar membaca Al-Qur'an, hukum Islam (fikih), tafsir, serta bahasa Arab. Benteng Sosial di Masa Kolonial: Di tengah tekanan pemerintah Hindia Belanda pada awal abad ke-20, komunitas surau tradisional seperti Surau Apa menjadi ruang bagi masyarakat untuk menjaga kemandirian budaya, spiritual, dan sosial dari pengaruh luar.
Kelak, setelah Muhammad Syarif tidak ada, Gazali pulang mengaji, beliau yang memimpin dan menghidupkan gairah pengajian di surau itu, sampai menapaki masa kejayaan yang amat sangat luar biasa. Gazali Tuanku Sidi Tukang sejak mudanya pandai keterampilan bertukang. Konon, di luar jam mengaji, Gazali ini bekerja sebagai tukang.
Sejak jadi kuli tukang sampai beliau menjadi urang tuo tukang. Rumahnya, beliau sendiri yang mengerjakan, termasuk renovasi Surau Apa, dan banyak rumah masyarakat, Gazali Tuanku Sidi Tukang ini yang menjadi tukangnya.
Bahkan, Gazali Tuanku Sidi Tukang tersebut sebagai tokoh yang serba bisa. Tak hanya bangunan rumah, membuat sandal dari kayu, membuat lemari dan perabotan lainnya, beliau terkenal mahir. Ungku Tukang sebagai sebutan pada beliau yang paling mashur.
Turun Bersama 40 Anak Siak dengan Syekh Dawamad Ungku Panjang dari Koto Tuo ke Ujuang Gunuang
Ceritanya, setelah beranjak remaja, lama mengaji di kampung dengan Muhammad Syarif, di Surau Apa, Gazali merantau ke darek. Merantau, mencari ilmu. Tepatnya ke Koto Tuo, Kabupaten Agam, dengan Syekh Aluma. Kajinya meningkat, mengajinya semakin tekun. Di Koto Tuo, pergaulan Gazali Tuanku Sidi Tukang kian banyak dan bertambah pula.
Setelah berbilang tahun di Koto Tuo, tiba pula Ungku Panjang, datang mengaji ke situ. Ungku Panjang mengaji di usia yang tidak muda, seperti Gazali Tuanku Sidi Tukang.
Pada tahun 1930, Syekh Dawamad Tuanku Panjang menyelesaikan pendidikannya di Koto Tuo. Beliau turun dari Koto Tuo dan kembali ke Sungai Sariak, VII Koto, ke kampung halamannya. Dianugerahi gelar "Tuanku Panjang" karena postur tubuhnya yang tinggi dan besar. Awalnya, beliau diamanahkan oleh masyarakat mendiami dan mengajar di Buluah Kasok, sebuah surau sederhana, namun saat itu penjajah merajalela mengincar para ulama, aktivitas mengajarnya tidak berjalan lancar. Akhirnya beliau meninggalkan Surau Buluah Kasok.
Tidak lama setelah itu, beliau kembali ke Koto Tuo menemui Syekh Aluma dan meminta arahan langkah apa yang sebaiknya dilakukan. Sesaat Syekh Aluma menatap langit, kemudian berkata: "Di Sungai Sariak Ujung Gunuang dirikanlah Pondok Pesantren,". Syekh Ungku Panjang langsung mengiyakannya dengan penuh keyakinan. Syekh Aluma membekalinya dengan santri baru sebanyak 40 orang. Syekh Ungku Panjang kembali ke Sungai Sariak diiringi oleh santri baru dan semangat baru, dikepalai santri senior tiga orang yang ahli di bidangnya masing-masing yaitu: 1.Tuanku Imam Enek, yang kemudian masyhur dengan panggilan Buya Ungku Imam Cacang. 2.Tuanku Sidi Musa, kemudian masyhur dengan Buya Ungku Sidi Musa Tapakis Ulakan 3.Tuanku Gazali, yang kemudian masyhur dengan Ungku Tukang Ampalu.
