![]() |
| Muhammad Zen Tuanku Sutan |
MU-ONLINE, Padang Pariaman, -- Muhammad Zen Tuanku Sutan, lahir di Lubuak Laweh, Tandikek, Kecamatan VII Patamuan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat 8 Februari 1945, lima bulan menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia. Beliau terkenal dan tersebut sebagai ulama besar yang banyak mengembangkan kajian tasawuf lewat Tarekat Syattariyah. Untuk bidang studi kaji tuo ini, Pondok Pesantren Darul Ulum Padang Magek, Tanah Datar sengaja mendatangkan Muhammad Zen Tuanku Sutan, untuk membimbing kajian tasawuf sekali sebulan dalam rentang 1993-1995 ke pesantren itu.
Dari Surau
Masa kecilnya, Muhammad Zen menjalani pendidikan agama, di samping langsung dari orangtuanya, beliau juga mengaji di surau dan masjid yang ada di Lubuak Laweh, Tandikek dulunya. Zaman setelah proklamasi kemerdekaan itu, surau menjadi pusat pendidikan utama.
Pusat pendidikan surau terkenal di Mudiak Padang, Nagari Tandikek setelah Indonesia merdeka adalah Surau Gadang Tandikek, yang saat ini juga dikenal sebagai Masjid Raya Mudiak Padang atau Masjid Raya Katik Sangko. Meskipun secara nasional sistem pendidikan surau tradisional di Minangkabau banyak yang merosot atau bertransformasi menjadi madrasah dan pesantren modern pasca-kemerdekaan, Surau Gadang Tandikek di Mudiak Padang berhasil mempertahankan eksistensinya.
Pusat Keagamaan dan Adat yang Bertahan
Hingga periode setelah kemerdekaan, surau ini tetap berdiri kokoh sebagai pusat kegiatan keislaman bagi masyarakat Nagari Tandikek. Selain sebagai tempat ibadah shalat dan pengajian ilmu agama, lembaga ini berfungsi sebagai ruang mediasi untuk menyelesaikan berbagai persoalan agama maupun sengketa adat (adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah) yang terjadi di tengah masyarakat.
Tradisi Pernaskahan Islam yang Maju
Berdasarkan kajian filologi dan sejarah lokal, Surau Mudiak Padang Tandikek tercatat memiliki tradisi pernaskahan (manuskrip) Islam yang sangat maju. Pada masa pasca-kemerdekaan, surau ini masih menyimpan warisan dokumen keagamaan penting yang ditulis tangan, di antaranya: Tiga buah naskah teks suci Al-Qur'an kuno. Kitab Khutbah Hari Raya Idul Adha kuno. Berbagai macam Kitab Fikih tradisional.
Keberadaan naskah-naskah ini menjadi bukti nyata bahwa metode pengajaran agama Islam tradisional berbasis penelaahan kitab kuning (kitab gundul) masih terus diwariskan kepada generasi muda di Tandikek.
Jaringan Keilmuan Ulama dan Tarekat
Secara historis, wilayah Tandikek Mudiak Padang dipengaruhi oleh jaringan keilmuan para pengikut Syekh Burhanuddin Ulakan. Salah satu ulama besar pembawa jaringan ini di masa lalu adalah Tuanku Mudik Padang, yakni Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu (1868-1950). Setelah Indonesia merdeka, pengaruh pengajaran agama tradisional dan Tarekat Syattariyah tetap melekat kuat pada aktivitas keagamaan di daerah ini, termasuk pelaksanaan tradisi khutbah dan zikir khusus di lingkungan surau dan masjid sekitarnya.
Madinatul Ilmi Islamiyah Buluah Kasok
Setelah di kampungnya, Mudiak Padang, Tandikek, tamat sekolah rakyat, Muhammad Zen Tuanku Sutan pindah dan diserahkan mengaji oleh orangtuanya ke Syekh Tawaf Tuanku Sidi, yakni Pondok Pesantren Madinatul Ilmi Islamiyah Buluah Kasok, Sungai Sariak.
Di sini bermula kisah panjang dan mendalam Muhammad Zen Tuanku Sutan dengan guru tuonya, Buya Khaidir Pakiah Kayo. Baru setahun, dua tahun di Sungai Sariak, Buya Khaidir Pakiah Kayo pindah dan pulang kampung. Tidak pulang kampung barang sebentar, tapi pulang untuk mengasak benih dari persemaiannya. Terkenal dan mashur di Minangkabau, tidak ada benih yang besar di persemaian.
