![]() |
Oleh: Duski Samad
Khutbah Jumat Masjid Al Jami'yah UIN Imam Bonjol 18062026
"Inni wajjahtu wajhiya lilladzi fatharas samawati wal ardha hanifan wa ma ana minal musyrikin." (QS. Al-An'am: 79)
Kalimat yang diucapkan Nabi Ibrahim AS ini sesungguhnya bukan sekadar pernyataan akidah, melainkan deklarasi orientasi hidup. Ibrahim tidak hanya mengatakan bahwa Allah adalah Tuhannya, tetapi ia menyatakan bahwa seluruh dirinya, seluruh arah hidupnya, seluruh pikiran dan tindakannya dihadapkan kepada Allah, Sang Pencipta langit dan bumi. Inilah hakikat tauhid yang sesungguhnya. Tauhid bukan hanya pengakuan lisan, tetapi pusat orientasi kehidupan.
Dalam ilmu pengetahuan modern dikenal istilah nucleus, yaitu inti yang menjadi pusat suatu sistem. Dalam atom, seluruh partikel bergerak mengelilingi inti. Jika inti kehilangan fungsi, sistem akan kehilangan keseimbangan. Demikian pula kehidupan manusia. Tauhid seharusnya menjadi nucleus yang mengendalikan cara berpikir, cara merasa, cara bertindak, cara berorganisasi, cara memimpin, bahkan cara membangun peradaban.
Persoalan umat Islam dewasa ini bukanlah kekurangan ajaran tauhid. Hampir seluruh umat Islam menghafal kalimat syahadat, memahami rukun iman, dan mengakui keesaan Allah. Namun pengakuan itu sering berhenti pada wilayah doktrin. Tauhid belum sepenuhnya menjadi energi yang menggerakkan kehidupan. Akibatnya muncul paradoks yang sulit dipahami. Masjid semakin megah, tetapi korupsi masih merajalela. Pendidikan agama berkembang, tetapi penyalahgunaan kekuasaan tetap terjadi. Simbol-simbol keislaman semakin banyak, tetapi kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab belum menjadi budaya yang kuat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa masalah utama umat bukan terletak pada kurangnya pengetahuan tentang tauhid, melainkan belum tuntasnya proses internalisasi tauhid. Tauhid masih berada di kepala, belum sepenuhnya meresap ke dalam hati dan menjelma menjadi perilaku.
Internalisasi tauhid sesungguhnya adalah proses panjang yang mengubah pengetahuan menjadi keyakinan, keyakinan menjadi kesadaran, kesadaran menjadi perilaku, dan perilaku menjadi karakter. Pada tahap inilah tauhid tidak lagi sekadar dipahami, tetapi dirasakan dan dihidupkan.
Karena itu, pendidikan tauhid tidak cukup hanya mengajarkan dalil dan definisi. Tauhid harus ditanamkan sebagai cara pandang terhadap kehidupan. Seorang anak harus memahami bahwa belajar adalah ibadah. Seorang pedagang harus memahami bahwa kejujuran adalah konsekuensi tauhid. Seorang pemimpin harus memahami bahwa kekuasaan adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Seorang akademisi harus memahami bahwa ilmu adalah jalan mengenal kebesaran-Nya.
Proses internalisasi itu memerlukan pembiasaan. Nilai yang tidak dibiasakan akan mudah hilang. Shalat berjamaah, membaca Al-Qur'an, berzikir, berkata jujur, menepati janji, bekerja disiplin, dan menghormati sesama merupakan latihan-latihan kecil yang sesungguhnya sedang membangun karakter tauhid. Melalui kebiasaan yang terus menerus, tauhid berubah menjadi budaya hidup.
Namun pembiasaan saja tidak cukup. Tauhid membutuhkan keteladanan. Manusia lebih mudah belajar dari apa yang dilihat daripada apa yang didengar. Anak-anak belajar tauhid dari perilaku orang tuanya. Murid belajar tauhid dari integritas gurunya. Masyarakat belajar tauhid dari kejujuran pemimpinnya. Karena itu krisis keteladanan sering kali lebih berbahaya daripada krisis pengetahuan. Ketika kata-kata tidak sejalan dengan perbuatan, nilai kehilangan daya pengaruhnya.
