![]() |
| H. Sa'ali Tuanku Mudo |
MU-ONLINE, Padang Pariaman, --- Di makamnya dituliskan, H. Sa'ali Tuanku Mudo lahir 1 Januari 1936, wafat 25 Desember 2024. Tapi tanggal dan tahun lahir itu merujuk ke KTP pimpinan Pondok Pesantren Luhur Syekh Balinduang ini.
Ali Usman Tuanku Bagindo menyebutkan, yang sebenarnya Buya Sa'ali Tuanku Mudo lahir 1932. "Umurnya diperkecil, terkait beliau diangkat jadi P3NTR," katanya. P3NTR adalah singkatan dari Pembantu Pegawai Pencatat Nikah, Talak, dan Rujuk. Tugas utamanya adalah membantu Pegawai Pencatat Nikah (PPN) atau Penghulu di tingkat desa/kelurahan dalam mengurus dan mencatat berbagai urusan keagamaan yang berkaitan dengan pernikahan, talak, dan rujuk.
Beliau Sa'ali Tuanku Mudo lahir di Cengkeh, Korong Sibaruas, Nagari Pilubang, Kecamatan Sungai Limau. Masa kecilnya dihabiskan di kampung. Beranjak remaja, Sa'ali diantar mengaji ke Sungai Asam dengan Syekh Ungku Marajo. Sa'ali terkenal anak siak yang cerdas, pintar. Sehingga untuk melanjutkan dan meningkatkan ilmu pengetahuannya, Ungku Marajo merekomendasikan beliau mengaji ke Kiambang dengan Syekh Ismael yang terkenal itu.
Dengan Syekh Ismael Kiambang, Sa'ali merasa lebih tertantang lagi untuk tekun dan yakin mengaji, menuntut ilmu. Baik kajian kitab kuning maupun kajian Tarekat Syattariyah kian dirasakan oleh Sa'ali ini.
Armaidi Tanjung setelah wawancara langsung dengan H. Sa’ali Tuanku Mudo yang lahir 1936 ini, menuliskan di Sitinjau Sumbar, setelah mengaji di Surau Cubadak Sungai Asam dan di surau Syekh Kiambang, beliau pulang kampung. 1964 mulai mengajar anak siak atau pakiah di Surau Anak Aia di Kubu Kaciak. Kurang lebih dua kilometer dari makam Syekh Balinduang. Ketika Sa’ali diangkat menjadi P3NTR Nagari Pilubang 1972, praktis kegiatan mengajar anak pakiah terhenti. Waktunya lebih banyak dihabiskan mengurus pernikahan masyarakat Nagari Pilubang.
Namun demikian, Surau Anak Aia ini pernah mencatat masa rekor yang cukup luar biasa. Anak siak yang mengaji mencapai seratusan. Maklum, saat itu Buya sedang hangat-hangatnya jadi tuanku. Beliau Syekh Ismael Kiambang sendiri yang mengukuhkan beliau jadi Tuanku Mudo.
1985, Sa’ali kembali mengajar dengan mendirikan Pesantren Luhur Syekh Balinduang. Karena aktifitas Sa’ali sebagai P3NTR sudah banyak digantikan oleh Pegawai Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sungai Limau. Saat ini ada 20-an anak pakiah di pesantrennya itu.
Sa’ali sendiri mulai belajar agama Islam di surau Cubadak Sungai Asam Kecamatan 2 X 11 Enam Lingkuang dari tahun 1954-1957. Di Pesantren Miftahul Istiqamah ini, Sa'ali terkenal sebagai murid atau anak siak awal mengaji dengan Syekh Ungku Marajo. Terjadinya pergolakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat, juga berpengaruh terhadap proses pendidikan di Surau Cubadak. Aktifitas belajar terhenti. Sa’ali pun tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Setelah suasana mulai kondisi, 1959 Sa’ali melanjutkan mengaji ke Syekh Kiambang di Kiambang, Nagari Lubuk Pandan. Di sini Sa’ali belajar dari 1959 hingga 1964. Sa’ali sempat pula belajar kepada Buya Razak, pendiri Pesantren Luhur Mato Aia, Pakandangan.
Dalam riwayat yang diterima Ali Usman Tuanku Bagindo, beliau Sa'ali Tuanku Mudo terkenal sebagai murid Syekh Ismael Kiambang yang malin kitab. Buktinya, ketika awal mendirikan Surau Anak Aia itu, banyak para tuanku dan ulama di sekitar Sungai Limau, Sungai Geringging berulang kaji dengan beliau.
Berulang kaji dengan buka kitab Al Hikam. Rata-rata, para tuanku yang berulang itu, dapat riwayat bahwa beliau Sa'ali Tuanku Mudo adalah murid beliau Kiambang yang malin dan pintar ngaji kitab.
