![]() |
| Buya H. Mursyid Tuanku Mudo |
MU-ONLINE, Padang Pariaman, -- Mursyid. Namanya pendek dan singkat saja diberikan oleh kedua orangtuanya. Namun, kelak setelah menuntut ilmu dengan banyak ulama hebat, mengaji di banyak surau, Buya H. Mursyid Tuanku Mudo ini menjadi ulama besar dan rendah hati. Mudah senyum kepada semua orang, tidak kenal dengan keluhan kehidupan, meski ke Mekkah melaksanakan rukun Islam kelima dalam kondisi stroke.
Awal Pendidikan
Buya Mursyid Tuanku Mudo lahir di Ambuang Kapua Sungai Sariak, 1925, dari keluarga yang terkenal taat beragama. Tak heran, pendidikan pertama Buya Mursyid Tuanku Mudo ini langsung dari orangtuanya. Zaman itu, sekolah formal belum ada di Ambuang Kapua, sehingga beliau Buya Mursyid Tuanku Mudo ini banyak mengikuti pendidikan di surau, selain dengan orangtuanya sendiri.
Sampai pandai mengaji, Buya Mursyid Tuanku Mudo ini hanya di kampung saja. Setelah pandai dan bisa membaca Al Qur'an sendiri, Buya Mursyid Tuanku Mudo diantar mengaji ke Ujuang Gunuang, tepatnya Surau Ujuang Kubu di Sungai Durian, Kecamatan VII Koto Patamuan. Di sana, tersebutlah Syekh Dawamad Ungku Panjang (1886-1967). Ungku Panjang terkenal sebagai ulama yang ahli silek, tersebut banyak anak siak mengaji di suraunya dari berbagai belahan pelosok Minangkabau.
Dari kampungnya, Ambuang Kapua ke Ujuang Gunuang tak begitu jauh. Zaman sebelum Indonesia merdeka itu, kendaraan yang ada cuma kuda beban dan pedati. Tapi, Buya Mursyid Tuanku Mudo ke Ujuang Gunuang besar kemungkinan diantar dengan jalan kaki saja oleh orangtuanya.
Ada jalan tembus dekat dari Kandang Gadang, Ambuang Kapua, kampungnya Buya Mursyid Tuanku Mudo ini menuju Ujuang Gunuang. Lewat ke Solok Pintu Gabang, menurun, lalu menyeberang Sungai Batang Mangoi, dan tiba di Surau Ujuang Kubu. Paling 25 kilometer, bisa sehari pulang pergi Ambuang Kapua - Ujuang Gunuang itu dengan berjalan kaki.
Berjalan waktu, sudah berbilang tahun pula Buya Mursyid Tuanku Mudo di Ujuang Gunuang, mengaji kitab dari berbagai bidang studi, seperti tafsir, fiqh, nahwu, sharaf, dan lainnya. Kecerdasannya pun meningkat, pergaulan bertambah, kawan pun kian banyak. Pesantren asuhan Syekh Dawamad Ungku Panjang ini terkenal melahirkan ulama hebat dan pintar.
Dari sekian tahun di Ujuang Gunuang, Buya Mursyid Tuanku Mudo pindah mengaji ke Batang Kabung, Padang. Di sana sedang mengajar Syekh H. Ibrahim (1900-1988). Syekh Ibrahim ini sekampung dengan Buya Mursyid Tuanku Mudo, yakni Ambuang Kapua Sungai Sariak. Sejak di kampung, nama Syekh Ibrahim ini telah dikenal Buya Mursyid Tuanku Mudo. Terkenal sebagai ulama besar. Sebelum di Batang Kabung, Padang, Syekh Ibrahim mengajar di Batagak, Kabupaten Agam. Sementara, dari Batang Kabung, Syekh Ibrahim melanjutkan kepemimpinan Surau Kalampaian Ampalu Tinggi, setelah diminta langsung oleh Syekh Muhammad Yatim Mudiak Padang Tuanku Ampalu.
Di Batang Kabung dengan Syekh Ibrahim, Buya Mursyid Tuanku Mudo agak lebih lama daripada di Ujuang Gunuang. Bahkan, setelah lama mengaji di Batang Kabung ini, beliau diberi gelar Tuanku Mudo. Mungkin karena pintar dan cerdas, gagah ia pula, Syekh Ibrahim merasa mantap melekatkan gelar Tuanku Mudo ini ke Buya Mursyid Tuanku Mudo.
Dengan ini, semangat dan kesungguhan Buya Mursyid Tuanku Mudo dalam menuntut tambah meningkat.
