![]() |
| Komplek makam Syekh Angku Tuo, Nurdin Tuanku Sidi juga dimakamkan di situ. |
Padang Pariaman, -- Nurdin Tuanku Sidi adalah ulama penerus trah Syekh Angku Tuo Batu Mengaum, Nagari Kuranji Hulu, Kecamatan Sungai Geringging, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Beliau terbilang kemenakan oleh Khalifah Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi itu, yang kelak diterima untuk anak kandungnya, Janiar.
Lahir 1911, Nurdin Tuanku Sidi dari kecil banyak menghabiskan waktunya di Surau Angku Tuo Batu Mengaum. Tak ada sekolah formal yang diikuti Nurdin Tuanku Sidi, selain belajar agama di Surau Angku Tuo. Di surau itu yang didirikan Angku Tuo sejak masih menjelang tahun 19 an, di samping banyak anak siak yang mengaji dari berbagai pelosok Minangkabau, masyarakat sekitar Sungai Geringging juga menjadikan surau itu sebagai tempat berulang wirid pengajian.
Pada zaman Hindia Belanda, wilayah pedalaman atau setingkat kecamatan seperti Sungai Geringging di Kabupaten Padang Pariaman umumnya hanya memiliki fasilitas pendidikan formal tingkat dasar yang dikenal sebagai Volkschool (Sekolah Rakyat/Sekolah Desa). Pemerintah kolonial sangat jarang mendirikan sekolah menengah atau sekolah elit berbahasa Belanda (seperti HIS atau MULO) di kawasan pedesaan terpencil.
Sistem Sekolah Dasar Kolonial di Wilayah Terpencil
Jika merujuk pada regulasi dan struktur pendidikan pemerintah kolonial Hindia Belanda, sekolah formal yang disediakan di tingkat nagari atau distrik kecil seperti Sungai Geringging meliputi: Volkschool (Sekolah Desa/Sekolah Rakyat): Sekolah ini memiliki masa belajar 3 tahun. Kurikulumnya sangat sederhana dan hanya berfokus pada kemampuan dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa daerah setempat (bahasa Minangkabau).
Vervolgschool (Sekolah Lanjutan): Bagi anak-anak pribumi di desa yang berhasil lulus dari Volkschool dan ingin melanjutkan pendidikan, mereka biasanya dikirim ke kota terdekat yang lebih besar (seperti Pariaman atau Padang) untuk masuk ke Vervolgschool dengan masa belajar 2 tahun.
Sekolah Swasta Berbasis Agama: Selain sekolah bentukan Belanda, sistem pendidikan formal dan semi-formal di wilayah Padang Pariaman pada era kolonial didominasi oleh lembaga berbasis Islam seperti Surau atau Madrasah yang didirikan oleh ulama setempat secara mandiri sebagai bentuk perlawanan budaya.
Kondisi Sekolah Saat Ini
Banyak dari bangunan Volkschool peninggalan zaman Belanda di berbagai daerah Sumatra Barat kemudian dinasionalisasi pasca-kemerdekaan menjadi Sekolah Dasar Negeri (SDN). Di wilayah Sungai Geringging saat ini, sekolah-sekolah dasar gelombang pertama seperti SDN 01 Sungai Geringging atau SDN 02 merupakan kelanjutan historis dari sistem pendidikan dasar yang dirintis sejak masa lalu.
Nurdin Tuanku Sidi sepertinya banyak mengikuti pendidikan non pemerintah ini, yakni surau yang didirikan langsung mamaknya, Syekh Angku Tuo sepulang mengaji di Bintungan Tinggi. Sejak dasar pendidikan Al Qur'an, hingga ikut mengaji kitab, Nurdin Tuanku Sidi juga ikut mengaji tasawuf versi Tarekat Syattariyah yang diajarkan langsung Syekh Angku Tuo ini.
Lama di Ujuang Gunuang
Dalam mengikuti pendidikan surau bersama Syekh Angku Tuo yang memiliki nama asli Muhammad Zakir Tuanku Saliah ini, Nurdin Tuanku Sidi terkenal anak siak yang cerdas, pintar ia pula, sehingga menjadi anak siak ujung tombak oleh Syekh Angku Tuo dalam mengembangkan pendidikan surau.
Syekh Angku Tuo melihat kemenakannya itu, sudah punya nilai-nilai kepemimpinan. Saatnya Nurdin Tuanku Sidi dikirim keluar, melanjutkan pendidikan agama ke surau lain di luar Sungai Geringging. Tersebut saat itu Surau Ujuang Kubu yang terletak di Ujuang Gunuang, terkenal Syekh Dawamad Ungku Panjang. Oleh Syekh Angku Tuo, Nurdin Tuanku Sidi direkomendasikan mengaji di situ.
Sampai berbilang tahun lamanya Nurdin Tuanku Sidi ini mengaji di Ujuang Gunuang, yang kelak berubah nama menjadi Pondok Pesantren Dinul Ma'ruf ini. Sampai selesai, gelar Tuanku Sidi yang melekat dalam dirinya itu, adalah setelah sekian tahun mengaji di Ujuang Gunuang.
Pulang kampung sekaligus mengabdi di tempat awal, Surau Syekh Angku Tuo. Nurdin Tuanku Sidi melanjutkan proses belajar mengajar di surau itu, setelah kepergian Syekh Angku Tuo 1955.