Oleh Syekh Tawaf Tuanku Sidi, Buya Khaidir Pakiah Kayo diizinkan pulang kampung, untuk mengembangkan pondok pesantren ala surau di Bukit Tandang, Kabupaten Solok, kampungnya sendiri. Ibarat benih, tanda-tanda, Buya Khaidir Pakiah Kayo ini akan jadi ulama besar, jadi tokoh pendidik yang matang, sudah dilihat oleh Syekh Tawaf Tuanku Sidi.
Diizinkan pulang kampung, sekaligus diberi modal. Ada sejumlah anak siak yang ikut ke Bukit Tandang bersama Buya Khaidir Pakiah Kayo ini. Salah satunya, Muhammad Zen Tuanku Sutan ini.
Pada dekade 1950-an, Pondok Pesantren (Ponpes) Madinatul Ilmi Islamiyah yang terletak di Korong Buluah Kasok, Nagari Sungai Sariak, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, Kabupaten Padang Pariaman, berada pada fase awal pertumbuhan sebagai institusi pendidikan tradisional (halaqah/surau) khas Minangkabau.
Meskipun catatan sejarah spesifik bertuliskan angka tahun per tahun dari era 1950-an sangat terbatas, kondisi umum klaster pesantren tradisional di wilayah Sungai Sariak dan Padang Pariaman pada masa tersebut dapat digambarkan melalui beberapa aspek berikut: Sistem Pendidikan Berbasis Tradisi Surau (Kitab Kuning)
Metode Pembelajaran: Sama seperti institusi sejenis di Padang Pariaman pada era 1950-an, pembelajaran berpusat pada metode halaqah, mengaji duduk, sorogan, dan wetonan. Kurikulum: Fokus utama pembelajaran adalah pendalaman Kitab Kuning (Kitab Gundul). Santri diwajibkan menguasai fan-fan ilmu agama klasik seperti ilmu Nahwu dan Saraf (tata bahasa Arab), Fikih Syafi'i, Tauhid/Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja), serta Tafsir.
Status Kelulusan dan Gelar "Tuanku"
Pesantren ini mempertahankan tradisi kultural yang sangat kuat dalam mencetak kader ulama lokal. Hingga saat ini, santri tingkat Ulya (setara SMA) yang menyelesaikan pendidikannya secara penuh akan dikukuhkan dengan Gelar Tuanku (seperti gelar kemasyarakatan keagamaan di Padang Pariaman). Sistem ini polanya sudah dirintis dan mengakar kuat sejak pertengahan abad ke-20.
Sarana dan Prasarana yang Sangat Sederhana
Pada tahun 1950-an, fasilitas fisik pondok pesantren di wilayah ini umumnya masih terbuat dari bahan kayu, bambu, dan beratap rumbia atau seng sederhana. Hubungan akomodasi berpusat pada sebuah surau utama sebagai tempat ibadah sekaligus tempat tidur bagi santri pria (sarana menginap). Kondisi sanitasi dan bangunan penunjang masih bersifat swadaya lingkungan, sangat kontras dengan era modern saat ini yang sudah memiliki gedung serbaguna permanen.
Ekosistem Sosial Tradisi "Mamakiah"
Padang Pariaman pada tahun 1950-an merupakan era subur bagi tradisi keagamaan tradisional. Santri-santri yang menuntut ilmu di Madinatul Ilmi Islamiyah hidup membaur dengan masyarakat Korong Buluah Kasok melalui tradisi mamakiah (pergi ke rumah warga atau pasar tradisional untuk mendapatkan bantuan pangan/sedekah demi menyambung hidup selama belajar di pondok).
Secara keseluruhan, dekade 1950-an bagi Ponpes Madinatul Ilmi Islamiyah Buluah Kasok merupakan periode penempaan fondasi ideologis keagamaan yang murni, mandiri, dan berakar pada tradisi keulamaan lokal sebelum akhirnya berkembang menjadi yayasan terstruktur seperti yang kita kenal sekarang.
Solok, Sijunjung, dan Balik ke Sungai Sariak
Tentu kepulangan Buya Khaidir Pakiah Kayo ke Solok, dilepas secara resmi oleh Syekh Tawaf Tuanku Sidi, Syaikhul Ma'had Madinatul Ilmi Islamiyah Buluah Kasok. Muhammad Zen Tuanku Sutan, satu dari sekian anak siak yang ikut bersama Buya Khaidir Pakiah Kayo ini.
