![]() |
Oleh: Duski Samad
Kajian Subuh Masjid Darul Muttaqin, Wisma Indah IV Siteba, Selasa, 02 Juni 2026
Di tengah kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi digital, dan kemudahan hidup yang belum pernah dinikmati generasi sebelumnya, manusia justru menghadapi paradoks yang menarik. Fasilitas hidup semakin lengkap, komunikasi semakin cepat, dan akses informasi semakin luas, namun pada saat yang sama kecemasan, kesepian, depresi, dan krisis makna hidup juga semakin meningkat.
Banyak orang memiliki ribuan teman di media sosial, tetapi tidak memiliki ketenangan batin. Banyak yang berhasil mengumpulkan kekayaan, namun tidak mampu membeli kedamaian jiwa. Banyak yang mencapai popularitas, tetapi tetap merasa hampa dalam kehidupannya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa manusia tidak hanya membutuhkan kebutuhan biologis dan sosial, tetapi juga membutuhkan kebutuhan spiritual. Dalam khazanah tasawuf Islam, kebutuhan tersebut dikenal dengan istilah al-uns billāhi ta‘ālā, yaitu keakraban, kedekatan, dan kenyamanan hati bersama Allah SWT.
Dalam Ihya' Ulumiddin Juz V halaman 235–240, Imam Abu Hamid Al-Ghazali menjelaskan bahwa al-uns billah merupakan buah dari ma‘rifatullah (mengenal Allah), mahabbah (mencintai Allah), dzikir yang terus-menerus, serta keterikatan hati kepada Allah melebihi keterikatannya kepada makhluk. Ketika seseorang telah mengenal Tuhannya dengan baik, maka ia akan merasakan kebahagiaan yang tidak bergantung kepada keadaan di luar dirinya.
Orang yang memiliki al-uns billah tidak berarti terbebas dari ujian hidup. Ia tetap menghadapi kesulitan, kegagalan, kehilangan, dan tekanan kehidupan sebagaimana manusia lainnya. Namun ia memiliki sumber kekuatan yang membuatnya mampu bertahan dan bangkit. Ia tidak merasa sendirian karena meyakini bahwa Allah selalu bersamanya.
Al-Qur'an menegaskan: "Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)
Ayat ini mengandung pesan psikologis yang sangat mendalam. Ketenangan jiwa tidak semata-mata lahir dari faktor eksternal seperti harta, jabatan, atau pengakuan sosial, tetapi lahir dari hubungan yang sehat antara manusia dengan Tuhannya.
Dalam sejarah kenabian, kita menemukan banyak contoh tentang bagaimana al-uns billah menjadi sumber kekuatan menghadapi ujian kehidupan.
Nabi Adam AS pernah melakukan kesalahan ketika melanggar larangan Allah. Namun beliau tidak tenggelam dalam rasa bersalah dan keputusasaan. Adam segera kembali kepada Allah dengan taubat yang tulus.
"Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi." (QS. Al-A'raf: 23)
Dari kisah Adam kita belajar bahwa kedekatan dengan Allah bukan berarti tidak pernah salah. Kedekatan dengan Allah justru terlihat dari kesediaan seseorang untuk segera kembali kepada-Nya ketika melakukan kesalahan. Dalam perspektif psikologi, taubat merupakan proses penyembuhan jiwa yang sangat penting karena membebaskan manusia dari beban rasa bersalah yang berkepanjangan dan mengubahnya menjadi energi perbaikan diri.
Kisah lain yang sangat menarik adalah pengalaman Nabi Musa AS ketika diperintahkan menghadapi Fir'aun, simbol tirani dan kesewenang-wenangan sepanjang sejarah manusia.
Musa dan Harun mengungkapkan kekhawatiran mereka kepada Allah:
"Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia akan segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas." (QS. Thaha: 45)
Namun Allah menenangkan mereka:
"Janganlah kamu berdua takut. Sesungguhnya Aku bersama kamu berdua. Aku mendengar dan melihat." (QS. Thaha: 46)
Ketika Fir'aun berusaha membangun opini publik dan menggerakkan massa untuk melawan Musa, ia berkata:
"Maka bersepakatlah kamu tentang tipu dayamu, kemudian datanglah dengan berbaris, dan sungguh beruntung pada hari ini orang yang menang." (QS. Thaha: 64)
Fir'aun mengandalkan kekuasaan, propaganda, dan kekuatan politik. Musa mengandalkan Allah. Sejarah kemudian membuktikan bahwa kekuatan yang bertumpu pada kesombongan akhirnya runtuh, sedangkan kekuatan yang bertumpu pada Allah akan memperoleh pertolongan-Nya.