Saat pergolakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) meletus pada tahun 1958, wilayah Sungai Geringging, Padang Pariaman menjadi salah satu daerah basis pertahanan, jalur gerilya, sekaligus zona konflik yang mencekam. Masa itu adalah masa transisi di lingkungan Surau Syekh Angku Tuo. Kepemimpinan dijalankan Nurdin Tuanku Sidi, kemenakan sekaligus menantunya yang baru pulang mengaji di Ujuang Gunuang.
Kondisi Sungai Geringging pada masa konflik PRRI dapat digambarkan melalui beberapa aspek berikut:
1. Zona Militer dan Pos Komando (Sektor Distrik Militer). Ketika perang meletus pada tahun 1958, struktur militer di wilayah Padang Pariaman berubah total.
Wilayah ini masuk ke dalam struktur TOR DIM (Sektor Distrik Militer) di bawah Komando Batalyon 446 yang dipimpin oleh Mayor Inf. J. Oetomo. Sungai Geringging memiliki pos pertahanan militer lokal yang dikenal sebagai Buterpra (Badan Urusan Teritorial dan Perlawanan Rakyat). Hal ini menjadikan kawasan ini sebagai wilayah siaga tempur untuk menghadapi pergerakan tentara pusat (APRI/TNI).
2. Wilayah Basis Gerilya dan Pertahanan PRRI: Kondisi geografis Sungai Geringging yang berbukit-bukit dan berbatasan dengan wilayah Agam menjadikannya lokasi yang strategis untuk pertahanan dan pelarian. Banyak pemuda setempat yang bergabung dengan kesatuan militer PRRI untuk mempertahankan wilayah mereka dari serbuan tentara pusat. Salah satu tokoh lokal yang tercatat sempat bergabung dengan gerakan PRRI di masa remajanya di kampung halaman ini adalah maestro musik Minang, Tiar Ramon.
Menjelang akhir pergolakan (sekitar tahun 1961), wilayah ini menjadi tempat bertahannya sisa-sisa pasukan PRRI yang terdesak sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk turun gunung dan menyerahkan diri, seperti pasukan pimpinan Bahar yang membawa sisa pasukannya ke Sungai Geringging untuk menyerah.
3. Dampak Sosial dan Gelombang Eksodus (Mancari Parak Siang). Suasana di tengah masyarakat sangat mencekam akibat operasi militer yang dilancarkan oleh tentara pusat untuk menumpas kekuatan PRRI.
Ketakutan Masyarakat: Penduduk sipil hidup dalam ketakutan akibat patroli militer, kontak senjata, dan sweeping. Kondisi ini memaksa sebagian warga mengungsi ke area perbukitan atau hutan di siang hari dan baru kembali ke rumah pada malam hari demi keselamatan.
Eksodus Besar-besaran: Kekalahan dan tekanan pasca-PRRI memicu gelombang migrasi massal (merantau) secara besar-besaran bagi orang Minang keluar dari wilayah Sumatera Barat, termasuk dari Sungai Geringging. Banyak warga yang memilih merantau ke daerah lain, seperti ke wilayah Kerinci atau kota-kota di luar Sumatera, untuk memulai hidup baru dan menghindari trauma politik.
Keluarga
Nurdin Tuanku Sidi dinikahkan dengan anaknya Syekh Angku Tuo, Janiar. Dari perkawinan Nurdin Tuanku Sidi dengan Janiar ini, beliau dikaruniai lima putra dan putri, yakni Arizah, Raimah, Azwar Tuanku Mudo, Azwir, dan Parmai.
Nurdin Tuanku Sidi terbilang lama memimpin Surau Syekh Angku Tuo. Sejak dari 1955 hingga 1990. Gairah pengajian dan pengembangan kekhalifahan Syekh Abdurrahman Bintungan Tinggi, kian kencang dan gencar.
Dengan jadwal ditetapkan Nurdin Tuanku Sidi juga meneruskan dan melestarikan wirid ziarah yang sudah ditetapkan ke Ulakan dan ke Bintungan Tinggi. Bahkan di komplek makam Syekh Angku Tuo juga dilakukan "Basapa". Sejak awal kepemimpinan Nurdin Tuanku Sidi, kegiatan Basapa di komplek makam Syekh Angku Tuo setiap Senin setelah Safa Ketek di Ulakan.
Wirid Kamis dan Sabtu siang juga kian ramai. Jemaah tidak sekedar dari Sungai Geringging dan sekitarnya, melainkan dari Agam dan Sungai Limau juga banyak yang ikut, melestarikan warih bajawek pusako batarimo sejak dari Syekh Angku Tuo dulunya.
Nurdin Tuanku Sidi wafat 1990, dimakamkan di komplek makam Syekh Angku Tuo, di samping Surau Syekh Angku Tuo, Batu Mengaum, Nagari Kuranji Hulu, Kecamatan Sungai Geringging.
Referensi:
1. Diolah dari Wikipedia
2. Wawancara dengan Azwar Tuanku Mudo, Selasa 9 Juni 2026 di Ajuang, Sungai Sirah Kuranji Hulu. Azwar Tuanku Mudo adalah anak kandung Nurdin Tuanku Sidi. Sejak 1990, Azwar Tuanku Mudo memimpin jalannya proses belajar mengajar di Surau Syekh Angku Tuo.