Bagi Muhammad Zen Tuanku Sutan yang sejak awal di Sungai Sariak dalam asuhan Buya Khaidir Pakiah Kayo tak merasa asing di lingkungan baru itu. Hanya suasana yang sedikit berbeda dengan di Padang Pariaman. Solok terasa sejuk, sementara Padang Pariaman terkenal hangat.
Setahun, bahkan sampai tiga tahun pertama di Solok, tepatnya di Bukit Tandang, Buya Khaidir Pakiah Kayo pindah ke Sijunjung, tempat beliau pertama mengaji dulu, sebelum ke Sungai Sariak. Pindah tak sendirian. Semua anak siak yang ikut dari Sungai Sariak, dan anak siak yang tiba mengaji di Bukit Tandang, ikut pula pindah bersama gurunya.
Ibarat benih yang baru mulai disemaikan di tanah kelahirannya, terasa kurang cocok, dan beliau memilih pindah, mengangkut semua anak siak ke Sijunjung. Muhammad Zen Tuanku Sutan pun ikut ke Sijunjung ini. Tentu, kearifan lokal Solok dengan Sijunjung, meski sama-sama darek, pedalaman Minangkabau, ada juga yang berbeda di antara dua daerah itu.
Bagi Muhammad Zen Tuanku Sutan, suasana demikian menjadi pelajaran tersendiri. Masih lajang, matang dengan ilmu pengetahuan surau karena dari kampung selalu di surau, kian merasakan nilai-nilai keminangkabauannya.
Bahkan, saat di Bukit Tandang ini, Muhammad Zen Tuanku Sutan sempat punya anak siak asuhan. Di lembaga pendidikan surau, terkenal anak siak senior membimbing anak siak yunior. Salah satu anak siak asuhan Muhammad Zen Tuanku Sutan adalah Buya Syofyan Marzuki Tuanku Bandaro, yang diajaknya pindah mengaji dari Padang Magek ke Solok, Surau Buya Khaidir Pakiah Kayo, yang bernama Pondok Pesantren Nurul Huda.
Setelah dari Sijunjung, Muhammad Zen Tuanku Sutan pindah dan balik ke Sungai Sariak. Demikian, seiring dengan kepindahan Buya Khaidir Pakiah Kayo balik ke kampungnya, Bukit Tandang. Ada indikasi, kalau Muhammad Zen Tuanku Sutan sengaja disuruh oleh Buya Khaidir Pakiah Kayo untuk balik kembali ke Sungai Sariak bersama Syekh Tawaf Tuanku Sidi.
Tak lama di Sungai Sariak, karena sejak awal sudah diketahui oleh Syekh Tawaf Tuanku Sidi, Muhammad Zen Tuanku Sutan pun dikukuhkan jadi tuanku, dihormati kajinya.
Patuh dan Menghormati Guru
Muhammad Zen Tuanku Sutan terkenal sebagai anak siak yang patuh sama guru. Sekecil apapun kaji yang diajarkan guru, selamanya guru itu dipatuhi oleh Muhammad Zen Tuanku Sutan ini. Disuruh pindah bersama guru tuonya, beliau turuti, tak ingin membantah dan melawan guru.
Meski sudah guru tuo, dikukuhkan jadi tuanku, Muhammad Zen tetap di Madinatul Ilmi Islamiyah Buluah Kasok ini. Bahkan, sampai beliau diterima masyarakat sebagai menantunya, beliau tetap tinggal dan menetap di Buluah Kasok.
Ada beberapa tahun lamanya, Muhammad Zen ini berulang ke rumah mertuanya di Padang Sago dari Madinatul Ilmi Islamiyah Buluah Kasok ini. Pakai sepeda. Dari Buluah Kasok terus ke Koto Baru, sebentar lagi arah ke Barat sampai di rumah istrinya di Padang Sago.
Jejak di Padang Magek
Di Pondok Pesantren Darul Ulum Padang Magek, Kecamatan Rambatan, Kabupaten Tanah Datar, Muhammad Zen Tuanku Sutan punya rekam jejak yang luar biasa. Tercatat, dari 1993-1995, Muhammad Zen Tuanku Sutan aktif mengulang kaji sebulan sekali. Khusus mengajar kajian tasawuf lewat Tarekat Syattariyah. Wiridnya malam hari. Paginya, beliau diminta mengulang kaji tafsir dan fiqh di pesantren itu.
