![]() |
Oleh: Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag
Wakil Ketua Umum PP PERTI
Istilah tarbiyah merupakan salah satu konsep paling mendasar dalam Islam. Ia bukan sekadar istilah pendidikan, melainkan sebuah proses panjang pembentukan manusia agar berkembang sesuai dengan tujuan penciptaannya. Tarbiyah berbicara tentang pertumbuhan, perubahan, pembinaan, dan penyempurnaan diri menuju kedewasaan spiritual, intelektual, moral, dan sosial.
Secara loghatan, tarbiyah berasal dari akar kata rabba-yurabbi-tarbiyatan yang bermakna memelihara, menumbuhkan, mengembangkan, dan menyempurnakan. Kata ini memiliki hubungan langsung dengan nama Allah, Ar-Rabb, Tuhan Yang Maha Memelihara dan Maha Mendidik seluruh alam semesta.
Karena itu, tarbiyah pertama dalam kehidupan manusia adalah tarbiyah ilahiyah. Allah menciptakan manusia dari tiada menjadi ada, kemudian memelihara, mengembangkan, memberi petunjuk, dan mengantarkannya menuju kesempurnaan hidup. Adapun tarbiyah yang dilakukan manusia hanya sebatas membimbing dan mengembangkan potensi yang telah Allah tanamkan dalam diri manusia.
Dalam perspektif pendidikan Islam, tarbiyah adalah proses membangun manusia secara utuh. Tarbiyah tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga membersihkan hati, menguatkan iman, membentuk karakter, dan mengarahkan perilaku. Karena itu para ulama klasik tidak pernah memisahkan ilmu dari akhlak, pengetahuan dari adab, dan kecerdasan dari ketakwaan.
Di Indonesia, istilah tarbiyah memiliki sejarah yang panjang. Ia telah digunakan oleh para ulama Ahlussunnah wal Jamaah dalam sistem pendidikan surau dan madrasah. Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) yang berkembang di Minangkabau sejak awal abad ke-20 merupakan salah satu contoh nyata. Bahkan pada tanggal 5 Mei 1928 lahir Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) sebagai gerakan pendidikan, dakwah, dan sosial kemasyarakatan yang menjadikan pendidikan sebagai instrumen utama membangun umat.
Tarbiyah kemudian berkembang menjadi nama fakultas pendidikan Islam di berbagai IAIN dan UIN. Selanjutnya istilah ini juga digunakan oleh berbagai gerakan dakwah kampus pada akhir abad ke-20. Namun sesungguhnya makna tarbiyah jauh lebih luas daripada sekadar identitas organisasi atau kelompok tertentu. Tarbiyah adalah ruh pendidikan Islam itu sendiri.
Hakikat tarbiyah adalah perubahan menuju kesempurnaan fitrah. Allah telah menanamkan fitrah ketuhanan dalam diri manusia sebagaimana firman-Nya: "Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus; fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu."
(QS. Ar-Rum: 30)
Fitrah ini diperkuat oleh perjanjian primordial ketika Allah bertanya kepada seluruh ruh manusia: "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Benar, kami bersaksi."(QS. Al-A'raf: 172)
Dengan demikian, tarbiyah pada hakikatnya adalah proses mengembalikan manusia kepada fitrahnya dan mengingatkan kembali komitmennya kepada Allah.
Tantangan Tarbiyah di Era Digital
Jika pada masa lalu tantangan pendidikan adalah keterbatasan akses ilmu, maka pada era digital tantangannya justru sebaliknya: banjir informasi tanpa bimbingan nilai.
Generasi hari ini hidup dalam dunia yang sangat berbeda dengan generasi surau dan madrasah dahulu. Mereka tidak lagi belajar hanya dari guru dan buku. Mereka belajar dari internet, media sosial, kecerdasan buatan (AI), video pendek, podcast, dan berbagai platform digital yang tersedia selama dua puluh empat jam.
Kondisi ini menghadirkan peluang sekaligus ancaman.
Di satu sisi, ilmu pengetahuan menjadi sangat mudah diakses. Kitab-kitab klasik yang dahulu sulit diperoleh kini dapat diunduh dalam hitungan detik. Kajian para ulama dunia dapat disaksikan langsung melalui layar telepon genggam. Teknologi bahkan memungkinkan seseorang belajar tanpa batas ruang dan waktu.
Namun di sisi lain, kemudahan itu melahirkan berbagai persoalan baru.
