![]() |
| Makam Syekh Abdul Wahab, Calau, Muaro, Sijunjung. |
MU-ONLINE, Sijunjung, -- Calau hanya sebuah kampung kecil dalam Jorong Subarang Sukam, Nagari Muaro, Kecamatan Sijunjung, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Tapi, Calau ini lebih terkenal dan populer dari jorongnya, Subarang Sukam. Ketika hendak ziarah ke Sijunjung, orang itu lekas saja menyebut Calau. Di Calau itulah Syekh Abdul Wahab mengabdi dan berkarya.
Dipastikan, lewat Syekh Abdul Wahab ini nama Calau melambung tinggi. Para ilmuan berdatangan ke situ, mempelajari dan menggali fakta kehebatan Tarekat Syattariyah yang dikembangkan Syekh Abdul Wahab ini di Calau. Banyak sekali temuan manuskrip peninggalan Syekh Abdul Wahab ini.
Yulizal Yunus menulis, di gerbang masuk ke Calau ada gapura yang gaya arsitekturnya perpaduan gonjong dan kubah (gobah), ditulis “Selamat Datang di Makam Syekh Abdul Wahab”. Syekh Abul Wahab (wafat 1869 di Calau) ialah seorang ulama besar yang lahir dari suku Kampai Tanjung Bonai Aur, Sumpur Kudus. Ia tokoh Tarekat Syattariyah yang disegani. Mengajar di Surau Tinggi yang ia dirikannya bersama niniak mamak di sana.
Sebelum di Calau, Syekh Abdul Wahab mengajar dan tinggal di kampungnya, Tanjung Bonai Aur, Kecamatan Sumpur Kudus, Sijunjung. Ke Calau ia dibawa dan diterima oleh para niniak mamak, ketika itu penghulu Calau payung Datuak Tan Marajo Calau. Syekh Abdul Wahab dibawanya setelah bertemu dengannya di Muko-Muko dekat Silokek DTW Alam Sijunjung sekarang.
Syekh Abdul Wahab diperkirakan lahir 1764. Adalah seorang ulama tasawuf terkemuka dan tokoh penyebar agama Islam kharismatik yang mengembangkan ajaran Tarekat Syattariyah di wilayah Minangkabau, khususnya di Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Aktivitas dakwah dan praktik intelektualnya diperkirakan berkembang pesat pada abad ke-19, menjadikan pusat dakwahnya sebagai salah satu poros keagamaan penting pada masa itu.
Asal-Usul dan Pendidikan
Beliau berasal dari Tanjung Bonai Aur, Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung. Gelar Kehormatan: Di tengah masyarakat, beliau juga sangat dikenal dengan sebutan “Tuanku Dibawah Manggis”. Silsilah Keilmuan: Syekh Abdul Wahab menuntut ilmu agama di Lubuak dan merupakan murid langsung dari Syekh Tibarau. Silsilah keilmuan tarekatnya tersambung melalui jaringan ulama Tarekat Syattariyah yang kuat di Minangkabau.
Kisah Pendirian Pusat Dakwah Calau
Kedatangan dan pemilihan lokasi dakwah Syekh Abdul Wahab di Calau, Nagari Muaro, memiliki cerita tutur lokal yang unik: Beliau menghanyutkan seulas batu apung di aliran Batang Sukam. Di titik tempat batu apung tersebut berhenti dan menepi, beliau memutuskan untuk menetap. Lokasi tersebut kini dinamakan Calau, tempat di mana beliau mendirikan kompleks surau sebagai pusat penyiaran Islam, pengajaran ilmu fardhu ain, tafsir, hadis, hingga fikih.
Kiprah Intelektual dan Ajaran
Penyatuan Adat dan Syarak: Syekh Abdul Wahab berperan besar dalam menyelaraskan nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal Minangkabau, menguatkan prinsip Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Pusat Manuskrip Islam: Melalui aktivitas intelektualnya, Surau Calau mengoleksi dan menyalin ratusan naskah kuno (manuskrip) keagamaan bertulisan Arab Melayu yang mencakup bidang tasawuf, ilmu kalam, serta hukum Islam.
Tradisi Keagamaan: Beliau mewariskan tradisi keagamaan yang masih hidup sampai sekarang di Sijunjung, salah satunya tradisi perayaan Rayo Puaso Anam (Hari Raya Puasa Enam) yang berpusat di Calau.