Cacang, Tiku, Kabupaten Agam
Setelah sekian tahun mengaji di Batang Kabung dengan Syekh Ibrahim, Buya Mursyid Tuanku Mudo minta pindah ke Cacang, Tiku, Kabupaten Agam. Di sana tersebut Tuanku Imam Enek.
Tuanku Imam Cacang merupakan salah satu tokoh ulama dan guru besar Tarekat Syattariyah yang sangat dihormati di Cacang, Tiku, Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Keilmuan beliau Tuanku Imam Cacang dikenal luas dalam sejarah keilmuan Islam tradisional di Minangkabau karena memiliki surau besar di Cacang, Tiku. Surau beliau menjadi salah satu pusat pendidikan Islam penting, tempat mengaji para ulama-ulama generasi berikutnya di wilayah pesisir Agam dan Padang Pariaman.
Kepindahan Buya Mursyid Tuanku Mudo ke Tiku ini, ada rasa segan yang tak bisa ditahannya dengan Syekh Ibrahim. Di satu sisi Syekh Ibrahim menyebut namanya saja, lantaran anak siak yang mengaji dengan beliau Syekh Ibrahim. Tapi di lain sisi, Syekh Ibrahim harus menyapa Buya Mursyid Tuanku Mudo dengan sapaan mamak. Istri Syekh Ibrahim yang lain adalah orang kampungnya sendiri. Hj. Nurmali, istri Syekh Ibrahim adalah kemenakannya Buya Mursyid Tuanku Mudo.
Satu kampung, Ambuang Kapua Sungai Sariak. Mursyid Tuanku Mudo dari Suku Mandailing, sementara Syekh Ibrahim dari Suku Tanjung. Maka timbullah rasa segan. Sumando dan mamak rumah, begitu hubungan yang terasa. Menghindari rasa demikian, Mursyid Tuanku Mudo pindah dan melanjutkan pengembaraannya dalam menuntut ilmu ke Cacang, Tiku, Kabupaten Agam.
Keluarga dan Masa Transisi di Salisikan
Adalah 1949, empat tahun setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, setelah melewati perjalanan panjang menuntut ilmu di Ujuang Gunuang dengan Syekh Ungku Panjang, di Batang Kabung dengan Syekh Ibrahim, di Agam dengan Tuanku Imam Cacang, oleh ayahnya, Mursyid Tuanku Mudo dipandang pantas berkeluarga. Diterimlah Mursyid Tuanku Mudo oleh ayahnya untuk dijodohkan dengan kemenakannya, Hj. Nurani. Pulang ke bako, di Padang Bungo. Tunangan seumur hidup itu, menjadi istri betulan oleh Mursyid Tuanku Mudo.
Beberapa tahun setelah nikah, Mursyid Tuanku Mudo tentu pulang balik saja dari Ambuang Kapua ke Padang Bungo. Oleh keluarga besarnya, Mursyid Tuanku Mudo dibuatkan surau. Surau Langkuik namanya. Surau kecil saja, dan di surau itu Mursyid Tuanku Mudo memulai kegiatannya, membina sanak kemenakannya. Dari istri satu-satunya, Hj. Nurani, Mursyid Tuanku Mudo dikaruniai enam orang anak, putra dan putri, yakni M. Noer Tuanku Imam, Zuraida, M. Nasir, Murni, Yulianis, dan Muhammad Hadi.
1956, Mursyid Tuanku Mudo diajak mengajar di Salisikan, kini masuk Nagari Sungai Buluah Timur. Tuanku Lunak, suami kakaknya mengajar di situ. Tuanku Lunak terkenal sebagai ulama keramat. Oleh masyarakat Sungai Buluah, Tuanku Lunak ini digelari dengan "Tuanku Marem Kereta".
Cerita yang didapatkan oleh masyarakat itu, begini. Suatu ketika Tuanku Lunak dan beberapa orang jemaah pergi ke Padang. Dari Pasa Usang, mereka naik kereta. Ke Padang, zaman itu memang lebih banyak naik kereta. Lancar saja. Ada banyak kereta yang lewat dan selalu berhenti di stasiun Pasa Usang. Ada kereta jalur Payakumbuh - Padang, jalur Sawahlunto - Padang pun tetap berhenti di Pasa Usang. Apalagi yang dari jalur Nareh - Padang, juga menjadikan stasiun Pasa Usang untuk berhenti.