Krisis Otoritas Keilmuan
Dahulu seseorang belajar agama melalui sanad keilmuan yang jelas. Ada guru, ada kitab, ada proses talaqqi, dan ada adab belajar.
Kini banyak orang merasa cukup belajar melalui media sosial. Potongan video satu menit dianggap cukup untuk memahami hukum Islam. Akibatnya lahir generasi yang kaya informasi tetapi miskin metodologi.
Tarbiyah era digital harus mampu mengembalikan penghormatan kepada sanad ilmu, guru, dan tradisi akademik yang benar.
Krisis Karakter
Kemajuan teknologi tidak selalu diiringi dengan kemajuan moral. Kita menyaksikan meningkatnya ujaran kebencian, perundungan digital (cyber bullying), hoaks, fitnah, pornografi, perjudian daring, dan berbagai bentuk penyimpangan perilaku lainnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kecerdasan teknologi tidak otomatis menghasilkan kematangan karakter.
Karena itu pendidikan Islam tidak boleh hanya mengajarkan keterampilan digital, tetapi juga harus membangun adab digital (digital ethics).
Krisis Konsentrasi dan Kedalaman Berpikir
Budaya media sosial telah melahirkan generasi yang terbiasa dengan informasi singkat dan serba cepat. Mereka membaca judul tanpa isi, menyimpulkan tanpa kajian, dan bereaksi tanpa refleksi.
Padahal peradaban Islam dibangun oleh tradisi membaca, menelaah, berdiskusi, dan berpikir mendalam.
Tarbiyah masa depan harus melatih kemampuan berpikir kritis, berpikir reflektif, dan kemampuan melakukan perenungan (tafakkur) yang menjadi tradisi ulama sepanjang sejarah.
Krisis Spiritualitas
Kemajuan teknologi sering kali membuat manusia semakin terhubung dengan dunia tetapi semakin jauh dari dirinya sendiri.
Banyak orang memiliki ribuan teman virtual tetapi merasa kesepian. Banyak yang memiliki akses informasi tanpa batas tetapi kehilangan makna hidup. Banyak yang aktif di media sosial tetapi tidak memiliki kedekatan dengan Allah.
Karena itu salah satu tugas utama tarbiyah era digital adalah membangun kembali dimensi ruhani manusia melalui ibadah, dzikir, tafakkur, muraqabah, dan pendidikan tasawuf yang sehat.
Tarbiyah Digital yang Berakar pada Fitrah
Menghadapi perubahan zaman, lembaga pendidikan Islam tidak boleh bersikap anti-teknologi. Sebaliknya, teknologi harus dijadikan sarana memperluas dakwah dan pendidikan.
Madrasah, pesantren, surau, dan perguruan tinggi Islam harus mampu memanfaatkan teknologi digital untuk pembelajaran, penguatan literasi, pengembangan riset, dan penyebaran nilai-nilai Islam rahmatan lil 'alamin.
Namun satu hal yang tidak boleh berubah adalah tujuan tarbiyah itu sendiri.
Teknologi boleh berubah.
Metode boleh berubah.
Media boleh berubah.
Tetapi tujuan pendidikan Islam tetap sama, yaitu membentuk manusia yang mengenal Tuhannya, memahami tugas hidupnya, berakhlak mulia, berilmu luas, dan mampu memberi manfaat bagi sesama.
Karena itu tarbiyah masa depan harus melahirkan generasi yang memiliki empat kekuatan sekaligus:
1. Kekuatan akidah, sehingga tidak kehilangan arah hidup.
2. Kekuatan ilmu, sehingga mampu bersaing secara global.
3. Kekuatan akhlak, sehingga tidak terjerumus dalam penyalahgunaan teknologi.
4. Kekuatan adaptasi, sehingga mampu hidup dan memimpin di tengah perubahan zaman.
Pada akhirnya, tantangan terbesar tarbiyah di era digital bukanlah kecanggihan teknologi itu sendiri, melainkan bagaimana memastikan bahwa teknologi tetap berada di bawah kendali nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan.
Sebab pendidikan Islam tidak sekadar mencetak manusia yang mampu menggunakan teknologi, tetapi melahirkan manusia yang mampu menggunakan teknologi untuk mendekatkan diri kepada Allah, membangun peradaban, dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat manusia.
Inilah hakikat tarbiyah: mengubah manusia dari sekadar makhluk yang hidup menjadi hamba yang sadar akan Tuhannya, dan dari individu biasa menjadi pembangun peradaban yang berlandaskan iman, ilmu, dan akhlak. ds.100626