Peninggalan dan Kompleks Cagar Budaya
Surau Tinggi Calau: Bangunan surau tua yang berfungsi sebagai pusat tarekat, ibadah, dan tempat disimpannya ratusan naskah kuno peninggalan beliau. Makam Keramat: Makam Syekh Abdul Wahab terletak di kawasan perbukitan Calau dan ramai dikunjungi oleh para peziarah dari berbagai daerah, terutama saat momen hari besar Islam.
Beliau, menurut banyak sumber dan catatan, termasuk ulama yang berusia lanjut. Lebih dari 100 tahun usianya. Sementara, aktif di Surau Tinggi Calau, dari rentang 1830-1869. Surau Tinggi Calau, dinilai sebagai pusat pendidikan legendaris yang didirikan Syekh Abdul Wahab ini.
Khalifah
Sebagai pengembangan agama melalui tasawuf versi Tarekat Syattariyah, di Surau Tinggi Calau, juga terkenal khalifah. Dimulai dari Syekh Abdul Wahab sebagai khalifah pertama. Setelah beliau, Surau Tinggi Calau dipimpin oleh khalifah kedua, Syekh Djalaluddin (wafat 27 Ramadhan 1321 H/1900 M, Syekh Ahmad (wafat 7 Syawal 1353 H/1932 M, Gayek Usman Tuanku Bagindo Kotik (wafat 27 Ramadhan 1357 H/ 1936 M, Muhammad Rasad Tuanku Kuniang (wafat 4 Jumadil Akhir 1394 H/25 Juni 1974, Guru Abdul Munaf Tuanku Jangguik (wafat 6 Jumadil Akhir 1395 H/ 1975 M.
Setelah itu dilanjutkan oleh Guru Murid Tuanku Malin Mancayo (wafat 1 Muharram 1406 H /16 September 1985 M, Guru Lisut Tuanku Malin Mudo (wafat 25 Rajab 1394 H/15 Agustus 1974, Kamaluddin Tuanku Imam Aur (wafat 1406 H/1985 M, Husin Tuanku Imam Kopah (wafat 7 Jumadil Akhir 1422 H/27 Agustus 2001 M, Guru Buya Khairuddin, Syafri Tuanku Malin Saidi, dan Umar SL Tuanku Modo, khalifah sekarang.
Sanad Keilmuan
Sanad keilmuan ulama-ulama Calau dalam tarekat Syattariyah seperti terdapat pada daftar terpajang di makam Syekh Calau. Sanadnya sampai jauh ke Nabi Muhammad Saw, dengan 35 urutan. Diurut sanad 35 guru-guru Calau itu dari bawah ke atas ialah: (35) Syekh Ahmad Calau, (34) Syekh Jalaluddin Calau, (33) Syekh Abdul Wahab Calau, (32) Syekh ‘Amiluddin Pudak Sijunjung, (31) Syekh Qusyasyi Tibarau, (30) Syekh Abdul Hasan Mufti Ulakan, (29) Syekh Idris Tanjung Medan, (28) Syekh Jalaluddin Tanjung Medan, (27) Syekh Khairuddin, (26) Syekh Abdur Rahman, (25) Syekh Burhanuddin Ulakan, (24) Syekh Abdurrauf, Aceh, (23) Syekh Abdul Kusasy, (22) Muhammad Hasnawi, (21) Sya’adilah, (20) Wajannatuddin Alwi, (19) Muhammad Ali ‘Asyiq, (18) Akholudri, (17) Ahad Baitullah, (16) Imam Qadhi Syatharoh, (15) Abdus Syatharoh, (14) Muhammad Arif, (13) Muhammad ‘Ashif, (12) Khodilah Kholilah, (11) Lutub Habib Haqqo Qolaqoni, (10) Habib Zufri Turki Tusi, (9) Syekh Aribi Madillah ‘Atiq, (8) Syekh Muhammad Maghribi, (7) Abu Yazid Bustami, (6) Imam Ja’fat Shidiq, (5) Imam Muhammad Ali Bakar, 4) Imam Zainu Abas, (3) Husin Syahid, (2) Imam Ali Murtadho dan (1) Nabi Muhammad SAW.
Syekh Abdul Wahab Calau masih terpatri dalam ingatan masyarakat. Ia bukan sekadar ulama Tarekat Syattariyah, tetapi juga seorang intelektual yang membentuk wajah pendidikan Islam di Minangkabau abad ke-19. Melalui Surau Tinggi Calau, ia merawat tradisi ilmu sekaligus menjaga kesinambungan spiritual masyarakat.