Namun, sore ketika hendak balik pulang dari Padang, ketika naik kereta, petugas kereta api menyebut tidak berhenti di Pasa Usang. "Ini keretanya tidak berhenti di Pasa Usang. Kami hanya berhenti di Lubuk Alung," begitu petugas kereta menyebutkan ke Tuanku Lunak dan rombongan.
"Ndak masalah. Kami nanti turun dimana kereta ini berhenti," kata Tuanku Lunak beralasan supaya bisa naik kereta yang akan berangkat itu.
Tiba waktunya, kereta api ini berjalan. Mungkin menuju Kayu Tanam, atau menuju Nareh, Pariaman. Bisa jadi kereta ke Payakumbuh dan Sawahlunto. Tapi, semua kereta jalur itu, pasti lewat Pasa Usang. Dari jalan pelan sampai jalan kereta itu kencang. Namun, tiba di Pasa Usang, secara mendadak saja kereta api ini berhenti. Padahal, sejak dari Padang, petugas kereta sudah mewanti-wanti tidak akan berhenti di Pasa Usang.
Pas berhenti mendadak itulah Tuanku Lunak menyuruh seluruh jemaahnya untuk turun. Pas turun semua rombongan Tuanku Lunak ini, dengan sendirinya kereta api langsung cigin pula menuju Lubuk Alung dan tujuan selanjutnya.
Pasca peristiwa itu, Tuanku Lunak langsung digelari oleh jemaahnya sebagai Tuanku Marem Kereta.
Menurut Wikipedia, Stasiun Pasa Usang memiliki kisah unik sebagai stasiun kayu bersejarah yang selamat dari rentetan perang kemerdekaan, diakui sebagai bagian dari Warisan Dunia UNESCO, serta berhasil "hidup kembali" setelah bertahun-tahun mati suri. Stasiun kelas III yang terletak di Sungai Buluah, Kecamatan Batang Anai, Padang Pariaman ini menyimpan memori kolektif yang kuat bagi masyarakat Sumatera Barat.
Saksi Bisu Perang Melawan NICA
Di balik bangunannya yang tenang, stasiun ini menyimpan sejarah perjuangan yang heroik. Pada masa agresi militer pasca-kemerdekaan Republik Indonesia, Stasiun Pasa Usang menjadi saksi peperangan sengit. Stasiun ini bahkan pernah melewati momen mencekam saat terjadi peristiwa penembakan kereta api oleh pasukan tentara NICA (Belanda).
Bangunan Kayu Asli yang Bertahan Kokoh
Mayoritas stasiun tua di Indonesia telah dipugar menjadi bangunan beton modern. Uniknya, bangunan utama Stasiun Pasa Usang tetap mempertahankan material kayu aslinya sejak era kolonial Belanda. Meskipun sempat telantar saat nonaktif, struktur kayu stasiun ini terbukti sangat kokoh dan bertahan melewati berbagai pergantian zaman hingga sekarang.
Bagian dari Warisan Dunia UNESCO
Stasiun Pasa Usang bukan sekadar perhentian kereta lokal biasa, melainkan terdaftar resmi sebagai bagian dari jalur Warisan Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto yang diakui oleh UNESCO. Karena nilai sejarahnya yang tinggi, pada tahun 2024 stasiun ini pun resmi ditetapkan sebagai Cagar Budaya Kabupaten guna menjaga kelestarian ceritanya bagi generasi masa depan.
Pernah Berfungsi sebagai Warung di Masa Sulit
Berdasarkan dokumentasi lawas fotografer asing Frank Stamford pada Agustus 1972, terdapat potret unik di mana sebagian sudut area bangunan kayu stasiun ini sempat dimanfaatkan secara kreatif oleh warga lokal sebagai warung. Fenomena KA Campuran yang berhenti di sana kala itu menyatu dengan hiruk-pikuk kehidupan sosial ekonomi masyarakat setempat.
Bangkit dari "Mati Suri"
Setelah bertahun-tahun dinonaktifkan dan jalur pertamanya sempat dicopot karena tidak terpakai, stasiun ini mengalami renovasi besar-besaran. Pada 1 Maret 2023, Stasiun Pasa Usang resmi diaktifkan kembali oleh KAI Divisi Regional II Sumatera Barat.
Kini stasiun tersebut kembali hidup melayani perjalanan kereta api penumpang seperti Pariaman Ekspres dan KA Lembah Anai.
