![]() |
Oleh: Duski Samad
Peneliti Syekh Burhanuddin dan Islamisasi Minangkabau
Berdasarkan kalender yang sudah disepakati ulama tarekat Syattariyah bahwa setiap Rabu kedua di bulan Syafar mereka melakukan ziarah bersama ke maqam Syekh Burhanuddin Ulakan, kini sudah populer dengan sebutan BASAPA.
Kegiatan BASAPA yang akan diikuti ribuan jamaah ini mestinya ditata dan dikelola lebih baik, terencana dan tentu akan membawa manfaat tambahan bagi masyarakat serta meningkatkan perekonomian. Kehadiran orang dari berbagai daerah membawa efek yang tak sedikit (multi player effeck).
Kompleks Makam Syekh Burhanuddin Ulakan bukan sekadar tempat pemakaman seorang ulama besar, melainkan pusat sejarah Islam Minangkabau, pusat pendidikan spiritual, destinasi wisata religi, sekaligus ruang sosial dan ekonomi masyarakat. Setiap hari, terlebih pada momentum Basapa, ribuan peziarah datang dari berbagai daerah untuk berziarah, berdoa, dan mengenang jasa penyebar Islam di Ranah Minang tersebut.
Semakin besarnya arus peziarah membawa konsekuensi bahwa kawasan ini tidak lagi cukup dikelola secara tradisional. Diperlukan penataan yang komprehensif sehingga nilai-nilai syariat, pelayanan kepada peziarah, kebersihan lingkungan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat dapat berjalan secara seimbang.
Dalam Islam, tujuan setiap pengelolaan ruang publik adalah menghadirkan kemaslahatan. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa Allah mencintai keindahan, kebersihan, keteraturan, dan kemudahan bagi manusia. Karena itu, penataan kawasan Syekh Burhanuddin hendaknya dipahami sebagai bagian dari memuliakan syiar Islam, bukan sekadar pembangunan fisik.
Penataan Makam yang Bersih dan Bermartabat
Kawasan makam merupakan wajah pertama yang dilihat para peziarah. Kebersihan bukan hanya urusan estetika, tetapi juga bagian dari adab Islam. Lingkungan yang bersih akan menghadirkan kenyamanan beribadah sekaligus menunjukkan penghormatan kepada ulama yang telah berjasa menyebarkan Islam.
Budaya gotong royong yang menjadi kekuatan masyarakat Minangkabau perlu dihidupkan kembali. Sebuah gerakan sederhana dapat memberikan dampak besar. Bayangkan apabila setiap jamaah Salat 40 atau setiap peziarah bersedia memungut satu sampah atau satu puntung rokok sebelum meninggalkan kawasan. Ribuan pengunjung setiap hari akan menjadi kekuatan besar dalam menjaga kebersihan kompleks makam.
Gerakan tersebut akan mengubah peziarah dari sekadar pengguna kawasan menjadi bagian dari penjaga warisan peradaban Islam.
Penataan Ibadah yang Tertib
Kawasan Ulakan memiliki banyak surau dan masjid yang hidup dengan berbagai aktivitas ibadah. Kondisi ini merupakan kekayaan spiritual yang patut disyukuri. Namun, pelaksanaan syiar juga memerlukan keteraturan.
Penggunaan pengeras suara, misalnya, seyogianya dikoordinasikan sehingga azan tetap menjadi panggilan yang indah dan jelas didengar masyarakat. Tujuan syariat bukan memperbanyak suara, melainkan memastikan panggilan salat sampai kepada umat dengan baik tanpa menimbulkan gangguan.
Begitu pula kegiatan Salat 40, zikir, pengajian, dan berbagai aktivitas keagamaan perlu memiliki koordinasi yang baik sehingga kawasan makam memancarkan suasana khusyuk, tertib, dan nyaman bagi seluruh peziarah.
Penataan Ziarah yang Syar'i
Tradisi ziarah telah menjadi bagian penting dari kehidupan umat Islam. Namun, ziarah harus terus diarahkan sesuai tuntunan Rasulullah SAW, yaitu untuk mengingat kematian, mendoakan ahli kubur, mengambil pelajaran, dan meneladani perjuangan para ulama.