Surau sebagai Pusat Intelektual
Pada masa itu, surau bukan hanya tempat shalat dan wirid. Surau berfungsi layaknya kampus tradisional. Memberi ruang belajar, menulis, dan berdiskusi. Di Surau Tinggi Calau, Syekh Abdul Wahab menanamkan tradisi keilmuan dengan disiplin. Murid-muridnya tidak hanya diajarkan zikir dan tarekat, tapi juga fikih, tafsir, hadis, hingga ilmu kalam.
Praktik intelektual ini menjadi cerminan dari struktur sosial Minangkabau kala itu. Pendidikan lahir dari relasi guru-murid yang erat, ditopang oleh nilai adat, dan berakar pada keyakinan Islam yang kokoh.
Perlawanan Melalui Ilmu
Abad ke-19 adalah masa penuh dinamika. Kolonial Belanda menancapkan pengaruhnya, sementara masyarakat Minangkabau bergulat dengan perubahan sosial dan politik. Dalam konteks itu, Syekh Abdul Wahab hadir dengan strategi perlawanan yang tidak selalu berbentuk senjata. Baginya, ilmu adalah benteng.
Melalui surau, ia memperkuat identitas keislaman dan kultural masyarakat. Dengan cara ini, ia menegaskan bahwa pendidikan bisa menjadi arena perlawanan yang halus namun efektif. Berjasa mencetak generasi yang tangguh secara intelektual dan spiritual.
Tradisi Syattariyah di Calau
Sebagai tokoh Tarekat Syattariyah, Syekh Abdul Wahab mengajarkan keseimbangan antara syariat dan tasawuf. Ia menekankan disiplin zikir, tetapi juga menuntut muridnya menguasai kitab-kitab klasik. Dari sini terlihat jelas bagaimana tradisi Syattariyah di Minangkabau tidak hanya menekankan aspek mistik, melainkan juga rasionalitas keilmuan.
Surau Calau pun berkembang sebagai pusat manuskrip. Diisi ragam teks agama, wirid, hingga catatan pengobatan tradisional disalin dan diajarkan di sana. Naskah-naskah itu hingga kini masih tersisa, menjadi bukti jejak intelektual yang ditinggalkan.
Warisan Abadi
Kini, lebih dari seabad sejak wafatnya Syekh Abdul Wahab, jejak intelektualnya masih hidup. Surau Tinggi Calau tetap berdiri, walau fungsinya sudah banyak berubah. Manuskrip-manuskrip yang ia wariskan menjadi sumber penelitian para filolog, sejarawan, dan budayawan.
Warisan Syekh Abdul Wahab menunjukkan, bahwa ulama tidak hanya berperan di ruang ibadah, tapi juga sebagai motor perubahan sosial. Ia membuktikan bahwa surau bisa menjadi ruang produksi pengetahuan, dan pendidikan bisa menjadi strategi mempertahankan jati diri di tengah arus kolonialisme.
Kisah Syekh Abdul Wahab Calau adalah kisah tentang kekuatan ilmu. Ia mengajarkan bahwa sebuah surau kecil di Calau Sijunjung bisa menjadi mercusuar intelektual Minangkabau. Bahwa ajaran tarekat bukan hanya soal zikir, melainkan juga soal membangun kesadaran kritis dan identitas budaya. Warisan itu, meski berusia lebih dari seabad, masih menyala hingga kini bagai lampu surau yang tak pernah padam. (AD)
Referensi:
1. https://www.google.com/search?client=ms-android-oppo&hs=0TQV&sca_esv=5f61f3506ee60603&sxsrf=ANbL-n5X96HeGAcXM9zQbKjYKpy-ssb3pA%3A1781690149478&kgmid=%2Fg%2F11gjq0jwqf&q=Wisata%20Religi%20Calau&shem=epsd1%2Crimspwouoe&shndl=30&source=sh%2Fx%2Floc%2Fact%2Fm4%2F2
2. https://www.facebook.com](https://www.facebook.com/pituluik.minang/photos/surau-tinggi-calau-jejak-sejarah-islam-dan-pusat-tarekat-syattariah-di-sijunjung/1393250225713888/)
3. https://bali.viva.co.id/gumi-bali/6880-kenang-kenangan-syekh-abdul-wahab-calau-di-minangkabau-abad-19
4.
https://minangkabaunews.com/napak-tilas-tuanku-bagindo-lubuak-pua-di-ranah-lansek-manih/
5. https://www.kompasiana.com/tuanku92343/65dfddc0de948f44c4777564/menikam-jejak-tuanku-bagindo-lubuak-pua-di-ranah-lansek-manih
.jpg)