1957, Nagari tak Aman, Mursyid Merantau ke Luhak Nan Tuo
Hanya setahun di Salisikan, Sungai Buluah Timur, tepat di Surau Al Azhar milik Korong Salisikan, Mursyid Tuanku Mudo minta izin ke Tuanku Lunak untuk pindah dan merantau ke Tanah Datar, Luhak Nan Tuo. Di Sungai Buluah terasa kurang aman, perang saudara yang dikenal dengan PRRI sedang berkecamuk.
Tanah Datar, kampung yang dituju adalah Padang Magek. Di sana ada Perguruan Islam Darul Hafazah yang didirikan oleh Buya Salim Tuanku Malin Kuniang (1917-1987). Di samping memimpin perguruan yang kelak berubah nama jadi Pondok Pesantren Darul Ulum, Buya Salim Tuanku Malin Kuniang juga sebagai Walinagari Padang Magek.
Lamanya Mursyid Tuanku Mudo di Padang Magek, tercatat dari 1957-1961. Mengajar sekalian belajar. Itulah pergerakan anak siak yang pindah dari surau yang satu ke surau lainnya. Rentang waktu itu, banyak masyarakat Ambuang Kapua Sungai Sariak dan Padang Pariaman yang ikut mengaji dengan Mursyid Tuanku Mudo ini.
Tersebut nama H. Kakan, adik Mursyid Tuanku Mudo yang selanjutnya tinggal dan beristri di situ. Ada juga nama Ali Akbar, asal Ampalu yang juga beristri di Padang Magek. Tersebut pula nama Drs. Rahman Tando, anak Nagari Ambuang Kapua yang juga tinggal dan beristri di Limo Kaum dan nama lainnya yang terbilang banyak.
Balik ke Salisikan, Sungai Buluah Timur
1961 daerah mulai aman. Hiruk pikuk PRRI dianggap selesai, Mursyid Tuanku Mudo turun kembali dari Batusangkar ke Salisikan, Sungai Buluah Timur. Kembali melanjutkan melayani masyarakat dan umat, mendidik anak-anak Sungai Buluah mengaji di Surau Al Azhar, surau milik Korong Salisikan bersama Tuanku Lunak.
Berbaur dengan masyarakat, saciok bak ayam sadanciang bak basi. Sejak dari mengaji Quran sampai mengaji kitab, banyak diikuti masyarakat Salisikan. Bahkan, dari Ambuang Kapua Sungai Sariak dan nagari lainnya berdatangan ke situ, mengaji dengan Tuanku Lunak dan Buya Mursyid Tuanku Mudo ini. Sampai akhir hayatnya, Mursyid Tuanku Mudo mengabdi di Salisikan.
Pada saat beliau Mursyid Tuanku Mudo sudah kembali ke Salisikan dari Tanah Datar, datanganlah murid-murid dari berbagai daerah ke Surau Al-Azhar Korong Salisikan ini. Diantaranya, tersebut nama M. Yazid Tuanku Muncak, dari Koto Koto Dalam, Padang Sago. Kelak, setelah Mursyid Tuanku Mudo meninggal dunia, Tuanku Yazid ini melanjutkan kepemimpinan Surau Al Azhar Salisikan ini.
Ada juga Tuanku Damai, Tuanku Andah, Idrus, Bakhtiar, Darisman Irfan, H. Amir Husin Tuanku Bagindo, M. Noer Tuanku Imam, Kurnalis, M.Nur, Ahmad Yani Tuanku Sidi dan lain-lain. Begitu juga labai yang di Sungai Buluah disebut sebagai “Mamak Ibadaik Suku/Kaum” ikut mengaji. Urang siak lainnya juga menjadikan Mursyid Tuanku Mudo sebagai guru tuonya.
Keistimewaan Buya Mursyid Tuanku Mudo
Amir Husin Tuanku Bagindo, salah seorang anak siak yang pernah mengaji dengan Buya Mursyid Tuanku Mudo bercerita, nama Buya Mursyid Tuanku Mudo ini sering disebut oleh Buya Haji Salif ketika mengajar murid-muridnya.
"Kalau masalah hidup di dunia contoh Buya Mursyid Tuanku Mudo. Beliau orangnya tenang, tidak panik, dunia terasa lapang. Karena urusan duniawi beliau serahkan kepada Allah SWT," kata Buya Salif Tuanku Sutan, seperti diceritakan kembali oleh Amir Husin Tuanku Bagindo.
Itu terbukti. Di manapun Buya Mursyid Tuanku Mudo mengajar dan memberikan pengajian, beliau tidak pernah menanyakan dan mengharapkan imbalan (gaji). Namun kebutuhan hidup beliau dan keluarganya tetap terpenuhi.