Pelajaran penting dari kisah Musa adalah bahwa al-uns billah melahirkan keberanian moral. Seseorang yang dekat dengan Allah tidak mudah ditakut-takuti oleh kekuasaan, tekanan sosial, ataupun ancaman manusia. Ia tetap teguh karena memiliki sandaran yang jauh lebih kuat daripada seluruh kekuatan dunia.
Dalam perspektif psikologi modern, kondisi ini dikenal sebagai resiliensi, yaitu kemampuan untuk tetap bertahan dan bangkit ketika menghadapi tekanan hidup. Namun Islam memberikan dimensi yang lebih dalam lagi, yaitu resiliensi spiritual, yakni ketahanan yang lahir dari keyakinan bahwa Allah selalu hadir, mendengar, melihat, dan menolong hamba-Nya.
Sebaliknya, Al-Qur'an mengingatkan bahwa salah satu penghalang terbesar menuju ketenangan adalah sikap merasa cukup tanpa Allah.
"Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup." (QS. 'Abasa: 5)
Perasaan tidak membutuhkan Allah sering muncul ketika manusia terlalu percaya kepada kekayaan, jabatan, ilmu, atau kekuasaan yang dimilikinya. Kesombongan semacam ini menjauhkan hati dari sumber ketenangan yang sejati.
Karena itu Al-Qur'an memuji orang-orang yang datang dengan kerendahan hati dan kesungguhan mencari petunjuk.
"Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera." (QS. 'Abasa: 8)
Ayat ini menunjukkan bahwa perjalanan menuju al-uns billah dimulai dari kesadaran bahwa manusia selalu membutuhkan Allah. Semakin seseorang merasa membutuhkan Allah, semakin dekat ia kepada-Nya.
Dalam konteks kehidupan modern, al-uns billah menjadi sangat relevan. Dunia hari ini menawarkan berbagai bentuk kesenangan instan, tetapi sering gagal memberikan kedamaian yang mendalam. Materialisme, hedonisme, konsumerisme, dan budaya pencitraan telah membuat banyak orang sibuk membangun penampilan luar sambil melupakan pembangunan jiwa.
Akibatnya lahirlah berbagai problem psikologis seperti kecemasan, kesepian, kelelahan mental, kehilangan arah hidup, dan kehampaan spiritual. Manusia semakin terkoneksi secara digital, tetapi semakin terasing secara ruhani.
Karena itu, kebutuhan terbesar manusia modern sesungguhnya bukan sekadar peningkatan teknologi, melainkan pembangunan kembali hubungan spiritual dengan Allah SWT. Dzikir, shalat, tilawah Al-Qur'an, munajat, muhasabah, dan pergaulan dengan orang-orang saleh merupakan jalan-jalan yang dapat menghidupkan kembali keakraban tersebut.
Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa hati yang terbiasa berdzikir akan merasakan kehilangan ketika jauh dari Allah, sebagaimana seseorang merasakan kehilangan ketika berpisah dari orang yang sangat dicintainya. Inilah yang disebut para sufi sebagai lazzatul munajat, kelezatan bermunajat kepada Allah.
Pada akhirnya, al-uns billāhi ta‘ālā bukan sekadar konsep tasawuf klasik, tetapi kebutuhan mendasar setiap manusia. Adam menemukan ketenangan melalui taubatnya. Musa menemukan keberanian di hadapan Fir'aun karena kebersamaannya dengan Allah. Rasulullah SAW menemukan kekuatan menghadapi berbagai ujian dakwah karena kedekatan beliau dengan Rabb-nya.
Maka siapa pun yang ingin memperoleh ketenangan hidup yang hakiki hendaklah membangun keakraban dengan Allah. Sebab ketika manusia telah akrab dengan Allah, ia tidak akan mudah dikalahkan oleh kesedihan, ketakutan, ataupun perubahan zaman.
Sebaliknya, ketika manusia jauh dari Allah, seluruh dunia yang dimilikinya sering kali tidak cukup untuk menenangkan hatinya.
Wallāhu A‘lam bish Shawāb.