Karena itu, kawasan makam perlu dilengkapi dengan media edukasi mengenai sejarah Syekh Burhanuddin, sanad keilmuan beliau, adab ziarah menurut syariat, doa-doa yang dianjurkan, serta informasi sejarah Islam Minangkabau. Dengan demikian, setiap orang yang datang tidak hanya memperoleh pengalaman spiritual, tetapi juga memperkaya wawasan keislaman dan sejarah.
Penataan Zona Ekonomi
Besarnya jumlah peziarah merupakan karunia yang juga membawa peluang ekonomi bagi masyarakat. Namun, aktivitas ekonomi hendaknya ditata agar tidak mengurangi kekhusyukan ibadah.
Kawasan perdagangan, parkir, kuliner halal, pusat oleh-oleh, produk UMKM, hingga layanan kebersihan perlu ditempatkan pada zona yang tertata dengan baik. Penataan tersebut bukan bertujuan membatasi rezeki masyarakat, melainkan justru meningkatkan kualitas pelayanan, kenyamanan peziarah, dan daya tarik kawasan wisata religi.
Apabila kawasan ini dikelola secara profesional, maka manfaat ekonomi akan semakin besar sekaligus tetap menjaga kesucian kawasan makam.
Rekomendasi
Untuk mewujudkan kawasan Syekh Burhanuddin sebagai pusat wisata religi yang berkelas dan berkelanjutan, beberapa langkah berikut layak dipertimbangkan:
1. Menyusun Masterplan Penataan Kawasan Wisata Religi Syekh Burhanuddin yang melibatkan pemerintah daerah, Pemerintah Nagari, ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, pengelola makam, akademisi, dan pelaku UMKM.
2. Membentuk Forum Pengelola Kawasan Syekh Burhanuddin sebagai wadah koordinasi lintas lembaga dalam bidang ibadah, kebersihan, keamanan, pendidikan, dan ekonomi.
3. Meluncurkan Gerakan "Satu Jamaah Satu Sampah" sebagai budaya baru kebersihan kawasan yang melibatkan jamaah Salat 40, peziarah, pelajar, dan masyarakat.
4. Menyusun Pedoman Penyelenggaraan Ziarah Syar'i yang memuat adab ziarah, doa-doa, tata tertib kawasan, dan edukasi sejarah Syekh Burhanuddin.
5. Menata penggunaan pengeras suara melalui musyawarah antar pengurus masjid dan surau sehingga syiar Islam tetap kuat, tertib, dan menciptakan suasana yang nyaman.
6. Menata zona ekonomi melalui pengelompokan area parkir, pusat kuliner halal, kios suvenir Islami, serta sentra UMKM berbasis produk unggulan Nagari.
7. Mengembangkan Pusat Informasi dan Museum Syekh Burhanuddin sebagai sarana edukasi sejarah dakwah Islam di Minangkabau dengan pendekatan digital dan interaktif.
8. Menjadikan kawasan Syekh Burhanuddin sebagai pilot project Wisata Religi Berbasis Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, yang mengintegrasikan spiritualitas, pendidikan, budaya, lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Penutup
Syekh Burhanuddin mewariskan lebih dari sekadar sebuah makam. Beliau mewariskan tradisi ilmu, dakwah, akhlak, dan peradaban. Tugas generasi hari ini bukan hanya menjaga bangunan fisiknya, tetapi juga merawat nilai-nilai yang beliau tinggalkan.
Jika kawasan ini mampu ditata secara bersih, tertib, edukatif, religius, dan produktif, maka Komplek Makam Syekh Burhanuddin akan menjadi ikon wisata religi bertaraf nasional bahkan internasional, sekaligus menjadi contoh bagaimana syariat Islam, adat Minangkabau, dan pembangunan masyarakat dapat berjalan beriringan dalam menghadirkan kemaslahatan bagi semua.ds.25062026