Sesampainya di Sungai Sariak, langsung menuju Ujuang Gunuang Sungai Durian. Disebut juga Ujuang Kubu, yang sebelumnya tanah itu sudah diwakafkan kepada Syekh Ungku Panjang. Mereka bekerja sama membangun Pondok Pesantren, kemudian diberi nama Pondok Pesantren Dinul Ma'ruf Islami. Maka masyhurlah namanya "Syekh Dawamad Ungku Panjang Sungai Sariak Ujuang Gunuang".
Pada era 1930-an, Surau Ujuang Gunuang (yang bertransformasi menjadi Madrasah/Perguruan Islam Dinul Ma'ruf) di VII Koto Sungai Sariak, Padang Pariaman, memainkan peran krusial sebagai episentrum modernisasi pendidikan Islam dan basis perjuangan kemerdekaan di wilayah pesisir Minangkabau.
Peralihan ke Sistem Klasikal: Mengikuti arus pembaruan pendidikan di Sumatera Barat, surau tradisional ini mulai meninggalkan sistem halaqah (duduk melingkar di lantai tanpa kurikulum terstruktur). Mereka mengadopsi sistem madrasah atau kelas dengan meja, bangku, papan tulis, serta jenjang tingkatan kelas yang lebih modern.
Kurikulum Integratif: Selain memperdalam kitab kuning dan ilmu alat (Nahwu-Sharaf), lembaga ini mulai memasukkan pengetahuan umum serta memperluas materi muamalah untuk merespons tantangan zaman kolonial.
Basis Pergerakan Kaum Muda dan Politik Kebangsaan
Perlawanan terhadap Kolonial: Era 1930-an merupakan puncak konsolidasi politik organisasi Islam di Minangkabau dalam melawan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Surau Ujuang Gunuang menjadi wadah bertemunya para ulama, santri, dan aktivis pergerakan lokal untuk mendiskusikan gagasan kemerdekaan, anti-penjajahan, dan penolakan terhadap aturan-aturan kolonial (seperti Ordonansi Sekolah Liar).
Afiliasi Gerakan Pembaharu: Lembaga ini menjadi perantara subur bagi masuknya ide-ide pembaharuan Islam dari organisasi besar seperti Sumatera Thawalib maupun Persatuan Muslim Indonesia (PERMI) ke wilayah VII Koto Sungai Sariak.
Agen Pemberdayaan Sosial dan Budaya Masyarakat
Para pemuda tidak hanya diajarkan agama, tetapi juga seni bela diri (silat) dan keterampilan berdagang. Hal ini melahirkan lulusan yang tangguh secara fisik, mandiri secara ekonomi, dan militan.
Pusat Resolusi Konflik: Berfungsi sebagai lembaga mediasi yang menyelaraskan antara hukum adat Minangkabau (Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah) dengan syariat Islam di tingkat nagari.
Cetak Biru Kader Dakwah (Mencetak Ulama dan Guru)
Lembaga ini berhasil melahirkan guru-guru agama, khatib, dan mubaligh yang kemudian menyebar ke berbagai wilayah pelosok Padang Pariaman untuk mendirikan surau-surau cabang maupun mengajar di tengah masyarakat, sehingga memperkuat jaringan intelektual Islam di daerah pesisir. Keterkaitan surau ini dengan jaringan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) atau Sumatera Thawalib. Pengaruh dinamika politik lokal di VII Koto Sungai Sariak terhadap kebijakan kolonial.
Kembali ke Surau Apa
Setelah sekian tahun di Perguruan Islam Dinul Ma'ruf atau Surau Ujuang Kubu dengan Ungku Panjang, beliau dikukuhkan jadi "Tuanku Sidi Tukang". Kembali pulang kampung, melanjutkan proses belajar mengajar di Surau Apa, kampungnya sendiri.
Surau Apa kembali bersemi, menjadi pusat keilmuan. Anak-anak kampung mengaji Qur'an, pun anak siak yang mengaji kitab berdatangan ke Surau Apa ini. Masyarakat dari berbagai nagari terdekat sekitar Ampalu dan VII Koto Sungai Sariak, menjadikan Surau Apa tempat menjalang guru, mendalam kajian tuo, mingguan Tarekat Syattariyah.