Sampai seorang Saamar Tuanku Sidi berulang kaji dengan beliau. Masri Tuanku Sutan pun beliau yang merekomendasikan untuk mengaji ke Surau Mato Aia Pakandangan.
Keluarga
H. Sa'ali Tuanku Mudo anak dari Dandam. Banyak menghabiskan waktunya mengaji dan belajar. Syekh Musa Tapakih tercatat sebagai gurunya. Meski beliau sudah dikukuhkan jadi tuanku, beliau tetap berulang mengaji, bersilaturrahmi dengan Syekh Musa Tapakih, Syekh Razak Mato Aia. Diperkirakan, lebih dari 10 tahun lamanya beliau menghabiskan waktunya untuk belajar.
Beliau Sa'ali Tuanku Mudo terkenal ulama yang melanjutkan trah Syekh Balinduang. Dengan resminya nama pesantren yang didirikannya bersandar ke Syekh Balinduang, setidaknya beliau bersanad keilmuan yang kian dekat dengan Syekh Burhanuddin.
Dari istrinya, Hj. Nurmani, beliau Sa'ali dikarunia 14 orang putra dan putri, yakni Nurlaili, Nurhidayati, Nurasni, Nursal, Mulyani, Alinur, Roslan, Salman, Sumarni, Surawardi, Azmelia, Ali Akmal, Nefi Yenti Sa'ali, Ali Usman Tuanku Bagindo.
Sa'ali Tuanku Mudo naik haji, menunaikan rukun Islam kelima pada 2009 silam. Berangkat berdua istrinya, Hj. Nurmani setelah sekian tahun lamanya menunggu antrian. Pun naik haji lewat usaha menabung yang lama dan panjang. Kemudian setelah naik haji, beliau juga sempat dan diberikan karunia oleh Allah SWT untuk melakukan umrah, beberapa tahun setelah naik haji.
Beliau Sa'ali Tuanku Mudo wafat dalam usia yang cukup panjang dan lanjut. Beliau wafat 25 Desember 2024 dalam usia 89 tahun. Dimakamkan di komplek makam Syekh Balinduang, di bagian Utara surau yang didirikannya di dekat makam Syekh Balinduang itu.
Warisan dan Karya
"Hidup dan abadinya" nama Syekh Balinduang adalah karya besar Sa'ali Tuanku Mudo. Tak sekedar itu, kegiatan kegiatan tradisi dan budaya yang dicetuskan Syekh Balinduang dulu sepertinya lestari dan berkembang dengan sangat kuat dan kokoh di tengah masyarakat Sibaruas, Nagari Pilubang dan Padang Pariaman.
Dengan berdirinya Pesantren Syekh Balinduang oleh Sa'ali Tuanku Mudo, tentunya keberlangsungan kajian kitab, melestarikan dan mengembangkan Tarekat Syattariyah terus berlanjut. Kini, warisan Sa'ali Tuanku Mudo diteruskan oleh anak kandungnya, Ali Usman Tuanku Bagindo.
"Sejak awal, surau yang didirikan beliau Sa'ali Tuanku Mudo ini tak pernah banyak santri. Tapi tak pernah putus. Meski santri yang mengaji saat ini hanya puluhan orang, yang namanya warih bajawek pusako batarimo, tetap kita lanjutkan," ujar Ali Usman Tuanku Bagindo.
Kemudian yang juga menjadi warisan beliau Sa'ali Tuanku Mudo, adalah hidupnya dan bergairahnya kegiatan "Basapa" di komplek makam Syekh Balinduang. "Dari dulu, dan insya Allah akan terus berlanjut sampai akhir nanti, yang namanya Basapa itu tetap berjalan sesuai situasi dan kondisinya," kata Ali Usman Tuanku Bagindo.
"Basapa itu dalam bentuk badikie semalaman. Tepatnya di hari Rabu malam saat Safa Ketek di komplek makam Syekh Burhanuddin Ulakan. Demikian itu sifatnya sosial, menghidupkan warisan beliau Sa'ali Tuanku Mudo yang mencetuskan dulunya, sebagai memuliakan Syekh Balinduang yang terkenal sebagai ulama yang mengaji langsung dengan Syekh Burhanuddin," ujarnya.
Referensi:
1. Wawancara dengan Ali Usman Tuanku Bagindo, Senin 1 Juni 2026 di Pesantren Syekh Balinduang, Sibaruas, Pilubang.
2. Wawancara dengan Besrizal Tanjung Tuanku Imam Basa, Minggu, 31 Mei 2026 di Pariaman.
3. https://www.sitinjausumbarnews.com/2023/05/syekh-balinduang-di-nagari-pilubang.html