Selain keteladanan, tauhid juga membutuhkan dukungan sistem. Tidak adil jika seluruh beban moral dibebankan kepada individu sementara lingkungan sosial justru mendorong perilaku yang bertentangan dengan nilai tauhid. Keluarga, sekolah, organisasi, media, dan pemerintah harus menjadi ruang yang memperkuat nilai-nilai keimanan, kejujuran, amanah, dan tanggung jawab. Tauhid akan tumbuh subur apabila lingkungan sosial memberi penghargaan kepada kebaikan dan memberikan sanksi terhadap penyimpangan.
Di tengah upaya internalisasi itu, umat Islam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks. Jika dahulu manusia menyembah berhala berupa patung, maka hari ini manusia berhadapan dengan berhala-berhala modern yang tidak tampak bentuknya tetapi sangat kuat pengaruhnya.
Ada berhala materialisme yang menjadikan harta sebagai ukuran utama keberhasilan. Ada berhala kekuasaan yang membuat sebagian orang menghalalkan segala cara untuk memperoleh jabatan. Ada berhala popularitas yang mendorong manusia mengejar pengakuan publik melebihi pencarian ridha Allah. Ada pula berhala teknologi yang membuat manusia begitu sibuk dengan perangkat digital hingga kehilangan kedalaman spiritual dan kepekaan sosial.
Dalam realitas seperti ini, tauhid bukan hanya ajaran teologis, tetapi juga kekuatan pembebasan. Tauhid membebaskan manusia dari penghambaan kepada harta, kekuasaan, popularitas, dan berbagai bentuk ketergantungan duniawi. Tauhid mengajarkan bahwa hanya Allah yang layak menjadi pusat orientasi hidup. Segala sesuatu selain Allah hanyalah sarana, bukan tujuan.
Karena itu, tantangan terbesar umat Islam pada abad ini bukan mempertahankan eksistensi tauhid sebagai konsep, tetapi menjadikan tauhid sebagai sistem yang hidup. Tauhid harus hadir dalam kebijakan, dalam pendidikan, dalam ekonomi, dalam budaya, dan dalam kehidupan sosial. Tauhid harus menjadi energi yang melahirkan kejujuran, keadilan, kepedulian, profesionalisme, dan kemajuan.
Dalam konteks Minangkabau, semangat Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah sesungguhnya merupakan upaya menjadikan tauhid sebagai nucleus kehidupan masyarakat. Tauhid tidak ditempatkan hanya di surau atau masjid, tetapi menjadi ruh yang menggerakkan adat, budaya, pendidikan, kepemimpinan, dan kehidupan sosial.
Pada akhirnya, tauhid yang sejati bukan hanya terlihat dalam banyaknya ritual yang dilakukan, tetapi dalam besarnya pengaruh nilai-nilai ilahiah terhadap perilaku manusia. Tauhid yang hidup akan melahirkan manusia yang jujur ketika tidak diawasi, amanah ketika memegang kekuasaan, sederhana ketika memiliki kekayaan, dan tetap istiqamah ketika menghadapi godaan zaman.
Itulah makna terdalam dari ucapan Nabi Ibrahim AS: "Inni wajjahtu wajhiya..." Aku menghadapkan seluruh diriku kepada Allah. Bukan hanya wajah dalam shalat, tetapi pikiran dalam ilmu, hati dalam rasa, tangan dalam kerja, lisan dalam ucapan, organisasi dalam gerakan, dan peradaban dalam pembangunan.
Ketika Allah benar-benar menjadi pusat kehidupan, maka tauhid tidak lagi sekadar menjadi keyakinan, melainkan berubah menjadi kekuatan yang membentuk sejarah, membangun peradaban, dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat manusia. Ds.18062026.