Pun Gazali Tuanku Sidi Tukang berhabis waktu, melakukan wirid pengajian umum dan pengajian Tarekat Syattariyah di banyak surau dan masjid di sekitar VII Koto lama, yang mencakup VII Koto Sungai Sariak, VII Koto Patamuan, dan VII Koto Padang Sago.
Sekedar menyebut nama, Ismael Tuanku Mudo, anak Syekh Aluma Koto Tuo, sempat mengaji di Surau Apa ini. Dengan adanya anak Syekh Aluma Koto Tuo diserahkan mengaji dengan Gazali Tuanku Sidi Tukang, ketersambungan sanad keilmuan Gazali Tuanku Sidi Tukang ke Koto Tuo kian kuat dan kokoh.
Wirid dan ziarah setahun sekali Gazali dan jemaahnya ke Koto Tuo, saat bulan Rajab terpatri kuat, sampai sekarang, setelah Gazali Tuanku Sidi Tukang wafat, dijalankan oleh murid-muridnya. Muridnya yang meneruskan tradisi mengaji dan ziarah ke Koto Tuo itu, diantaranya, Manshurddin Tuanku Sidi, Abdurrahim Tuanku Bagindo, Adam Tuanku Majolelo, Rajilis Tuanku Sidi.
Gazali Tuanku Sidi Tukang wafat tahun 1989, dimakamkan di Puncak Panggong, Apa, Nagari Lareh Nan Panjang, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak.
Tempat Basapa
Puncak Ponggong adalah tempat makam ulama. Muhammad Syarif, guru spiritual pertama Gazali Tuanku Sidi Tukang di situ dimakamkan. Makanya, setahun sekali Gazali Tuanku Sidi Tukang menggelar kegiatan Basapa di situ. Basapa dihadiri banyak urang siak pandai dikie, terutama yang pernah mengaji dengan Gazali Tuanku Sidi Tukang. Basapa sekali setahun itu diadakan setiap bulan Rajab. Sampai kini, kegiatan Basapa tetap dilakukan.
Kini, kegiatan Basapa di Puncak Panggong itu digerakkan oleh Adam Tuanku Majolelo dan Abdurrahim Tuanku Bagindo, serta tuanku lainnya, yang menyandarkan keilmuannya ke Gazali Tuanku Sidi Tukang ini.
Gazali Tuanku Sidi Tukang wafat meninggalkan tiga orang istri dan empat orang anak, diantara anak beliau, tersebut bernama Muih, Nazir, Raihanah. (AD)
Referensi:
1. 1. Wawancara dengan H. Muhammad Nizaf Tuanku Sidi, Kamis 18 Juni 2026 di Limpato Sungai Sariak. Muhammad Nazif adalah anak kandung Manshurddin Tuanku Sidi. Setelah sekolah di Ambuang Kapua, Muhammad Nizaf Tuanku Sidi mengaji di Pondok Pesantren Darul Ulum Padang Magek, Tanah Datar. Muhammad Nizaf juga tercatat sebagai salah seorang juri MTQ tingkat Kabupaten Padang Pariaman.
2. [https://www.researchgate.net](https://www.researchgate.net/publication/343132490_Peran_Surau_Syaikh_Burhanuddin_sebagai_Lembaga_Pendidikan_Islam_Tradisional_di_Pariaman_Sumatera_Barat/fulltext/5f18399aa6fdcc9626a6a238/Peran-Surau-Syaikh-Burhanuddin-sebagai-Lembaga-Pendidikan-Islam-Tradisional-di-Pariaman-Sumatera-Barat.pdf)
3. https://www.mu-online1.com/2025/07/dawamad-haji-syekh-tuanku-panjang-1886.html?m=1
4. [https://id.wikipedia.org](https://id.wikipedia.org/wiki/Surau)