Bahkan, di surau dan masjid di sekitar Padang Magek, Muhammad Zen Tuanku Sutan ikut diminta jadi guru rutin mengulang mingguan masyarakat. Seperti masjid di Pauah, Galo Gandang, Padang Lua, Turawan, bahkan ada pula wirid mingguannya di salah satu masjid di Ombilin.
Sementara, di VII Koto Sungai Sariak sendiri, terasa tak cukup seminggu itu tujuh hari. Saking banyaknya wirid mingguan yang beliau pimpin di Tandikek, Padang Sago dan VII Koto Sungai Sariak ini.
Belum lagi wirid di suraunya sendiri, yang didirikannya di Tandikek Asli. Di surau yang sederhana itu, tak hanya masyarakat sekitar Tandikek Asli atau Paraman Talang yang sekarang masuk administrasi Tandikek Utara, tapi masyarakat dan jemaah dari sekitaran VII Koto Sungai Sariak berulang mingguan ke Tandikek Asli itu.
Beliau Muhammad Zen Tuanku Sutan terkenal sebagai ulama dan guru spiritual yang istiqamah. Komitmen dengan janji. Jarang wirid mingguan yang sudah ditetapkan di sebuah masjid atau surau, yang tidak diturutinya.
Bila berjalan kaki, langkahnya kencang dan cepat. Makanya, ketika ada anak siak yang mengantarkannya ke tempat naik mobil berjalan kaki, selalu anak siak tinggal jauh di belakang.
Keluarga
Ramai, nama istri Muhammad Zen. Orang Padang Sago yang diangkutnya tinggal di Tandikek Asli oleh Muhammad Zen. Dari perkawinan itu, pasangan Muhammad Zen Tuanku Sutan dan Ramai dikaruniai delapan putra dan putri, yakni Afdanizen, Bisma Zeni, Tinreda Zeni, Mekar Zeni, Nani Ramayana, Assi M. Zen, dan Daral Hakimi M. Zen.
Muhammad Zen Tuanku Sutan wafat 30 September 1996 di Tandikek Asli, di suraunya, sekaligus di dekat surau itu pula rumah dibuatkan untuk anak dan istrinya. Dimakamkan di sebelah surau itu, sekaligus dibuatkan gobah, tempat jemaah dan masyarakat berziarah. (AD)
Referensi:
1. Wawancara dengan Buya Syofyan Marzuki Tuanku Bandaro, Kamis 21 April 2026 di Puncuang Anam dan Ramai di Tandikek Asli. Buya Syofyan Marzuki Tuanku Bandaro adalah anak siak yang mengaji dengan Muhammad Zen Tuanku Sutan di Nurul Huda Bukit Tandang, Solok. Sementara, Ramai adalah istri Muhammad Zen Tuanku Sutan.
2. Wawancara dengan M. Jalil Tuanku Majolelo dan Syahrial Tuanku Mudo Sati, Kamis 25 Juni 2026 lewat sambungan telepon seluler. M. Jalil Tuanku Majolelo adalah alumni Darul Ulum Padang Magek yang sempat lama mengaji Tarekat Syattariyah dengan Muhammad Zen Tuanku Sutan. Kesehariannya, kini tinggal di Tandikek. M. Jalil Tuanku Majolelo juga sering mengikuti MTQ. Dia terkenal ulama yang qori, pandai nyanyi kasidah, suaranya rancak. Sementara, Syahrial Tuanku Mudo Sati adalah alumni Darul Ulum Padang Magek yang baru saja jadi pegawai PPPK di lingkungan Kemenag Padang Pariaman, tepatnya Penyuluh Agama di KUA Kecamatan Padang Sago.
3. [https://padangpariamankab.go.id](https://padangpariamankab.go.id/blog/berita_tampil/bupati-padang-pariaman-wujudkan-pembanguan-mck-dan-gedung-serbaguna-di-pondok-pesantren-madinatul-ilmi-islamiyyah-tk.-jalalen
4. [https://www.lintassumbar.co.id](https://www.lintassumbar.co.id/2023/02/santri-pondok-pesantren-madinatul-ilmi-islamiyah-terima-ijazah.html
5. [https://commons.wikimedia.org](https://commons.wikimedia.org/wiki/Category:Surau_Mudiak_Padang