Menurut muridnya dan masyarakat Salisikan, umumnya Sungai Buluah Buya Mursyid Tuanku Mudo ini adalah guru dan ulama panutan yang tawadhu. Disegani oleh semua kalangan, baik murid maupun jemaahnya, mengormati dan menyegani beliau.
Kebiasaan beliau, ketika lewat di depan rumah-rumah atau warung-warung, beliau selalu mendaham. Semua yang mendengar daham beliau akan takut atau malu. Yang duduk di rumah ketika berpakaian kurang baik, maka akan langsung lari ke dalam rumah karena malu atau takut. Yang sedang duduk di lapau main kartu atau batu, maka mereka langsung menyembunyikan kartu atau batu domino mereka, karena takut dan segan kepada Buya Mursyid Tuanku Mudo.
"Beliau tidak pemarah, tapi kharismatiknya membuat semua orang segan, malu, dan hormat kepadanya".
Selain mengajar di Surau Korong Salisikan, beliau juga tempat mengadu dan tempat minta tolong oleh masyarakat. Menurut Amir Husin, banyak orang meminjam uang kepada beliau. Padahal, beliau tidak digaji tinggal di surau. Tetapi, setiap orang yang meminjam uang, pasti beliau pinjamkan. Uang beliau selalu ada untuk dipinjamkan kepada orang yang membutuhkan.
Beliau Mursyid Tuanku Mudo juga pandai mendidik dan mengajar muridnya, agar bisa menyimpan atau menabung untuk persiapan di kemudian hari. Bahkan ada yang sampai 13 emas simpanan muridnya yang beliau pegang. Muridnya sendiri sampai tidak tahu, bahwa simpanannya sampai sebesar itu.
"Ada juga muridnya yang sampai punya 13 ekor kerbau. Sedangkan muridnya sendiri tidak tahu sudah punya simpanan kerbau sebanyak itu. Mursyid Tuanku Mudo punya cara dan taktik serta strategi, dengan menanyakan kepada muridnya, “kamu ada uang? Sini saya simpan”.
1995 Buya Mursyid Tuanku Mudo ditimpa penyakit stroke. Sebelah kakinya yang kanan tidak berfungsi. Dengan ini, ketika hendak berjalan, selalu beliau pakai sebuah tongkat. Masih dalam kondisi stroke, 1996, antrian beliau tiba untuk berangkat ke Mekkah, menunaikan kewajiban, yakni naik haji. Banyak orang kampung dan masyarakat serta jemaahnya pada menangis, melihat kondisinya yang sakit untuk berangkat ke Mekkah.
Masyarakat itu berpikir, jangan-jangan Buya Mursyid Tuanku Mudo tak bisa melakukan ibadah haji. Jangan-jangan pula namanya saja yang kembali ke kampung, sementara jasadnya tinggal di tanah suci, akibat dari kondisi sakit yang dipaksakan untuk berangkat.
Semua dugaan masyarakat, serta kesedihan masyarakat melepas keberangkatan beliau Mursyid Tuanku Mudo ini, terobati dengan Alhamdulillah. Betapa tidak, beliau dilaporkan bisa kuat melakukan semua rangkaian kewajiban, rukun haji dengan sukses dan sempurna. Kaki kanannya yang tak bisa berfungsi saat akan berangkat, tiba di tanah haram itu jadi bisa dan kuat melakukan ibadah, dan kembali pulang kampung setelah tiba giliran pulang dengan rombongan.
11 tahun setelah naik haji, tepatnya 11 November 2007, beliau Mursyid Tuanku Mudo meninggal dunia. Salisikan dan Sungai Buluah berduka. Ambuang Kapua berduka, semua jemaah dan muridnya yang mendapat kabar kepergian beliau Mursyid Tuanku Mudo ini, pun larut dalam kedukaan. Jenazahnya dikebumikan di dekat Surau Langkuik, Ambuang Kapua Sungai Sariak.
Referensi:
1. Makalah Drs. Mal Amri, Biografi Buya H. Mursyid Tuanku Mudo, Ulama dan Guru Panutan yang Disegani di Kenagarian Sungai Buluah, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, 2022
2. Diskusi dengan Abdul Jamal Tuanku Imam, M. Pd dan Labai Jamil, S. Pd, Jumat 29 Mei 2026 dan Ahad 7 Juni 2026 di Sungai Buluah Utara. Jamal Tuanku Imam dan Labai Jamil adalah anak kandung dari M. Noer Tuanku Imam, tentunya cucu dari Buya Mursyid Tuanku Mudo.
3. Wikipedia
